Dipaksa Menikahi CEO. BAB 29-30

 B


AB 29


Mentari kembali ke peraduan, membiaskan sinar berwarna merah di ufuk barat. Seorang gadis berdiri di atas jembatan, menatap riak air di bawah sana yang muncul akibat lemparan batu dari tangannya barusan. Tatap matanya kosong, tak ada semangat hidup sama sekali. Bekas air mata yang mengering tak dia hiraukan, dibiarkan begitu saja.

Monika menarik napas dalam-dalam. Pertengkaran Devan dan Lisa masih tergambar jelas dalam ingatan. Dua orang yang sangat dia percaya, ternyata memiliki hubungan tak biasa di belakangnya.

Bulir-bulir tanpa warna itu kembali luruh, menganak sungai tanpa bisa dia cegah. Tubuhnya melangsai, bersandar pada dinding jembatan. Kakinya kembali melemah, mengingat begitu dalam luka yang dia rasakan.

Hangatnya sifat Devan selama ini, membuat Monika tak bisa mempercayai bahwa pria itu telah berkhianat padanya. Dengan terus menggigit bibir bawahnya, Monika kembali bungkam. Dia menahan isak tangis agar tak keluar dari mulutnya.

Monika merasa masalah bertubi-tubi datang kepadanya. Kematian papa dan pernikahan kontrak itu sudah cukup menguras kesabarannya. Dan sekarang, fakta lain kembali menampar mentalnya dengan keras.

Devan memiliki hubungan tak sehat di belakangnya. Dan yang membuatnya semakin hancur adalah wanita yang berselingkuh dengan Devan adalah seorang wanita yang dia anggap sebagi saudara.

"Ma... ini bohongan 'kan?" Monika menengadahkan kepala ke atas, mencegah agar air matanya bisa terhenti saat itu juga.

"Kenapa mereka semua jahat, Ma?" Air mata Monika semakin deras. "Mamaaaa...."

Dengan sisa tenaga yang ada, Monika bangkit. Air mata di pipi ia hapus sembarang. Dia tidak boleh menyerah begitu saja dengan keadaan ini. Life must go on...

"Baby," panggil Devan begitu melihat sosok Monika muncul di anak tangga teratas. Pria ini duduk tepekur di depan pintu sejak satu jam yang lalu, menantikan wanitanya kembali.

"Apa?" Wajah tanpa ekspresi itu membuat Devan terpaksa meneguk ludah. Nada bicaranya yang dingin menunjukkan dia sedang marah.

"Maaf," ucapnya lirih.

"Untuk?"

Devan tergeragap, tak bisa menjawab.

"Ma... maaf."

"Kenapa harus meminta maaf? Apa kamu berbuat salah? Bukankah ini semua salahku yang berlagak sok suci? Kalian tidak bersalah sama sekali. Kenapa kamu datang dan minta maaf? Aku terlalu bodoh untuk tahu kenapa aku harus memaafkanmu. Katakan sesuatu untuk membuatku mengerti. Kenapa kamu harus minta maaf?"

Devan kembali bungkam. Dia tahu kesalahannya begitu fatal, mengkhianati kepercayaan wanita ini. Bahkan seribu kata maaf tak akan ada artinya lagi. Wanita ini murka, membuatnya yang biasanya hanya mengucap satu dua patah kata, kini melontarkan lebih dari tujuh kalimat.

Monika menaikkan satu alisnya, menantikan jawaban dari pria b*rengsek ini.

"Kenapa diam? Apa aku tidak pantas lagi mendengar suaramu? Apa kamu tidak sudi lagi berbicara padaku? Apa aku sehina itu? Lalu, kenapa kamu datang ke sini? Tidakkah kamu membuang-buang waktumu untuk gadis yang sok suci ini?"

Berbagai pertnyaan Monika ucapkan. Tapi, tak ada jawaban dari Devan. Beberapa menit telah berlalu tanpa sepatah kata pun terucap dari mulut pria keturunan tionghoa ini.

"Bukankah kamu memelukku sebelumnya? Apa kamu juga memeluknya?"

Devan semakin dalam menundukkan kepalanya.

"Kamu mencium keningku, apa kamu juga melakukan hal yang sama pada wanita itu?"

