Dipaksa Menikahi CEO. Bab 22

 

BAB 22


Rio mendatangi Monika di kamar kosnya, berharap bisa mempermainkannya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dia tumbang setelah mencium aroma mie instant plus telur buatan Sang Istri.

"Merepotkan!" ketus Monika saat memapah tubuh pria ini dari dapur. Dia merasa lemas setelah muntah berkali-kali.

Tubuh kekar Rio teronggok di atas kasur mini yang biasa Monika gunakan untuk istirahat malamnya. Wajah pria itu terlihat pucat dengan tatap mata yang tampak sayu. Satu tangannya menutup hidung sementara tangan yang lain memegangi perutnya yang terasa seperti dipelintir.

Dengan cekatan, Monika membuka pintu dan jendela kamarnya, berharap aroma menyengat dari bumbu mie itu segera pergi. Dia tidak tega melihat Rio yang terus muntah tanpa henti. Awalnya dia merasa senang dan menertawakan pria ini. Tapi sekarang justru dia merasa kasihan.

"Ini." Monika memberikan sebuah minyak aroma terapi dalam botol kecil, berharap aroma menthol yang menguar dari sana bisa sedikit melegakan pernapasan Sang Suami.

Rio menggeleng. Dia tidak ingin menerima pemberian Monika. Apapun itu, bisa memicu rasa mualnya untuk muncul lagi.

"Lepas bajumu!" titah Rio dengan suara lirih namun penuh penekanan di setiap suku katanya.

"Heh? Apa maksudmu?" Monika terpancing emosi. Berpikir bahwa pria mesum ini ingin melakukan sesuatu yang tidak-tidak dengan kondisi tubuhnya yang lemah.

"Lepas!" Rio semakin merapatkan tangannya di hidung, menolak aroma apa saja yang mulai tercium olehnya.

"Hoekk!"

Lagi-lagi Rio berlari menuju wastafel. Cairan pahit itu kembali melewati saluran pencernaannya sebelum keluar dari mulut. Pangkal tenggorokannya terasa begitu pahit. Cengkeraman tangannya begitu kuat di sisi wastafel, menandakan dia tidak berpura-pura. Pria ini benar-benar muntah hanya karena semangkuk mie instant.

Monika mengendus tubuhnya sendiri. Dia yakin kualitas udara di kamarnya sudah berubah, tapi ternyata sweaternya masih berbau bumbu menyengat itu. Monika sendiri tidak menyadarinya sampai Rio muntah dua detik setelah dirinya mendekat.

Satu sisi dia merasa kesal dengan keberadaan pria ini yang selalu mengusiknya dua hari terakhir. Tapi di sisi lain dia kasihan dan merasa bersalah atas sikapnya barusan.

"Pergi!" hardik Rio begitu Monika kembali mendekat ke arahnya, siap memapahnya lagi ke ranjang untuk ke sekian kali.

Monika mengembuskan napas beratnya. Dia tahu dirinya yang bersalah dalam situasi ini. Maka sebelum pria ini semakin murka, Monika mengganti pakaiannya dengan segera. Sebuah kaus oversize kini melekat di tubuhnya, menggantikan sweater hitam edisi terbatas yang diperolehnya dari Maria.

"Sudah." Monika mengalungkan tangan Rio ke belakang lehernya dan memeluk pinggang pria ini erat-erat.

Tak ada yang bersuara. Keduanya diam dalam pikiran masing-masing.

"Pak, Anda bisa minum teh?" tanya Monika sambil membenahi kaki Rio, mengangkatnya ke atas.

Rio diam. Dia kembali merasakan perutnya bergejolak sebelum akhirnya reda dengan sendirinya.

Melihat tak ada jawaban dari pria mesum yang kini terlihat mengenaskan itu, Monika berlalu ke dapur dan menyeduh secangkir teh hangat untuknya.

Dari jarak dua meter itu, Monika bisa melihat dengan jelas bahwa tubuh kekar pria itu mengisi sebagaian besar ranjang mungilnya. Dia tergeletak begitu saja, menerima siksaan batin yang kini tengah merasuki seluruh tubuhnya.

'Jadi, pria b*rengsek ini benar-benar hanya manusia biasa, ya?' gumam Monika di dalam hati. Dia tersenyum simpul, menyadari ketidakberdayaan Rio sekarang berbanding terbalik dengan sikap angkuh dan pemaksa yang selalu dia tunjukkan di depan orang lain.

Rio berhasil menguasai diri, mengalahkan rasa mual yang ada. Dia meraba saku celana, berharap bisa mendapatkan ponsel pintar miliknya untuk menghubungi Leo atau Maria. Namun sayangnya, dia tidak mendapatinya di mana pun. Dia meninggalkan benda pipih itu di atas meja kerjanya. Sial!

