Dipaksa Menikahi CEO. Bab 15-16

 


BAB 15


Pergulatan Monika dan Rio berakhir sejak beberapa menit yang lalu. Pria itu seolah tak merasa puas meski telah mendapat kenikmatan berkali-kali. Tubuh Monika telah menjadi candu baginya, tak akan terasa cukup walaupun mereka menghabiskan waktu 24 jam dalam sehari.

Monika memejamkan matanya. Tubuhnya tak lagi bisa bertahan. Dia tidak memiliki sedikit pun tenaga untuk bangkit atau bahkan pergi dari tempat ini. Sungguh dirinya telah terpenjara dalam hubungan tidak pantas dengan pria mesum bernama Rio Dirgantara. Fisiknya hancur, hatinya lebur. Tak ada yang bisa dia lakukan kecuali menguatkan diri.

"Apa ini pertama kalinya untukmu?" Rio membelai surai panjang Monika dari belakang, sesekali memainkannya dengan jari. Tubuh keduanya tak lagi menyatu, tapi berjajar menghadap cermin besar yang tertanam di dinding.

Lengang. Monika tak merespon. Dia merasa begitu malu, bedua dengan pria asing tanpa sehelai benang pun. Hanya selimut berwarna hitam ini saja yang menghalangi tubuhnya dari udara.

"Kamu marah padaku, hmm?" gumam pria yang kini asik menelusuri bahu mulus Monika. Hasratnya terasa belum tuntas, tapi dia cukupkan saat melihat gadis ini begitu menderita di bawah tekanannya beberapa saat yang lalu.

Lagi-lagi wanita ini bungkam. Hatinya mati rasa, tak ingin meladeni apa saja yang pria ini ucapkan. Hidupnya tak lagi berharga. Itu yang dia rasakan.

Rio tak bisa menahan hasrat laki-laki yang terus merangsek pertahanannya. Dia mencium tengkuk Monika setelah menyingkirkan helai panjang berwarna pirang itu.

"Kamu harus bertanggung jawab karena membuatku begitu ketagihan." Rio kembali menikmati area sensitif  di belakang telinga dengan mulutnya, membuat geleyar aneh kembali dirasakan oleh Monika. Tubuhnya kembali terangsang. Shit!

"Kamu tidak ingin menjawab pertanyaanku?" Rio memancing respon Monika dengan mencubit aset kembarnya tanpa aba-aba, membuat wanita ini terkejut. Matanya membola, mencengkeram selimut yang dia dekap di depan dada.

"Aku akan terus menyiksamu jika kamu tetap bungkam seperti sekarang," ucap Rio sambil menelusuri perut rata istrinya. Jemarinya bergerilya di balik selimut, membuat Monika kembali menggigit bibirnya kuat-kuat. Tekadnya masih sama, tidak akan mendesah atas perlakuan pria mesum ini. Jangankan mendesah, membuka mulutnya saja ogah.

Rio tersenyum saat mendapati tubuh wanitanya melengkung ke belakang, menandakan dia mendapat pelepasan lagi setelah pergulatan mereka yang terakhir.

'B*jingan! B*rengsek!!' umpat Monika dalam hati. Dia tidak menyangka bahwa pria pemarah ini akan terus mengganggunya dengan segala cara. Dan sialnya, tubuhnya merespon semua perlakuan Rio dengan baik tanpa bisa dicegah.

"Apa kamu sedang mengumpatku di dalam hatimu?" Rio membalikkan tubuh Monika dengan paksa, membuat netra mereka bertumbuk di satu titik yang sama. Pria obsesif ini mendekatkan wajahnya, bersiap menikmati bibir ranum yang ada di hadapannya.

Detik berikutnya, Monika kembali berbalik. Dia enggan bersitatap dengan manik mata hitam yang terasa begitu mendominasi ini. Kebenciannya pada Rio semakin mengakar, membuatnya ingin sesegera mungkin mencari jalan keluar dari semua masalah ini.