Hening. Devan tetap bungkam. Lidahnya kelu, tidak bisa membela diri sama sekali. Dia tentu saja memeluk, mencium, menghisap, mengulum, bahkan menggigit j*lang yang mengaku tengah hamil itu. Dia kehilangan logikanya, bermain gila dengan Lisa hingga melewati batas. Kepuasan selalu dia dapatkan dengan wanita itu setahun terak.

"Apa yang kamu lakukan di belakangku?"

Monika mendekat ke arah Devan, membuat jarak mereka hanya tersisa dua langkah saja.

"Apa yang kamu lakukan di belakangku? Kenapa tidak kamu tunjukkan di hadapanku?"

Beberapa menit kembali berlalu dalam hening. Hanya kata maaf yang bisa pria ini katakan.

"Angkat wajahmu. Lihat aku!" titah Monika karena sedari tadi Devan terus menundukkan kepalanya. Pria ini tidak berani bertemu mata dengannya.

Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Devan Mahendra. Dia tidak menghindar sama sekali. Itu memang pantas dia dapatkan.

"Hubungan kita berakhir di sini." Monika melepas cincin yang Devan berikan beberapa bulan lalu dan memaksa tangan pria ini menggenggamnya.

"Tuan Devan Mahendra, jika tidak ada yang ingin Anda bicarakan, silakan pergi dari tempat kumuh ini!"

Devan terhenyak dengan tata bahasa yang Monika gunakan. Tidak biasanya gadis ini berbicara menggunakan bahasa formal seperti barusan. Dan lagi, gadis ini mengembalikan cincin pertunangan mereka. Apakah mereka memang harus berakhir seperti ini?

"Monika," panggil Devan, mencekal lengan wanita ini.

"Selamat malam."

Cekalan tangan pria itu terlepas dengan paksa. Punggung mungil wanitanya tertelan pintu, tak terlihat lagi.

"Apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkanku?"

Pertanyaan Devan tak mendapat sambutan apapun. Monika terus melangkah, sebelum terduduk di atas ranjang miliknya.

Drrt drrtt

Getaran ponsel di saku, membuat perhatian Monika teralihkan. Dia menatap layar sentuh di hadapannya. Sebuah nomor tak dikenal membagikan satu video berdurasi tujuh menit dua puluh detik.

"Ahh, Vhaannn," desahan manja itu membuat Monika terhenyak. Netranya mendapati sesuatu yang membuat napasnya terhenti seketika. Tangannya gemetar, menatap apa yang terlihat di layar ponselnya. Devan tengah menggagahi Lisa, membuat wanita ini memejamkan matanya dan terus mendesah tanpa henti.

Monika menutup mulutnya dengan tangan, tidak menyangka akan melihat adegan dewasa dari dua orang yang sangat dikenalnya ini.

Devan memaju mundurkan tubuh bagian bawahnya, seirama dengan cekalan tangan Lisa yang semakin erat. Tubuh keduanya polos, tak terhalang sehelai benang pun. Pria itu terus bergerak, bersamaan dengan mulutnya yang terus mencecap bibir tebal milik Lisa.

Monika membanting ponselnya, membuat benda itu bercecer di lantai, hancur berkeping-keping. Tubuhnya luruh, seirama dengan rasa cintanya pada Devan yang terus menguap ke udara. Air mata kembali mengalir tanpa bisa dia cegah. Pengkhianatan Devan dan Lisa tidak bisa dimaafkan sama sekali.

"Nggak! Ini belum berakhir!!" Monika memantapkan hati. Dia tidak boleh diam saja. Apa yang dua orang itu lakukan harus mendapat pembalasan yang setimpal.

Dengan langkah kaki tanpa keraguan, Monika keluar dari kamar kosnya, menapaki anak tangga dengan cepat. Devan menatap wanita kesayangannya dengan pandangan kehilangan. Ingin sekali menyusul gadisnya, tapi dia tahu diri pasti Monika akan kembali menolaknya.

Punggung Monika menghilang di ujung jalan. Dia menghentikan sebuah taksi dan pergi dengan tergesa.

Devan mengepalkan tangannya. Dia kembali ke dalam mobil dan mendapati Lisa di sana.

"Apa dia mencampakkanmu?" tanya Lisa dengan senyum lebar di wajahnya. Dia merasa menang, telah membuat Monika mencampakkan pria yang ingin membuangnya siang tadi.

