Dipaksa Menikahi CEO. BAB 9-10

 


BAB 9


Monika mengantar Devan keluar setelah pria itu mencium keningnya. Ada perasaan tenang yang gadis ini rasakan dalam hatinya.

"Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik."

Monika bungkam. Dia tidak merespon pesan pujaan hatinya.

"Monikaa...." Suara Devan berhasil membawa kesadaran Monika kembali. "Ada masalah?"

Monika menggeleng. Entah apa yang harus dia lakukan sekarang. Ingin sekali Monika mengatakan permasalahan nikah kontrak itu. Tapi, dia juga tidak ingin melukai hati Devan.

"Hey?!" Devan tersenyum, mengacak poni wanita bersurai panjang yang terus menatapnya. "Sampai jumpa besok. Aku akan menghubungimu nanti."

Monika mengangguk. Dia menatap punggung pria itu hingga menghilang di persimpangan jalan. Ada perasaan hampa yang tiba-tiba menyergap, membuat gadis ini merasa kehilangan.

Perlahan Monika berbalik, mulai menapaki satu per satu anak tangga yang akan membawanya ke lantai tiga, tempat dimana kamarnya berada.

Hembusan angin dingin seketika menyapa tengkuk gadis ini, membuat langkahnya terhenti detik itu juga. Ada perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba menyeruak masuk, membuat tingkat kewaspadaannya meningkat.

Monika menatap sekeliling. Tak ada siapapun di sekitarnya, tapi entah kenapa dia merasa tidak nyaman, seperti seseorang tengah memperhatikannya.

"Nggak. Nggak ada apa-apa!" Monika menggelengkan kepalanya beberapa kali, meyakinkan dirinya bahwa firasat buruk yang dia rasakan tak berarti apa-apa.

Dengan cepat, gadis ini melanjutkan langkah kakinya dan memasuki bilik kecil kediamannya. Dia tidak tahu sepasang mata elang di dalam mobil terus memerhatikannya.

"Mari kita sedikit bermain-main, Sayang," ucap pria tampan itu dengan senyum iblis di wajahnya.

Monika menggerakkan lehernya, merasakan tubuhnya begitu lelah. Ah, lebih tepat jika dikatakan batinnya yang lelah. Otaknya dipenuhi dengan berbagai pemikiran yang runyam. Gadis blasteran Indonesia-Inggris ini mengembuskan napas kasar dari mulutnya.

"Bertemu dengan pria mesum itu dan tiba-tiba menjadi istrinya? Benar-benar tak bisa dipercaya!" dengus Monika kesal. Dengan gerakan sembarang, gadis ini mulai masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan diri.

Gemericik air segera terdengar dari dalam kamar mandi. Sampo beraroma greentea dan daun mint segera dia ratakan ke atas kepala, membuat mahkota indahnya tertutup busa. Setidaknya aromaterapi itu akan membuat tubuhnya lebih fresh.

Beberapa menit kemudian, Monika keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk melilit tubuh rampingnya. Langkah kaki gadis itu terhenti di depan pintu saat mendapati lampu utama di kamar ini padam.

"Eh? Apa lampunya rusak?" Monika menghadap ke atas.

Seorang pria yang bersembunyi dalam kegelapan hanya bisa menelan ludahnya berkali-kali. Pemandangan di hadapannya sungguh membuat libidonya naik seketika. Otak mesumnya segera bekerja, mengimajinasikan segala kenikmatan bersama wanita ini.

'Shit!" umpatnya dalam hati. Hasrat laki-lakinya terus meronta.

Bagaimana tidak? Tetes-tetes air yang turun melalui ujung surai pirang Monika, mengalir membasahi leher putih mulusnya. Siluet tubuh gadis ini terlihat begitu seksi dan menggoda. Benar-benar membuat siapa saja tak bisa menahan diri.

Monika berjalan ke arah lemari pakaian. Dia mengabaikan keadaan kamarnya yang gelap gulita. Tanpa penerangan sekalipun, dia hafal dimana letak pakaiannya berada.

Tanpa kecurigaan sama sekali, Monika mulai memakai pakaian d*lamnya. Dia tidak menyadari bahwa seorang iblis berwujud manusia tengah menahan diri beberapa langkah di belakang sana.

"Apa kamu sengaja memancing gairahku, Sayang?"

Monika terhenyak. Jantungnya seolah ingin melompat begitu mendengar suara tanpa wujud itu.

"Kamu sedang menggodaku?"

