Dipaksa Menikahi CEO. Bab 24

 


BAB 24


"Naik ke atasku!" perintah Rio pada Monika yang sedang berusaha mengambil napas.

Mata elang pria ini berkilat, menunjukkan bahwa hasratnya tak terbendung lagi. Dia menginginkan Monika lebih dari apapun.

"Apa?"

Tanpa aba-aba, pria ini mengangkat tubuh ramping Monika, membuatnya duduk mengangkang di atas paha.

"Aghh..." Monika menjerit. "Apa yang kamu laku..."

Sesuatu di balik celana yang Rio kenakan terasa mengganjal ketika Monika berhasil di dudukkan, membuat detak jantungnya berhenti satu waktu. Lidahnya terasa kelu, tak bisa melanjutkan protes yang ingin dia ucapkan.

'Ini?' batin Monika. Wajahnya merah, menahan malu. Sebagai seorang wanita dewasa, Monika tahu apa yang ada diantara dua paha pria ini. Dan ini pertama kali untuknya.

"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan."

"HAH?" Monika linglung. Otaknya tak bisa bekerja dengan baik. "Apa yang harus aku lakukan?"

Sudut bibir pria mesum ini terangkat, matanya menatap ke bawah seolah memberi isyarat pada Monika bahwa senjata miliknya siap bertempur.

"Ap... apa yang... mmmphhh."

Pertanyaan Monika harus tertahan saat pria ini kembali memenjara bibir tipisnya. Lumatannya begitu terasa. Dia benar-benar ada di puncak hasratnya.

Ciuman itu terasa kasar dan menuntut, sama dengan perlakuannya siang tadi. Dia mendominasi, tidak membiarkan wanitanya menjauh sedikitpun. Bahkan tangannya menahan rahang Monika, tak mengizinkannya menoleh sama sekali. Ciuman itu terasa begitu berhasrat dan penuh nafsu.

Monika mendorong dada Sang Suami dan menarik diri. Dia menggeleng tegas. Tidak ingin permainan mereka berlanjut.

"Kamu menolakku, heh?" Rio tidak senang karena Monika melepas dengan paksa tautan mereka. Padahal lidahnya baru saja berhasil masuk ke dalam mulut wanita ini.

"Aku harus bekerja besok."

"Bukankah ini juga pekerjaanmu? Kita sudah bersepakat tentang hal ini."

Monika bungkam. Memang benar, dia tidak mungkin bisa lari dari pria ini. Tapi, bagaimana caranya agar mereka tak perlu berhubungan biologis? Rio tak bisa berhenti meski sudah mendapatkan kepuasan berkali-kali seperti siang dan sore tadi.

Melihat Monika termenung, Rio mendekatkan wajahnya lagi, bersiap menyapa bibir tipis warna peach yang telah menjadi candu untuknya.

Lagi-lagi Monika menggeleng. Dia menolak untuk melayani Rio. Wanita 26 tahun ini menutup mulutnya, membuat bibir Rio mendarat di punggung tangan Monika.

"Aku akan melayanimu. Tapi kamu jangan menyentuhku!" pinta Monika dengan raut wajah ketakutan. Dia masih merasakan nyeri di pangkal pahanya karena perlakuan buas pria ini beberapa jam yang lalu.

"Sungguh?"

Monika kembali meragu. Dia belum pernah melayani seorang pria, bagaimana mungkin dia bisa memuaskan pria ini?

"A... aku tidak tahu." Manik mata biru itu bergerak gelisah, menandakan dia meragukan ucapannya sendiri. Hal itu tentu saja membuat Rio senang. Dia begitu menikmati momen saat Monika terlihat lemah tak berdaya seperti sekarang.

"Apa ini pertama kalinya untukmu?" Tangan Rio menarik pinggang Monika mendekat, membuat tubuh mereka tak lagi berjarak. Deru napas Monika yang tidak teratur menyapa wajahnya.

"Hangat," gumam Rio lirih, memamerkan smirk andalannya.

Tubuh Monika membeku. Aroma parfum pria ini membuat hasratnya ikut terpancing. Belum lagi bibir Rio yang kembali mengecup kulit lehernya yang sensitif, membuat inti tubuhnya berkedut ingin dimasuki.

"Kamu begitu tegang." Rio menatap manik mata di hadapannya dengan begitu intens, mengistirahatkan bibir yang barusan berkelana.