"Hahahahaaa...." Tawa pria maniak ini menggelegar. Dia begitu puas, menyadri bahwa Monika tak bisa berkutik dalam penguasaannya. "Apa kamu begitu membenciku?" bisik Rio tepat di telinga istrinya.

Untuk ke sekian kalinya, Monika tetap mengunci mulutnya. Dia tidak sudi berbincang dengan pria ini. Tidak sama sekali!

"Kenapa kamu terus bungkam? Apa kamu kehabisan tenga untuk sekadar berbicara? Atau aku belum bisa memuaskanmu, huh?"

Harga diri Monika bergejolak. Dia merasa begitu hina setelah penyatuannya dengan Sang Suami sebelumnya. Dan pria ini memutarbalikkan fakta yang ada. Dia pria manipulatif paling menjengkelkan yang pernah Monika temui sepanjang hidupnya.

"Jujur saja. Kita 'kan suami istri. Tentu saja harus terbuka satu sama lain." Bibir buas pria mesum ini kembali berkelana, menikmati kulit mulus milik istrinya. Jemarinya bekerjasama, menyingkirkan helai rambut yang menutupi punggung mulus Monika.

Hatinya tertohok saat melihat luka memar di punggung wanita ini. Ada perasaan ganjil yang Rio rasakan, merasa bersalah dan malu di saat yang bersamaan. Itu adalah bekas tendangannya kemarin saat berusaha melampiaskan emosi pada mayat Jonathan Wu.

Monika merasakan jemari hangat Rio tengah menyusuri area punggungnya yang terasa nyeri. Dia belum melakukan apapun pada luka memarnya ini. Tangannya tidak bisa menjangkau punggungnya sendiri.

"Apa ini sakit?" Rio mengecup sekeliling kulit Monika yang membiru, membuat rasa geli seketika menyapa wanita 26 tahun ini. Bulu romanya berdiri, bersamaan dengan perasaan hangat yang muncul perlahan.

"Apa-apaan ini?" batin Monika memberontak. Dia menikmati setiap sentuhan dari Rio. Terlebih nada bicara pria ini begitu lembut, seolah dia adalah pria yang paling menyayangi Monika di dunia ini.

"Leo!" panggil Rio begitu dia mendudukkan diri, bersandar pada kepala ranjang. Suaranya menggema, memanggil asisten yang sedari tadi menunggu di luar pintu.

"Saya di sini, Tuan," sahut pria dengan pakaian serba hitam yang dipakainya saban hari.

"Ambilkan obat anti memar. Sekarang!"

Monika terkejut. Dia mempertanyakan fungsi indera pendengarannya sendiri. Benarkah apa yang dia dengar ini? Rio meminta Leo untuk mengambilkan obat anti memar?

"Baik, Tuan."

Detik berikutnya, terdengar derap langkah teratur yang semakin jauh. Lagi-lagi Monika terhenyak. Sejak kapan Leo ada di balik pintu? Mungkinkah dia mendengar semua kata-kata vulgar yang Rio ucapkan? Ah, apakah Leo juga ada di sana saat dia menggedor pintu minta pertolongan? Kenapa dia tidak membukakannya? Bukankah dia mendengarnya dengan jelas? Bahkan teriakannya lebih keras dibandingkan suara Rio barusan.

Monika meratapi keadaannya ini. Dia tahu bahwa tidak ada satupun orang yang bisa menolongnya dalam situasi ini. Orang-orang itu tidak akan berani melawan kehendak tuannya yang arogan dan pemaksa ini. Pasti!

Pintu berwarna putih itu terbuka, menampilkan sosok Leo dengan tubuh tegapnya yang mulai mendekat ke arah ranjang di salah satu sisi ruangan ini.

