Dipaksa Menikahi CEO. Bab 25-26

 


BAB 25


Monika bingung karena tiba-tiba Rio memintanya menyingkir dari pangkuan pria ini. Padahal dia baru saja memulai cumbuannya dengan mencium leher Rio.

"Dasar pria gila!" umpat Monika kesal, mengingat sikap Rio yang seringkali di luar nalar. Satu waktu dia begitu lembut, tapi detik berikutnya dia seperti iblis.

"Apa aku juga ikut gila?! Bagaimana bisa aku jatuh pada pesona pria mesum sepertinya?" Monika merasa begitu malu. Selain berniat memuaskan pria itu, entah kenapa pakaian dalamnya juga mulai terasa lembab. Sepertinya ciuman dan lumatannya pada bibir Rio berhasil membangkitkan hasrat terpendam di dalam dirinya. Bahkan inti tubuhnya terasa berkedut ingin dimasuki. Astaga!

"Argh! Aku benar-benar sudah gila!!" Monika langsung berlalu ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya, berharap bayang-bayang Rio segera bisa dia lupakan.

Monika menjatuhkan tubuh rampingnya ke atas kasur, memilih untuk tidur daripada harus memikirkan pria yang sudah merenggut kesuciannya. Dia mulai memejamkan mata, namun justru bayang-bayang Rio dan Devan bergantian muncul di dalam kepalanya.

"Arrghhh!!" Monika menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Apa yang harus aku lakukan?"

Monika kembali mengamati cincin di jari manisnya. Dia sudah menjadi istri orang, tapi hatinya masih tertaut pada kekasihnya. Rasa berslah seketika merasuki hatinya. Dia tidak ingin berpisah dengan Devan, tapi juga tidak berniat menduakannya.

"Haruskah aku jujur padanya?" Monika menatap cincin lain di jari tengahnya. Itu adalah cincin pemberian pria itu. Karena terlalu besar di jari manis, jadi Monika memakainya di jari yang lain.

Dan kini jari manisnya telah memakai cincin mewah dari Rio. Dua orang pria itu membuat Monika bimbang. Rio tidak mungkin melepaskannya begitu saja. Dia tahu itu. Tapi, Monika juga tidak rela jika harus berpisah dengan Devan.

"Aku harus menemuinya besok." Monika bertekad untuk mengungkapkan permasalahan pelik ini dengan kekasihnya. "Ya! Aku harus mengatakan semuanya."

"Waktunya tidur. Besok aku harus berangkat kerja." Wanita bersurai pirang ini berkata pada dirinya sendiri. Dalam hitungan detik, kelopak mata itu tertutup, masuk ke alam bawah sadarnya dan mulai terlelap.

* * *

"Dimana otak kalian? Rencana sampah seperti itu masih berani melaporkannya padaku?" hardik Rio, membanting map berwarna biru di tangannya. Gelas berisi air putih yang ada di atas meja kini hancur berkeping-keping di atas lantai. Airnya tumpah ke segala arah, menjadi korban pelampiasan kemarahan pria ini.

"Pergi! Siapkan rencana lain dalam tiga puluh menit." Rio mencoba menahan diri. Tangannya terkepal di atas meja.

"Jika tidak ada perubahan, silakan angkat kaki dari perusahaan ini!"

Ketujuh orang yang ada di ruangan rapat ini segera bangkit. Salah satu dari mereka memungut stopmap yang Rio lemparkan. Kepala mereka yang menunduk sejenak menjadi salam perpisahan dalam meeting pagi ini.

"Ada apa dengannya?" celoteh salah satu dari mereka sebelum melangkah keluar pintu.

"Entahlah. Presdir bersikap aneh sejak pagi ini. Sepertinya dia sedang marah pada seseorang."

"Benar. Sejak Jonathan membuat masalah, tidak ada kedamaian sama sekali di perusahaan ini. Untung saja kita tidak ada di pihaknya. Jika itu terjadi, tamatlah riwayat kita," timpal yang lainnya.