"Pergi!"

Lisa tersenyum. "Kenapa aku harus pergi? Meskipun aku ingin, tapi anak kita tidak menginginkannya. Dia ingin bersama ayahnya. Apa itu salah?"

Wajah Devan berubah gelap. Dia marah. Monika meninggalkannya karena wanita tidak tahu diri ini.

"Berhenti menjadikanku sebagai tersangka utama. Bukankah kamu juga menikmatinya?"

Devan semakin murka. Kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan erat. Dia tidak menyangka wanita ini akan membuatnya dalam kesulitan seperti sekarang.

"Tidak bisa menyangkalnya, 'kan?" Lisa semakin berani memprovokasi pria ini.

"Dia sudah mencampakkanmu. Apa yang bisa kamu lakukan sekarang, huh?"

Detik berikutnya, Lisa harus menutup mulutnya rapat-rapat ketika mobil Range Rover Sport ini melaju dengan kecepatan tinggi. Devan menginjak pedal gas begitu mesin kendaraan ini menyala.

"APA KAMU GILA?!" Lisa berteriak, menatap pria di sampingnya dengan pandangan tidak percaya.

Devan bungkam. Dia tidak menjawab sama sekali. Fokusnya tertuju pada jalanan lurus di depan sana. Kecepatannya dia tambah lagi, hampir 200km per jam.

"HENTIKAN MOBILNYA!! TURUNKAN AKU!!" Lisa ketakutan. Pria ini terlihat begitu mengerikan. Dia tidak takut meliak-liukkan mobil mewahnya ini melewati kendaraan yang lain. Bahkan dengan gila mengabaikan lampu lalu lintas yang berwarna merah.

Suara klakson terdengar memekakkan telinga dari sebuah mobil yang terpaksa membanting stir ke samping. Pengemudi itu menghindari laju mobil ini, mencegah agar tidak terjadi kecelakaan yang akan membahayakan nyawa mereka.

Lisa tidak bisa lagi berkata-kata. Pria ini telah berubah menjadi iblis, tidak memikirkan keselamatan nyawanya sendiri. Dia sudah salah perhitungan. Niatannya untuk membuat Devan menyerah pada Monika, justru memicu kemurkaannya.

Decit rem terdengar begitu mobil mewah edisi terbatas ini sampai di depan sebuah gedung pencakar langit. Dengan gerakan kasar, pria 26 tahun ini menyeret Lisa untuk mengikuti langkah kakinya.

"Lepas!" Lisa meronta, ingin melepaskan diri dari cengkeraman pria ini. Dia takut melihat kemurkaan Devan.

Lisa merasakan tangan Devan semakin erat di lengannya. Tenaganya tidak sebanding degnan pria yang terus melangkah ke depan tanpa menghiraukan pandangan orang-orang. Bahkan Lisa harus sedikit berlari untuk mengimbangi langkah panjang pria ini.

"Sakitt! Lepaskan aku!!"

Devan menghempas tubuh wanita yang mengaku tengah berbadan dua itu. Kilat matanya begitu tajam. Dia terlihat seperti iblis yang ingin memusnahkan mangsanya.

"Bukankah ini yang kamu inginkan?" Devan mulai melucuti bajunya dan membuang kain warna hijau itu ke sembarang arah. Dia ingin membuat perhitungan dengan wanita j*lang yang sudah menghancurkan hubungannya dengan Monika.

"Nggak! Aku nggak mau." Lisa menolak keinginan pria ini. Dia tidak ingin Devan menyiksanya.

Devan menarik kaki Lisa, membuat sepatu hak tinggi yang dipakainya terlepas dengan paksa karena perlawanan wanita ini.

"Apa kamu takut padaku?" Devan menunjukkan wajah yang begitu mengerikan.

Lisa terus menggeleng. Dia harus menyelamatkan diri sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, Lisa berlari menuju pintu dan bersiap kabur.

"Mau kemana, Sayang?" Devan kembali mendekat, menahan pinggang wanita yang kini berusaha membuka pintu dengan kedua tangannya.

Lagi-lagi Devan melempar tubuh wanita ini ke sofa, membuatnya gemetar ketakutan.

"KAMU GILA!" umpatnya dengan suara bergetar.