Hati Leo mencelos, menatap punggung polos wanita yang terbaring di dekat tuannya. Ada banyak sekali bekas tanda cinta di sana. Dan yang membuatnya iba adalah luka memar tepat lima belas centimeter di bawah bahu kanan wanita ini. Itu bekas tendangan Rio kemarin.

"Apa yang kamu lihat?" tanya Rio, tajam dan menukik. Tangannya sigap menarik selimut yang membungkus tubuh Monika ke atas, membuat tubuh ramping itu tersembunyi dengan baik.

"Maafkan saya." Leo menundukkan badan. Dia tahu kesalahannya.

"Apa kamu menyukai istriku, heh?" tanya Rio sarkas.

Leo tak menjawab. Jujur saja, sebagai seorang pria normal, dia memang tertarik pada wanita blasteran ini. Parasnya yang ayu tidak bisa menghentikan getaran di dalam dadanya. Bahkan meskipun dia 'bekas' tuannya, itu tidak masalah. Terlebih lagi, wajah polos dan lemah milik Monika, membuat jiwa penolongnya bergejolak. Dia ingin melindungi wanita ini.

Sebuah vas bunga di atas nakas melayang di udara, beberapa centimeter dari kepala Leo yang tertunduk. Benda itu berakhir mengenaskan, hancur berkeping-keping setelah menghantam tembok di belakang sana. Rio marah, menyadari Leo tertarik pada wanita miliknya ini.

"APA KAMU GILA?!!" teriak Rio detik berikutnya. Wajahnya merah padam, menahan emosi yang terasa sampai ke ubun-ubunnya.

"Maafkan saya. Saya salah, Tuan."

"PERGI!!" teriak Rio sambil melesatkan benda apa saja yang ada di dalam jangkauannya. Dia tidak menyangka Leo akan mengakui tuduhannya tentang Monika. Dia begitu jujur, menginginkan wanita ini.

Leo segera berlalu setelah meletakkan tabung kecil berisi gel anti memar yang Rio minta. Dia cukup tahu diri, tidak ingin nyawanya hilang akibat kebrutalan pria 31 tahun ini.

Tanpa keduanya ketahui, di balik selimut tebal itu ada sepasang mata yang terbelalak. Dia tidak menyangka akan ada saat seperti ini, dimana Rio murka pada tangan kanannya sendiri.

Rio menyingkap selimut yang menutupi kepala Monika, membuat gadis itu kembali melihat cahaya matahari yang masuk melalui dinding kaca di salah satu sisi ruangan ini. Bahunya terasa sejuk, merasakan udara dingin yang keluar dari air conditioner di belakang sana.

"Apa kamu mendengarnya?" Rio membalik tubuh Monika, membuat gadis ini lagi-lagi terkejut. Mereka bersitatap cukup lama. Rahang bawah pria ini yang mengeras menandakan bahwa dia kembali dikuasai amarah.

"Kamu mendengarnya?" ulang pria ini, mengejar jawab pada wanita yang menjadi lawan bicaranya.

"Aku tidak tuli. Tentu saja aku mendengarnya, Bapak Rio Dirgantara yang terhormat!" ketus Monika. Dia tidak segan menatap balik pria ini dengan tatap mata yang tajam. Keberanian yang terus dia pupuk sejak beberapa saat yang lalu, akhirnya terbentuk. Dia tidak akan segan mempertahankan secuil harga dirinya yang tersisa sebagai seorang wanita. Bagaimanapun juga, dia harus bertahan, mencoba berdiri di atas kakinya sendiri. Tidak akan ada yang bisa menolongnya untuk terlepas dari jerat pria mesum ini.

"Kamu berani menjawabku, heh?" Ego pria ini bergejolak, mendapati perlawanan mulut dari Monika.

"Ini mulutku. Tentu saja aku bisa menggunakannya, termasuk memmphh...." Netra sipit itu membola saat tiba-tiba bibirnya dibungkam paksa. Rio menciumnya dengan buas. Pria ini kembali menjamah tubuh polos Monika, memberikan tekanan di berbagai sisi tubuhnya yang terasa begitu lemah.

