Dipaksa Menikahi CEO. Bab 19-20

 


BAB 19


Sebuah mobil edisi terbatas berhenti di bahu jalan, tepat di dekat sebuah halte. Tiang lampu penerangan dengan sensor otomatis tepat berdiri di sebelah kiri benda mengilap itu. Langit berwarna gelap, menunjukkan siang telah berlalu. Awan bergulung menandakan akan turun hujan.

"Sampai di sini saja. Tidak perlu mengantarku lebih jauh." Monika melepas sabuk pengaman yang sedari tadi melingkupi tubuhnya. Dia bersiap turun, untuk kemudian kembali ke kamar kostnya. Namun, ada yang mengganjal di dalam hatinya. Ekspresi kesedihan Rio masih terbayang di matanya.

Dua menit berlalu tanpa sepatah kata pun dari keduanya. Monika masih sibuk dengan pemikirannya yang semakin terbebani setelah melihat ruang kerja Rio hancur tak bersisa.

Pria itu membanting, menendang, dan memukul benda apa saja yang ada dalam jangkauannya. Telepon kabel, monitor layar datar, gelas kaca, dan beberapa benda lainnya teronggok di lantai. Suara gaduh yang sebelumnya dia dengar, adalah ulah pria arogan itu. Ada apa dengannya?

"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya pria bernama Leo ini, berusaha memperlakukan istri tuannya dengan sangat baik. Dia tahu bahwa wanita ini tengah memikirkan sesuatu karena tak juga beranjak dari tempat duduknya

Monika menoleh, netranya bertumbuk dengan tatapan Leo. Dan detik berikutnya, pria itu segera memalingkan wajah, membuat kerutan segera terukir di kening wanita muda ini.

"Leo, ada yang ingin ku tanyakan," cetus Monika, mengurungkan kakinya untuk beranjak dari kendaraan ini. "Apa seseorang pernah meninggalkannya?" tanya wanita ini to the point.

"Maaf?" respon pria berdasi di belakang kemudi, belum bisa menangkap dengan jelas siapa yang wanita cantik ini bicarakan.

Sejurus kemudian, dia terhenyak. Logikanya bekerja. Kemarahan tuannya pasti karena wanita ini ingin meninggalkannya. Pasti seperti itu

"Lupakan saja." Monika enggan membahas hal itu. Dia menyesal sudah mempertanyakan sesuatu yang bukan kepentingannya.

Monika bersiap keluar dari bagian belakang kendaraan puluhan miliar ini. Satu kakinya terjulur setelah pintu di samping badannya terbuka. Dia harus segera kembali sebelum hujan turun. Tampaknya malam ini akan hujan lebat, terlihat dari gumpalan awan hitam yang semakin tebal."Tunggu," cegah Leo. "Apakah Nona mengatakan sesuatu pada Tuan?" tanyanya mengonfirmasi.

Monika mengurungkan niatnya untuk pergi. Entah kenapa di dalam lubuk hatinya yang terdalam,dia ingin tahu masa lalu pria mesum yang sekarang berstatus sebagai suaminya. Tatap matanya yang terluka berhasil mengusik hati nurani gadis pendiam ini.

"Sudahlah. Anggap aku tidak pernah menanyakan apapun." Logika Monika menentang, bersikeras bahwa apapun yang berhubungan dengan pria itu bukan urusannya sama sekali. Dia menolak untuk peduli.

"Nyonya pergi meninggalkan Tuan Muda saat masih kecil." Suara Leo terdengar lemah namun masih bisa tertangkap oleh lawan bicaranya.

'Eh?' batinnya merespon. Tubuh Monika menegang, tidak menyangka akan mendengar hal menyakitkan seperti itu tentang Rio.

"Saya tidak tahu apa yang terjadi saat itu. Tapi menurut penjelasan pengasuh di kediaman utama, Nyonya Dirgantara pergi saat perayaan ulang tahun Tuan yang ke enam. Tuan Muda kecil menangis di depan kue dan lilin ulang tahunnya. Sejak saat itu, emosinya jadi tidak terkendali. Dia membenci angka enam dan hampir tidak pernah memakainya. Setiap perjanjian bisnis yang bernominal enam ratus juta, enam miliar, atau enam-enam yang lainnya, pasti akan langsung dia tolak."