"Hahaha. Gila?" Devan menatap Lisa dengan pandangan meremehkan. "Kita lihat bisa segila apa seorang pria pada wanita yang telah menjebaknya!"

Tanpa aba-aba, Devan membuka kedua paha Lisa, membuat netra wanita ini terbelalak. Tangannya berusaha meraih benda apa saja untuk memberikan perlawanan pada pria yang tengah mengungkung tubuhnya ini.

Devan menarik ikat pinggangnya dalam sekejap. Dia menggunakan tali berwarna hitam itu untuk mengikat kedua tangan Lisa yang terus meronta.

"Nggak!! Aku nggak mau!!!" teriaknya dengan air yang mulai menggenang di pelupuk mata. Dia ketakutan setengah mati pada apa yang akan dilakukan oleh pria ini.

Devan tak menggubris protes Lisa, justru semakin memperkuat ikatan tangan di hadapannya.

Dengan sekali hentakan, Devan memasukkan senjata andalannya ke dalam inti tubuh Lisa. Wanita itu meringis kesakitan, ada perasaan tidak nyaman karena pria ini langsung ke inti permainan tanpa pemanasan terlebih dahulu.

"Bukankah ini yang diinginkan oleh wanita j*lang sepertimu?" Devan menggerakkan miliknya dengan kasar, membuat Lisa menggigit bibir bawahnya. Dia sama sekali tidak menikmati permainan ini, bahkan merasakan sakit luar biasa di bagian kewanitaannya.

"Kenapa diam? Ayo keluarkan desahanmu!" Devan semakin menggila, menumbuk lubang kenikmatan di bawah sana dengan sekuat tenaga.

Lisa memejamkan mata. Dia tidak tahu kenapa pria ini berubah drastis. Selama ini Devan tidak pernah berlaku kasar. Mereka selalu melakukannya dengan perlahan, demi mendapat kenikmatan masing-masing. Berbanding terbalik dengan situasi saat ini yang terasa begitu menyiksanya.

Dengan gerakan kasar, Devan membalik tubuh Lisa, membuatnya tertelungkup di atas sofa. Dengan tiba-tiba, pria ini kembali melesakkan miliknya ke dalam, memacunya sekuat tenaga.

Napas Lisa tercekat di tenggorokan. Dia tidak bisa menahan perlakuan Devan yang begitu brutal ini. Tubuhnya terasa remuk redam, hatinya hancur seketika. Harapannya untuk hidup bahagia dengan pria ini hanya tinggal angan-angan saja. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Devan tak merasa puas meski Lisa terus menangis atas perlakuannya. Kemarahan di dalam hati pria ini terus berkobar, membakar habis logikanya.

"Hentikan! Aku mohon," lirih wanita yang kini terlihat tak berdaya di atas kursi panjang berwarna hitam ini. Dia tidak ingin mendapat serangan lainnya lagi.

"Hentikan katamu?"

Devan memanggul tubuh wanita ini di atas bahunya dan menghempasnya ke atas ranjang. Dia terus saja melakukan hal itu untuk membuat wanita ini jera.

"Ku mohon hentikan..." Suara Lisa semakin melemah. Dia menyesal telah menyulut kemarahan pria ini dan membuatnya murka.

Devan menarik diri. Dia kelelahan setelah mendapat kepuasan berkali-kali.

"Jalang tidak tahu diri! Itu akibatnya kamu berani menentangku!" Devan memakai kembali celananya dan menatap Lisa yang hampir pingsan.

"Jika benar kamu hamil, aku akan melakukan berbagai cara untuk menyingkirkannya." Tatapan tajam Devan memaku netra wanita yang kini menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.

"Tapi, jika kamu tidak benar-benar hamil, aku yang akan menyingkirkanmu dari dunia ini!!"

Ancaman Devan membuat Lisa ketakutan, membuatnya bergetar hebat di balik selimut. Dia menarik kain tebal itu menutupi seluruh tubuh polosnya, bersembunyi dari tatapan pria yang seolah ingin membunuhnya detik itu juga.

'Apa yang harus aku lakukan?' batin Lisa. Dia merasa semakin gusar kala mendengar debaman keras pintu di luar sana. Devan pergi meninggalkannya setelah perlakuan kasar yang dia lakukan. Pria ini mengagahinya seperti seekor binatang, buas dan tak berperasaan. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bisakah dia menyelamatkan diri dari kemurkaan ini?