Suara sumbang itu menyapa indera pendengaran Leo yang tidak sengaja berpapasan di depan pintu. Dia baru saja kembali dari toilet.

'Ada apa? Kenapa rapatnya selesai begitu cepat?' batin pria ini, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sebelum dia pergi, suasana masih kondusif. Meskipun Rio terus bungkam sepanjang pagi ini, tapi dia tidak menunjukkan sesuatu yang aneh.

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya pria dengan pakaian serba hitam ini pada Rio yang kini duduk di atas kursi utama di ruangan ini.

Rio melirik asistennya sekilas. "Laporkan semuanya padaku!" titahnya tajam.

"Ya?" Leo tidak tahu, laporan apa yang ingin pria ini dengarkan. Apakah tentang pekerjaan atau apa?

"Laporkan semuanya padaku!" Rio menggeram, membuat Leo memutar otaknya dengan cepat. "Semua! Jangan ada yang terlewat sama sekali!"

Tenggorokannya terasa kering seketika, melihat emosi Rio tidak dalam keadaan yang baik. Dia harus bisa mencari cara agar emosi tuannya ini sedikit berkurang. Namun terlebih dahulu, dia harus tahu apa yang menjadi penyebab pria ini murka.

"Apa itu tentang proyek pembangunan lepas pantai yang ingin Anda dengar?" Leo bertanya dengan hati-hati.

Kali ini gelas lain yang menghantam dinding, menandakan bahwa bukan itu yang ingin didengar olehnya.

"Persetan dengan proyek itu! Katakan semuanya tentang j*lang itu!!"

Netra bulat milik Leo membola. Dia terkejut dengan permintaan atasannya. Jelas-jelas ini masih jam kerja dan mereka ada di ruang rapat. Bagaimana bisa tiba-tiba membahas tentang jal, ah, nona Monika?

"Tunggu apa lagi?!" Suara Rio kembali meninggi. Dia tidak bisa menunggu lebih lama. Sejak kembali dari kamar kos Monika semalam, dia tidak bisa tidur sama sekali. Bahkan setiap apa yang dia lakukan, selalu saja bayangan Monika tak pernah pergi dari pikirannya.

Dan yang membuatnya murka adalah saat dia ingat bahwa wanitanya memiliki hubungan dengan pria lain. Bahkan bajingan itu memanggilnya dengan sebutan Baby. Menjijikkan!

"Itu... " Leo menambil napas sejenak. Dia harus mencari kata-kata yang tepat untuk berbicara dengan pria temperamental ini.

"APA?"

"Nona Monika tinggal sendiri selama beberapa tahun ini. Tuan Jonathan hanya menemuinya sesekali, hubungan mereka benar-benar tidak baik setelah beliau menikah lagi."

Rio bungkam. Dia sedikit terhenyak mendengar fakta itu. Emosinya mereda, berganti dengan rasa ingin tahu yang lebih besar. Ada sedikit rasa bersalah yang tiba-tiba menyergap. Mungkinkah dia salah telah menahan wanita itu sebagai pelunas hutang mendiang ayahnya?

"Nyonya Willona terhitung masih kerabat keluarga kerajaan di Inggris. Beliau terpikat dengan tuan Jonathan dan memilih untuk ikut ke Indonesia, meninggalkan semua kemewahan yang ada. Tapi, pernikahan mereka tidak berlangsung lama. Tuan Jonathan menikah lagi dengan istrinya yang sekarang, membuat nyonya Willona memilih pergi bersama nona Monika yang saat itu masih berusia 10 tahun."

Rio diam, sementara Narasi Leo masih berlanjut.

"Nona Monika menjalani kehidupan yang keras setelah ibunya meninggal delapan tahun kemudian. Dia bekerja di beberapa tempat untuk menghidupi dirinya sendiri. Tuan Jonathan tidak pernah memberikan uang padanya, satu sen pun tidak pernah."