'Suara itu?!' batin Monika, matanya terbelalak. Tanpa melihat pemiliknya sekalipun, Monika tahu siapa tamu tak diundang yang datang ke kamarnya. Seketika hatinya merasa gundah. Ini tidak benar. Dia harus mencari solusi.

"Apa memang seperti ini kebiasaanmu? Bagaimana jika ada orang lain yang melihatnya?" Suara itu semakin terasa dekat, membuat Monika panik. Otaknya tak bisa berpikir jernih. Rasa panik itu semakin kuat, membuat kakinya tak bisa dia gerakan sama sekali.

Sebuah kecupan mendarat di bahu Monika yang tak terhalang apapun. Tangan kekar pria ini segera terjalin erat di depan perut, mencegah wanitanya untuk tak beralih seinchi pun.

"Selamat malam istriku," bisik Rio, sengaja meniup telinga bagian belakang gadis ini. "Apa kamu merindukanku? Aku sangat merindukanmu."

Rio kembali menikmati kulit putih mulus di depannya. Dia segera mencumbu wanita yang kini resmi berstatus sebagai pendamping hidupnya ini. Geleyar aneh segera Monika rasakan, antara geli dan nikmat, namun dia membencinya.

"Hentikan!" Monika mencoba melepaskan diri dari dekapan Rio.

"Sstt, Baby. Diamlah dan nikmati permainanku." Rio berusaha memanipulasi perhatian wanita ini dengan meremas aset berharga yang hanya dimiliki kaum hawa. Hal itu membuat mata sipit Monika membola. Ini pertama kalinya dia merasakan hal ini. Alarm tanda bahaya segera menyala. Dia harus segera menyelamatkan diri.

Monika menyiku perut pria di belakangnya dengan sekuat tenaga, membuat tubuh keduanya sedikit berjarak. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Monika. Dia berlari setelah menyambar selimut di atas ranjang guna menutupi tubuhnya yang belum tertutup pakaian dengan sempurna.

Monika menekan saklar lampu di belakangnya, membuat ruangan ini berubah terang benderang. Benar dugaannya, pria yang berhasil membuat jantungnya hampir copot adalah CEO mesum yang ditemuinya siang ini, Rio Dirgantara.

"Apa yang Anda lakukan di sini? Pergi!" hardik Monika. Dengan tatap mata penuh kebencian, dia mengusir pria ini.

"Pergi?" Rio mengangkat sudut bibirnya, menertawakan permintaan gadis yang kini berusaha menetralkan detak jantungnya.

"Kenapa aku harus pergi? Kamu istriku, tentu saja aku berhak mengunjungimu. Rumahku adalah rumahmu, maka rumahmu juga rumahku."

"Gila!" teriak Monika geram.

"Jangan lupakan uang dua miliar yang ayahmu hilangkan. Bagaimana cara kamu mengembalikannya, huh?" Rio mulai melangkah maju. Tatap matanya berkilat, kemarahan jelas mulai merasukinya. "Apa yang kamu miliki selain tubuh yang ramping dan wajah cantikmu itu?"

Monika bungkam. Dia tidak bisa berkutik jika dihadapkan dengan uang. Dua miliar bukan jumlah yang sedikit. Entah berapa puluh tahun yang harus dia habiskan untuk mendapatkannya. Gajinya sebagai kasir minimarket tak mendukung sama sekali.

"Apa kamu pikir tubuhmu begitu berharga? Jika dijual ke klub malam, kamu pikir berapa yang akan mereka berikan? Seratus juta? Dua ratus juta?" Aura iblis begitu kentara di sekitar pria 31 tahun ini. Logikanya sumbat, didominasi oleh kemarahan yang ada.

"Berapa banyak pria yang bisa kamu layani dalam semalam? Kenapa kamu tidak melayaniku saja?"

"Bajingan!!"

Sebuah vas bunga melayang di udara sebelum membentur tembok di belakang Rio. Monika melempar benda itu sebagai bentuk kemarahannya. Kata-kata pria ini membuat emosinya tersulut. Dia bukan wanita j*lang seperti yang dituduhkan.

Rio semakin berani mendekat ke arah Monika. Tubuhnya bergerak meliuk ke kanan dan ke kiri, menghindari benda apa saja yang Monika lemparkan.

"Apa? Kenapa marah? Berapa banyak yang sudah kamu dapatkan dari kekasihmu itu? Aku bisa memberikannya lima kali lipat!!" Senyum iblis itu semakin melebar. Dia merasa di atas angin melihat Monika mulai tersudut. Tidak ada benda apapun lagi dalam jangkauannya.