Kerutan di kening Monika semakin bertambah, merasa heran dengan pria bernama lengkap Rio Dirgantara itu. Apa dia gila? Menolak bisnis hanya karena angka yang tidak tahu apa-apa?

'Apakah dia phobia angka? Yang benar saja!' batinnya tak percaya.

"Apa Nona mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan angka enam?"

Monika mengangguk sambil memejamkan mata. Lagi-lagi wanita bersurai pirang ini bungkam. Tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan tangan kanan suaminya. Ada rasa bersalah yang dia rasakan, tapi juga keheranan yang kuat. Bagaimana bisa emosi seorang pria dewasa terpengaruh karena sebuah angka?

"Apa yang terjadi selanjutnya? Mungkinkah dia akan menyingkirkanku?" tanya Monika canggung. Dia menggigit bibir bagian bawahnya, teringat tendangannya kemarin yang masih terasa efeknya sampai sekarang.

"Saya tidak tahu. Tapi, setidaknya keberadaan Anda masih berguna untuk Tuan Rio beberapa waktu kedepan."

"Berguna?" Monika merasa janggal dengan istilah ini. Keberadaannya di sisi Rio berguna? Bukankah dia hanya ditahan untuk melunasi hutang? Berbagai pertanyaan berurutan menyerang wanita berdarah campuran ini. Dia ingin mendengar penjelasan lebih lanjut.

"Nyonya Besar akan kembali dan menjodohkan Tuan Muda dengan gadis pilihannya. Dan kebetulan ayah Anda terlibat masalah dengannya. Jadi, saya menyarankan tuan untuk menikah dengan Anda. Win win solution."

'Heih?' batin Monika memberontak. Dia menatap Leo dengan pandangan tak percaya. Jadi pria ini yang sudah membuat jalan agar Rio menjeratnya? Astaga!

Monika menutup wajahnya dengan tangan. Dia baru tahu kenapa Rio menikahinya. Padahal jelas-jelas pria itu sangat membenci ayahnya karena kasus uang dua miliar itu.

"Jadi..." Suara Monika menggantung. "Dia membenciku tapi juga tidak akan melepaskanku begitu saja. Benar 'kan?"

Leo mengangguk. "Benar."

"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"

Leo tampak berpikir sejenak, mengamati awan hitam di angkasa yang semakin gelap.

"Tuan belum memberikan perintah apapun. Untuk sementara, Anda bisa kembali ke tempat tinggal Anda sendiri dan melanjutkan hidup seperti biasa."

Monika mengembuskan napas beratnya. Setidaknya dia belum memiliki tugas khusus saat ini, entah esok atau lusa. Namun, tiba-tiba dia terperanjat saat mengingat pernyataan Leo beberapa menit yang lalu.

"Tunggu..."

"Ya?"

"Nyonya Besar yang kembali, apakah beliau yang membuat pria itu phobia angka?" Monika menuntut jawab akan prasangkanya ini.

Leo sedikit terkejut, tidak menyangka logika Monika cukup tajam. Padahal, biasanya seorang wanita lebih menggunakan perasaan dibandingkan otak yang mereka miliki.

"Bukan. Itu istri kedua Tuan Besar."

Monika menganggukkan kepalanya sekali. Dia paham situasinya sekarang.

Tuan Dirgantara, atau siapalah namanya, yakni ayah Rio, beliau menikah lagi setelah istri pertamanya pergi. Hubungan Rio dan keluarganya tidak begitu baik. Tapi, ibu tiri pria itu ingin menjodohkannya dengan wanita pilihannya sendiri.

'Ah, cerita klise di novel-novel roman jaman sekarang,' batin Monika. Satu sudut bibirnya terangkat menyadari fakta ini. Dia sering membaca cerita dengan tema seperti itu di beberapa platform novel online.

'Seorang pria kaya raya yang menikah dengan gadis biasa untuk menghindari perjodohan. Kemudian mereka saling jatuh cinta dan hidup bahagia selamanya.' Imajinasi Monika bermain-main, tidak menyadari bahwa kisah hidupnya sendiri juga seperti itu. Bedanya pernikahan ini karena adanya uang dua miliar yang menjeratnya. Jika tidak, maka bisa dipastikan kisahnya akan sama persis seperti cerita-cerita fiksi itu.

