Dipaksa Menikahi CEO. Bab 27-28

 


BAB 27


"Dari awal sudah ku katakan, kita tidak ada hubungan apapun." Nada bicara Devan terdengar tak bersahabat sama sekali.

Lisa terhenyak. Dia tidak menyangka akan mendengar penyataan ini setelah pergulatan panas mereka.

"Selain untuk menuntaskan hasrat bilogis, tak ada hal lainnya. Jika salah satu dari kita bosan, maka yang lain tidak boleh merasa keberatan." Devan menoleh, menatap wajah sedih pemuas nafsunya. "Anggap kita hanya teman kerja biasa. Setelahnya, kita bisa melanjutkan hidup masing-masing."

Lagi-lagi Lisa terdiam seribu bahasa. Tiba waktunya dia tak lagi dibutuhkan oleh Devan. Apa yang harus dia lakukan? Lisa sama sekali tidak ingin kehilangan sosok pemuas nafsunya ini. Dia benar-benar jatuh cinta pada Devan dan menggilai setiap sentuhannya.

"Jangan lupa minum pil kontrasepsi seperti biasanya. Aku tidak ingin memiliki anak dari seorang p*lacur sepertimu!" Kata-kata tajam itu Devan ucapkan dengan datar, tak ada nada bercanda sama sekali. Dia benar-benar serius tentang hal ini. Monika pasti akan terluka jika tahu hubungan tidak sehatnya ini dengan Lisa.

Lisa terhenyak. Dia dengan tidak tahu diri ingin menjadi pendamping pria yang begitu jijik padanya. Bagaimana bisa dia begitu bodoh?  

Punggung lebar milik Devan menghilang di balik pintu kamar mandi, sebelum bunyi gemericik air menyapa indera pendengarannya. Satu dua bulir air tanpa warna luruh seketika dari mata wanita yang bersembunyi di balik selimut.

"Jika Devan tidak lagi menginginkanku. Apa yang harus aku lakukan?" Lisa memejamkan matanya yang basah.

Dengan hati remuk redam, Lisa mencoba masuk ke alam mimpinya. Keinginannya untuk bisa memiliki Devan seutuhnya terancam gagal. Bahkan pria itu terlihat begitu membencinya sekarang.

Lisa memang telah berkali-kali mendapat kepuasan dari pria 26 tahun itu. Tapi, hatinya telah menjadi milik Monika Alexandra. Tak ada yang bisa dia lakukan untuk menahan Devan di sisinya. Sejak awal hubungan mereka memang salah. Sampai kapan pun, tidak akan ada kata pembenaran untuk sebuah perselingkuhan.

"Jangan lupa minum pil kontrasepsi seperti biasanya. Aku tidak ingin memiliki anak dari seorang p*lacur sepertimu!"

Suara Devan kembali menggema, membuat Lisa kembali membuka matanya.

"Pil kontrasepsi?" gumam wanita dengan tubuh polos yang tertutup selimut biru ini. Dia ingat bahwa stok obat pencegah kehamilan miliknya sudah habis hampir sebulan yang lalu. Karena kesibukannya yang semakin padat, dia lupa membeli pil mungil senjata rahasia milik para kaum hawa itu. Lagi pula, dia tidak keberatan mengandung anak dari pria yang begitu dicintainya, Devan Mahendra.

Seketika, Lisa memiliki ide brilian untuk menahan Devan agar tetap ada di sisinya.

"Tanggal berapa ini?" Lisa beranjak duduk, membuka ponselnya demi melihat deretan angka dari 1 sampi 30. Seketika netranya membola. Dia menyadari bahwa ini sudah lewat tiga minggu dari jadwal tamu bulanannya datang.

"Ti... tiga minggu?" Lisa tergeragap. "Mungkinkah aku hamil?" Debaran jantungnya terus berpacu semakin cepat. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba memikirkan hal ini. Tangannya refleks mengelus perut yang masih terlihat rata.