Tangan kekar Rio terkepal. Dia marah, kembali mengingat pembawaan Jonathan yang selalu saja terlihat tenang. Bahkan, pria itu terlihat begitu menyayangi putrinya. Rio tidak sengaja melihat interaksi keduanya beberapa bulan yang lalu. Itu sebabnya dia menculik Monika dan memintanya bertanggung jawab atas dosa pria 54 tahun itu.

"Ah, tentang apa yang Tuan lihat siang itu..." Leo seperti tahu apa yang tengah tuannya pikirkan. "Tuan Jonathan meminta Nona Monika untuk mencairkan deposit yang nyonya Willona tinggalkan semasa hidupnya."

Rio berdiri, netranya membola. Dia tidak habis pikir dengan kelakuan Jonathan Wu, pria yang pernah begitu dia percaya untuk mengurus keuangan perusahaan ini selama bertahun-tahun. Kinerjanya yang bagus membuat Rio mempercayainya dan melimpahkan seluruh divisi keuangan padanya. Tapi, faktanya...

"Nona Monika tidak menikmati sepeser pun uang kita. Sebaliknya, dia justru ikut menjadi korban. Sebagian uang tabungan miliknya dia berikan untuk menghidupi ibu dan adik tirinya."

Rio meninju meja di hadapannya. Jadi, dia salah sasaran dengan menangkap Monika?

"Bagaimana dengan kehidupan pribadinya?" Rio mulai bisa mengendalikan emosinya lagi, mengabaikan rasa nyeri yang mulai terasa di punggung tangan.

"Itu..." Leo meragu. Dia takut apa yang akan dia katakan membuat atasannya kembali naik pitam.

"Apa?"

Hening beberapa detik. Leo memantapkan hati, siap melihat tuannya murka untuk yang kedua kali hari ini. Sebelumnya, pria ini tak tergoyahkan oleh siapapun. Tapi, sejak bertemu dengan Monika, tabiatnya berubah. Pria ini jadi aneh. Setidaknya itu yang Leo rasakan.

"Nona Monika memiliki seorang kekasih. Mereka berencana menikah akhir tahun ini."

"Menikah?"

Deg!

Lagi-lagi Rio bungkam setelah mengungkapkan satu kata sakral itu. Ada sesuatu yang terasa tidak nyaman di dalam hatinya, seperti tidak rela saat mendengar bahwa wanita itu memiliki rencana masa depan dengan pria lain.

"Jadi, itu sebabnya dia ingin mengakhiri pernikahan kontrak ini?" gumam Rio lirih, membuat Leo menoleh.

"Siapa pria itu?" kejar Rio kemudian. Dia ingin mendengar semua informasi tentang pria yang memanggil istrinya dengan sebutan 'Baby'.

"Devan Mahendra. Mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Tapi hubungan mereka belum mendapat restu dari keluarga Mahendra."

"Mahendra?" Rio seperti pernah mendengar nama itu.

"Benar. Hubungan tuan Jonathan Wu dan Tuan Mahendra lebih baik dari siapapun. Mereka masih kerabat jauh."

Rio menggeleng. "Tidak. Bukan itu."

"Ya?" Leo tidak tahu apa yang diinginkan oleh tuannya ini.

"Keluarga ini tidak asing. Selidiki semua tentang mereka dan laporkan padaku segera."

"Baik, Tuan."

Hening. Dua orang pria beda usia ini tak lagi berbicara satu sama lain.

"Sejauh apa hubungan mereka berdua?"

"Eh?"

"Devan Mahendra dan Monika Alexandra. Apa mereka pernah tidur bersama?"

Leo kembali dikejutkan oleh pertanyaan pria ini. Sejak kapan tuannya peduli pada hubungan orang lain?

Ah, Leo ingat, Monika bukan lagi orang lain untuk Rio. Mereka suami istri sekarang. Pantas saja pria ini peduli padanya.