"Tubuhmu hanya milikku. Tidak ada satu orang pun yang bisa memilikinya. Bahkan jika nanti aku tidak menginginkanmu lagi, aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuhmu!!" Perkataan dominan pria ini begitu menusuk, membuat Monika terluka lagi. Harga dirinya kembali diinjak-injak oleh binatang buas berwujud manusia ini.

Dan jangan tanyakan apa yang akan terjadi berikutnya. Rio kembali menggempur tubuhnya berkali-kali, membuat Monika mencengkeram seprai di bawah tubuhnya erat-erat. Matanya terpejam, menahan sakit fisik dan batin yang dia rasakan.

Apa yang harus dia lakukan? Bisakah dia lepas dari jerat CEO mesum ini?
















BAB 16


Mentari mulai kembali ke peraduannya, menyemburatkan sinar teduh yang terasa damai. Satu dua kawanan burung mulai beterbangan kembali ke sarang masing-masing. Beberapa hewan melata kembali ke lubang masing-masing, bersembunyi dari gelapnya langit malam nanti.

Di sebuah ruangan mewah dengan desain minimalis, seorang wanita masih meringkuk di bawah selimut. Tubuhnya remuk redam setelah mendapat serangan dari pria mesum yang bertingkah seperti binatang buas. Bukan hanya satu bagian tubuh yang terasa sakit, tapi seluruhnya, dari ujung kaki ke ujung kepala.

Netra indah itu mengerjap dua kali, merasakan kasur tempatnya berbaring yang begitu empuk. Aroma mint yang menyegarkan segera menghampiri hidungnya.

'Dimana ini? Apa ini mimpi?' batin wanita yang masih memejamkan matanya. Ini sama sekali bukan kamar kosnya yang sempit dan pengap. Deru halus air conditioner terdengar di kejauhan.

Monika membuka mata, berharap mulai mendapatkan kembali memorinya.

'Apa yang terjadi padaku?' batinnya masih bertanya-tanya. Cermin besar di depan sana menunjukkan tubuhnya yang terbaring di sebuah ranjang mewah berukuran king size. Hanya bagian kepala dan bahunya saja yang terlihat, sisanya terbalut selimut.

'Tunggu!'

Sejurus kemudian, Monika membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Kedua matanya terbelalak selebar mungkin. Terkejut dengan apa yang tertangkap oleh indera penglihatannya ini.

Jantungnya seolah berhenti berdetak satu waktu. Monika terhenyak, napasnya tercekat di tenggorokan. Dia tidak percaya melihat tubuhnya polos, tanpa sehelai benang pun yang tersisa.

Monika semakin syok begitu mendapati puluhan tanda cinta tercetak di sekujur tubuhnya. Ingatan buruk tentang belaian dan cumbuan Rio kembali terlintas di kepala. Tidak ada tenaga yang tersisa sama sekali setelah pria laknat itu merenggut kesuciannya. Tak cukup sampai di sana, binatang berwujud manusia itu bahkan terus saja menggempurnya sampai dia akhirnya pingsan.

"AARRGGGGGHHHH!!!!" teriak Monika frustrasi. Dia merasa jijik pada tubuhnya sendiri yang terasa begitu kotor. Aroma pria itu menempel di seluruh tubuhnya. Menjijikkan.

Dua orang wanita segera masuk ke dalam ruangan ini begitu mendengar teriakan Monika. Mereka segera membaca keadaan, melihat Monika menutupi tubuhnya dengan selimut.

"Nona, tenanglah," bujuk salah satu dari mereka.

Monika mendongak dengan tubuh yang bergetar hebat. Seringai licik Rio kembali terlintas di kepalanya. Dan perlahan wanita yang tadi mendekatinya berubah wajahnya. Satu wanita di dekat pintu pun sama, terlihat seperti Rio di mata Monika.