"Anda butuh sesuatu?" tanya Monika, mendekat dan duduk di tepi ranjang. Dia menatap Rio dengan pandangan bersahabat. Pria ini tidak berbahaya sama sekali, setidaknya untuk satu jam kedepan.

"Panggil Maria." Dua kata itu Rio ucapkan dengan segenap kekuatannya yang tersisa. Tubuhnya terasa lemas, tak bisa lagi digerakkan dengan leluasa seperti biasanya.

Monika menggeleng tegas. "Saya menolaknya!"

Kening Rio berkerut dalam melihat respon istri kontraknya yang keras kepala.

"Jika Anda mendapatkan kembali kekuatan Anda, tubuh saya yang akan menerima akibatnya. Anda akan membuat saya pingsan lagi seperti siang tadi." Monika kembali menggunakan sebutan 'saya' dan 'Anda' untuk menegaskan bahwa hubungan mereka tidak begitu dekat. Ada dinding tak kasat mata yang memisahkan mereka.

"Saya menolong Anda karena kita sama-sama manusia. Tapi perlakuan buruk dan kata-kata kasar yang Anda ucapkan, saya belum memaafkannya."

Rio terhenyak. Kali ini Monika yang kembali mendominasi situasi yang ada. Dan Rio tidak bisa melakukan apapun sementara ini.

"Anda bisa bangun?" Monika mendekatkan cangkir keramik berisi teh hangat ke dekat Rio. "Ini mungkin bisa membuat perut Anda terasa sedikit lebih baik."

Rio berusaha bangun, membuat Monika meletakkan tehnya di atas nakas dan membantu pergerakan pria ini. Sebuah bantal menjadi penyangga kepala di belakang punggungnya.

Lagi-lagi Rio membungkam mulutnya dengan tangan. Dia merasakan gejolak di dalam perutnya kembali terasa, memaksanya untuk menutup mata sejenak.

"Jangan memaksakan diri. Anda bisa berbaring lagi untuk sementara waktu."

Hening. Pria ini tak merespon ucapan istrinya. Kedua matanya terus saja terpejam.

Dan lagi-lagi Monika hanya bisa mengembuskan napas beratnya. Stok kesabaran harus ia tambah lagi untuk menghadapi kucing kecil yang manja ini.

Beberapa detik berlalu dalam diam. Monika masih setia menatap wajah pria ini.

'Jika saja dia memiliki temperamen yang lebih baik, aku tidak keberatan menghabiskan sisa hidupku dengannya.' Batin Monika berceloteh. Wajah tampan yang Rio miliki, pantaslah menjadi dambaan setiap wanita.

"Sudah merasa lebih baik?" tanya Monika setelah Rio membuka matanya. Sebuah senyum simpul dia tampilkan, menatap pria yang kini juga menatapnya.

'Cantik,' puji Rio dalam hati saat matanya terpaku pada manik berwarna biru di hadapannya. Dia mengagumi ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa yang kini berada begitu dekat dengannya.

"Buka mulut Anda, Pak." Monika mendekatkan cangkir di tangannya. Ada asap yang menguar ke udara dari sana, menandakan cairan berwarna coklat itu masih hangat atau bahkan panas.

"Aku bisa sendiri." Rio menolak perlakuan Monika, memilih mengambil cangkir di tangan wanita ini dengan paksa.

"Argghh... Panass!!" Suara Rio menggema tiba-tiba saat isi cangkir itu tumpah di dadanya, membuat kemeja mahal yang dia kenakan basah. Tak sampai di sana, sensasi panas dari air itu membuatnya terkejut.

Cangkir di tangan Rio sukses mendarat di lantai, membuatnya hancur berkeping-keping tak lagi berbentuk.

Kali ini Monika yang menutup matanya. Dia benar-benar tidak boleh marah sekarang. Pria keras kepala ini sedang sakit. Dan dia penyebabnya.

Tanpa kata, Monika mengambil handuk kecil dari dalam lemari dan membasahinya dengan air dingin. Dia mendekat dan segera menyeka dada Rio dari luar kemejanya. Itu dia lakukan untuk mengurangi rasa panas yang menjalar di sana.

"Saya akan memanggil Maria." Monika bersiap berdiri. Lebih baik dia mencari wanita tukang pukul itu dan memintanya untuk membawa Rio kembali. Jika tidak, dia yang akan kerepotan sendiri nantinya.

Grep

Rio menahan jemari wanita ini. Wajahnya menunjukkan bahwa dia tidak ingin ditinggalkan. Sama seperti seorang anak kecil yang menahan jemari ibunya.

"Bapak Rio Dirgantara yang terhormat, tolong lepaskan tangan saya. Saya harus memanggil orang-orang itu untuk mengamankan Anda. Tempat sempit ini tidak cocok untuk pria yang terlahir dengan sendok emas di mulutnya seperti Anda. Belum lagi makanan dan minuman yang saya miliki pastilah tidak higienis. Itu sama sekali tidak cocok untuk Anda."