BAB 30


Sebuah taksi berhenti di depan gedung pencakar langit bertuliskan Dirgantara Artha Graha. Lampu taman berpendar dengan indah, menerangi deretan bunga memanjang di sisi kiri pintu masuk. Sebuah lampu sorot menyinari maskot perusahaan ini, yakni sebuah miniaturpesawat terbang yang seolah melayang di udara.

Monika turun dari pintu belakang taksi setelah membayar tagihannya. Dia sedikit ragu dan mempertanyakan keputusannya kali ini.

"Kenapa aku datang ke tempat ini?"

Monika berbalik, enggan meneruskan langkahnya untuk mencari suami kontraknya di perusahaan ini. Lagipula sudah larut malam, mana mungkin si B*rengsek itu masih ada di tepat kerjanya.

"Dasar bodoh!" Monika mencemooh dirinya sendiri yang tidak berpikir dengan jernih. Dia begitu terburu-buru ingin membalas pengkhianatan Devan dan Lisa, sampai lupa bahwa malam telah tiba sejak dua jam yang lalu. Apa yang harus dia lakukan sekarang?

"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya seorang petugas keamanan yang kebetulan melihat kedatangan Monika. Dia merasa terpanggil untuk mendekat saat melihat seorang gadis seperti ragu-ragu antara meneruskan masuk atau pergi dari tempat ini.

"Ah, ti-tidak ada." Monika tersenyum canggung, merasa tak enak hati sudah merepotkan pria ini untuk mendekat demi menanyainya.

"Maaf, jika boleh tahu, siapa yang Nona cari malam-malam begini?" Nada bicara pria security ini jadi lebih rendah dari sebelumnya, membuat kening Monika berkerut.

Monika membuka mulut hendak berbicara, tapi kemudian terkatup lagi detik berikutnya. Dia tidak bisa mengatakan bahwa dia ingin menemui Rio Dirgantara. Pria itu orang yang memiliki kedudukan tinggi di perusahaan ini. Mana mungkin dia masih ada di dalam sana sekarang.

'Benar-benar bodoh! Untuk apa datang kemari? Apa otakmu tak lagi berfunsi, huh?' Monika memaki dirinya sendiri dalam hati.

"Mmm, sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan tuan Rio. Tapi ini sudah larut malam, sepertinya bukan waktu yang tepat untuk mendatanginya. Maafkan saya."

"Tuan Rio Dirgantara baru datang lima menit yang lalu. Apa Anda memiliki janji temu dengan beliau?" tanya security berkumis tebal yang menyapa wanita ini pertama kali.

"Sayang sekali. Saya tidak ada janji temu dengannya." Jangankan janji temu, keinginan untuk bertemu dengan pria b*rengsek itu saja entah darimana datangnya. Dan Monika menyesali pemikiran bodohnya karena datang ke tempat ini dengan begitu buru-buru.

"Kalau begitu Anda bisa datang besok pagi. Tuan Rio biasanya tidak menerima kunjungan di malam hari. Silakan datang jam delapan pagi dan hubungi petugas resepsionis untuk membuat janji dengan Tuan."

"Terima kasih." Kali ini sebuah anggukan ditunjukkan oleh wanita ini. "Kalau begitu, saya permisi."

"Tunggu, Nona," ucap petugas yang lain, membuat Monika kembali menghadap ke belakang.

"Bukankan Anda yang kemarin siang datang bersama Leo, asisten pribadi CEO kami?" Seorang petugas keamanan lain ikut mendekat. Dia mengingat wajah Monika saat datang kemarin siang. Leo melapor terlebih dahulu sebelum membawa Monika melewati pintu gerbang perusahaan ini. Ya, wanita ini telah menarik perhatiannya sejak awal.

Pakaian kasir minimarket yang Monika kenakan kemarin tampak begitu kontras dengan wajah cantiknya. Belum lagi rambut pirangnya yang tampak alami, dengan kulit putih dan mata yang sipit. Sungguh kecantikan yang sempurna, perpaduan antara Eropa dan Asia yang begitu indah. Dia lebih pantas berprofesi sebagai artis atau model dibandingkan pekerjaannya yang sekarang.