"PERGI!!" Monika melempar apa saja yang ada dalam jangkauan tangannya.

"Nona, ini kami." Wanita dengan pakaian serba hitam itu terus mendekat, membuat Monika ketakutan.

"PERGI!! JANGAN MENYENTUHKU!!" Punggung polos Monika membentur kepala ranjang, menandakan bahwa dia tidak bisa bergerak lagi ke belakang.

Dua wanita terlatih itu saling pandang. Mereka mengangguk satu sama lain, memberikan kode yang hanya diketahui oleh keduanya.

"Kalian yang di luar, masuk!" titah wanita yang kini menghentikan langkahnya untuk mendekati Monika.

Tiga orang wanita dengan tampilan yang sama masuk. Mereka mendekat, bergabung bersama satu rekannya yang masuk bersama Sang Leader tadi.

"Sesuai perkiraan Tuan. Kita berikan obat penenang untuk Nona."

Netra sipit Monika membola. Telinganya masih berfungsi dengan normal. Dan syaraf-syaraf otaknya bisa langsung menangkap apa yang tengah mereka bicarakan.

'Obat penenang?' batin Monika tak percaya. Dia tidak boleh tinggal diam, atau mereka benar-benar akan membuatnya dilumpuhkan dengan paksa.

"TIDAK!!" Monika menggeleng sekuat tenaga. Dengan energinya yang tersisa, wanita bersurai panjang ini menjauh dari lima orang yang kini terlihat wujud aslinya.

"JANGAN MENDEKATT!!"

Sebuah vas berisi bunga sintetis dilemparkan pada lima tukang pukul wanita ini. Satu-satunya yang bisa Monika lakukan adalah melawan. Meski dia tahu kemungkinannya sangat kecil untuk bisa menang.

Terlebih lagi, dia hanya mengenakan selembar selimut untuk menutupi tubuhnya. Bagaimana bisa dia keluar dengan tampilan seperti itu? Apa yang akan orang-orang katakan tentangnya?

"Nona, kami tidak akan menyakiti Anda." Wanita dengan lencana bintang di dada kirinya itu mencoba menenangkan Monika. Tapi, ada sebuah jarum suntik yang dia sembunyikan di balik punggung.

Monika kembali menggeleng kuat-kuat. Dia bangkit dari ranjang, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari lima orang ini.

"PERGI KALIAN!! PERGI!!" teriak Monika frustrasi. Dia tidak ingin mendapat penyiksaan lagi. Sudah cukup pria mesum itu yang menindasnya.

"Pergi!!!" Suara Monika semakin lemah. Air matanya mulai menganak sungai, tidak menyangka dirinya akan mengalami penderitaan bertubi-tubi seperti sekarang ini.

"Jangan mendekat lagi. Aku akan menuruti apa yang kalian minta." Monika berjongkok, memeluk lututnya di salah satu sudut ruangan ini.

"Tapi, tolong jangan menyakitiku lagi." Isak tangisnya terdengar menyesakkan, membuat lima orang wanita itu menghentikan langkah mereka.

"Kalian tunggu di luar!" perintah Sang Leader pada empat anggotanya.

Sejurus kemudian, empat bodyguard wanita itu melaksanakan perintah atasannya. Mereka menghilang di balik pintu, meninggalkan Monika dalam kepedihannya.

"Nona, izinkan saya untuk membantu Anda." Wanita yang sebelumnya berniat menyuntikkan obat penenang pada Monika ini, kini ikut bersimpuh. Tangannya terulur, mencoba meraih jemari yang mencengkeram selimut dengan begitu erat.

"Hanya ada saya dan Anda sekarang. Mari kita duduk."

Monika mengangkat wajahnya, menatap wanita dengan name tag di dada bertuliskan Maria.

"Nama saya Maria. Mulai sekarang, saya bertugas untuk menjaga Anda." Wanita itu memperkenalkan diri, melihat ke mana arah pandang puannya ini.

