Dipaksa Menikahi CEO. Bab 17-18

 


BAB 17


Matahari telah kembali ke peraduan, membuat langit perlahan berubah menjadi kelabu. Sinar jingga di ufuk barat menandakan siang telah berakhir, berganti malam bersama bintang gemintangnya di angkasa.

Sebuah mobil terhenti di pelataran sebuah gedung pencakar langit bertuliskan Dirgantara Artha Graha. Pria dengan pakaian serba hitam berlari, membukakan pintu mobil bagian belakang tempat tuannya berada.

"Selamat datang kembali, Tuan Muda." Leo menyapa atasannya.

"Umm," gumam Rio sambil mengangkat tangannya. Dia melirik sekilas pada tangan kanan yang mendapat tamparan keras darinya beberapa waktu lalu.

"Dimana dia sekarang?" tanya Rio, menatap sekeliling yang mulai sepi. Sebagian besar pegawainya sudah pulang, membuat tempat parkir bawah tanah ini sedikit lega.

"Nona masih ada di ruang istirahat." Leo tahu siapa 'dia' yang pria ini maksud.

"Apa terjadi sesuatu sampai kamu menghubungiku?" tanya Rio, menatap arloji di pergelangan tangannya. Jam tangan mewah yang hanya diproduksi beberapa buah di dunia itu, menunjukkan pukul tujuh malam. Tiga puluh menit yang lalu Leo menghubunginya, tapi dia tidak mendengarnya karena mengaktifkan mode silent.

"Nona Monika berteriak histeris begitu siuman. Sepertinya dia syok melihat tubuhnya sendiri." Leo tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri, jadi memakai kata 'sepertinya'. Pria ini ada di luar, mengurus berbagai dokumen perusahaan untuk Rio tinjau esok hari. Teriakan Monika sampai ke telinganya, membuatnya terkejut.

Rio menarik satu sudut bibirnya ke atas. 'Sudah ku duga,' batinnya.

"Lantas, apa yang terjadi berikutnya?"

"Maria masuk ke dalam bersama keempat rekannya. Dia berhasil menenangkan Nona."

Senyum di wajah tampan itu semakin lebar. "Berikan bonus untuk Maria. Dua kali gaji bulanannya."

"Ya?" tanya Leo memastikan.

"Aku tidak pernah mengulangi ucapanku!" tegas pria yang kini sibuk mengendurkan dasi di lehernya.

"Apa yang sedang dia lakukan sekarang?" tanya Rio, menatap Leo yang berjarak satu langkah di sampingnya. Langkah keduanya terus berlanjut, menuju lift beberapa meter dari posisi mereka sekarang.

"Nona baru selesai mandi," jawab Leo sedikit canggung.

"Heih? Mandi?" Rio menghentikan langkah kakinya. Seringai iblis kembali tercetak di wajahnya. Otak mesumnya berputar cepat, mengingat tubuh Monika yang menjadi candu untuknya. Bahkan aroma greentea dan daun mint dari rambut panjangnya masih terbayang oleh ingatannya.

"Apa kamu menyiapkan gaun yang kuminta?" tanya Rio, membayangkan tubuh Monika yang menggodanya di balik gaun sabrina dengan belahan dada rendah.

Leo tidak langsung menjawab. Lidahnya terasa kaku. Dia mengepalkan tangannya di sisi badan. Jujur saja, dalam hati kecil dia merasa tidak suka saat Rio berpikiran kotor tentang Monika.

Wanita 26 tahun yang kini berstatus sebagai istri kontrak tuannya ini adalah gadis baik-baik. Leo sudah menyelidiki latar belakangnya sedetail mungkin. Monika bukan j*lang seperti yang sering Rio tuduhkan.

"Leo?!" Rio menatap bawahannya dengan tatap mata tajam, tidak sabar mendengar jawaban atas pertanyaan terakhirnya.

"Ah, itu. Nona menolaknya," ucap Leo ragu. Dia yakin tuannya ini akan marah mendengar penolakan secara terang-terangan yang dilakukan oleh wanita seharga dua miliar itu.

"Heh?" Wajah Rio semakin menunjukkan ketertarikannya. Gadis itu tidak semudah yang dia bayangkan. "Ternyata dia masih berani menolak kehendakku."

Leo bungkam. Dia tidak berani berkomentar. Ini pertama kalinya ada seseorang yang menolak keinginan tuannya yang terkenal pemaksa dan arogan. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi padanya nanti. Rio selalu membuat perhitungan dengan para pembangkang.

