Dipaksa Menikahi CEO. Bab 23

 


BAB 23


Jam menunjukkan pukul 22.30 saat Monika keluar dari dalam minimarket. Beberapa karyawati tampak keluar bersamanya sebelum lampu dipadamkan.

Dengan langkah cepat, Monika kembali ke kamar kosnya melalui gang sempit ini. Suasana terasa lengan, tak ada seorang pun yang dia temui sepanjang jalan.

"Huh! Akhirnya sampai," ucapnya begitu selesai menapaki anak tangga terakir, beberapa langkah menuju pintu kamarnya.

Pintu berwarna putih itu Monika buka dengan hati-hati. Arah pandangnya tertuju pada pria yang masih duduk bersandar pada kepala ranjang.

"Maaf membuat Anda menunggu."

Rio tak membalas ucapan Monika. Pandangannya lurus ke depan, seolah menyimpan dendam.

'Eh? Ada apa dengannya? Bukankah dia baik-baik saja saat aku pergi tadi?' batin Monika, heran karena pria ini sekarang terlihat tidak senang. 'Apa dia kelaparan sampai marah seperti itu?'

Tanpa mempedulikan ekspresi wajah Rio, Monika mulai berkutat dengan kesibukannya di dapur.  Dia membuka kantung belanjaannya yang berisi berbagai makanan, termasuk sayur dan buah-buahan segar.

"Sambil menunggu makanannya siap, Anda bisa mencoba ini jika berkenan." Monika mendekat, berniat menyerahkan satu cup berisi salad buah yang dia beli di minimarket tadi. Itu adalah makanan kesukaannya, jadi dia pikir Rio mungkin juga suka.

Rio mematung, tak menerima uluran tangan Monika. Wajahnya benar-benar mengerikan, sama seperti siang itu saat Monika menolak menandatangani perjanjian.

"Saya tinggalkan di sini." Monika tak ingin ambil pusing. Dia meletakkan potongan buah berbagai warna itu di atas nakas, bersebelahan dengan secangkir teh yang mulai dingin.

'Dia tidak meminum tehnya?' batin wanita ini, mendapati teh yang dia buat untuk kedua kali tak tersentuh sama sekali. 'Ada apa dengannya?'

"Berapa yang kamu inginkan?" Pertanyaan Rio yang tajam dan menukik membuat langkah kaki Monika terhenti. Dia baru saja berbalik satu detik lalu, berniat membersihkan pecahan cangkir di lantai.

"Maksud Anda?"

"Jadi wanitaku. Berapa hargamu?" Rio mengepalkan tangannya, mengingat suara seorang pria yang memanggil Monika dengan sebutan 'Baby'. Dia ingin Monika menjadi miliknya seutuhnya.

Monika meneguk ludah mendengar pernyataan sekaligus pertanyaan yang Rio ajukan. Meski merasa tidak nyaman, tapi wanita ini mencoba membiasakan diri dengan kata-kata kasar yang pria ini ucapkan. Toh, sudah menjadi tabiatnya. Tidak mungkin di ubah.

"Anda tidak perlu membayar saya. Jika beberapa bulan kemudian kita berpisah, itu sudah cukup." Monika mulai jongkok di lantai, memunguti pecahan keramik di hadapannya. Dia sebisa mungkin tetap tenang. Bahkan menjaga gaya bicara formalnya, seolah tengah berhadapan dengan sultan ataupun orang dengaan posisi tinggi.

"Dua miliar bukan uang yang sedikit untuk saya, tapi kemurahan hati Anda pasti ada. Saya hanya seseorang yatim piatu yang ingin hidup dengan impian saya sendiri. Mungkin Anda bisa mempertimbangkannya."

Monika beranjak, mulai siap berkutat di dapur. Tangannya dengan cekatan mempersiapkan berbagai bahan makanan yang ada.