"Apa ada orang lain yang mengetahui phobia angka pria itu?"

Leo harus lebih waspada. Pertanyaan wanita ini tajam, seperti sebuah jebakan. Dia bisa saja mengumbar kelemahan Rio ke publik dan membuat kegaduhan. Meskipun bukan seorang artis, nama Rio Dirgantara cukup terkenal di dunia bisnis.

"Apa Nona berniat melemparnya ke publik?" selidiknya terang-terangan.

"Huh?" Monika mengerutkan kening, melihat Leo yang kini menatapnya dengan penuh kewaspadaan.

"Sudahlah. Bukan urusanku." Monika membuka pintu di sisi badannya.

Jemari tangan Leo menahan bahunya. "Jangan membuat masalah dengan Tuan Muda!"

Monika menyingkirkan cekalan tangan Leo dengan tatap mata yang tajam. "Kalian yang membuat masalah lebih dulu denganku. Kenapa aku tidak boleh? Mari kita bermain-main."

Ucapan sengit penuh perlawanan menjadi salam perpisahan antara Monika dan Leo. Wanita berparas ayu dengan rambut pirang ini segera keluar dari mobil dan memasuki sebuah gang sempit. Di ujung jalan inilah tempat tinggalnya berada, kamar kos berukuran 6 x 6 meter yang ada di lantai tiga.

Monika berjalan dengan langkah kaki yang terasa ringan. Dia tahu salah satu kelemahan suami kontraknya. Dan yang lebih penting, dia mendapatkan kebebasannya untuk beberapa waktu ke depan. Setidaknya, dia harus kembali bekerja setelah dua hari izin tiba-tiba. Kepala toko bisa memecatnya jika hal itu terjadi lagi.

Leo memukul setir bundar di hadapannya. Dia kecolongan, tidak memikirkan efek atas ucapannya beberapa menit yang lalu. Bagaimana bisa dia menceritakan hal pribadi tuannya pada wanita yang baru dia temui kemarin? Apa yang akan terjadi jika rahasia Rio tersebar luas ke publik? Sial!

Dengan menahan emosi, Rio mengambil ponsel dari dalam sakunya.

"Maria, awasi pergerakan Nona Monika. Jangan biarkan dia membocorkan rahasia yang Tuan miliki." Leo berbicara setelah mendengar sahutan Maria di ujung telepon.

"Apa kamu yang memberitahunya?" sengit Maria. Meski tanpa melihat wajahnya sekalipun, Leo tahu wanita itu pasti marah atas kebodohannya ini.

"Aku tidak tahu No..."

"Bodoh!" maki wanita yang telah menjadi rekan kerjanya beberapa tahun terakhir. Dia memang terkenal paling bar-bar diantara para pengawal wanita yang ada.

"Jangan mengataiku!" sungut Leo kesal. Dia tahu ini salahnya.

"Sekali bodoh tetap bodoh!" Suara Maria menggema, membuat Leo harus menyingkirkan ponselnya sedikit menjauh dari telinga.

Layar ponselnya kembali ke mode awal. Sambungan dua arah itu terputus seketika, membuat Leo menggeram. Bukannya mendapat solusi atas permasalahan yang dia alami, justru makian dan umpatan yang harus didengarnya dari Maria.

Leo menggertakkan gigi gerahamnya. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Bagaimana reaksi Rio jika tahu Monika sudah mendengar tentang phobia angka dan kisah masa lalunya? Mungkinkah ini akan menjadi penyebab akhir dari kisah hidup Leo sebagai seorang asisten pribadi?














BAB 20


Tapak kaki Monika melewati pintu saat tiba-tiba hujan turun dengan begitu deras. Langit malam menumpahkan beribu-ribu bulir air yang jatuh dari angkasa. Sebagian mengalir ke sungai melalui saluran drainase yang ada, sementara sisanya tersimpan di dalam tanah.

Hawa dingin menyergap, membuat siapa saja enggan berada di luar rumah dan memilih berdiam di tempat mereka sendiri.

"Untunglah..." Ungkap wanita yang kini melepas dua sepatu di kakinya. Dia merasa beruntung karena tidak sampai kehujanan. Daya tahan tubuhnya sedikit lemah, mudah terserang flu setelah kehujanan.