"Jangan mendekat!" Monika terus melangkah mundur, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dengan pria mesum ini.

"Hahaha. Apa kamu takut sekarang?"

Tawa Rio menggema. Kemarahannya sirna, berganti dengan perasaan bahagia karena melihat Monika ketakutan. Wanita itu mencari apa saja yang bisa dimanfaatkannya.

"Kemarilah, Sayang. Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Selama kamu bersedia menjadi penghangat ranjangku, aku akan memaafkan semua kesalahanmu dan ayahmu."

Monika menggeleng cepat. Dia menolak ide yang Rio sampaikan. Ada secercah harapan dari mata indah gadis itu saat dia melihat sebilah pisau di atas meja.

"Berhenti disana!" Monika mengacungkan satu-satunya senjata yang dimilikinya ke arah depan, membuat langkah Rio tertahan. Tawanya segera lenyap, berganti dengan wajah serius yang terlihat begitu menyeramkan.

"Lebih baik aku menyusul papa dan mama daripada harus menjadi penghangat ranjangmu!"

Hasrat laki-laki di dalam diri Rio terangsang saat melihat selimut di tubuh Monika yang melorot tanpa gadis itu sadari.

"Jangan berpikir kamu bisa mendapatkan segalanya dengan uang. Aku tidak sudi membiarkan sehelai rambutku ada dalam genggamanku. Menjijikkan!"

Rio menelan ludahnya untuk ke sekian kali. Kakinya kembali melangkah, mengikis jarak dengan istrinya. Teriakan dan ancaman Monika tak menyurutkan niatan pria ini untuk mendekat. Libidonya kembali menggelora, membuatnya kehilangan akal sehat.

"Berhenti di sana atau aku akan benar-benar melakukannya!" Monika menempelkan benda pipih mengilat itu di pergelangan tangannya bagian dalam. Napasnya tercekat di tenggorokan. Tangannya gemetar, menatap Rio takut-takut.

"Lakukan saja jika berani." Rio tak mengindahkan ancaman Monika. Dia tetap melangkah maju, menyisakan jarak satu dua meter saja.

Monika semakin tersudut. Selimut di bahunya sempurna terjatuh ke lantai, membuat tubuh bagian atasnya terekspose. Konsentrasinya terpecah seketika.

"Hanya sebatas ini saja keberanianmu?" Rio menghentikan langkahnya tepat di depan Monika. "Hidupmu terlalu berharga untuk diakhiri secepat ini, 'kan?"

Hening. Monika tak bisa menjawab. Apa yang Rio katakan benar adanya. Dia mengalami berbagai kesulitan sejak kedua orangtuanya berpisah. Bagaimana bisa dia menyerah akan keadaan ini? Penderitaan mendiang ibunya jauh lebih berat, tapi wanita itu tidak pernah putus asa.

Rio membuang pisau yang ada di tangan Monika ke lantai. Pria ini bahkan mengambil selimut dari lantai dan memakaikannya lagi pada Sang Istri.

"Jangan pernah berpikir bunuh diri bisa menyelesaikan segalanya!" Rio memeluk tubuh Monika yang tertutup selimut, membawanya untuk duduk di tepi ranjang. Kehangatan yang pria ini tunjukkan, berbanding terbalik dengan sikap iblisnya beberapa menit yang lalu.

"Aku akan ambilkan pakaian untukmu." Pria tampan ini berjalan menuju lemari dan memungut piyama yang sebelumnya Monika ambil. Dengan cekatan, Rio memakaikan pakaian itu di tubuh ramping Monika dan memasang kancingnya satu per satu.

Monika terhenyak. Dia tidak menyangka Rio akan memperlakukannya dengan lembut seperti sekarang.

"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kamu jatuh cinta padaku?"

Lengang. Monika tak menjawab pertanyaan yang Rio lontarkan. Dia bingung dengan sikap suami kontraknya. Mungkinkah pria ini berkepribadian ganda?

"Aku lelah berdebat denganmu. Bukankah kamu juga merasakan hal yang sama?" Rio menatap manik mata istrinya dalam-dalam. "Minumlah. Pasti tenggorokanmu terasa kering."

Monika menurut. Dia meminum air tanpa warna di dalam gelas hingga tetes terakhir.

Sebuah kecupan pria ini lakukan dengan singkat di bibir Monika, membuat gadis polos ini terperanjat.

"Istirahatlah. Aku tidak akan melakukan apapun padamu."