"Mari kita buat kesepakatan. Saya bisa menjadi pendamping wanita Anda dalam jangka waktu tertentu, tapi saya ingin kebebasan. Saya harap Anda tetap mengizinkan saya bekerja di minimarket. Tidak ada jaminan Anda akan terus 'memelihara' saya sepanjang waktu. Mungkin saja Anda akan menemukan wanita lain yang lebih tepat untuk Anda. Bukan gadis miskin, putri seorang penjahata seperti saya." Monika mengambil napas sejenak. Dia harus bisa berbicara dengan kepala dingin.

"Jika saat itu tiba, saya masih bisa bertahan hidup dengan pekerjaan yang ada."

Rio bungkam. Entah kenapa dia tidak bisa menyela ucapan panjang lebar wanita ini. Tampilannya yang tetap tenang membuat Rio sedikit segan. Dan lagi, apa yang dia katakan masuk di logika. Statusnya sebagai seorang istri kontrak tidak bisa bertahan selamanya.

Meski dalam kontrak itu tidak disebutkan berapa lama mereka akan bersama, tapi kuasa Rio mutlak atas semua ketentuan yang ada. Pasti akan ada saatnya kontrak itu berakhir saat Rio tidak menginginkan Monika lagi.

"Saya bisa menuruti semua kemauan Anda asalkan Anda bisa menjamin kebebasan saya." Monika menatap Rio dari kejauhan. Jemarinya sibuk mencuci beras di dalam panci, bersiap memasak nasi.

Rio tetap diam seribu bahasa. Dia tidak ingin menjawab permintaan Monika sekarang.

"Saya sadar diri bahwa posisi saya terlalu rendah untuk bernegosiasi dengan Anda, tapi setidaknya kita sama-sama manusia, bukan?" Monika menyunggingkan senyum simpulnya, membuat Rio terpaku.

'Dia tersenyum?' batin Rio bergejolak. Dia tidak menyangka wanita yang sudah dia perlakukan dengan kasar siang tadi, justru tengah tersenyum hangat padanya. Dan lagi, dia bersedia mengurusnya yang tidak berdaya ini.

"Dan maafkan saya karena membuat Anda marah sore tadi." Monika menundukkan kepalanya sejenak, sebelum kembali menyibukkan diri.

Beberapa menit berlalu tanpa kata, tanpa suara.

"Pak Rio, Anda lebih suka makanan asin atau manis?" tanya Monika saat memasukkan beberapa potong sayuran segar ke dalam panci. Sepertinya dia tengah membuat sup ayam.

"Tidak keduanya."

Jawaban Rio membuat Monika terdiam sepersekian detik. Dia tidak tahu apa maksud pria ini tidak suka kedua rasa itu? Mungkinkah makanannya hambar?

Sejujurnya, Rio tidak terlalu mempermasalahkan soal makanan. Dia hanya tidak senang saat mengingat bahwa wanita ini memiliki hubungan dengan pria lain tanpa dia ketahui. Itu yang menjadi penyebab utamanya bersikap acuh tak acuh. Rio marah karena merasa tersaingi.

"Hanya ini yang bisa saya buat untuk Anda. Tidak tahu apa ini cocok di lidah Anda atau tidak." Monika menyiapkan sebuah meja lipat di depan Rio dan menyajikan olahan makanan yang baru saja dibuatnya. Ada seporsi nasi dengan uap yang masih mengepul di atasnya, semangkuk sup ayam dan omelet telur. Menu yang sangat sederhana.

"Saya tidak memakai penyedap rasa sama sekali," tambahnya saat melihat Rio tak bergerak. Pria ini masih menatapnya dengan mata elang yang tajam, seolah sedang menyelidiki sesuatu secara mendalam.

"Kamu sering melakukannya?"

"Apa?" Monika mengerutkan keningnya. Dia tidak tahu apa maksud pertanyaan Rio ini. Melakukan apa? Sering memasak atau tidak memakai penyedap? Ambigu!

Tanpa menunggu waktu lama, Rio mulai melahap makanan di hadapannya. Dia terdiam saat satu sendok sup mulai menyambangi lidahnya.

"Ada apa?" Monika karena Rio berhenti makan tanpa mengatakan apapun. Dia takut pria ini ingin muntah seperti sebelumnya.