Dengan langkah kaki lebar-lebar, Monika bergegas menuju dapur demi mengambil segelas air putih hangat. Tenggorokannya terasa kering dengan perut yang mulai meronta minta diisi. Terakhir dia makan pagi ini, setelahnya tak ada sebutir nasi pun yang masuk ke dalam perut.

Monika bersiap minum air di gelas yang kedua saat tiba-tiba netranya menangkap kalender meja di hadapannya.

"Phobia angka ya?" gumamnya sambil mengamati angka enam di sana. Dia tidak habis pikir dengan keanehan suami kontraknya itu.

"Seseorang sepertinya bisa memiliki phobia? Yang benar saja?!" Satu sudut bibir Monika terangkat, menandakan bahwa dia sedikit meremehkan mental pria mesum yang telah menjajah tubuhnya siang ini.

Monika berdiri, menatap tetes hujan yang mulai mereda dari balik jendela. "Phobia? Ketakutan berlebih pada benda atau keadaan tertentu?"

Detik berikutnya, senyum lebar menghiasi wajah cantiknya. "Bukankah itu menarik? Aku bisa menggunakan itu untuk menghancurkan mentalnya."

Monika bertekad untuk melawan Rio. Dia tidak bisa terus diam saja tanpa melakukan apapun. Ini hidupnya, tentu saja dia harus memperjuangkannya.

"Ah, mari kita lihat seberapa jauh ketidakwarasannya."

Monika menyambar ponsel di atas meja dan segera berselancar di dunia maya. Untuk apa? Tentu saja mencari info sebanyak mungkin tentang phobia angka atau sering disebut Numerophobia.

Kening wanita bersurai pirang ini berkerut dalam saat membaca beberapa artikel di internet tentang phobia angka. Di negara Jepang misalnya, mereka phobia angka 4 karena pelafalannya adalah 'shi' yang serupa dengan arti kata kematian. Bahkan beberapa gedung pencakar langit yang meniadakan lantai empat.

"Yang benar saja?!" Monika menggelengkan kepalanya.

Matanya beralih saat melihat angka 8, 13, dan 666. Ada berbagai versi phobia yang berkaitan dengan angka-angka tersebut.

"Ternyata pria mesum itu punya banyak teman yang sama-sama takut angka?"

Monika merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia meletakkan ponselnya sembarang.

"Jadi, dia itu masih manusia 'kan?" gumam Monika, bertanya pada dirinya sendiri. "Setidaknya dia bisa diajak berbicara."

Wanita dengan sweater hitam itu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Matanya terpejam, mengambil napas dalam-dalam sebelum membuangnya ke udara.

"Huh!!" Entah sudah embusan napas yang keberapa, Monika tak menghitungnya.

"Aku sudah menikah?" gumamnya lirih, namun masih terdengar jelas oleh telinganya sendiri. Ingatannya kembali pada kejadian 48 jam lalu, dimana dia tidur nyenyak di ranjang single size ini.

"Aku sudah menikah?" ulangnya. Tangan kanannya terangkat ke atas, memperlihatkan sebuah cincin yang kini melingkari jari manis miliknya.

"Mama, anakmu ini sudah menjadi istri orang." Monika seolah tengah berbicara dengan wanita kesayangannya.

Hening. Wanita ini larut dalam pemikirannya sendiri. Skenario hidupnya tiba-tiba saja berubah drastis. Kehidupannya yang damai terhenti, berganti dengan takdir yang belum bisa dia pahami. Semuanya terjadi dengan begitu cepat.

"Mama.... " Lagi-lagi Monika berucap, masih tetap menatap intan berlian yang dia pakai sendiri kemarin. Ya, memang benar Monika memakai cincin pernikahan sendiri, bukan Rio yang menyematkannya.

Jangankan memakaikan cincin dan mencium kening seperti pasangan lain, menatapnya saja enggan. Rio hanya mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Menyebalkan! 

"Ma... " Suara wanita 26 tahun ini semakin lirih, teredam suara hujan di luar sana. Hatinya terasa hampa. "Papa pergi," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Dan karena papa pergi, jadi pernikahan ini harus terjadi," sesalnya. "Apa salahku, Ma?"