Rio membaringkan tubuh Monika di atas ranjang, menyelimutinya sebatas perut. "Selamat istirahat. Have a nice dream."

Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Monika merasa damai mendapati sikap manis pria ini. Dia memejamkan matanya, bersiap masuk ke alam bawah sadar dan mulai mengistirahatkan seluruh tubuhnya.

Rio mengelus puncak kepala Monika sambil melirik gelas di atas nakas. Dia menatap wajah cantik itu dengan senyum licik. Wanita ini masuk ke dalam perangkapnya.

'Kita lihat apa kamu masih ingin melawanku,' batin Rio bersiasat.





BAB 10


Monika terkejut saat mendapati Rio ada di kamarnya. Dia murka saat CEO mesum itu menawarinya untuk jadi penghangat ranjang. Berbagai benda dia lemparkan, namun tak satupun mengenai suami kontraknya.

Keadaan berubah tiba-tiba saat Rio menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Dia memberikan rasa aman saat Monika mengancam akan bunuh diri. Hal itu membuat Monika terhanyut oleh keadaan, melupakan kebenciannya pada pria itu.

"Aku lelah berdebat denganmu. Bukankah kamu merasakan hal yang sama?" Rio menyodorkan segelas air putih pada Monika. Sebuah senyum hangat terukir di wajah rupawan miliknya.

Monika tak bisa membantah. Pesona pria ini begitu kuat, membuat hatinya sedikit menghangat. Apa yang dia lakukan sama seperti Devan, menenangkannya dengan sikap yang lembut.

'Lihatlah, apa kamu bisa menolakku nantinya,' batin Rio bermonolog. Dia tahu bahwa gadis ini akan terus memberontak dan melawan jika dia bersikap kasar padanya. Maka, satu-satunya cara adalah memutar haluan, mengambil jalan lain untuk membuatnya menurut.

"Minumlah. Pasti tenggorokanmu terasa kering." Gelas berisi segelas air putih itu semakin mendekat ke arah Monika. Rio sengaja mengambilkannya setelah gadis ini tampak sedikit tenang, bisa meredam kemarahan dalam dirinya.

Tanpa curiga sedikit pun, Monika meminumnya. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa air itu Rio ambil dari dispenser yang ada, jadi tidak mungkin berbahaya.

Sebuah kecupan singkat mendarat di sudut bibir Monika, membuat gadis ini terperanjat. Ini adalah ciuman pertamanya. Lima tahun berpacaran dengan Devan, pria itu belum pernah menciumnya di bibir, paling jauh sebatas kening dan pipi.

"Istirahatlah. Aku tidak akan melakukan apapun padamu." Rio membaringkan tubuh Monika dengan hati-hati seolah itu adalah benda berharga yang bisa tergores dengan mudah. Selimut yang tadinya Monika gunakan untuk menutupi tubuh shirtless-nya, sekarang Rio pakaikan hingga ke perutnya.

"Selamat istirahat. Have a nice dream." Jemari tangan pria itu mengelus puncak kepala Monika dengan sayang, membuat gadis 26 tahun ini bertanya-tanya, kenapa pria ini berubah menjadi begitu lembut?

Namun sebelum logikanya berpikir lebih jauh, rasa kantuk yang begitu kuat tiba-tiba menyerang. Matanya terasa begitu berat, meminta untuk terpejam saat ini juga.

Rio tersenyum penuh arti, mengusap bibir Monika dengan ibu jari. 'Kita lihat, apa kamu masih ingin melawanku?' batinnya.

Lengang. Tak ada respon dari Monika. Gadis ini telah masuk ke alam bawah sadarnya, tak merasakan apapun yang Rio lakukan. Kelima panca inderanya berhasil dilumpuhkan dengan obat tidur dosis rendah yang pria mesum itu tambahkan ke dalam air putih. Ya, Monika tak tahu sama sekali bahwa Rio sudah menaruh serbuk obat di dasar gelas kaca miliknya. Pria ini benar-benar licik.

Rio menatap jam di pergelangan tangannya, pukul tujuh malam. Waktunya masih panjang. Dia bisa mempermainkan gadis ini sesuka hatinya.

Bibir ranum yang tertutup menjadi sasaran utama pria mesum ini. Tak cukup hanya mengecup, Rio menghisap dan sesekali menjilat gumpalan daging tipis milik Monika. Dia sudah terobsesi, ingin menikmati seluruh tubuh wanita ini.

