Dipaksa Menikahi CEO. Bab 21

 


BAB 21


Monika yang tengah tertidur, dikejutkan oleh kedatangan Rio dengan segala tingkah mesumnya. Pria itu tampaknya begitu menikmati kegiatan ilegalnya, yakni menjamah tubuh istri kontraknya, Monika Alexandra.

"Aku menginginkanmu!" ujar Rio sembari berjalan ke depan, mengikis jarak yang tersisa antara dirinya dengan Sang Wanita.

"Jangan mimipi!" Monika menggeleng kuat-kuat. Dia tidak ingin menjadi lahan pelampiasan pria mesum ini lagi. Apa yang Rio lakukan siang ini sudah membuat tubuhnya hancur. Bagaimana jika dia menggila lagi sekarang?

"Kamu ingin melawanku?" Rio menampilkan smirk andalannya.

"Pergi!" Monika semakin terdesak. Dia tidak bisa lagi menjauh saat tubuhnya menabrak dinding.

"Ayolah, Sayang. Jika kamu menurutinya, aku akan memberikan hadiah untukmu. Satu kali kepuasan, satu permintaan akan ku kabulkan." Rio melembutkan suara, menyingkirkan kesan angkuh yang sedari tadi terpampang di wajah tampannya.

Wajah Monika memerah, menahan marah. Dadanya naik turun dengan cepat, napasnya mulai tak beraturan.

"Apa dosaku sampai bertemu pria gila sepertimu?!" Tubuh Monika gemetar mengingat betapa buasnya pria ini saat mencapai puncak kenikmatannya. Rio tidak pernah puas merajai tubuhnya, bahkan terakhir kali sampai membuatnya pingsan. Hal itu membuatnya semakin merasa frustrasi.

"Penawaranku lebih baik dari lima juta yang kamu minta, bukan? Kenapa sekarang kamu berubah pikiran?"

"HAH? PRIA GILA?!" Monika memutar bola matanya. "Jika aku menyetujuinya, aku bisa gila!" Wanita ini bersikeras dengan ego di dalam dirinya. Dia ingin mempertahankan secuil harga diri yang masih dimilikinya sebagai seorang wanita dewasa.

 "Bukankah kamu ingin kebebasanmu kembali?"

"Cih!" Monika berdecih. Dia menolehkan wajahnya ke samping, enggan menatap wajah rupawan yang didambakan semua wanita di dunia ini.

"Persetan dengan kebebasan yang kamu janjikan! Aku tidak akan menyenangkanmu!"

Lagi-lagi Rio tersenyum. Jemarinya mengelus dagunya yang bersih, tak ditumbuhi sehelai rambut pun. Dia semakin bersemangat menggoda wanita ini. Jujur saja, hasratnya sudah teredam. Dia tidak lagi menginginkan tubuh wanita ini setelah melihat dia gemetar ketakutan.

"Jadi, kamu tidak akan menuruti kemauanku? Kalau begitu, aku terpaksa menghukummu!" Rio semakin mendekatkan badannya ke arah Monika, membuat napas wanita itu tercekat. Dadanya terasa sesak, terlebih aroma pria ini berhasil menyapa indera penciumannya. Sial!

"Penawaran terakhir dariku. Puaskan aku maka apapun yang kamu mau, aku akan memberikannya. Kecuali pembatalan pernikahan kita, semua bisa kamu dapatkan!"

"Apa untungnya bagiku? Tetap saja aku harus menjadi istri pria mesum sepertimu?!" Monika tak bisa menyembunyikan kemarahannya lagi.

"Sampai mati pun, aku tidak akan rela menjadi pelampiasanmu!

Rio meraih dagu Monika, mencengkeramnya dengan sangat erat. "Penolakanmu membuatku semakin suka mempermainkanmu!"

Monika coba berontak, melawan Rio dengan segala daya upaya yang bisa dia lakukan.

"Bukankah aku sudah mengatakannya padamu?" Rio menempelkan tubuh bagian bawahnya ke arah paha Monika, membuat sepasang netra sipit ini membola.

"Aku akan berlaku lembut padamu jika kamu menurut. Tapi, jika kamu terus melawanku seperti sekarang, aku akan melakukannya dengan kasar seperti siang tadi."