Tak ada jawaban. Karena memang tak ada orang lain di ruangan 6 x 6 meter ini. Monika hanya seorang diri. Dan tangannya masih terulur ke atas, seolah bisa menggapai langit-langit di atas sana. Sebuah berlian mewah dan mahal menjadi simbol pengikatnya dengan Rio Dirgantara, CEO kaya raya dengan segala pesonanya.

"Benarkah ini terjadi padaku, Ma?" gumam Monika lirih. Jujur saja, dia belum bisa mempercayai hal ini. Bagaimana bisa gadis biasa sepertinya menjadi pendamping seorang petinggi perusahaan multinasional? Pantaskah dia ada di posisi ini?

Satu bulir air mata berhasil lolos, tapi langsung Monika hapus dengan kasar. Dia sudah bertekad untuk tidak menangis apapun yang terjadi.

"Ini cuma lelucon kan, Ma?" Suara Monika mulai terdengar gemetar. "Ini... bohong, 'kan?"

Dan detik berikutnya, wanita itu menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Tubuhnya tertelungkup menghadap ke bawah. Rentetan kejadian dua hari terakhir sungguh tidak bisa dipercaya, membuat tangisnya pecah seketika.

Sementara itu di tempat lain, seorang pria belum juga berhenti membanting benda-benda di sekitarnya. Berbagai benda pecah belah telah hancur berkeping-keping.

"Meninggalkanku setelah enam bulan, huh?" geramnya dengan wajah menegang. Urat lehernya terlihat menonjol, menandakan bahwa kemarahannya tak bisa dia tahan lagi.

"AARRGHHHH!" teriaknya frustrasi. "Jangan harap kamu bisa meninggalkanku seperti wanita itu!!!" Jari telunjuk Rio tertuju pada lukisan seorang wanita yang tertanam di dinding. Itu adalah gambar wajah ibunya. Ayah melukis itu puluhan tahun yang lalu, sebelum Rio terlahir ke dunia ini.

Rio jatuh terduduk di atas kursi. Dia membenci ibunya. Wanita itu telah pergi bertahun-tahun lamanya tanpa kabar. Tapi, jauh di dalam lubuk hatinya, dia juga merasa rindu akan hangat dan nyamannya pelukan wanita itu.

"Tuan," panggil Leo begitu melihat kemarahan Rio sedikit mereda setelah duduk.

"APA?!" ketusnya dengan tatap mata tajam dan menukik.

"Nona Monika sudah kembali ke tempat tinggalnya sendiri."

"MEMANGNYA KENAPA?" Rio bersungut kesal. Dia marah pada wanita itu, tapi juga merindukan aroma tubuhnya. Bahkan ada desiran halus di hatinya saat mendengar Leo menyebut namanya barusan. Padahal, mereka baru berpisah tiga puluh menit yang lalu.

"Tidak ada. Saya permisi." Leo undur diri. Dia tidak berani mengungkapkan fakta bahwa Monika sudah mengetahui rahasia besarnya. Ah, lebih tepatnya Leo akan mengakui kesalahannya saat tuannya tidak sedang dikuasai emosi seperti sekarang ini.

"Tunggu," cegah pria yang kini berdiri dengan napas beratnya. Dia tidak bisa menahan diri lagi. "Antarkan aku ke sana."

'Eh?' batin Leo, heran dengan perubahan emosi tuannya yang begitu tiba-tiba. Apa yang ingin dia lakukan? Bukankah mereka baru saja bertengkar?

"Saya sudah meminta Maria mengawasi nona 24 jam."

Rio menghentikan langkahnya tepat di depan Leo. Dengan tatap mata penuh intimidasi, dia berhasil mendominasi di situasi ini.

"Aku tidak akan mengatakannya untuk yang kedua kali!"

Leo tergeragap. "Ba... baik."

* * *

Hujan telah reda seluruhnya saat Rio menghentikan kakinya di anak tangga teratas kontrakan sempit ini. Logikanya menolak untuk menginjakkan kaki di tempat seperti ini, tapi keinginan hatinya berkata sebaliknya. Dia ingin menemui Monika secepatnya.