"Apa mereka pernah tidur bersama?" Rio mengulangi pertanyaannya. Dia sungguh ingin tahu apakah Monika benar-benar masih perawan seperti pengakuannya atau tidak.

Pria dengan pakaian serba hitam itu menggeleng. "Nona Monika tidak pernah menghabiskan malam dengan kekasihnya. Dia selalu menolak hal itu sebelum menikah."

"Benarkah?" Sebuah senyum terukir di wajah tampan pria 31 tahun ini, membuat asistennya heran.

"Benar. Paling jauh, pria itu hanya mencium kening Nona. Sebatas itu saja. Tidak lebih."

Senyuman Rio semakin lebar. Hatinya menghangat mendengar bahwa dialah pria yang pertama menguasai tubuh Monika.

"Pergilah!"

Leo menunduk sekilas kemudian berbalik, siap meninggalkan tuannya.

"Tunggu. Ada satu tugas lain untukmu." Rio menarik napasnya dalam-dalam, seolah apa yang akan dia katakan adalah perintah yang begitu penting. Leo memasang kupingnya, siap mendengar titah dari tuannya.

"Belikan satu ikat bunga!"

Hah? Leo terhenyak. Dia tidak menyangka tuannya akan mengatakan hal itu. Pria arogan ini meminta dibelikan bunga? Apa dia benar-benar Rio Dirgantara yang dikenalnya selama ini? Sejak kapan dia jadi pria romantis dan melankolis seperti sekarang?

"Bu... bunga?" Leo memastikan bahwa apa yang didengarnya tidak salah.

Tanpa menjawab pertanyaan asisten pribadinya, Rio beranjak pergi dari ruang rapat sambil bersiul.

Otak Leo berhenti berfungsi. Dia terpaku di tempatnya berdiri. Ada apa dengan tuannya? Beberapa menit yang lalu, dia terlihat begitu murka. Tapi sekarang, dia terlihat seperti pria paling bahagia di dunia. Mungkinkah dia jatuh cinta?















BAB 26


Monika keluar dari dalam minimarket dan segera berlari menuju halte bus di seberang jalan. Dia harus menemui Devan di tempat kerja pria itu secepatnya. Hatinya merasa gelisah sejak pagi ini, merasa bersalah jika terus menyembunyikan pernikahan kontraknya dengan Rio.

Wanita bersurai panjang itu mendekatkan ponsel pintar miliknya ke samping telinga, berharap panggilannya segera terhubung.

"Maaf, nomor yang Anda tuju tidak menjawab. Silakan tinggalkan pesan setelah nada berikut."

Monika menekan ikon berwarna merah, perintah untuk mengakhiri panggilan.

"Apa dia sesibuk itu?" gumam gadis yang sesekali menatap ke arah kedatangan bus. Kakinya melompat masuk ke dalam kendaraan besar ini bersama penumpang yang lain.

Monika mengamati jam yang ada di pergelangan tangannya. Pukul setengah tiga sore. Di akhir pekan seperti ini, biasanya Devan hanya mengambil pemotretan pagi saja, sementara sisanya biasa mereka gunakan untuk berkencan. Ya, dia dan Devan sering menghabiskan waktu berjam-jam, hanya sekadar duduk berdua di taman atau sesekali pergi menonton film. Itu saja.

"Ah, lebih baik langsung menghubungi studio foto saja."

Detik berikutnya, Monika sudah berbincang dengan pegawai studio foto tempat kekasihnya itu bekerja.

"Dia tidak ada job hari ini?" tanya Monika heran.

"Benar. Acara pemotretan iklannya diundur lusa, jadi dia tidak datang hari ini. Mungkin Devan ada di rumahnya."

"Baiklah. Aku akan ke sana sekarang. Terima kasih informasinya."