"Jika aku hamil, Devan pasti akan tetap ada di sisiku. Benar, 'kan?" tanya Lisa pada dirinya sendiri. Raut wajah yang semula begitu mengenaskan, sekarang terlihat sangat berbahagia.

"Ya! Aku harus hamil. Hanya dengan cara itu Devan tidak bisa membuangku." Lisa turun dari ranjang, memunguti pakaiannya satu per satu dan memakainya lagi dengan semangat membara. Dia harus segera pergi dari tempat ini, menuju apotek dan membeli testpack sebanyak-banyaknya.

"Lihat saja. Apa kamu bisa membuangku begitu saja?" Lisa menatap pintu kamar mandi dengan pandangan liciknya.

* * *

Suara pintu terdengar diketuk, membuat Monika mengerutkan kening. Tumpukan baju tertata rapi di atas ranjang, siap masuk ke dalam lemari setelah gadis ini menyetrikanya. Dia menghentikan aktivitasnya dan segera melihat siapa yang datang. 

"Baby," panggil pria yang kini tersenyum hangat di ambang pintu. "Apa kamu datang mencariku tadi?" tanyanya dengan wajah yang begitu tenang, tak merasa berdosa sedikit pun meski telah mengkhianati kepercayaan wanita ini.

"Oh? Iya." Dua kata itu terlontar dari mulut Monika, menanggapi pertanyaan kekasihnya ini. Dia memang pendiam, jadi Devan tidak terkejut sama sekali mendapati sikap dingin darinya.

"Apa kamu sibuk?" kejar Devan detik berikutnya, menilik ke belakang tubuh Monika melalui celah yang ada.

"Ah, tidak juga."

"Mau jalan-jalan?" Tawaran Devan membuat Monika terdiam. Dia ingin segera meminta maaf pada pria ini dan mengatakan tentang hubungannya dengan Rio. Tapi, entah kenapa dia ragu. Ya, Monika takut Devan akan membencinya.

"Hey, Baby...." Devan memanggil Monika sambil mengibaskan tangannya di depan wajah. "Are you Ok?"

Monika mengangguk. Dia segera menguasai diri, memberikan atensi penuh pada pria di hadapannya.

"Tunggu sebentar." Monika segera berlalu, memasukkan pakaiannya ke dalam lemari dan memastikan kamar kosnya aman untuk ditinggal pergi. Dia terbiasa hidup mandiri, jadi tidak merasa kerepotan sama sekali untuk menyelesaikan pekerjaan rumah seperti ini.

"Sudah?"  tanya Devan yang dijawab anggukan oleh Monika.

Pria ini segera menggandeng jemari Monika begitu keluar dari pintu. Sifat posesifnya selalu saja menggebu-gebu setelah dia menghabiskan waktu dengan Lisa. Sebenarnya, dalam hati dia takut Monika akan meninggalkannya.

"Mau kemana?" tanya Devan, memasukkan tangan Monika ke dalam saku jaket. Pria ini menggenggam erat-erat kelima jari kekasihnya seperti biasa.

Monika menoleh, menghadap wajah tampan di sebelahnya. Pria ini selalu memperlakukannya dengan lembut, membuat Monika semakin merasa bersalah.

"Ah, terserah." Monika menarik tangannya dari Devan, membuat pria itu menoleh seketika. Langkahnya terhenti begitu menapaki anak tangga terbawah, menatap wanita yang kini berada satu langkah di belakangnya.

"Ada apa?"

Monika bungkam. Lidahnya terasa kelu melihat wajah Sang Kekasih yang menuntut jawab atas sikapnya barusan. Selama ini, Monika tidak pernah menolak saat Devan menyimpan tangannya di dalam saku. Tapi hari ini sikapnya lain, jelas-jelas membuat jarak dengan kekasihnya.

"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Devan penasaran.

Sebulir air mata turun di wajah cantik Monika, membuat Devan terkejut.

"Hey, kenapa kamu menangis?" Langkah kakinya kembali ke belakang, berdiri sejajar dengan wanitanya dan segera menghapus cairan tanpa warna itu.