"Nona tidak mau memakai gaun yang Anda pilihkan." Penjelasan Leo cukup membuat Rio menganggukkan kepala.

"Lalu, pakaian seperti apa yang dia kenakan sekarang?"

"Nona memakai..." Ucapan Leo terhenti kala melihat sebelah tangan Rio terhenti di udara, memintanya untuk berhenti berbicara.

"Aku akan melihatnya sendiri." Langkah kaki Rio terasa lebih bersemangat dari sebelumnya. Dia masuk ke dalam lift dan menekan tombolnya sendiri, membuat Leo terhenyak.

'Apa dia masih tuan yang sama?' batin pria yang kini berdiri di belakang Rio. Delapan tahun mendampingi CEO ini, ini pertama kalinya Leo melihat Rio menekan tombol lift sendiri. Biasanya, selalu dia yang melakukannya.

"Apa dia sudah makan?"

Dan lagi-lagi Leo terkejut. Sejak kapan tuannya begitu perhatian pada orang lain? Apa yang terjadi padanya? Haruskah dia bersyukur akan perubahan sifat atasannya ini?

Di saat yang sama, Maria tengah membantu Monika mengoleskan gel anti memar di punggung. Mereka berbagi kursi dan udara yang sama. 

"Sebaiknya kita memanggil dokter untuk memeriksa luka Anda, Nona." Wanita ini memberi saran yang hanya mendapat gelengan kepala dari Monika.

"Tidak perlu. Nanti juga sembuh."

Sensasi dingin segera menyapa kulit polos Monika, membuat bahunya berjengit. Ada rasa nyeri yang dia rasakan ketika jari Maria menyentuh luka lebamnya.

"Maafkan saya," ucap wanita ini merasa bersalah.

"Kamu sudah bangun, Sayang?" Suara Rio tertangkap telinga Monika, membuat tubuhnya bergetar seketika. Tangannya mengepal erat, berusaha menyembunyikan ketakutan dalam dirinya. Maria menyadari hal itu, tapi dia hanya diam.

"Apa kamu merindukanku?" tanya Rio, semakin mendekat ke arah dua wanita yang ada di ruang istirahatnya ini.

Maria tahu diri. Dia segera menyelesaikan tugasnya dan membenahi pakaian Monika. Detik berikutnya, dia berdiri dan mengangguk hormat pada atasannya.

"Selamat datang kembali, Tuan Muda," sapanya lirih, penuh penghormatan.

"Kalian berdua keluar!" titah pria ini pada Maria dan Leo. Meski dengan nada bicara rendah, tapi begitu terasa dominasinya.

Tanpa mengatakan apapun, dua orang dengan pakaian serba hitam itu segera pergi. Tersisa Monika bersama pria yang kini melepas dasi hitam itu dari lehernya.

"Monika Alexandra," panggil Rio, menatap wanita yang kini pura-pura sibuk melihat ke arah lain. Kecantiknya wajahnya terlihat lebih memesona dengan rambut tergerai.

Monika bungkam. Jangankan menjawab panggilan pria ini, mendengar suaranya saja sudah membuatnya muak.

Jemari kokoh Rio mencengkeram rahang bawah Monika, memaksa wanita ini untuk menatapnya. Netra elangnya menjelajah, mengamati penampilan gadisnya tanpa sapuan make up sama sekali.

"Kamu sengaja memancing perhatianku?" Bibir ranum itu kini menjadi pusat perhatian Rio. Meski terlihat sedikit pucat, bukan berarti membuat hasrat pria ini teredam.

Sebuah kecupan mendarat dengan mulus di bibir Monika, membuat Si Empunya membelalakkan mata. Napasnya tercekat di tenggorokan, membuat dadanya sesak saat itu juga. Bibir buas pria ini terus menyerangnya, berusaha masuk ke rongga mulut untuk mengabsen gigi-giginya di dalam sana.

Monika mendorong dada bidang Rio dengan sekuat tenaga, membuat tautan mereka terlepas dengan paksa. Wajah tirusnya merah padam, menahan marah pada pria mesum yang lagi-lagi mencari kesempatan dalam kesempitan.

Rio mengamati istrinya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Tubuh ramping dengan lekuk di beberapa bagian ini membuat hatinya berdesir. Tapi egonya menolak untuk mengakui hal itu.

"Lumayan," komentarnya, merendahkan tampilan wanita ini dalam balutan sweater hitam dan rok payung dengan motif bunga-bunga.