Raut wajah heran belum juga hilang dari wajah cantiknya. Monika kembali melihat ponselnya, berniat menghubungi kekasih hatinya sekali lagi. Tapi, justru dia dikejutkan saat melihat riwayat telepon bertuliskan My Lovely. 

"Devan menghubungiku semalam?" Keningnya berkerut dalam.

Dengan raut wajah heran, Monika kembali mengingat dimana dia berada semalam. Kenapa dia tidak tahu Devan menghubunginya?

'Bukankah saat itu...' ungkapan batin Monika terjeda. Dia ingat semalam pergi ke minimarket untuk membeli bahan makanan. 'Kalau begitu..."

Monika terhenyak. Seketika bayangan Rio kembali terlintas. Bisa saja Rio yang mengangkat panggilan itu, 'kan? Apa yang telah pria mesum itu katakan pada Devan? Mungkinkah iblis berwujud manusia ini mengatakan sesuatu tentang pernikahan mereka?

Sebuah gelengan kepala menandakan bahwa gadis ini ingin menyangkal prasangkanya sendiri.

"Tidak mungkin. Dia tidak mungkin mengungkapkan hubungannya begitu saja, 'kan?" gumam Monika, mengabaikan pandangan beberapa orang yang kini menatapnya dengan heran karena berbicara seorang diri.

Monika segera turun begitu kendaraan besi ini berhenti di halte berikutnya. Dia harus segera menuju kediaman Devan dan menjelaskan semuanya, tidak ingin kekasih hatinya itu salah paham.

Dengan cepat, Monika menyetop taksi dan memintanya berputar arah. Dia ingin menyelesaikan permasalahan ini secepatnya, jadi tidak masalah jika dia harus membayar sedikit mahal karena memakai moda transportasi terbatas ini.

Tap tap tap

Dengan langkah cepat, Monika menyusuri lobi apartemen mewah ini. Dia datang ke tempat ini hampir setiap minggu, jadi petugas resepsionis tidak menanyainya sama sekali. Langkahnya mantap menuju lift di ujung koridor yang cukup lengang ini.

Monika mendongak, menatap angka di atas pintu lift yang bergerak lamban. Kakinya menghentak-hentak ke lantai, tidak bisa bersabar lebih lama lagi.

Denting lift terdengar nyaring, bersamaan pintunya yang terbuka lebar. Monika segera melangkah cepat, hampir berlari menuju salah satu pintu di sisi kiri tubuhnya.

Sejurus kemudian langkah kaki Monika terhenti di depan pintu. Dia belum siap untuk mengungkapkan pernikahannya dengan Rio. Bagaimana jika Devan marah dan membencinya? Apa yang harus dia lakukan?

Tapi, Monika juga tidak bisa menyimpan hal ini sendirian. Setidaknya dia ingin meminta pendapat kekasihnya. Toh, semua ini bukan kemauannya, 'kan? Devan paati bisa menerima alasannya.

Ting tong

Monika menekal bel di sisi kiri pintu. Sebenarnya dia bisa saja masuk dengan menekan kombinasi password yang pernah Devan beritahukan padanya. Tapi Monika tidak pernah melakukan itu. Dia tahu diri, hubungannya dengan Devan masih ada di zona abu-abu, belum resmi menjadi pasangan suami istri. Jadi, dia selalu menekan bel saat bertamu.

Hening. Tak ada sahutan sama sekali.

Sementara itu, hanya terhalang oleh pintu, sepasang pria dan wanita tengah asik bercumbu di atas sofa. Dialah Devan Mahendra dan Lisa. Pria tampan itu tengah mengungkung tubuh seorang wanita.

"Ada tamu," ucap Si Wanita, menahan dada bidang di hadapannya yang tak terhalang apapun.

"Biarkan saja." Devan tak peduli. Dia kembali mengulum pucak bukit di hadapannya. Sementara tangannya yang lain meremas gumpalan daging yang satunya.

"Akh, pelan-pelan!"