"Kamu sakit?" Pria yang sebaya dengan Monika ini mendekat, memeriksa keningnya dengan punggung tangan. Raut wajah penuh tanya kini berganti dengan ekspresi khawatir.

Monika menggeleng. Dia baik-baik saja, fisiknya tidak bermasalah sama sekali. Tapi, hatinya yang terasa sakit, merasa telah berkhianat pada pria kesayangannya ini. Bulir-bulir air kembali jatuh, tak bisa dia bendung lagi. Cumbuan Rio padanya kembali teringat, membuat Monika merasa jijik pada tubuhnya sendiri.

Devan terhenyak. Ini pertama kalinya dia melihat Monika menangis. Selama ini, gadisnya begitu tegar, tak pernah terlihat rapuh seperti sekarang. Dia tipikal wanita mandiri dan kuat, bukan gadis lemah yang mudah menangis.

Sejurus kemudian, pria yang berprofesi sebagai fotografer ini membawa Monika dalam pelukan. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada gadisnya ini, tapi satu yang pasti, dia harus menenangkannya.

Tangisan Monika semakin deras. Aroma tubuh Devan membuatnya teringat pada aroma yang Rio tinggalkan kemarin sore. Pria itu meninggalkannya yang pingsan setelah pergulatan panas mereka. Atau lebih tepatnya, Rio mengambil haknya sebagai seorang suami dengan paksa dan membuat Monika terluka.

Seikat bunga mawar putih teronggok di atas aspal jalanan. Seorang pria dengan pakaian berwarna navy terpaku di tempatnya berdiri. Tangannya mengepal erat, menandakan bahwa emosinya tersulut melihat sepasang kekasih yang sedang berpelukan di depan sana. Meski berjarak tiga puluh meter, Rio tahu siapa dua orang itu.

"Tuan," panggil Leo, merasa heran karena Rio tak beranjak meski beberapa detik telah berlalu setelah atasannya ini turun dari mobil. Detik berikutnya, dia ikut menatap ke depan, menyaksikan seorang pria yang tengah menepuk-nepuk punggung wanitanya dengan mesra.

'Itu?!' batin pria berpakaian serba hitam ini. Leo terkejut melihat seorang wanita berambut pirang berada dalam pelukan pria. Itu Monika Alexandra, istri kontrak tuannya yang sempat membuat hatinya bergetar kemarin lusa.

Pintu mobil tertutup dengan kasar. Pria posesif dan otoriter ini murka, menganggap sesuatu yang menjadi miliknya ada dalam penguasaan orang lain. Entah pelampiasan kemarahan seperti apa yang akan Rio lakukan. Terakhir kali, ruangannya berubah menjadi kapal pecah hanya karena Monika ingin mengakhiri pernikahan paksa itu dalam waktu enam bulan. Dan sekarang?

Leo menggelengkan kepalanya kuat-kuat, tidak ingn berprasangka apapun. Dia segera berlari, kembali ke balik kemudi dan segera membawa kendaraan mewah berwarna silver itu pergi.

Devan menoleh, melihat kepergian kendaraan roda empat itu melalui ujung matanya. Seketika dia merasa tidak asing dengan mobil itu, seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Belum lagi seikat bunga yang tergeletak di atas jalan, membuat keningnya berkerut dalam. Jelas-jelas kawasan tempat tinggal Monika ini terbilang sederhana, mana ada orang membuang bunga begitu saja.

'Mungkinkah pemilik mobil mewah itu yang membuangnya? Siapa yang akan ditemuinya di tempat seperti ini?' Berbagai pertanyaan muncul di dalam kepala Devan.

Isak tangis Monika mereda, melepaskan diri dari dekapan Devan. Perhatian pria ini kembali, menatap wanitanya dengan penuh kasih.

"Are you Ok?"

Monika mengangguk. "Ada yang ingin aku bicarakan."