Monika menggeleng. Dia jelas menolak keduanya. Tubuhnya tidak akan sanggup menerima gempuran pria ini, entah dia melakukannya dengan lembut, apalagi dengan kasar.

"Lepas!!"

Dengan sekali tarikan, tubuh ramping Monika terhempas ke ranjang di tengah ruangan ini. Punggungnya yang memar menghantam kasur, membuat rasa nyeri seketika menjalar di tubuhnya. Matanya berkaca-kaca.

"Jangan menangis. Aku benci melihatnya!" Rio menghapus air mata Monika dengan kasar.

Pria 31 tahun ini langsung mendaratkan kecupannya di kelopak mata istrinya. Entah kenapa dia selalu ingin menikmati cairan asin yang keluar dari sana, menyesapnya dengan lembut.

"Sweety, aku tidak akan menyakitimu. Jadi, bekerjasamalah denganku." Rio melepas pakaian bagian atas miliknya dan mulai mengunci Sang Istri di bawah kendali.

Monika memejamkan mata. Dia tidak ingin menangkap sosok menjijikkan yang kini mulai melancarkan serangannya. Di saat yang sama, dia menulikan diri. Apa yang Rio katakan, tidak ingin dia dengar lagi.

"Ayolah, Sayang." Rio berbisik, memindahkan bibirnya menuju sisi lain wajah Monika. "Balas perlakuanku ini."

Bibir indah itu kini menjamah leher Monika, sesekali menyesap aromanya. Satu tanda cinta kembali Rio tinggalkan di sana, membuat Monika menggigit bibir bawahnya agar tidak mendesah.

"Kamu membuatku gila," bisikan pria itu membuat bulu roma Monika berdiri. Dia tidak bisa menghentikan aliran darah di dalam tubuhnya yang mulai memanas. Hasratnya mulai terpancing, padahal logikanya tidak demikian.

Rio terus bergerak. Jemarinya meremas gumpalan daging itu dari luar, membuat mulut Monika terbuka tanpa bersuara. Dia mencoba menangkap udara sebanyak-banyaknya, menambah pasokan oksigen di dalam paru-parunya yang terasa semakin menipis.

"Lihat dan nikmatilah."

Kedua tangan Rio semakin berani menyusup ke dalam sweater hitam wanita ini dan mengelus perut rata milik istrinya.

"Hen... hentikan!!" Monika menahan lengan pria ini. 

Rio tersenyum, menatap wanitanya yang kini menunjukkan wajah memelas antara menolak tapi menginginkan lebih.

Bukannya berhenti, tangan Rio justru beralih pada inti tubuh istrinya di bawah sana. Dia bergerak aktif, mulai memainkan jemarinya tanpa aba-aba.

Tubuh Monika menegang. Dia tidak bisa menahan sensasi di dalam dirinya yang tak bisa dibendungnya lagi. Tubuhnya melenting, menunjukkan dia mencapai puncaknya hanya karena permainan jari yang Rio lakukan.

"Ah.. Aku menyerah." Monika tak bisa melawan pria ini, maka satu-satunya cara adalah menggunakan mulutnya untuk bernegosiasi. Dia tidak ingin Rio kembali membombardir inti tubuhnya dengan senjata andalan yang pria itu miliki. Tidak. Itu tidak boleh terjadi atau dia benar-benar tidak bisa berjalan besok pagi.

"Aku akan menyetujuinya, tapi jangan lakukan 'itu' sekarang. Tolong berhenti, jangan melanjutkannya lagi," pinta Monika serius, mencengkeram pergelangan tangan pria yang tengah menindihnya.

"Hahaha..." Suara tawa Rio menggema, bersamaan dengan tubuhnya yang menjauh dari jangkauan Monika. "Aku harap kamu tidak akan mengingkari kata-katamu."

Rio berdiri, membenahi kemejanya yang sedikit kusut akibat dorongan yang Monika lakukan sebelumnya.

'Eh?' batin Monika tergeragap. Dia tidak menyangka pria ini menuruti permintaannya untuk berhenti.

"Aku lapar. Buatkan sesuatu untukku." Permintaan itu Rio ucapkan dengan lembut. Pria ini mengamati keseluruhan kamar kost yang dia kunjungi untuk kedua kalinya ini. Tangannya terulur, menyentuh pigura berisi foto seorang anak kecil berambut pirang dengan wanita dengan warna rambut yang sama. Sebuah senyum tipis muncul di bibirnya.