Monika tak merespon. Dia masih kesal atas serangan tiba-tiba barusan.

'Menyebalkan! Dasar pria mesum!' umpatnya dalam hati, melihat Rio yang ada di hadapannya dengan tatapan membunuh.

'Ingin rasanya menikam pria ini dengan belati atau senjata apa saja!' geram Monika dalam hati. Rahangnya mengerat, membuat gemeletuk giginya terdengar jelas.

"Kamu ingin membunuhku?" tanya Rio, menatap lekat-lekat manik mata berwarna biru di depannya. Dia mulai melangkah mendekati Monika, berusaha mengikis keberanian wanitanya.

Monika mulai merasa terdesak. Dia mundur ke belakang, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari pria yang seolah ingin menerkamnya saat ini juga.

'Dasar binatang! Setelah berhasil melumpuhkanmu, aku akan membuang mayatmu ke laut! Ikan hiu akan berpesta pora menikmati seonggok daging manusia yang angkuh sepertimu! Tidak akan ada lagi pria mesum, arogan, pemaksa, dan kasar bernama Rio Dirgantara di dunia ini!' umpatan dalam hati Monika masih berlanjut, senada dengan aura penuh kebencian yang begitu kentara di wajahnya.

Seringai di bibir Rio semakin lebar. Dia begitu senang menggoda wanitanya ini.

"Ah, jadi kamu berniat membuangku ke laut sebagai makanan ikan hiu?" tebak pria ini, membuat netra sipit Monika membola.

'Ba... bagaimana pria ini bisa tahu?' Monika tergagap. Tenggorokannya terasa kering, tidak menyangka Rio tahu apa yang dia pikirkan saat ini. 'Mungkinkah dia memiliki kemampuan untuk membaca pikiran?'

Rio semakin berbangga diri melihat wanitanya salah tingkah. Tebakannya tepat sasaran. Monika memang tengah mengumpatnya dalam diam. Ada perasaan geli yang dirasakannya saat ini, seperti tengah memainkan ekor kucing yang menggemaskan untuk menarik perhatiannya.

"Bagian mana yang ingin kamu tusuk?" tanya Rio, terus mendekat sambil melepas pakaian kerja yang melekat di tubuhnya.

"Apakah leherku?" Pria ini berhasil memanipulasi keadaan, membuat Monika merasa tertekan. Dia menolehkan kepalanya ke samping, menunjukkan leher panjang berwarna putih bersih miliknya. Jakunnya yang menonjol berhasil menyita atensi Sang Istri.

"Atau dadaku?" Rio membuka kancing kemejanya satu per satu, membuat dada bidangnya mengintip.

Fokus Monika benar-benar terpecah. Dia tidak tahu Rio adalah pria yang begitu mahir bersilat lidah. Jika tidak begitu, tentu saja dia tidak akan sukses berbisnis di usianya yang masih kepala tiga seperti sekarang.

Srettt!

Rio menarik dua sisi bajunya berlawanan arah, membuat sisa tiga buah kancing kemejanya terlepas dengan paksa. Masing-masing menggelinding ke arah yang berbeda.

"Bagaimana dengan perutku? Kamu bisa langsung membunuhku jika terjadi perdarahan hebat di sini." Rio menunjuk perut bagian kanannya, tempat organ vital berada yakni hati.

"Tikam hatiku. Kamu akan berhasil membunuhku dalam lima detik!"

Langkah kaki Monika terhenti. Dia tidak bisa bergerak lebih jauh lagi. Punggung lemahnya menabrak dinding. Dominasi pria ini begitu terasa, memanipulasi keadaan dan berbalik menyerangnya.

Glek!

Lagi-lagi Monika harus melihat perut kotak-kotak milik suaminya. Bayangan pergulatan panas mereka siang ini kembali terlintas, membuat wanita ini merasa malu.

"Apa yang kamu pikirkan, heh?" tanya Rio, menghentikan langkahnya tepat di depan Monika yang semakin canggung. Wanita ini membuang muka, enggan bersitatap dengan pria yang sejak kemarin berstatus sebagai suaminya.

Rio terus bergerak, merangsek maju dan mengunci wanitanya ini agar tidak bisa pergi jauh darinya.

"Kenapa diam?" Rio mendekatkan kepalanya, berbisik di telinga Monika. "Aku siap mati untukmu jika kamu mendesah dan memanggil namaku saat kita mencapai puncak nanti."