Devan tersenyum, menunjukkan wajah malaikat miliknya. Dia segera membawa gadis ini ke salah satu taman yang sering mereka kunjungi.

"Untukmu." Devan memberikan es krim kesukaan kekasihnya ini. Dia ingin membuat perasaan Monika menjadi lebih baik, meski tidak tahu apa yang akan mereka bicarakan.

Monika menerima makanan manis itu dalam diam. Lidahnya kembali sulit untuk digerakkan. Bahkan untuk sekadar mengucapkan terima kasih saja rasanya sungkan.

"Hey, berhenti memasang wajah menyedihkan seperti itu." Devan mengacak puncak kepala wanitanya, membuat surai pirang itu sedikit berantakan.

Monika tersenyum, merasakan hatinya sedikit menghangat karena perlakuan kekasih hatinya ini.

"Ayo cepat makan es krimnya sebelum meleleh." Devan duduk di samping Monika, mulai menikmati benda kerucut di tangannya.

Monika menatap pria ini beberapa detik, sebelum mengikuti apa yang dia lakukan. Ini agenda wajib mereka berdua ketika bertemu, makan es krim bersama. Embusan angin sore menyapa keduanya dalam diam.

"Sudah merasa lebih baik?" tanya pria yang kini memaku netra biru gadisnya.

Monika mengangguk, menunjukkan senyum simpulnya. Dan lagi-lagi, Devan mengacak rambut pirang miliknya, membuat senyum Monika semakin merekah.

"Seperti ini lebih cantik. Jangan bersedih lagi."

Monika kembali mengangguk. "Terima kasih," ucapnya lirih yang mendapat jawaban senyuman dari Devan.

"Ada apa?" Devan meraih jemari Monika, menggenggamnya dengan lembut. "Apa yang ingin kamu bicarakan, hmm?"

Wanita 26 tahun ini mengambil napas dalam-dalam, mengumpulkan tekad untuk mengungkapkan rahasianya. Dia memantapkan diri, ingin mengatakan semua yang terjadi dua hari terakhir. Monika tidak ingin menyembunyikan apapun dari kekasih hatinya ini.

"Ada sesuatu yang harus aku katakan padamu. Berjanjilah kamu akan mendengar penjelasanku dari awal hingga akhir. Jangan pergi sebelum aku selesai," pinta Monika ragu-ragu. Dia takut Devan akan langsung pergi setelah dia mengatakan bahwa dia sudah menikah dengan orang lain.

Devan tersenyum. Sangat jarang wanitanya ini berkata panjang lebar. Dia tipikal wanita pendiam yang hanya menjawab pertanyaan dengan satu atau dua kata saja.

"Berjanjilah!" Monika menjulurkan jari, meminta pria ini menyanggupi permintaan dengan terlebih dahulu membuat janji jari kelingking.

"Astaga, sejak kapan wanitaku menjadi kekanak-kanakan seperti ini?" Bukannya menautkan jemarinya, Devan justru mencubit pipi tirus Monika, merasa gemas pada permintaan gadisnya kali ini.

Monika mencebikkan bibir, sebal karena Devan menganggap permintaannya sebagai lelucon.

"Aku serius!" protesnya.

"Ahahaa. Baiklah. Baiklah. Aku berjanji akan mendengarkan semua penuturan wanita kesayanganku ini." Devan menarik tangan Monika yang telah turun dan membuat jari kelingking mereka bertaut.

"Ada apa? Jangan membuatku takut."

Monika mengambil napas dalam-dalam, mengondisikan hatinya.

"Sebenarnya..."

"Monika!!" panggil sebuah suara, membuat dua sejoli ini menoleh ke samping. Tampak Lisa melambaikan tangan sebelum berlari mendekat.

'Dia?!' batin Devan merasa tak tenang. Lisa sudah menghilang begitu dia keluar dari kamar mandi. Dia tidak terlalu memikirkannya, menganggap wanita ini pergi seperti biasanya. Setelah mereka mendapatkan kepuasan masing-masing, tak ada urusan lain lagi.