'Cantik,' pujinya dalam hati. Tanpa bertanya sekalipun, Rio tahu bahwa itu foto Monika kecil dengan Sang Ibu.

Monika terhenyak. Dia tidak tahu apa yang tengah pria ini rencanakan. Satu waktu, dia terlihat begitu kasar seperti binatang buas. Tapi di saat yang lain, dia bisa berbicara dengan begitu lembut seperti barusan.

"Kenapa diam?" Rio menoleh, menangkap wajah istrinya yang kini duduk bersandar kepala ranjang. Wanita itu seolah linglung, tidak bisa menangkap situasi saat ini.

Sifat jahil Rio kembali. Dia ingin menggoda gadisnya.

"Apa kamu menyesal karena aku tidak jadi menyentuhmu?" Rio berbalik dan mengamati tubuh istrinya dengan pandangan buasnya. "Haruskah aku melanjutkan kegiatan kita tadi?"

Monika menelan salivanya dengan paksa. Sepersekian detik, dia beranjak dari ranjang sempit itu dan mulai membenahi pakaian yang dia dapatkan dari Maria siang tadi.

Lagi-lagi Rio tersenyum. Dia melihat wajah polos istrinya, membuat hatinya berdesir. Dia menyukai Monika dengan segala pembawaannya. Dia menyenangkan untuk dilihat, berbeda dengan wanita di luar sana yang sudah merubah bentuk wajahnya berkali-kali.

"Aku lapar," ulang Rio, menyadarkan Monika dari aktivitas pribadinya membenahi pakaian.

"Buatkan sesuatu untukku. Jika aku kenyang, itu termasuk satu kepuasan untukku. Kamu bisa meminta apapun setelahnya."

Monika terpaku. 'Kepuasan?' batinnya heran. Yang dia pikirkan sebelumnya adalah kepuasan di ranjang. Tapi ternyata, membuat pria ini kenyang termasuk kepuasan?

"Aku memiliki perut yang sensitif. Pastikan makananmu higienis," lanjutnya.

'Hah?' batin Monika semakin tidak bisa mengerti pria ini. 'Makanan higienis?'

Rio mengerutkan kening saat beberapa detik berlalu tapi Monika belum bergerak dari tempatnya berdiri.

"Kenapa diam? Apa otakmu terbentur?" sindir pria ini sambil melangkahkan kakinya menuju salah satu sisi ruangan sempit yang berfungsi sebagai dapur. Tangannya bergerak cepat, menarik laci di hadapannya. Beberapa bungkus mi instan tertangkap netra elang pria arogan ini, membuat keningnya berkerut.

Tanpa mengatakan apapun, Rio bergerak membuka laci yang lainnya. Tak ada apapun di sana.

"Apa kamu semiskin ini?" sindir Rio dengan satu sudut bibir terangkat. Dia tidak pernah menyangka bahwa istrinya tidak memiliki apapun di kamarnya kecuali beberapa bungkus makanan tidak sehat ini. Seumur hidupnya, dia bahkan belum pernah makan makanan seperti ini.

Monika tak menjawab. Dia kembali mengaktifkan mode diam andalannya. Malas meladeni orang yang berkali-kali menginjak-injak harga dirinya.

Monika menyalakan kompor di hadapannya, mengabaikan pandangan Rio yang menatap wajahnya dari samping.

Wanita ini tidak peduli pada sindiran Rio yang kembali menyayat hatinya. Dia harus mulai terbiasa sekarang. Satu-satunya cara paling ampuh untuk menghadapi pria ini adalah dengan tidak mendengarkan kata-katanya.

Rio bungkam. Entah kenapa hatinya teriris begitu melihat wanita ini seolah tak terusik dengan kata-kata hinaannya.

'Kehidupan seperti apa yang kamu jalani selama ini?' batinnya, menatap Monika dengan segenap perasaan. Hatinya tergerak, ingin mendampingi wanita ini dan tidak akan membiarkannya menderita lagi.

Rio kembali mengingat respon Monika atas kematian Jonatahan Wu. Gadis itu terlihat begitu kehilangan, bahkan tidak beranjak melindungi mayat ayahnya. Sebagai akibatnya, dia harus merelakan punggungnya merasakan tendangan yang begitu keras.