"Mari," ajak Maria begitu melihat Monika sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Dia membimbing Monika untuk duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan ini.

"Silakan minum, Nona." Maria menyodorkan segelas air putih pada Monika.

Dengan tegas, wanita 26 tahun ini menggeleng. Dia mengingat dengan jelas saat Rio memberikannya air putih yang kemungkinan besar dicampur obat tidur karena ada begitu banyak tanda cinta yang dia dapati pagi hari di tubuhnya.

"Ini hanya air putih biasa, Nona. Nyawa saya taruhannya." Maria tersenyum, meyakinkan wanita yang kini terlihat begitu waspada dengan segala hal yang dilakukannya.

Monika tampak ragu, tapi tenggorokannya terasa begitu kering.

"Saya tidak berniat menyakiti Anda jika Anda tidak melawan." Dengan nada tegas namun tidak menakutkan, Maria mengatakannya.

"Silakan."

Mau tidak mau, Monika menerima cairan tanpa warna itu dan meneguknya hingga tetes terakhir. Senyum ramah Maria kembali terukir saat Monika mengembalikan gelas kaca itu padanya.

"Punggung Anda terluka. Bolehkan saya membantu Anda mengobatinya?" Maria membawa gel anti memar yang sebelumnya disiapkan oleh Leo. Wanita ini terlihat begitu tenang, sama seperti para perawat di rumah sakit yang melayani para pasiennya.

"Aku ingin mandi." Kalimat itu terucap dengan lemah, namun masih bisa terdengar oleh indera pendengaran wanita dengan kemampuan beladiri yang mumpuni ini.

"Baiklah. Saya akan menyiapkan air hangat untuk Anda berendam." Maria beranjak pergi.

"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri." Monika merasa sungkan harus merepotkan wanita yang tidak dikenalnya ini.

"Baiklah. Mari saya bantu," cetus Maria saat melihat Monika kesulitan untuk berdiri. Tanpa melihatnya sekalipun, Maria bisa memperkirakan betapa buasnya tuan yang telah menghabiskan waktu dengan wanita ini selama berjam-jam.

"Sampai di sini saja." Monika melepaskan tautan tangannya di lengan Maria.

"Baiklah. Saya ada di luar. Jika Anda membutuhkan sesuatu, panggil saya segera."

Monika mengangguk, mengiyakan permintaan wanita yang lebih tua darinya ini. Dengan langkah tertatih, dia memasuki kamar mandi yang lebih luas dibandingkan kamar kosnya.

Ada begitu banyak fasilitas mewah di sini, seperti bath tube luas dengan segala aroma terapi di sekitarnya. Belum lagi wastafel mengilap di sebelah kanan tubuhnya dengan cermin super besar yang tertanam di dinding. Dan yang membuat Monika menghentikan langkahnya adalah adanya sebuah LCD TV di atas tempat berendam yang dia lihat pertama kali begitu masuk ke tempat ini.

'Dasar orang kaya. Pemborosan!' umpat Monika dalam hati.

Sementara Monika mandi, Maria dengan sigap mengganti alas tidur yang ditinggalkan oleh tuan dan puannya. Jangan tanyakan seperti apa bentuknya, tentu saja kusut masai. Karet di ketiga sisi seprai ini terlepas, menggambarkan betapa buasnya pergulatan pengantin muda ini.

Tiga puluh menit kemudian, Monika keluar dari pintu kaca itu dengan kimono yang membalut tubuhnya. Sebuah handuk berwarna krem mengular di atas kepala, menyembunyikan rambut panjang yang masih basah.

"Anda terlihat lebih segar sekarang." Maria mengapresiasi nona di hadapannya yang terlihat lebih baik dari sebelumnya. Bekas air matanya tak lagi terlihat, namun masih tersisa gurat kesedihan di sana.

"Ini pakaian untuk Anda." Maria memberikan sebuah gaun sabrina yang masih tersimpan rapi di dalam box transparan.