"Shit!" Rio mengumpat saat aktivitasnya terganggu oleh getaran ponsel Monika di atas nakas. Nama 'Lovely' terlihat di sana, membuat emosi Rio kembali datang. Adegan cium kening yang Devan lakukan sebelum pergi, kembali membuat pria ini meradang. Tidak ada yang boleh bersaing dengannya!

"Sudah ku katakan sebelumnya, kamu hanya milikku. Tidak ada seorang pun yang berhak menyentuhmu. Termasuk pria itu!" Rio mengelus wajah Monika dengan gerakan seduktif. Dia sudah terobsesi dengan gadis ini. Tubuhnya yang ramping namun menonjol di beberapa bagian, berhasil merangsang keinginan terdalam di dalam hati Rio.

"Aku akan membuatmu tahu bahwa kamu milikku. Hanya milikku!!" gumam Rio, kembali mendekati wajah Monika. Keinginannya semakin menggebu-gebu kala menghirup aroma greentea dan daun mint yang menguar dari rambut panjang di hadapannya yang masih basah.

"Kamu sengaja menggodaku, 'kan?" Pria posesif ini tak ingin mengulur waktu lebih lama lagi. Bibirnya segera menjelajah, tak ingin melewatkan satu mili pun wajah cantik milik gadis yang dia klaim sebagai wanitanya.

Dengan napas yang semakin memburu, Rio mengecup, mencecap dan menjilat bibir Monika. Gairahnya semakin tak tertahankan. Dia mulai beralih ke area lain, meninggalkan wajah Monika yang terlelap dalam damai.

"Hmm," gumam Monika dengan mata yang tetap terpejam. Itu adalah refleks tubuhnya atas perlakuan intim yang Rio lakukan padanya. Kepalanya menoleh ke samping saat Rio semakin dominan menguasai area sensitif di belakang telinga.

Tangan Monika mencengkeram seprai dengan erat saat Rio mengigit daun telinganya. Dia membuka mata, sekilas mendapat kesadarannya kembali.

'Dia?!' batin Monika.

"Ahh..." Desahan itu lolos dari mulutnya saat merasakan jemari kokoh itu mulai menjamah bagian sensitifnya di balik piyama. Ada perasaan geli namun nikmat. Monika tidak bisa melawan gejolak di dalam dadanya.

'Apa ini mimpi?' batin Monika. Dia tidak bisa menggerakkan badan sama sekali, seolah saraf-saraf otaknya tak terhubung dengan tangan maupun kakinya.

Pergerakan Rio semakin liar. Dia meremas salah satu bukit kembar milik istrinya, membuat wanita ini terbelalak.

"Hen... hentikan!" suara Monika terdengar begitu lemah, tak berimbas apapun. Pria ini tak peduli, justru semakin buas menikmati leher jenjang mulus yang kini menjadi tempat bibirnya berada.

Monika kembali merasakan kantuknya kembali. Matanya semakin berat, tak ingin terbuka lagi.

'Tidak. Ini tidak benar!' batin gadis ini mulai memberontak. Namun kesadarannya semakin menurun. Perlahan namun pasti, obat tidur itu telah mengambil kesadarannya.

Gigitan Rio tak mendapat penolakan sama sekali dari Monika, menandakan bahwa dia sudah melewati ambang batas kesadarannya.

Kancing piyama Monika terbuka seluruhnya, menampilkan dada indah yang siang tadi menjadi penyebab imajinasi liar pria mesum ini. Tanpa menunggu waktu lama, Rio segera mendaratkan bibirnya di sana. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, meninggalkan jejak di sana. Tak cukup satu, dua atau tiga. Lebih dari lima bekas tanda cinta yang Rio ciptakan di sana.

"Aku tidak akan sungkan lagi. Kamu istriku, tentu saja aku akan menikmatimu."

Rio melanjutkan jajahannya. Bibir dan tangannya bekerja sama, menjamah seluruh tubuh Monika dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Entah berapa kissmark yang Rio tinggalkan, paling banyak di area dada, perut dan paha gadis ini. Satu-satunya tanda cinta yang terlihat ada di pangkal lehernya.

Rio merasa puas telah menandai wanitanya. Dia beralih pada Monika yang terlihat begitu damai.

"Monika Alexandra, kamu harus tahu satu hal. Tubuh indahmu ini sudah kubeli seharga dua miliar. Jangan pernah berpikir untuk memberikannya pada orang lain atau aku benar-benar akan menghabisimu!"