"Oh, benar. Itu saya." Monika menundukkan kepala sejenak, menghormat pada pria yang jauh lebih tua darinya.

Kedua petugas keamanan itu saling pandang. Mereka tahu wanita ini bukan sembarang tamu, mungkin ada hubungan khusus dengan petinggi perusahaan ini. Seorang kasir minimarket tidak mungkin datang dengan pengawalan khusus seperti kemarin, 'kan?

Petugas yang mengenali Monika tadi, menyikut rekan kerjanya, memberi isyarat bahwa wanita ini tidak perlu membuat janji temu jika dia seseorang yang memiliki hubungan pribadi dengan atasan mereka itu.

Monika mengamati dua pria empat puluh tahunan di depannya yang seolah tengah berkomunikasi dengan telepati atau semacamnya. Tatap mata mereka beradu, pastilah tengah berbicara dalam hati masing-masing. Atau, mungkin mereka tengah berdebat? Entahlah, bukan urusannya sama sekali.

Wanita berdarah campuran Indonesia - Inggris ini tersenyum hangat, merasa geli dengan respon dua orang di hadapannya. Dia sedikit terhibur, melupakan kesedihan yang dia rasakan sebelumnya. Lagi pula, Monika sadar diri, ini memang bukan waktu yang tepat untuk menemui Rio.

"Tuan Rio ada di dalam. Saya akan melapor bahwa Anda datang."

Monika menggeleng. "Tidak perlu merepotkan Bapak. Saya akan datang lagi besok. Tidak ada yang penting sama sekali."

Dua pria berseragam itu kembali saling pandang, entah berdebat atau mengobrol dalam hati, Monika tidak tahu pasti.

"Saya permisi. Maaf sudah mengganggu waktu Bapak berdua." Monika menundukkan kepala sekilas, membuat dua orang pria itu melakukan hal yang sama sebagai balasannya. Dalam hati, mereka kagum dengan pembawaan wanita ini. Selain cantik, dia juga memiliki etika yang santun.

Monika berbalik, mengembuskan napasnya dengan kasar. Dia mulai melangkah, membawa kakinya menjauh dari perusahaan tempatnya kehilangan kesucian kemarin. Bayangan saat Rio tengah menyetubuhinya dengan paksa kembali terlintas, membuat dia menggelengkan kepala berkali-kali.

'Dasar bodoh! Untuk apa datang kesini?'

Lagi-lagi dia mencemooh keputusan bodohnya ini. Mungkin saja, dia bisa mendapat jalan lain untuk membalas pengkhianatan Devan dengan Lisa tanpa meminta bantuan dari pria mesum ini. Entah imbalan apa yang akan Rio minta darinya, jika benar dia meminta bantuannya. Pastilah sesuatu yang mengerikan.

"Nona Monika Alexandra!" panggil Leo dari kejauhan. Dia berlari dari dalam lobi setelah mendapat titah dari Rio untuk membawa wanita ini ke atas.

Langkah Monika terus berlanjut, sementara dua security itu menoleh ke arah kedatangan Leo.

"Nona, tunggu sebentar!" teriak salah satu dari mereka.

Monika tak mendengarkan permintaan orang-orang di belakangnya. Pikirannya penuh oleh Rio, Devan, dan Lisa. Tiga orang itu sama saja, membuat hidupnya berantakan. Menyebalkan!!

"Nona Monika!" teriakan Leo semakin kencang, membuat langkah kaki wanita ini terhenti seketika. Dia menoleh kembali ke belakang, mencari siapa yang memanggil namanya.

Langkah kaki Leo terhenti tepat di depan dua pria berpakaian serba hitam yang menundukkan kepala bersamaan.

"Lain kali, antarkan Nona Monika masuk ke dalam. Itu perintah langsung dari Tuan." Leo berpesan, sembari mengatur napasnya yang tak beraturan.

"Baik." Lagi-lagi dua sosok tegap itu menundukkan kepala di depan salah satu orang kepercayaan CEO perusahaan ini.

Monika masih terpaku di tempatnya berdiri. Dia ragu dengan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Haruskah dia mengarang alasan agar bisa tetap pergi? Atau lebih baik masuk dan berbicara langsung dengan Rio? Toh, asisten pribadi orang itu sudah melihat kedatangannya.