Monika kembali meneguk ludahnya dengan paksa saat pria ini mengunci pandang padanya. Tatapannya yang terlihat tulus, membuat Monika tak bisa menolak pesonanya. Karakter pria ini sungguh sulit untuk diselami. Sekejap buas dan begitu dominan, namun detik berikutnya membuat dia jatuh cinta.

'Tunggu! Jatuh cinta?' Monika bergulat dengan batinnya sendiri. Bagaimana bisa dia memikirkan hal itu?

'Jatuh cinta pada pria ini. Apa aku sudah gila?' Monika menundukkan wajahnya, merasa bodoh dan malu di saat yang bersamaan. Dia tidak bisa menatap wajah pria ini lagi atau dia akan benar-benar lupa diri.

"Apa yang kamu pikirkan?" Suara Rio terasa begitu dekat di telinga Monika, membuat bulu romanya meremang. Pria ini begitu pintar menggodanya. Satu tangannya menyingkirkan helai rambut di samping wajah, membawanya ke belakang.

Monika kehilangan kemampuannya untuk berbicara. Dia tidak bisa menolak pesona Rio. Kedutan di inti tubuhnya semakin kuat, bahkan terasa mulai lembab. Apa yang harus dia lakukan?

"Apa kamu ingin aku memanjakanmu?" Kalimat seduktif Rio membuat kesadaran wanita ini kembali. Dia tidak ingin hal itu terjadi.

"Tidak. Aku yang akan melakukannya. Tapi, berjanjilah jangan menyentuhku!" pinta Monika gugup.

Rio tersenyum. Dia merentangkan tangannya, membuat netra Monika membola.

"Sentuh aku semaumu. Gunakan semua lima inderamu untuk memuaskanku."

"Tinggalkan tanda cinta sebanyak mungkin di tubuhku seperti yang aku lakukan padamu."

Monika tak bisa menarik kata-katanya. Satu yang harus dia lakukan sekarang adalah memuaskan pria yang berstatus sebagai suaminya. Itu!

Dengan tangan gemetar, Monika mulai melepas kancing kemeja Rio satu per satu. Dada bidang pria ini terlihat, membuat Monika kembali berhenti. Pandangannya terkunci pada otot-otot yang terbentuk itu.

"Sweety, lakukan dengan benar!" Paksaan Rio berhasil membuat Monika mengangkat wajahnya. Dia mendekat ke arah bibir Rio dan mulai melumatnya dengan lembut.

Rio tak bergerak. Dia bahkan tak membalas lumatan Monika sama sekali. Kedua tangannya tersimpan di sisi badan, tak lagi memeluk pinggang wanitanya seperti tadi. Itu membuat Monika ragu. Apakah dia salah?

Beberapa detik berlalu dan Monika mengakhiri kecupannya. Stok oksigen di dalam paru-parunya mulai menipis, namun Rio tak tertarik mengikuti permainan lidahnya. Jangankan membalas, merespon saja tidak. Apa yang pria ini inginkan?

"Hanya itu saja kemampuanmu?" sarkas pria yang kini melepas kemejanya sendiri. Keringat di tubuhnya membuat pesonanya semakin terasa menggoda.

Tak menjawab, Monika justru mencium leher Rio sembarang. Dia pernah melihat adegan itu di film, pasti seperti itu cara memanjakan seorang pria.

Rio menarik lengan Monika dengan kasar, membuat wanita ini sedikit menjauh dari lehernya. Keningnya berkerut, tidak tahu kenapa pria ini menariknya. Bukankah dia minta untuk dipuaskan?

"Apa kamu seekor binatang?"

"Hah?" Monika semakin tidak tahu kenapa Rio terlihat begitu membencinya. Dia sudah melakukan yang terbaik, tapi kenapa pria ini justru marah?

"Pergi dari hadapanku!" titahnya kemudian. Wajahnya jengkel, sungguh mengerikan. Hasratnya untuk bercinta sirna. Dia tidak ingin melanjutkannya lagi.

"Beranjak dari tubuhku sekarang juga!"

Monika langsung beranjak, bangun dari pangkuan pria ini. Meski tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia tetap menurutinya.

Rio memakai kembali pakaiannya dan beranjak pergi detik berikutnya, meninggalkan Monika dengan segala tanda tanya.

'Ada apa dengannya? Apa aku melakukan kesalahan? Kenapa dia marah?'

BAAAMMM

Pintu berwarna putih itu tertutup dengan keras, membuat debaman yang memekakkan telinga.

"Dasar pria gila!"

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa yang membuat Rio murka?


0 Comments