Tanpa menjawab, Rio melanjutkan makan malamnya. Ah, lebih tepatnya makan malam yang terlalu malam.

Hanya dalam hitungan detik, makanan di depan Rio habis tak bersisa. Pria itu terlihat kenyang dan puas. Energinya sudah pulih sedikit demi sedikit.

"Satu permintaan." Rio mengucapkannya dengan wajah tanpa ekspresi.

"Eh?" Monika terhenyak.

"Katakan satu permintaanmu."

"Oh." Monika ber-oh ria saat mengingat pernyataan Rio sebelumnya, bahwa dia bisa meminta satu hal jika bisa membuat Rio puas. Dan ternyata pria ini menepati kata-katanya.

"Saya ingin pekerjaan ini tidak mengganggu pekerjaan di minimarket."

"Pekerjaan ini?" Rio mengerutkan kening, meminta penjelasan akan kata-kata yang Monika ucapkan.

"Benar. Saya menganggap menjadi istri kontrak Anda sebagai pekerjaan. Dengan begitu, saya tidak akan merasa dirugikan."

Rio menaikkan satu sudut bibirnya.

"Kalau begitu lakukan perkerjaanmu dengan tulus. Layani aku malam ini."

Lagi-lagi pria ini membicarakan hal-hal yang mengarah pada penyatuan mereka. Itu tentu saja membuat Monika kehilangan kata-kata.

"Bagaimana? Bukankah itu salah satu perkerjaanmu sebagai seorang istri?"

Monika mencengkeram piring di tangannya erat-erat. Dia baru saja selesai mencuci peralatan bekas makan Rio.

Wanita ini murka. Ingin sekali melemparkan benda pecah belah ini tepat di muka pria mesum itu. Tapi, untungnya Monika masih bisa menguasai emosinya. Dia harus mencari cara lain agar mereka tidak perlu berhubungan badan.

"Bukankah saya boleh mengajukan satu permintaan? Kalau begitu permintaan saya adalah agar Anda tidak menyentuh saya malam ini." Monika memberanikan diri.

"Baiklah. Kalau begitu kamu yang harus menyentuhku."

Monika semakin tidak tahan dengan kata-kata pria ini.

"Jika aku puas, kamu bisa bekerja besok. Jika tidak, bisa ku pastikan kamu tidak akan bisa bekerja di manapun saat aku tidak lagi menginginkanmu. Se-u-mur hi-dup-mu!" Rio menekankan setiap suku kata terakhir yang dia ucapkan.

Saraf-saraf di tubuh Monika menegang. Dia marah karena tidak bisa melakukan apapun. Ancaman pria ini membuatnya gentar. Jika benar Rio melakukan hal itu, maka bisa dipastikan dia akan menjadi gembel jalanan. Jangankan mimpi kehidupan yang lebih baik, bahkan uang kos saja tidak akan sanggup dia bayar.

"Kemari. Lakukan tugasmu."

Napas Monika tercekat di tenggorokan. Dia tidak ingin menuruti perintah Rio, tapi juga tidak bisa menolaknya.

"Sweety, layani aku." Rio merentangakan kedua tangannya, berharap Monika datang ke pelukannya saat itu juga.

Monika memejamkan matanya. Dia harus menengkan diri atau Rio benar-benar akan membuatnya sengsara seumur hidup.

"Sweety," panggil Rio untuk yang kedua kali.

Monika menggigit bibir bawahnya. Dia tidak terbiasa melayani seorang pria. Hubungannya dengan Devan tak pernah sejauh itu. Mereka bahkan tidak pernah berciuman sama sekali.

"Bukankah kamu ingin tetap bekerja?" Rio kembali mengingatkan imbalan yang akan Monika dapatkan jika menuruti kemauan mesumnya ini.

Dengan langkah tanpa suara, Monika mendekat ke arah Rio yang masih duduk diam di atas ranjang mungil miliknya. Dia terpaku, menatap wajah tanpa dosa di hadapannya.

"Cium aku," pinta pria dengan kemeja warna navy melekat di tubuhnya.