"Lisa?" Monika berdiri, merasa sedikit tidak nyaman dengan kehadiran wanita ini.

Tiba-tiba saja Lisa memeluk Monika dengan erat, membuatnya terkejut.

'Aroma parfum ini?' batin Monika

Deg!

Jantungnya seolah berhenti satu detakan saat tak sengaja menghirup aroma parfum yang melekat di tubuh Lisa. Dan yang membuatnya semakin heran adalah adanya bekas tanda cinta di ceruk leher wannita ini begitu dia mengurai pelukannya.

"Ada apa?" tanya Monika dengan suara bergetar. Dia syok melihat keanehan ini. Ada aroma parfum Devan di tubuh Lisa. Dia tahu benar parfum ini sangat jarang dipakai orang karena harganya yang mahal.

"Apa aku mengganggu kalian?" Lisa menatap Monika dan Devan bergantian.

"Tidak," lirih Monika, melirik kekasihnya yang masih terduduk di atas kursi.

Devan bungkam, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Hatinya merasa was-was dengan kedatangan wanita ini.

'Apa yang akan dia lakukan? Kenapa bisa tiba-tiba muncul di tempat ini?'

"Aku punya kabar gembira." Lisa meraih kedua tangan Monika, menggenggamnya dengan erat.

"A... Apa?" tanya Monika tergagap.

"Aku hamil!" ungkap Lisa sumringah.

"HAMIL?!!" Devan berdiri seketika. Sepasang netranya terbelalak menatap Lisa dengan pandangan tak percaya.

Monika bungkam. Dia tidak tahu kenapa hatinya sakit saat melihat respon Devan barusan. Aroma parfum dan kissmark itu? Ada apa sebenarnya? Mungkinkah mereka...


BAB 28


Monika ada di taman bersama Devan. Dia berniat mengungkapkan pernikahan paksa yang harus dia jalani dengan Rio. Namun, tiba-tiba Lisa datang dan mengejutkan keduanya.

"Aku hamil!" ungkap Lisa dengan wajah penuh kebahagiaan. Dia memegang tangan Monika dengan erat.

"HAMIL?" Devan berdiri, menatap Lisa dengan pandangan tak percaya. Rahangnya mengerat, bunyi gemeletuk giginya terdengar.

"KAMU BERCANDA 'KAN?" lanjut Devan, mencengkeram pergelangan tangan Lisa. Hal itu membuat wanita yang memakai rok mini ini meringis kesakitan. Pegangan tangannya pada jemari Monika terlepas begitu saja.

"NGGAK! AKU MEMANG HAMIL!" Nada bicara Lisa ikut meninggi, balas menatap Devan dengan tatapan yang tak kalah tajam. 

"BOHONG!" 

"APA URUSAN KAMU?" Lisa menyentak cekalan tangan pria di hadapannya.

Disaat Devan dan Lisa terus bersitegang, Monika mundur satu langkah. Dia diam menyaksikan interaksi keduanya. Berbagai pikiran buruk menyergap kepala. Otaknya berputar, menghubungkan berbagai potongan puzzle yang tersaji di depan mata.

Ada sesuatu yang salah di sini. Tiga buah bekas tanda cinta di leher Lisa, parfum pria yang melekat di tubuhnya, juga respon yang Devan tunjukkan. Itu semua begitu jelas, Devan ada affair dengan Lisa.

"Mon, tolong aku." Lisa meraih lengan Monika, bersembunyi di belakang tubuhnya.

Seketika parfum dan aroma tubuh Devan kembali menyapa indera peciuman wanita berdarah Indonesia - Inggris ini. Hal itu membuatnya memejamkan mata, menahan diri untuk tidak murka. Dia bukan gadis bodoh yang tidak bisa membaca situasi. Meski tidak tahu apa yang terjadi sesungguhnya, wanita ini tahu bahwa dia telah dikhianati oleh dua orang ini.