Mata sipit Monika membola, menyadari hasrat pria ini kembali bergelora.

Apa yang akan terjadi pada dua orang ini? Mungkinkah Rio akan menunjukkan tajinya untuk menguasai Sang Istri lagi? Atau adakah malaikat yang bersedia membebaskan makhluk lemah seperti Monika Alexandra ini?












BAB 18


Monika mengumpat dalam hati, ingin membunuh Rio dan kemudian membuang mayatnya ke laut. Namun, keadaan justru berbalik dengan cepat. Rio berhasil mendominasi, membuat Monika terdesak ke dinding di belakangnya. Pergerakannya terhenti, tak bisa pergi kemanapun lagi.

"Aku siap mati untukmu," bisik Rio dengan nada menggoda, "Jika kamu mendesah dan memanggil namaku saat kita mencapai puncak nanti," lanjutnya.

"B*debah b*rengsekk!!" Umpatan Monika terdengar jelas. Tak lagi menyembunyikan kemarahannya.

Dengan sekuat tenaga, Monika berusaha menghalau bibir Rio yang berniat menciumnya. Kesabarannya semakin menipis jika berhadapan dengan pria ini. Benar-benar membuatnya emosi.

"Aku memang b*rengsek. Kenapa? Kamu tidak terima mendapat suami b*jingan sepertiku?"

Rio menikmati setiap kata yang keluar dari bibir Monika. Sejak pertemuan pertama mereka kemarin, wanitanya ini sangat jarang berbicara. Dia cenderung pendiam dan bisa menguasai emosi dengan baik. Bahkan wanita ini bisa menahan diri untuk tidak mendesah saat tubuhnya diserang bertubi-tubi. Dan sekarang Rio sengaja, memancing agar Monika lebih banyak bicara.

Monika bungkam. Tidak ada wanita yang bersedia menikah suka rela dengan pria mesum, kasar, arogan, pemarah, dan pemaksa sepertinya. Satu-satunya kelebihan pria ini adalah dia memiliki banyak uang. Itu!

"Kenapa diam?" Rio mengamati mata indah di hadapannya.

Monika mendengus kesal. Dia benar-banar harus menambah stok kesabaran saat menghabiskan waktu berdua dengan pria ini.

"Bapak Rio Dirgantara yang terhormat. Mari kita buat kesepakatan!" tegas Monika.

Dia memantapkan diri, mengumpulkan seluruh keberanian yang ada dalam hatinya. Netra hitam pekat itu kini dia paku dalam-dalam demi sedikit kebebasan yang ingin dia miliki. Wanita berdarah campuran Indonesia - Inggris ini menunjukkan aura tersendiri, tidak ingin ditindas seperti sebelumnya.

Rio kembali terpukau pada sosok istrinya. Entah kenapa dia suka saat wanita ini membangkang, atau setidaknya menunjukkan sedikit keberaniannya. Dia tidak suka wanita lemah yang cengeng. Merepotkan!

"Kesepakatan apa yang kamu inginkan? Mari kita bicarakan di atas ranjang." Rio kembali menunjukkan seringai iblis andalannya.

Netra Monika membola mendengar respon pria mesum ini. Dan detik berikutnya dia semakin speechless, kehilangan kata-kata untuk diucapkan saat tubuhnya melayang di udara.

Tanpa aba-aba, Rio menggendong Monika kembali ke atas ranjang seperti siang tadi. Dia langsung melepas kemejanya dan kembali mengungkung wanita ini di bawah kendalinya. Senyum yang semakin lebar di wajahnya, menunjukkan dia sedang senang saat ini.

"Katakan apa yang kamu inginkan!" Kilatan tajam dari mata elang ini membuat Monika mulai tertekan. Belum lagi napas dan aroma parfum pria ini yang terasa menyengat di hidung, menjadikan perhatiannya terpecah. Keberanian yang dia kumpulkan sedikit demi sedikit, terkikis begitu saja saat berhadapan dengan pria yang begitu ambisius ini.

"Pak," panggil Monika lirih. Dia berusaha menekan hasrat dalam dirinya yang ikut naik melihat dada bidang suaminya yang shirtless.Kotak-kotak itu terlihat begitu memesona.

"Apa?" tanya Rio. Dia menyadari kemana arah pandang Sang Istri. "Jangan hanya melihatnya, kamu juga boleh menyentuhnya." Rio meraih tangan Monika, membuat jemari lentik itu bersentuhan dengan kulitnya.