Suara bel kembali terdengar, membuat Devan memejamkan matanya. Dia tidak suka jika ada yang mengganggu kesenangannya.

"Lihat dulu. Siapa yang datang. Bagaimana jika itu Monika?" tanya wanita, mulai meraih pakaiannya yang tergeletak di lantai. Dia menutupi aset berharga miliknya, takut ada orang lain yang akan melihatnya.

Devan beranjak, meraih remote di atas meja dan menatap LCD TV dua meter darinya. Selain sebagai televisi, layar datar itu ia sambungkan dengan rekaman kamera cctv di depan pintu. Netranya membola saat melihat sosok yang kembali menekan bel untuk ketiga kalinya. Dugaan Lisa benar, Monika ada di depan pintu apartemen mewahnya.

"Sial!" umpat pria ini. Tanganny memgepal di sisi badan.

"Siapa?" Lisa beranjak setelah membenahi pakaiannya.

"Monika," jawab Devan cepat. Dia tidak ingin bertemu dengan gadisnya sekarang. Hasratnya sudah ada di puncak, tidak bisa ditahan lagi. Dan dia tahu, Monika tidak akan bersedia melakukan hal itu dengannya.

"Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?"

Devan diam satu dua detik, mengamati gadis yang terlihat melalui bantuan kamera pengawas.

"Van..." Panggilan wanita itu membuat Devan menoleh. "Kamu temui dia. Kita teruskan lain kali."

Devan menggeleng. Dia tidak setuju dengan saran dari wanita yang tadi tengah memuaskannya.

"Kita lanjutkan saja!" tegasnya dengan mata berkilat penuh gairah. Kedua tangannya tak tinggal diam, meraih pinggang wanita ini ke dalam dekapannya.

"Hah? Apa kamu gila? Bagaimana jika Monika tiba-tiba masuk dan melihat kita?"

"Lisa, Sayang." Devan meraih sejumput rambut ikal wanit ini, membawanya ke belakang telinga. "Kenapa? Takut dia akan membencimu?"

Wanita bernama Lisa ini bungkam. Apa yang Devan katakan benar adanya. Dia takut Monika marah dan membencinya. Bagaimanapun juga, gadia itulah yang sudah menunjukkan pekerjaan sebagai seorang model untuknya. Di sanalah dia bertemu dengan Devan, seorang fotografer profesional yang ternyata kekasih Monika.

Dua tahun yang lalu, Lisa bercerai dengan suaminya. Dia tidak memiliki pekerjaan apapun. Dan Monika datang di saat yang tepat, mengenalkannya pada Devan. Bermodalkan wajah dan tubuh indah yang dimilikinya, akhirnya Lisa bisa menjadi seorang model. Meski penghasilannya tidak banyak, tapi cukup untuk menutup biaya hidupnya sehari-hari.

"Kamu merasa bersalah padanya?" Devan mengangkat dagu wanita di hadapannya. "Bukankah itu sudah terlambat?"

Pria bermata sipit ini mendaratkan kecupan singkatnya di bibir tebal milik Lisa. "Penyesalanmu sekarang tidak akan bisa menghapus malam-malam yang kita habiskan setahun belakangan."

Lisa menunduk. Apa yang Devan katakan benar. Mereka sudah sering melakukan hubungan badan sejak setahun yang lalu. Tidak ada tujuan lain. Mereka berdua hanya ingin mencari kenikmatan masing-masing. Devan yang tak bisa menyentuh Monika, akhirnya tergiur dengan Lisa yang juga mendamba sentuhan pria. Mereka sama-sama mendapat keuntungan. Simbiosis Mutualisme.

Ujung mata Lisa melirik ke arah layar yang menampilkan bayangan tubuh Monika. Perlahan wanita cantik itu menjauh dari pintu. Dia pergi setelah beberapa menit berlalu tanpa ada jawaban. Monika berpikir bahwa Devan tidak ada di rumah.