Devan terhenyak. Dia baru menyadari bahwa masih ada Monika di sana. Karena saking terkejutnya, tadi Devan refleks mendebat pernyataan Lisa, menyangkal apapun yang wanita ini katakan.

"Beb, a... aku.... Ini..."

Monika mengangkat satu tangannya ke udara dengan mata yang tetap terpejam. Dia tidak ingin mendengar apapun yang ingin Devan katakan. Tubuhnya menegang, wajahnya merah padam. Emosinya mengambil alih, namun berusaha wanita ini kendalikan.

"Mon, tolong aku. Aku mengandung anak dari seorang pria b*rengsek yang pengecut. Dia menolak untuk bertanggung jawab." Lisa masih mencoba membela diri, menggunakan Monika sebagai tameng, sekaligus memprovokasi Devan. Dia tahu pria ini cinta mati pada kekasihnya, dan itu bisa dia manfaatkan.

Jika Monika meminta Devan menikahinya, dia tidak akan bisa menolak atau menyangkalnya. Itu pasti. Lisa sangat yakin Devan akan menuruti semua ucapan kekasih hatinya.

"Tutup mulutmu!" tegas Devan dengan nada yang lebih rendah namun penuh penekanan di setiap katanya.

"Mon, aku takut." Lisa mendramatisir keadaan dengan memegang lengan Monika semakin erat.

Devan semakin gusar. Dia tahu Monika sedang berusaha mengendalikan amarahnya, tapi Lisa justru sengaja membuat keadaan semakin keruh. Wanita ini coba mengambil kesempatan dalam kesempitan. Sial!

"Lisa, lepas!" Kata-kata dingin dan tajam keluar dari mulut Monika, menolehkan kepalanya ke samping. Dengan tangan gemetar menahan marah, dia melepaskan tangan Lisa dari lengannya. "Selesaikan urusanmu sendiri!" 

Atensi Monika beralih ke depan. Dengan tatap mata tajam tanpa ekspresi, wanita 26 tahun ini menatap Devan. "Kita bicara lain kali. Aku pergi."

Monika tidak ingin melihat dua orang ini lagi. Dia ingin sendiri dan mendinginkan kepalanya.

"Mon, aku cinta sama Devan."

Ucapan Lisa membuat gerakan kaki Monika terhenti, hanya tiga langkah saja dari keduanya. Hatinya perih mendengar wanita ini memiliki perasaan khusus pada kekasihnya. Belum lagi fakta bahwa dia mengaku tengah mengandung. Entah itu sungguhan atau tidak, Monika tidak tahu dan memang tidak mau tahu.

Lisa mengejar Monika, berdiri di hadapannya.

"Mon, kamu tahu ini apa?" Lisa menunjuk kulit lehernya yang kemerahan. "Kalau memang Devan nggak suka, kenapa sampai ada tanda ini?"

Monika bungkam. Dia tidak ingin berkomentar apapun. Hatinya patah, hancur berkeping-keping.

"Kamu yang suci selalu nolak permintaan Devan, kan? Jadi kita nggak sepenuhnya salah." Lisa membela diri atas kesalahan fatal yang dia lakukan.

Devan terpaku, tidak menyangka wanita licik ini akan menyalahkan Monika.

"TUTUP MULUT KAMU!" Devan mendekat, ingin menghentikan wanita rubah ini menghasut wanitanya.

"Biarkan dia bicara." Tangan Monika direntangkan ke samping, menjadi penghalang antara Lisa dan Devan.

"Baby, aku..."

"Kamu diam!" tegas Monika dengan lirikan mata yang tajam. Dia terlihat mengerikan jika sudah marah seperti sekarang. Devan tidak pernah melihatnya. Ini yang pertama. Selama ini mereka tidak pernah bertengkar sama sekali.

"Apa lagi?" tanya Monika, menatap Lisa. Dia ingin mendengar pengakuan yang tidak mungkin Devan ucapkan. Dia memang selalu menolak saat kekasihnya ini berusaha mencium bibirnya. Jadi, jangankan tidur bersama, berciuman bibir saja belum pernah.