Hati Monika berdesir, bersamaan dengan jantungnya yang berdetak semakin cepat.

"Apa kamu suka?" tanya pria dengan lesung pipi di kedua sisi wajahnya.

Wajah Monika memerah. Dia tidak bisa menahan gejolak tubuhnya sendiri, tapi akal sehatnya menyeru hal yang berlawanan. Dia tidak boleh jatuh dalam pesona pria ini. Apapun alasannya.

"Kenapa diam, hmm?" gumamnya sebelum memagut bibir kenyal Monika yang terasa manis. Ciuman itu terjadi dengan begitu singkat. Rio menarik diri dan kembali menatap netra istrinya.

"Apa yang kamu inginkan?" tanya pria ini. Tangannya menyingkirkan helai rambut Sang Istri dari leher putih mulusnya.

"Mari kita buat perhitungan untuk setiap waktu yang saya habiskan bersama Anda."

"Heih?" Rio mengerutkan kening, belum mengerti kemana arah pembicaraan wanita ini.

"Saya bukan seorang j*lang yang tubuhnya dijajakan di pinggir jalan. Anda satu-satunya orang yang berhak menikmati tubuh saya ini. Jadi, bukankah saya bisa mendapatkan harga yang pantas untuk itu?"

Satu sudut bibir Rio terangkat. "Ternyata mulutmu ada gunanya juga?" sarkas pria yang kini semakin mencondongkan badannya, menekan bagian bawah Monika yang masih tertutup rapat. Ini kalimat terpanjang yang dia dengar dari istrinya. Rio ingin menggodanya lagi dan lagi.

Napas Monika terasa sesak, merasakan sesuatu milik pria ini yang kini menyentuh salah satu anggota tubuhnya. Meski masih terhalang kain masing-masing, jelas sekali Rio ingin mengacaukan akal sehat wanita dua miliarnya ini.

"Lima juta!" tegas Monika. "Itu harga satu kali kita berhubungan badan." Monika mendorong dada Rio sekuat tenaga, membuat tubuh keduanya sedikit berjarak. Dua organ inti mereka tak lagi bersentuhan.

Rio tersenyum lebar. Dia senang karena dua hal, pertama Monika menolak perlakuannya dan berusaha menjaga jarak sejauh mungkin. Itu artinya, wanita ini terangsang atas pancingannya tadi. Kedua, dia bisa menguasai tubuh istrinya berkali-kali setelah kesepakatan mereka mulai berlalu. Monika tidak akan bisa menolak kapanpun dia mau melakukan hal itu.

Seringai iblis itu kembali terlihat.

"Lima juta?" Rio bertanya sambil membelai pipi tirus istrinya. Nominal yang wanita ini sebutkan begitu kecil. Bahkan gaji asisten pribadinya dua kali lipat dari jumlah yang Monika sebutkan tadi.

"Apa aku salah dengar? Hanya lima juta?"

Monika menelan ludahnya dengan paksa. Sepertinya dia salah dalam melakukan negosiasi kali ini. Berapa kekayaan yang pria ini miliki sampai menganggap lima juta layaknya uang satu sen saja?

Lima juta adalah upah Monika bekerja di minimarket selama sebulan penuh. itu pun dengan beberapa kali lembur saat ada pengiriman barang atau stok opname di akhir bulan. Bahkan meskipun dia bekerja dengan begitu giat sekalipun, upahnya akan tetap sama.

"Yakin hanya lima juta untuk satu kali kita menghabiskan waktu bersama?" pancing Rio. Seringai iblis yang terukir di wajah tampannya semakin lebar. "Aku bisa mendapatkan kepuasan berkali-kali seperti siang tadi dan kamu hanya menghargainya senilai lima juta?"

Monika kehilangan kemampuannya untuk berbicara. Kenyataan pergulatan panas mereka siang tadi menamparnya dengan keras. Bahkan sampai sekarang pun, tubuhnya masih terasa remuk redam.

"Tidakkah kamu terlalu merendah untuk hal itu?"

Rio menjatuhkan badannya ke samping, membuat wajah rupawannya sukses mendarat di atas bantal empuk berwarna putih.

"Bahkan harga j*lang di luar sana lebih mahal dari permintaan seorang perawan sepertimu."

Lengang. Lagi-lagi Monika bungkam. Mode diamnya kembali diaktifkan. Dia tidak menyangka Rio menganggap uang lima juta adalah angka yang kecil.