Lima kalimat itu berhasil menohok hati Rio, membuatnya tak bisa berkata-kata. Ketegasan yang Monika miliki membelenggu keangkuhannya. Terlebih lagi dia sudah merepotkan wanita ini berkali-kali.

"Bisa lepaskan tangan saya sekarang, Pak?"

Rio bergeming. Dia tidak merespon permintaan istrinya.

Entah embusan napas yang keberapa kali sejak pria ini datang ke kamar kosnya ini. Monika tidak bisa mengabaikannya.

"Apa yang Anda ingin saya lakukan sekarang?" tanya Monika, kembali duduk di dekat Rio, berbagi ranjang yang sama dengannya.

"Aku lapar."

Dua kalimat itu sukses membuat Monika mengerutkan keningnya. Sosoknya ini terlihat begitu berbeda dibandingkan pria yang tega menendang mayat ayahnya kemarin siang. Mungkinkah dia memiliki kepribadian ganda?

"Aku lapar." Kalimat itu kembali terdengar, membuat Monika menatap jam digital di atas nakas. Jam sepuluh malam, seharusnya minimarket di depan gang masih buka hingga setengah jam ke depan.

"Tidak ada apapun yang saya punya kecuali makanan sampah yang membuat Anda muntah itu."

Rio melepaskan cekalan tangannya. Dia tidak mau makan makanan menjijikkan itu.

"Duduk diam di sini. Saya akan membeli beberapa bahan makanan di depan sana." Monika menyambar jaket di dalam lemari dan bersiap pergi.

"Teh," pinta Rio dengan suara lirih namun masih tertangkap oleh telinga Monika, menghentikan langkah kaki wanita ini.

"Hah?"

"Buatkan teh lagi. Aku haus."

'Astaga!' batin Monika. Dia tidak tega menolak permintaan pria ini tapi juga merasa kesal dibuatnya.

Dengan cepat, otak Monika mulai bekerja. Dia memperhitungkan waktu yang ada, antara membuat teh untuk Rio atau pergi ke minimarket lebih dulu.

"Aku haus." Lagi-lagi Rio mengulang ucapannya seperti anak kecil.

"Baiklah. Aku tahu!" Monika menggertakkan giginya, membuat bunyi kemeletuk terdengar di telinganya sendiri. Dengan cepat dia kembali menyeduh teh hangat dan meletakkannya di atas nakas.

"Masih panas. Jangan langsung diminum!" titah Monika ketus. "Aku pergi sekarang."

Wanita 26 tahun itu melangkah dengan cepat, meninggalkan Rio seorang diri di bilik kamar sempitnya ini. Dengan sisa waktu yang ada, dia harus berhasil sampai di minimarket sebelum toko itu tutup.

Rio terdiam seorang diri. Tak ada deru AC atau apapun seperti yang biasa dia dengar di apartemen mewahnya.

"Apa aku sudah gila?" Rio menutup matanya dengan sebelah tangan, merasa heran dengan sikapnya kali ini. Jelas-jelas Monika berbeda kasta dengannya. Kenapa dia masih memaksakan diri untuk bertahan sampai sejauh ini?

Tapi, dengan adanya kejadian ini membuat Rio tahu sifat asli Monika. Perhatian wanita ini terlihat tulus, tak mengada-ada sama sekali. Berbeda dengan wanita-wanita yang pernah mendekatinya karena harta. Termasuk Clara, calon istri yang ibunya pilihkan.

Getaran ponsel milik Monika membuat perhatian Rio teralihkan. Netranya menangkap benda pipih di atas nakas yang menyala tiba-tiba.

'Siapa?' batin pria ini bertanya-tanya. Dengan susah payah, Rio mengambil benda pipih itu dan mendapati nama My Lovely di bagian atasnya. Foto seorang pria tampan bermata sipit terpasang di sana.

"My Lovely?"

Jemari Rio bergerak menekan ikon telepon berwarna hijau yang terus meloncat-loncat minta di sentuh.

"Hello, Baby..." Suara seorang pria menyapa indera pendengaran pria ini.

'Baby?' batin Rio. Dia merasa tidak senang mendapati fakta bahwa ada seorang pria yang memanggil istrinya dengan sebutan itu. Tangannya terkepal erat di atas paha, menandakan bahwa dia tengah berusaha menguasai emosinya. 

Siapa pria ini? Kenapa panggilannya terasa begitu akrab? Apa hubungan mereka?

Berbagai tanya segera menyergap pria ini, membuatnya tersadar bahwa dia tidak tahu informasi apapun tentang Monika. Dia meminta Leo menyelidiki identitas wanita ini dan semua seluk beluknya, tapi dia belum mendengarkan laporan dari tangan kanannya itu.

"Baby, can you hear me?"

0 Comments