"Dia pria dewasa yang butuh kehangatan. Aku wanita yang butuh belaian. Kita nggak sepenuhnya salah." Lisa masih merasa dirinya paling benar.

"Sejak kapan kalian bersama?" Monika ingin tahu sudah berapa lama dia dibodohi.

"Kami sudah berhubungan setahun terakhir. Suka sama suka, tanpa paksaan sama sekali." Lisa terus saja mengatakan hal-hal untuk membela diri. "Kalau saja kamu sedikit terbuka, mungkin Devan nggak akan berpaling. Dia butuh kasih sayang dan selalu mendapat kepuasan berkali-kali di atas tubuhku. Bahkan satu jam yang lalu dia juga berhubungan badan denganku."

PLAKK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri wanita berwajah oriental itu. Devan tidak tahan dengan semua ucapan wanita j*lang ini. Harga dirinya diinjak-injak.

Lisa terkejut. Semua kata-kata yang masih ingin dia ucapkan, tertelan seketika. Devan tidak pernah bersikap kasar sebelumnya. Meski kata-kata yang dia ucapkan seringkali tak enak didengar, tapi Lisa tidak menghiraukannya.

"Kamu?!" Lisa memegangi pipinya yang terasa panas dan perih di saat yang bersamaan.

Dan yang tak kalah terkejutnya adalah Monika. Ini pertama kalinya dia melihat Devan marah, bahkan sampi menampar Lisa. Pria yang selalu lembut padanya, berlaku kasar pada seorang wanita?

Perlahan Monika mundur ke belakang. Hubungan Devan dan Lisa sungguh tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Fakta mengejutkan ini menyerangnya bertubi-tubi.

Wanita ini duduk di atas kursi. Tubuhnya luruh bersamaan dengan kekuatan kakinya yang menghilang. Sepasang tulang berbalut daging itu tak lagi bisa menopang tubuhnya sendiri.

'Apa-apaan ini? Apa yang terjadi sebenarnya?' Monika menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangan. Kejadian ini berhasil menggerus seluruh kepercayaannya pada Devan. Pria ini berubah, bukan lagi sosok lemah lembut dan penyayang yang selalu dia lihat sejak kecil.

"Baby," panggil Devan, berlutut di depan wanitanya.

"Untuk sementara, jangan menemui atau menghubungiku," ucap Monika.

"Nggak!" Devan menggeleng, dia tidak setuju dengan permintaan wanita kesayangannya ini. "Ini nggak seperti yang kamu bayangkan. Aku..."

Lagi-lagi Monika mengangkat tangan, tak ingin mendengar apapun dari mulut pria ini.

"Give me a time," lirih Monika dengan mata berkaca-kaca. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri, menata kembali hatinya yang kini berserak tanpa asa.

Mimpi indahnya untuk menikah dengan Devan pupus sudah. Baru saja Monika ingin meminta maaf pada Devan dan berharap mendapat jalan keluar atas pernikahan kontraknya dengan Rio. Tapi, yang terjadi justru di luar dugaan. Devan memiliki wanita idaman lain di belakangnya.

Monika mengambil napas dalam-dalam, mengumpulkan tenaganya yang tersisa. Dia harus pergi dari tempat ini secepatnya.

Lisa tersenyum lebar. Dia begitu bahagia melihat Monika menolak Devan. Jalan terbentang luas untuknya. Dia bisa memiliki pria ini seutuhnya.

* * *

Pintu berwarna putih itu terbuka dengan paksa. Seorang pria menendangnya dengan sekuat tenaga. Wajahnya merah padam, menunjukkan bahwa emosinya tidak dalam keadaan baik.

"AARRGGHHH!!!!" teriak Rio frustrasi. Dia merasa begitu bodoh karena berniat memberikan bunga pada istri kontraknya. Tidak pernah sekalipun dalam hidupnya, dia menjadi sebodoh ini.