"Jangankan lima juta, lima puluh juta pun tidak akan bisa membayar kecantikanmu ini." Rio membelai surai pirang Monika, sesekali menciumnya. Aroma citrus lemon seketika menyalak hidung pria 31 tahun ini, membuatnya tersenyum.

Berbeda dengan Rio yang tengah dimabuk kepayang, Monika justru tampak bingung dengan pernyataan pria ini. Benarkah dia seberharga itu? Pantaskah dia mendapatkannya?

"Kenapa kamu mengajukan kesepakatan bodoh itu?"

Monika melirik Rio di sebelahnya dengan tatapan sengit. 'Kesepakatan bodoh?' batinnya memberontak. Dia tidak setuju dengan istilah yang pria ini katakan dua detik yang lalu.

"Apa kamu butuh uang?" kejar Rio saat tak mendengar jawaban apapun dari mulut Monika.

"Berapa banyak yang kamu inginkan?"

Wanita dengan sweater turtle neck warna hitam itu tetap bungkam. Harga dirinya lagi-lagi terluka saat mendengar pertanyaan terakhir dari suami kontraknya ini. Wajahnya datar tanpa ekspresi, menunjukkan bahwa perasaannya tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Rio bangkit dari ranjang, meninggalkan wanita yang masih terbaring tanpa melakukan apapun.

"Pakai ini. Kamu bisa membeli apa saja dengannya." Rio menyerahkan sebuah kartu kredit miliknya pada Monika. Namun, wanita ini hanya melirik sekilas saja.

"Bukan uang. Saya butuh kebebasan." Monika bangkit, duduk di tepi ranjang membelakangi Rio.

Hati pria ini mencelos begitu mendengar permintaan Monika. Sekejam apapun sikapnya di luar sana, dia masih memiliki hati nurani. Dari nada bicara wanita ini, terasa sekali bahwa dia tengah terluka.

'Apa aku memang sekejam itu?' batin Rio.

"Saya ingin mengakhiri kontrak pernikahan ini dalam waktu enam bulan. Apakah itu mungkin?"

Kali ini Rio yang terdiam. Entah kenapa hatinya tidak rela saat mendengar Monika ingin mengakhiri hubungan mereka begitu saja. Padahal sejak awal, dia tahu wanita ini tidak menginginkannya. Bahkan bukan hanya tidak diinginkan, pastilah Monika begitu membencinya.

"Saya memiliki kehidupan pribadi dengan segala rencana yang sudah saya pikirkan sejak bertahun-tahun yang lalu. Bisakah Anda berbaik hati pada saya dan mendiang ayah saya?" Monika menatap wajah Rio yang terpantul di cermin. Mata mereka bertumbuk di satu titik yang sama.

"Masalah uang yang ayah saya hilangkan, saya pasti akan menggantinya."

Rio tak lagi mendengarkan kata yang Monika ucapkan. Hatinya terasa hampa, menyadari bahwa wanita ini tak menginginkan hubungan mereka berlanjut. Perasaan kehilangan itu menyeruak di dalam hatinya. Monika akan meninggalkannya, sama seperti wanita itu.

"Kamu tidak menginginkanku?" pertanyaan itu terucap tanpa Rio sadari. Tampilan wajahnya di cermin tampak begitu terluka, membuat Monika berbalik seketika. Benar saja. Tatap mata pria ini meredup, seolah tak ada semangat sama sekali.

'Ada apa dengannya?' batin Monika. Dia tidak tahu kenapa hatinya terasa tidak nyaman melihat kesedihan di wajah Rio. Seharusnya dia senang karena pria yang paling dia benci di dunia ini tengah bersedih. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya.

"Lakukan apapun yang kamu mau!" Rio melempar kartu kredit miliknya di atas ranjang. Dia berjalan menjauh tanpa mengatakan apapun lagi.

"Ada apa dengannya?" gumam Monika bingung dengan situasi yang ada. Rio Dirgantara, pria arogan dan ambisius itu tiba-tiba terlihat tidak bertenaga sama sekali. Aneh!

Pintu berwarna putih di depan sana berdebam keras, menandakan suasana hati pria itu sedang tidak baik. Tubuhnya menghilang, meninggalkan Monika dengan berbagai pertanyaan mengganjal di dalam hati.

Suara gaduh terdengar dari luar, membuat netra sipit Monika terbelalak. Apa yang terjadi? Haruskah dia keluar dan melihat situasi yang ada? Siapakah yang berani membuat keributan di kantor CEO?


0 Comments