"Nona, mari ikut saya. Tuan menunggu kedatangan Anda."

Satu dua detik berlalu dalam diam. Monika heran dengan kata-kata yang Leo ucapkan barusan. Bagaimana mungkin Rio menunggu kedatangannya? Apa pria itu tahu apa yang terjadi padanya?

"Silakan, Nona." Leo mengisyaratkan dengan tangan bahwa Monika harus ikut dengannya masuk ke dalam perusahaan ini.

Monika mengambil napas berat. Mau tidak mau dia harus menurut. Tidak mungkin dia berbalik pergi dan sengaja membuat masalah dengan pria ini. Ah, lebih tepatnya membuat masalah dengan atasan pria ini yang terkadang berperilaku buas seperti binatang liar.

Sejujurnya, Monika heran dengan sifat pria bernama Rio Dirgantara itu. Sesekali, dia terlihat begitu menyeramkan dan otoriter. Tapi, ada satu waktu dimana sorot matanya begitu tulus dan takut kehilangan. Entah masa lalu kelam apa yang pernah dia alami selain ditinggalkan oleh sang Ibu saat usia 6 tahun.

"Lewat sini, Nona." Leo membimbing Monika, membawanya masuk melalui lobi utama di lantai dasar yang terlihat lengang. Tak ada satu pun sosok yang terlihat saat dia menyapu pandangannya ke segala arah. Sungguh sepi, tanpa penghuni sama sekali.

Monika memeriksa jam berbentuk bulat di pergelangan tangannya. Tepat pukul delapan malam.

'Pantaslah sepi. Siapa juga karyawan yang tetap mau bekerja sampai malam seperti sekarang?' batin wanita ini.

Perusahaan ini bukan minimarket tempat Monika bekerja yang buka sampai jam sepuluh malam, tentu saja semua karyawan perusahaan ini sudah pulang sebelum jam enam. Pasti seperti itu!

"Apa Anda sudah makan, Nona?" tanya Leo begitu pintu lift tertutup dengan sempurna, siap membawa keduanya menuju lantai teratas di gedung ini.

"Ekhmm, belum." Monika tak enak hati memberikan jawaban itu. Tapi, dia memang belum makan apapun sebagai santap malamnya.

"Kebetulan tuan Rio juga belum makan. Saya akan pesankan makan malam untuk Anda berdua."

"Tidak. Tidak!" Monika dengan cepat menolak ucapan pria di depannya ini. "Aku tidak lapar."

Leo bungkam. Dia tidak mengatakan hal lainnya sampai denting nyaring kotak besi ini terdengar.

"Mari." Lagi-lagi Leo menggunakan isyarat tangannya, meminta Monika keluar lebih dulu dari dalam lift.

"Aku di belakang saja," ucapnya canggung.

Leo menurut. Dia berjalan dengan derap langkah kaki yang teratur, menuju sebuah pintu lebar di ujung koridor.

"Ini ruangan pribadi Tuan. Anda bisa langsung masuk. Tugas saya hanya mengantar Anda sampai di sini." Leo menghentikan langkahnya, menundukkan sedikit badannya di depan Monika.

"Aku masuk sendiri?" tanya Monika. Dia meragu. Entah apa yang akan dia dapati di dalam sana.

"Silakan."

"Maaf, aku haus. Bolehkah aku minum terlebih dahulu? Dimana pantrinya?"

Kening Leo berkerut, tidak tahu kenapa wanita ini seolah mengulur waktu untuk masuk. Apa dia mencoba untuk kabur?

"Ah, bukan apa-apa. Aku benar-benar haus." Monika merasa tak enak hati karena Leo menatapnya dengan pandangan curiga.

"Di dalam ada air putih. Anda bisa minta pada tuan nanti."

Monika terpaksa membasahi kerongkongannya yang kering dengan ludah. Dia tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi. Mau tak mau dia harus tetap pergi karena tidak mungkin baginya untuk bisa lari jika situasinya sudah seperti ini.

"Silakan!"

Monika melangkah perlahan sebelum terhenti di depan pintu.

Dia mengetuk pintu di hadapannya dua kali dengan ragu-ragu.

"Masuk." Sebuah suara pria yang berat terdengar samar-samar.