"Apa lagi yang kamu pikirkan? Dia sudah pergi." Pria ini meraih rahang Lisa. "Bisa kita lanjutkan yang tadi?"

Sepersekian detik berlalu dalam diam. Lisa sedikit ragu. Perasaan bersalah masih tersimpan di dalam hatinya. Dia sudah berkhianat pada orang yang telah menolongnya.

"Apa kamu benar-benar ingin mengakhiri hubungan kita?" Devan menunjukkan senyum mautnya. "Aku tidak keberatan mencari wania lain untuk memuaskanku."

Lisa menggeleng cepat. Dia tidak ingin Devan meniduri wanita lain. Sejujurnya, dia menyukai Devan, tapi tidak berani mengungkapkannya. Dia tidak ingin merusak kemesraan yang mereka jalin secara diam-diam di belakang Monika ini.

Lisa membutuhkan belaian dari Devan, tidak ingin kehilangannya sama sekali. Tidak peduli jika pria ini menganggapnya j*lang atau apapun. Selama Devan bisa memuaskannya, Lisa rela.

"Ayo kita lanjutkan." Ajakan Devan hanya bisa dijawab dengan anggukan oleh Lisa. Dia tidak bisa menolak pesona pria ini. Inti tubuhnya selalu ingin menyatu dengan Devan, merasa candu dengan segala sentuhannya.

Perlahan Devan memajukan wajahnya. Dia kembali mencium ceruk leher wanita selingkuhannya dengan begitu bernafsu. Tak cukup sampai di sana, jemari kekarnya juga mulai menelusup ke dalam rok mini yang wanita ini gunakan.

"Jangan di sini!" pinta Lisa, takut kalau-kalau Monika kembali dan memergoki mereka.

Devan mengangkat tubuh Lisa, membawanya ke dalam kamar. Dengan perlahan, pria itu membaringkan wanitanya di atas ranjang. Dia kembali melanjutkan permainan panas mereka.

"Ah, Vhaann." Lisa mendesah sambil memanggil nama pria ini, merasakan permainan lidah dan jari yang membuatnya mabuk kepayang. Devan benar-benar bisa memanjakannya, membuat tubuhnya serasa melayang di udara.

"Tidak bisa menahannya lagi?" bisikan Devan tepat di telinga Lisa membuat wanita ini semakin terangsang. Tubuhnya menegang, bersamaan dengan kedutan luar biasa yang dia rasakan di dalam inti tubuhnya. Dia benar-benar tidak bisa menahan lonjakan hasrat ini lagi.

"Vhaannn," lirih Lisa seolah memohon untuk dimasuki sekarang juga. Tubuhnya melenting ke belakang, menandakan dia sudah mendapatkan pelepasan yang pertama bahkan sebelum pria ini menggunakan senjata miliknya. Hal itu membuat Devan tersenyum lebar. Wanita ini begitu mudah ditaklukkan. Sama seperti wanita bayaran di luar sana.

"Sekali j*lang tetaplah j*lang!" Devan menyingkirkan semua penghalang di tubuhnya, bersiap memuskan birahinya.

Netra Lisa membola seketika saat merasakan sesuatu menghujam inti tubuhnya. Rasa geli dan nikmat dia rasakan sekaligus. Tanpa menunggu waktu lama, wanita ini kembali mendapatkan kepuasan batinnya.

"Dasar wanita murahan!" Hinaan yang terlontar dari mulut Devan tak lagi didengarkan oleh Lisa. Dia merasa tidak masalah dengan hal itu, yang penting hasratnya terpenuhi.

Pergulatan intim itu terus berlanjut hingga keduanya mendapat kepuasan masing-masing. Entah berapa kali Lisa klimaks, tak terhitung. Devan sudah ahli dalam hal ini, bermain dengan wanita di atas ranjang.