Monika menelan salivanya dengan paksa. Dia kembali mengingat perintah Rio untuk menyiapkan gaun sabrina dengan belahan dada rendah saat mereka bertemu kemarin.

"Terima kasih. Tapi aku bisa memakai bajuku yang sebelumnya." Monika menatap sekeliling, mencari keberadaan seragam minimarket yang dipakainya saat datang ke tempat terkutuk ini. Tapi, tak ada apapun di lantai ataupun di atas ranjang. Semua sudah dirapikan kembali seperti saat dia menginjakkan kaki ke tempat ini siang tadi. Bahkan pecahan vas bunga di dekat pintu juga sudah dibersihkan.

"Tuan meminta Anda memakai ini."

Monika menggeleng. Dia mundur beberapa langkah ke belakang.

"Aku tidak akan memakainya. Singkirkan pakaian menjijikkan itu!" teriak Monika frustrasi.

"Baiklah. Saya akan menyiapkan pakaian yang lain untuk Anda."

Maria pergi. Punggungnya tak lagi terlihat setelah melewati pintu yang kembali tertutup, membuat Monika kembali tenang.

Untuk yang kedua kali, netranya memeriksa sekitar. Ruangan dengan desain minimalis ini terasa begitu nyaman. Dia akan senang berada di sini selama berjam-jam meski tanpa melakukan apapun.

Langkah Monika menyusuri ruangan ini, hingga berhenti di satu titik di mana ada lukisan seorang wanita cantik yang menempel di dinding. Sekilas, wajahnya mirip dengan Rio, namun memiliki mata yang teduh. Di bagian bawahnya tertera tanggal dengan tanda love berwarna putih. Tulisan 'Everlasting Love' ada di sisi yang lainnya.

'Siapa dia?' batin Monika bertanya-tanya.

"Maaf membuat Anda menunggu." Suara Maria mengagetkan wanita keturunan tionghoa ini, membuatnya menjauh dari lukisan cantik yang barusan dia amati.

"Bagaimana dengan ini? Anda bersedia memakainya?" Maria menyodorkan sebuah sweater turtle neck warna hitam dengan rok bunga-bunga sebagai pasangannya.

Monika tidak langsung menerimanya. Dia kembali ragu. Pakaian ini bukan miliknya, bagaimana mungkin dia bisa memakainya begitu saja?

"Maaf jika selera fashion saya buruk." Maria menundukkan kepalanya.

"Tidak. Bukan seperti itu." Monika tersadar dari lamunannya. "Terima kasih."

Dengan segera, Monika masuk ke kamar mandi untuk mengenakan pakaian itu.

"Aku akan mengembalikannya padamu sesegera mungkin," ucap Monika begitu berhadapan dengan wanita yang tengah tersenyum sambil mengamati penampilannya.

"Itu tidak perlu. Pakaian ini milik Anda."

Monika bungkam. Dia tidak perlu bertanya kejelasan kalimat yang Maria ucapkan. CEO mesum seperti Rio Dirgantara yang memiliki perusahaan sebesar ini, bukan mustahil bagi pria itu jika ingin membeli satu stel pakaian wanita seperti yang dia kenakan sekarang. Jangankan satu stel, satu mall pun bisa dia beli dengan sekedip mata.

"Luka Anda, bolehkah saya mengoleskan gelnya sekarang?"

Monika tersadar dan mengangguk. "Maaf harus merepotkanmu," ucapnya tak enak hati.

"Tidak sama sekali." Maria mengeleng. "Saya senang bisa membantu Anda."

Monika duduk di kursi, membiarkan jemari Maria menyentuh punggungnya.

"Kamu sudah bangun, Sayang?"

Suara baingan brengsek itu tiba-tiba saja terdengar, membuat bulu roma Monika meremang seketika. Apa yang harus dia lakukan? Bisakah dia menghindari pria buas dan liar ini?


0 Comments