Dengan mengumpulkan tekad, Monika memberanikan diri membuka handle pintu yang tangannya genggam. Semerbak aroma citrus segera menyapa indera penciumannya. Ruangan ini berbeda dengan ruang istirahat Rio yang kemarin siang dia kunjungi. Dibandingkan dengan kantor, tempat ini lebih mirip sebuah apartemen atau hunian pribadi.

"Akhirnya kamu datang," sapa Rio yang tiba-tiba muncul di belakang Monika, membuat wanita ini terperanjat karena begitu terkejut.

"Apa aku mengejutkanmu?"

Monika bungkam. Dia mundur dua langkah ke belakang, menjaga jarak aman dengan pria yang hanya mengenakan kimono mandi ini. Tetes-tetes air jatuh dari ujung rambut hitam kelam miliknya.

Rio tersenyum melihat respon istrinya. Dia memang sengaja melakukan hal ini untuk melihat respon Monika. Apa benar wanita ini wanita baik-baik atau justru sebaliknya? Awalnya, dia berpikir bahwa Monika sama seperti wanita j*lang pada umumnya di luar sana, mendamba lelaki tampan dan kaya raya sepertinya. 

Detik berikutnya Monika berbalik, enggan menatap bulu halus yang terlihat di dada bidang pria ini. Dia harus tetap tenang agar bisa berpikir dengan kepala dingin. Kedatangannya kemari adalah untuk bernegosiasi dengan pria ini, bukan yang lainnya.

Rio berjalan ke arah lain, menuang segelas air putih dan kembali mendekat ke arah Monika.

"Bukankah kamu haus?"

Monika kembali mundur dua langkah ke belakang. Dia bergantian menatap Rio dan segelas air tanpa warna yang ada di tangannya. Ingatan malam itu kembali menyapa, dimana dia kehilangan kesadaran setelah meminum air putih yang Rio siapkan. Bahkan pria ini bisa memasukkan obat tidur atau semacamnya, padahal itu ada di kamar kostnya. Bagaimana jika sekarang dia melakukan hal yang sama? Terlebih, ini ada di kawasan teritorial pria ini sendiri.

"Tidak ada obat perangsang di dalamnya, percayalah."

Ucapan Rio justru membuat Monika semakin curiga. Dia tidak ingin meminumnya sama sekali. Mungkin saja pria ini benar-benar menambahkan obat perangsang seperti dalam novel online yang pernah dia baca. Ya, itu bisa saja terjadi, 'kan?

Detik berikutnya suara tawa Rio terdengar menggelegar. Dia tidak menyangka Monika akan begitu protektif saat bertemu dengannya untuk keempat kalinya ini.

Rio beranjak menjauh dari Monika, menuju sisi lain ruangan ini yang tampak seperti sebuah dapur. Sebuah lemari pendingin berisi berbagai makanan terlihat saat pria 31 tahun ini membukanya.

Rio melemparkan sebotol air mineral dingin ke arah Monika, membuat wanita ini sigap menangkapnya. Meski terkejut, tapi respon tubuhnya cukup bagus. Rio mengangkat sudut bibirnya melihat hal itu.

Pria yang memakai handuk kimono warna hitam itu meneguk minuman kaleng di tangannya. Hanya butuh tiga detik saja sebelum kaleng kosongnya terlempar ke tempat sampah. Monika terpaku, menatap siluet pria ini dari kejauhan.

"Apa kamu terpesona padaku?" sindir Rio yang mendapati Monika tak bergerak sama sekali.

Monika merasa bodoh mendapati hal itu benar adanya. Dia sempat terpesona melihat aura  maskulin yang terpancar dari pria ini.

Tanpa menjawab, Monika duduk di salah satu kursi dan mulai meneguk minumannya sendiri. Rasa hausnya sedikit berkurang setelah teraliri air.

"Kamu datang tanpa diundang. Apa kamu merindukanku?" Rio sengaja menggoda wanita ini, mulai mendekat ke arahnya.

"Aku butuh bantuanmu!" cetus Monika dengan nada serius, tak ada candaan sama sekali.

"Bantuanku?" Rio tersenyum penuh arti. "Puaskan aku dan kamu akan bisa mendapatkan semua yang kamu mau!"

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

0 Comments