Suara mangkuk beradu dengan meja terdengar. Monika meletakkan mangkuk di tangannya dengan sedikit kasar, berhasil membawa kesadaran Rio kembali. Netranya menangkap dua buah wadah berisi mie instant dengan telur di atasnya. Tampilan makanan itu membuat selera makan Rio sirna, bahkan sekilas merasa mual.

"Tidak ada makanan lain. Ini makananku setiap hari." Monika bermonolog. Tangannya mulai mengambil sumpit dan mulai makan dengan lahap.

Kali ini Rio yang dipaksa bungkam. Dia terjebak dalam situasi yang dia ciptakan sendiri. Tadinya dia berharap Monika melawan saat dia minta makan, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Wanita 26 tahun ini berhasil mengambil alih keadaan dan tidak terintimidasi sama sekali.

Monika menyesap kuah di dalam mangkuknya, membuat Rio semakin keki. Menjijikkan!

Hanya dalam hitungan menit, hidangan di dalam mangkuk Monika telah tandas tak bersisa. Wanita itu beralih ke arah wastafel dan mulai membersihkan alas makan miliknya.

"Kenapa? Makanan buatanku tidak higienis?" Kali ini sindiran tajam yang Monika lesatkan berhasil mencabik harga diri pria yang duduk di atas ranjang, beberapa langkah dari meja kecil tempat makan Monika barusan.

"Aku hanya wanita miskin yang memakan mie instan setiap hari. Tidakkah itu membuatmu jijik padaku?" Monika menjatuhkan harga dirinya untuk menghina Rio.

Rio terhenyak. Dia tidak bisa menyangkal ucapan Monika. Perutnya serasa diaduk hanya dengan menghirup aroma makanan yang terasa begitu kuat ini.

"Bapak Rio Dirgantara yang terhormat." Monika mengambil mangkuk di atas meja dan membawanya mendekat ke arah Rio. "Jika Anda tidak bisa memakan 'makanan sampah' ini, jangan harap kita bisa bekerja sama."

Sebuah senyum lebar terukir di wajah cantik Monika Alexandra. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membuat Rio menderita. Meski kemampuan fisiknya terbatas untuk melawan pria ini, tapi dia bukan gadis bodoh. Dia harus menggunakan otaknya.

"Anda benar-benar tidak bisa memakannya, ya? Hmm, sayang sekali." Monika duduk di samping Rio, mendekatkan satu sendok kuah di dalam mangkuk ke arah mulut suaminya.

"Hoekk!" Rio berlari ke arah wastafel. Dia tidak bisa untuk tidak muntah. Makanan ini sungguh menyiksa perutnya.

"Singkirkan makanan menjijikkan itu!" titahnya, menatap Monika dan makanan yang ada di tangannya dengan pandangan tajam.

"Kenapa? Ini lezat." Monika mulai menyantap mangkuk ke dua malam ini. Dia harus bisa membuat pria ini jijik padanya. Mungkin saja hal itu bisa membuatnya terbebas dari dominasi CEO muda berbahaya ini.

"MARIA! SINGKIRKAN MAKANAN MENJIJIKKAN ITU!" teriak Rio dengan kencang. Tangannya mencengkeram ujung wastafel, menandakan bahwa dia mulai merasakan perasaan tidak enak di perutnya. Sepertinya dia akan muntah lagi, mengeluarkan cairan warna kuning yang terasa pahit.

Tak ada apapun yang terjadi detik berikutnya. Maria atau siapapun itu, tidak ada yang merespon titah tuannya.

"SIAL!!" umpat Rio, menyadari bahwa semua pengawalnya dia minta menjauh dari tempat ini.

"Dimana mereka? Apa Anda ditinggalkan seorang diri oleh para tukang pukul itu?"

Rio bungkam. Dia berhasil dikalahkan oleh wanita ini hanya karena semangkuk mie instan. Menyebalkan!

"Bagaimana? Ingin mencobanya, Tuan?" Monika menggoda pria yang kembali memuntahkan isi perutnya.

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bisakah Rio menguasai keadaan seperti sebelum-sebelumnya? Atau justru Monika yang akan mengambil alih kemudi bahtera rumah tangga mereka?

0 Comments