"Apa kamu puas?" tanya Devan, berbaring di samping Lisa dan memeluk tubuh polos itu erat-erat. Keduanya bersembunyi di balik selimut warna biru, senada dengan alas kasur yang tak lagi berbentuk. Kain halus itu kusut masai, menjadi saksi bisu pernyatuan Devan dengan Lisa.

"Hmm," gumam Lisa sambil menganggukkan kepalanya. Dia kehabisan tenaga, bahkan sekadar untuk bicara saja malas rasanya.

Lengang. Tak ada percakapan dua orang pendosa ini. Mereka berusaha mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaga yang tersisa.

"Van," panggil Lisa, menatap wajah tampan pria yang tengah mendekapnya.

"Umm," jawab Devan, tanpa membuka matanya yang terpejam.

"Bagaimana jika Monika tahu hubungan kita?"

Beberapa waktu berlalu tanpa suara. Hanya deru halus pendingin ruangan yang terdengar di kejauhan.

"Jika Monika tahu hubungan kita, apa yang harus kita lakukan?" Lisa mengulang pertanyaannya.

Sebagai seorang wanita, dia ingin Devan menjadi miliknya tanpa tapi. Kenyataannya, dia hanya dibutuhkan oleh Devan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Tidak lebih. Pria ini tetap menjadikan Monika sebagai tambatan hatinya. Ibu dari anak-anaknya kelak.

"Van," panggilan terkahir membuat Devan membuka matanya.

"Apa yang kamu harapkan?" Pertanyaan dingin itu terlontar dari mulut Devan, membuat Lisa bungkam.

"Itu..."

"Saat itu terjadi, kita tidak perlu bertemu lagi satu sama lain."

"Apa maksudmu?" Lisa terhenyak. Tidak tahu kenapa Devan tiba-tiba bersikap dingin padanya.

"Jika dia tahu semua kelakuan burukku ini, Monika pasti akan memutuskan hubungan denganku." Devan tampak sedih.

"Lalu?" Lisa menatap wajah pria yang kini hanya berjarak beberapa centi saja di depannya.

"Aku akan menyendiri sepanjang hidupku. Mencari wanita lain hanya untuk menuntaskan hasratku. Itu pilihan terbaik."

Lisa bungkam. Devan benar-benar mencintai Monika dari dalam hatinya. Dia bahkan bertekad untuk tidak akan menikah jika bukan Monika pengantin wanitanya.

"Apa hubungan kita masih bisa berlanjut?" tanya Lisa penuh harap. "Kamu bisa menikah dengan wanita lain dan aku akan tetap melayanimu sampai kapan pun. Atau... mungkin kita bisa menikah jika kamu tidak keberatan?"

Devan menggeleng, menolak ide gila wanita ini.

"Jika gadis baik-baik seperti Monika saja tidak mendapat restu dari ibuku. Bagaimana bisa aku membawa j*lang sepertimu untuk menggantikannya? Apa aku sudah gila?" Devan bangkit, membuat tubuhnya berjarak dengan Lisa.

"Dia seperti intan berlian yang terjaga, tidak pernah mengizinkanku menyentuhnya. Pantaskah dia dibandingkan denganmu? Sadar dirilah sedikit. Kamu itu wanita yang tidak tahu diuntung, bahkan menggoda kekasih penolongnya sendiri. Ingat! Kamu yang pertama kali menggodakau!" Tatap mata Devan menatap Lisa dengan tajam, antara benci, kesal, marah, dan jijik.

"Tanpa pertolongan Monika, kamu sudah menjadi gembel jalanan atau menjajakan diri di tempat p*lacuran!"

Deg!

Ribuan sembilu terasa menancap bersamaan di dalam hati wanita muda ini, membuat mulutnya kembali bungkam. Tanpa perlu dijelaskan sekalipun, Lisa tahu diri. Dia hanya seorang janda yang membutuhkan kasih sayang. Statusnya dengan Devan jelas berbeda jauh, bagaikan bumi dan langit.

"Dari awal sudah ku katakan, kita tidak ada hubungan apapun."


0 Comments