"Tuan," sapa Maria begitu melihat Rio melalui ujung matanya. Dia berjaga di luar pintu kamar Monika, mengabaikan pandangan mata orang-orang lewat yang tak sengaja melihatnya.

"Dimana dia?" Pertanyaan bodoh itu Rio sesali. Dimana otak cerdasnya? Kenapa dia jadi bodoh setelah bertemu dengan Monika? Dengan keberadaan Maria dan seorang rekannya di depan pintu, tentu saja Monika ada di dalam.

'Bodoh!' makinya dalam hati.

"Nona ada di dalam. Tak ada suara apapun. Sepertinya dia sudah tidur."

Rio mengangguk sekali, sebelum membuka pintu berwarna putih dengan kunci yang ada di tangannya. Jangan tanya dari mana dia mendapatkan benda itu. Dia bisa melakukan segalanya, apalagi hanya sekadar membuat kunci cadangan biasa.

Aroma apel yang menyegarkan segera menyapa hidung Rio, membuat darahnya berdesir. Ini aroma khas gadisnya. Pengharum ruangan di kamar sempit ini juga beraroma buah, sama seperti sabun mandi yang melekat di tubuhnya.

"Tinggalkan tempat ini!" titah Rio, menolehkan wajah pada dua orang wanita suruhannya.

"Baik," jawab Maria dan rekannya bersamaan. Mereka segera pergi, meninggalkan tuannya dengan istri kontrak yang terbaring di ranjang sempitnya.

Dengan langkah tanpa suara, Rio masuk lebih dalam ke ruangan dimana Monika berada. Napasnya tercekat saat melihat tubuh wanita ini tertelungkup menghadap kasur.

"Apa yang terjadi? Apa dia mencoba bunuh diri?" gumam Rio dengan kening berkerut. Perlahan dia membalik tubuh ramping istrinya, memposisikan wajahnya menghadap ke atas. Bekas bantal yang basah menunjukkan bahwa wanitanya ini menangis sebelum tertidur tanpa sadar.

"Kamu menangis?" Rio menyingkirkan helai rambut dari wajah Monika, membuat kecantikannya semakin terlihat jelas.

Sebuah kecupan Rio lesatkan di bibir wanita yang telah kehilangan kesadarannya ini. Dia sudah masuk ke alam mimpi.

Hasrat yang dirasakan oleh pria ini semakin kuat kala melihat bibir ranum wanitanya yang terbuka. Kemarahannya pada Monika sirna, berganti dengan perasaan ingin memiliki yang melesak di dalam dirinya.

"Kamu milikku. Hanya milikku."

Rio segera melahap bibir bawah Monika sebelum menjelajah ke dalam rongga mulutnya. Sensasi luar biasa dirasakan oleh pria ini saat menyentuh lidah hangat milik istrinya.

"Emhh," gumam Monika dalam tidurnya. Dia menolehkan wajah ke arah lain, meninggalkan Rio dengan mulut terbuka. Pria ini terhenyak, seperti anak kecil yang kehilangan mainannya barunya.

"Kamu sengaja mempermainkanku?" bisik Rio sambil mengulum daun telinga Sang Istri yang masih terhalang rambut indahnya.

Monika kembali menggerakkan badan. Bahkan kali ini tangannya ikut bekerja, menepis sesuatu yang terasa mengganggu tidurnya. Dia berbalik, membuat Rio hanya bisa menatap rambut panjangnya yang tergerai sembarang.

"Hey, kamu benar-benar ingin membuat masalah denganku?" Smirk iblis muncul di wajah CEO Dirgantara Artha Graha ini. Dia merasa jika Monika tengah mempermainkannya. Padahal, wanita itu hanya merasa tidurnya tidak nyaman dan mencari posisi yang lebih nyaman. Itu saja.

Kecupan berikutnya Rio daratkan di leher bagian belakang istrinya. Tak ada respon sama sekali. Sepertinya Monika mendapatkan kembali ketidaksadarannya. Dia terlelap dalam tidurnya.

Rio tak ingin tinggal diam. Dia mulai berani memasukkan tangannya ke dalam sweater hitam yang Monika kenakan. Jemarinya aktif mengelus kulit punggung Sang Istri yang terasa begitu lembut. Berkali-kali dia meneguk ludahnya, menekan sesuatu di bawah sana yang terasa semakin sesak.