Monika mengepalkan tangan. Dadanya naik turun dengan tidak teratur. Dia marah dan kesal di saat yang bersamaan, tidak menyangka pria ini akan berubah kembali menjadi iblis setelah pulih dari ketidakberdayaannya.

"Sweety..." Panggilan Rio kembali menyapa indera pendengaran Monika. Tangannya menarik jemari Monika di sisi badan, memintanya untuk mendekat.

Mau tak mau, Monika harus melayani pria ini. Menyebalkan!

"Cium aku!" titah pria ini kembali terdengar.

Monika mendekatkan bibirnya, bersiap mencium pria yang berstatus sebagai suami sahnya ini.

Bibir mereka bertaut, membuat Rio tersenyum. Dia berhasil mempermainkan wanita ini lagi.

Detik berikutnya, Monika menarik diri. Dia tidak suka melakukan hal ini dengan pria yang dia benci.

"Itu kecupan, bukan ciuman." Rio melayangkan protesnya karena Monika mengakhiri layanannya dalam hitungan detik.

"Dasar mesum!" Monika beranjak. Dia enggan melanjutkan kegiatan mereka lagi.

Monika jatuh terduduk di pangkuan Rio, membuat tubuh bagian bawah mereka bersinggungan.

"Jika kamu tidak ingin melayaniku, maka aku yang akan mengambil alih keadaan. Jangan salahkan aku jika kamu tidak bisa bekerja besok!" Ancaman Rio berhasil membuat Monika menyerah.

"Aku tidak bisa! Aku belum pernah melakukannya!" ketus Monika, melupakan kata ganti saya seperti yang dia gunakan sebelumnya.

Rio tersenyum. Dia senang karena istrinya ini bukan wanita berpengalaman, artinya dialah orang pertama yang akan mendapat service plus-plus dari Monika.

"Lakukan seperti yang aku lakukan padamu!"

"HAH?" Netra sipit itu membola, tidak menyangka dengan permintaan yang didengarnya barusan.

"Lakukan seperti yang aku lakukan padamu siang tadi. Bukankah kamu juga menikmatinya?"

Tubuh Monika menegang. Cumbuan dan kecupan Rio siang tadi kembali berkelebat di dalam kepalanya. Dia merasa jijik membayangkan jika dia harus melakukan itu pada suaminya.

"Atau... kamu tidak keberatan jika aku melakukannya lagi?"

Tanpa menunggu waktu lama, Monika langsung melahap bibir penuh di hadapannya. Dia berusaha melakukannya seperti yang pernah dia lihat di drama layar kaca. Meski belum pernah melakukannya, setidaknya dia pernah melihatnya.

Rio tersenyum senang melihat Monika yang berubah menjadi agresif. Wanita ini takut akan ancamannya barusan. Maka dia bisa menggunakan itu untuk mengancamnya lagi lain kali.

Sapuan lidah Monika membuat libido Rio meningkat pesat. Pria ini tak ingin tinggal diam, membalas perlakuan istrinya dengan menekan tengkuknya erat-erat. Satu tangannya memeluk pinggang ramping ini dengan erat, tak ingin wanitanya beranjak sebelum dia merasa puas.

Tautan mereka terlepas saat Monika merasa kesulitan bernapas. Dia meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Namun tak demikian dengan Rio, pria ini tak ingin pergulatan mereka berakhir begitu saja.

"Naik ke atasku!" titah Rio satu detik setelah pagutan Monika terlepas dari bibirnya. Mata elangnya berkilat, menunjukkan bahwa hasratnya tak terbendung lagi.

"Apa?" Monika tak mengerti perintah Rio.

Tanpa aba-aba, pria ini mengangkat tubuh ramping Monika, membuatnya duduk mengangkang di atas paha.

Deg!

Monika merasakan sesuatu mengganjal di bawah sana. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Bagaimana jika pria ini lepas kendali dan menyerangnya lagi dengan buas? Haruskah dia meminta izin cuti lagi karena tidak bisa berjalan esok pagi?


0 Comments