Bayang-bayang Monika yang tengah berpelukan dengan pria lain membuatnya naik pitam. Dia ingin menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya.

"Tuan!" Leo menjadi penghalang saat Rio berjalan cepat menuju sebuah guci di sudut ruangan. Dia tidak ingin ada kekacauan di kediaman pribadi tuannya ini.

"MINGGIR!!" Rio bersikeras, menyingkirkan tubuh asisten pribadi yang membuat langkahnya terhenti sejenak. Dia ingin melampiaskan kemarahannya seperti yang biasa dia lakukan.

"Pria itu berselingkuh."

Langkah kaki Rio terhenti begitu mendengar penuturan pria di belakangnya. Dia berbalik, menatap Leo dengan kening berkerut dalam. Kemarahannya teredam, berganti dengan rasa ingin tahu yang lebih tinggi.

"Berselingkuh?!"

Leo mengangguk mantap.

"Saya sudah melaksanakan tugas yang Anda berikan, menyelidiki seluruh keluarga Mahendra. Tuan Devan Mahendra, putra bungsu keluarga itu, dia berselingkuh dengan seorang model di tempat kerjanya."

"Katakan semuanya!"

Leo mendekat, menyerahkan foto-foto yang dia ambil dari dalam saku jasnya.

"Lisa, seorang model pendatang baru. Dia bercerai dari suaminya dua tahun yang lalu. Kehidupannya kacau. Bahkan beberapa kali meminjam uang dari Nona Monika."

Kerutan di kening Rio semakin dalam. "Apa yang terjadi?"

"Nona Monika dan Lisa adalah teman SMA. Karena merasa kasihan, dia meminta kekasihnya itu untuk membantu Lisa mendapatkan pekerjaan sebagai model. Namun, dua orang itu justru terlibat affair di belakang Nona Monika."

Netra hitam kelam itu membola. Fakta ini cukup mengejutkan. Pria yang Monika cintai, memiliki hubungan tidak sehat dengan temannya sendiri?

"Nona Monika tidak tahu sama sekali tentang hal ini. Dia begitu percaya pada dua orang itu."

Sudut bibir Rio terangkat, dia tidak menyangka ada hal seperti ini yang akan dia temui.

"Saya berhasil menyadap ponsel milik nona Lisa dan menemukan ini." Leo menyerahkan tablet di tangannya pada Rio. Disana menampilkan video syur antara Devan dan Lisa.

Tampak Devan begitu bernafsu menguasai tubuh wanita di bawahnya. Pria itu tidak menyadari ada kamera yang merekam kegiatan ranjang yang dia lakukan. Berbeda dengan Lisa yang sesekali menatap ke arah kamera. Sepertinya wanita ini memang sengaja memasang kamera di tempat tersembunyi untuk mengabadikan momen ini.

"Benar-benar seorang j*lang! Dia begitu licik." Rio menghina Lisa yang terus mendesah sambil menatap kamera.

Leo mengangguk, membenarkan pendapat tuannya.

"Apa yang harus saya lakukan selanjutnya?" tanya pria dengan pakaian serba hitam ini.

"Blow up hubungan mereka ke media masa."

"Eh?"

"Kita lihat sejauh apa dia bisa bertahan."

Kali ini kening Leo yang berkerut. Dia tidak tahu siapa 'dia' yang dimaksudkan oleh tuannya, Devan, Monika atau Lisa?

"Dia akan datang padaku setelah tahu perselingkuhan kekasih hatinya. Kita lihat saja."

Sebuah smirk terukir di wajah tampan Rio Dirgantara. Dia bisa memperkirakan kemungkinan terbesar yang akan terjadi. Setelah kasus asusila Lisa dan Devan terungkap ke publik, tidak ada yang bisa Monika lakukan. Dia tidak punya pilihan lain selain merelakan pria itu.

"Tunggu," pinta Rio sesaat sebelum asistennya beranjak pergi. Senyuman di wajahnya semakin lebar. "Lakukan sesuatu untukku."


0 Comments