"Enghh." Suara lenguhan terdengar saat tangan Rio semakin berani menjajah tubuh Monika, mengelus, menekan, dan meremas gumpalan daging dalam jangkauannya.

"Kamu menikmatinya, Sayang?" bisik Rio seduktif, tepat di telinga Monika yang sensitif.

Perlahan kesadaran Monika kembali. Terlebih lagi, sepuluh jemari Rio semakin aktif memainkan tubuh polosnya. Rio benar-benar menggilai setiap jengkal wilayah tersembunyi yang dimiliki oleh istrinya.

'Siapa?' batin Monika bertanya-tanya. Dia membuka matanya yang masih terasa berat. Bisikan Rio berhasil memanggil nyawanya untuk kembali. Juga remasan yang terasa semakin buas itu, membuat buah dadanya terasa nyeri namun nikmat.

"Nikmatilah, Sayang."

Logika Monika mulai bekerja, membuang segala kantuk yang tersisa.

'Suara ini?!' batin wanita dengan pakaian yang tergulung di dada. Sweater hitam itu terkumpul seluruhnya ke atas, menampilkan perut rata hingga dua bukit kembar yang telah lolos dari wadahnya. Entah sejak kapan itu terjadi, Monika tidak menyadarinya.

"Aku merindukanmu." Lagi-lagi suara Rio terdengar, membuat Monika semakin yakin bahwa dia tidak sedang bermimpi.

Tubuh ramping ini menegang seketika. Dia tidak menyangka kejadian kemarin malam akan terulang lagi. CEO mesum ini mempermainkan tubuhnya. Bahkan tanda cinta yang dia tinggalkan saja masih ada. Bagaimana bisa dia melakukannya lagi.

"Kamu sudah bangun?" tanya Rio, membalik tubuh Monika, membuat dua pasang netra mereka bersitatap.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Monika panik. Dia bahkan melupakan sebutan 'Bapak' yang biasa dia gunakan untuk memanggil Rio.

"Apa lagi? Tentu saja mengunjungi istriku." Rio bersiap kembali menikmati bibir ranum wanitanya.

Monika mendorong dada pria ini sekuat tenaga, membuat tubuh keduanya sedikit berjarak. Kesempatan itu dia manfaatkan untuk menyelamatkan diri.

"MESUM!!" geram Monika, berdiri menjauh dari pria ini. Tangannya sibuk membenahi pakaian, menutup aset berharganya dari pandangan pria mesum ini.

"Serahkan dirimu padaku." Rio berdiri tegap, mengangkat badannya yang semula menunduk di samping ranjang mungil milik istrinya. Tatap matanya tajam, penuh penekanan.

"Huh? Menyerahkan diri? Apa aku seorang kriminal?" tanya Monika, jengah dengan pria yang paling dia benci sekarang ini.

"Kamu tawananku. Tugas utamamu adalah untuk menyenangkanku."

"Menyenangakanmu?" Lagi-lagi Monika membeo, menirukan ucapan pria di hadapannya. Dia terus melangkah mundur, membuat jarak sejauh mungkin dengan pria yang berdiri diam di tempatnya semula.

"Jangankan menyenangkanmu, mendengar suaramu saja membuatku muak!"

Rio tersenyum. Senang melihat wanitanya sedikit melawan. Dia suka itu.

"Aku punya aturan."

"Tutup mulutmu! Pergi dari tempat ini sekarang juga!"

"Kamu istriku. Rumahmu, bukankah itu rumahku juga?" Rio bergerak maju, mengikis jarak dengan wanita yang dua langkah lagi menabrak dinding.

"Tunggu. Apa maksudmu?"

"Aku akan membelinya jika itu maumu."

"PRIA GILA!!" Monika menggelengkan kepala, tidak mau mengiyakan ide luar biasa pria kaya raya yang berstatus sebagai suami sahnya ini.

"Benar. Aku memang seorang pria gila. Pria normal yang tergila-gila pada tubuh istrinya. Apa itu salah?" Rio tersenyum dengan tidak tahu malu. Dia membanggakan dirinya sendiri.

"Menjijikkan!!"

Detik berikutnya, Rio tersenyum penuh arti.

"Aku menginginkanmu!"

1 Comments