Rio kembali mencumbu wanita yang berstatus sebagai istrinya ini. Dia kembali melesatkan kecupan hangat di perut rata Monika, dan lagi-lagi membuat tanda di sana. Aroma jeruk yang menyegarkan begitu terasa, membuat Rio menyadari bahwa gadis ini menyukai aroma buah-buahan sebagai sabun mandinya.

CEO 31 tahun ini tak bisa meredakan hasratnya lebih jauh. Senjata miliknya di bawah sana terasa begitu sesak, ingin dilepaskan dari sarangnya. Tatap matanya berkilat, dikuasai hasrat yang semakin kuat.

Rio mulai melucuti kemeja lengan panjang yang dipakainya. Tubuhnya yang berkeringat menandakan bahwa dia mulai kepanasan, terlebih lagi tak ada pendingin udara di ruangan ini. Sungguh ruangan sempit yang tidak mungkin Rio datangi jika bukan karena gadis ini.

Dengan nafsu yang semakin menggebu, Rio melepas semua kain yang menghalangi inti Monika. Dia siap menanamkan benihnya pada wanita cantik blasteran Indonesia-Inggris ini. Rio mengeluarkan senjata miliknya, bersiap menerobos masuk ke dalam lubang kenikmatan milik Monika.

Tok tok tok

Terdengar suara pintu di ketuk saat Rio baru saja membuka paha Monika lebar-lebar. Pria ini menggeram, menahan diri dari puncak hasratnya. Entah siapa yang mengganggu mereka, Rio pasti akan memancungnya setelah mendapat pelepasan nanti.

Ketukan pintu itu terdengar lagi, bahkan lebih keras dari sebelumnya. Rio terpaksa menghentikan serangannya, namun tak bersuara. Dia takut orang di luar sana adalah tetangga Monika. Akan kacau jadinya jika mereka mendengar suara laki-laki yang menyahut, padahal semua orang tahu bahwa Monika tinggal seorang diri.

"Tuan, ini saya." Suara Leo terdengar di balik pintu, membuat wajah tegang Rio sedikit terurai.

"Ada apa?" ketus Rio, menatap wajah tidur Monika di bawah kungkungannya.

"Ada masalah. Gudang senjata terbakar. Anda harus segera melihatnya." Leo terdengar panik. Dia tidak bisa menunda urusan ini lagi.

"SHIT!!" geram Rio. Dia tidak bisa mengabaikan masalah ini. Hasratnya yang ada di ubun-ubun sirna seketika.

Dengan gerakan cepat, Rio membenahi pakaiannya. Tak lupa, dia juga memakaikan baju Monika seperti sedia kala. Dia tidak ingin ada orang lain yang melihat tubuh molek gadisnya.

"Tuan?!" Leo kembali memanggil tuannya, meminta keputusan dari pria itu.

"Sweety, anggap saja kali ini kamu beruntung!" Rio mendekat ke arah wajah Monika dan menciumnya sekilas. Ada perasaan tidak rela yang pria ini rasakan. Dia tidak ingin meninggalkan Monika sebelum mendapatkan haknya sebagai seorang suami.

Malam pertamanya dengan Monika berakir mengecewakan. Semua itu karena Leo yang tiba-tiba datang dengan masalah yang dibawanya. Sial! 

Sebuah kecupan di leher menjadi sentuhan terakhir yang pria ini lakukan pada Monika. Dia meninggalkan wanitanya yang masih terlelap dengan berat hati. 

"Tuan, waktu kita terbatas!" Leo terus mendesak. 

"Aku tahu!" sengit Rio dengan wajah masam. "Panggil lima orang pengawal wanita. Jaga dia. Jangan biarkan satu pun lalat pengganggu datang mendekatinya!" titah Rio sambil lalu. 

Leo menoleh ke belakang, menatap wanita yang kini terlelap dalam tidurnya. Wajah cantik itu terlihat begitu damai, membuat hatinya berdesir. Ada rasa iba mengingat gadis itu mungkin saja menjadi sasaran liar tuannya. 

"LEO!!" gertak pria yang kini bersiap menuruni anak tangga di depannya. Wajahnya merah padam, menahan amarah yang semakin memuncak. 

"Baik, Tuan. Laksanakan!" 

Leo segera berlari menyusul Rio setelah menutup pintu kamar Monika. Melalui earpiece di telinganya, dia memanggil lima rekan wanitanya untuk menjaga istri tuan CEO yang pemarah ini. 

Mobil limited edition keluaran terbaru segera melesat, meninggalkan kawasan padat penduduk di tengah kota. Kendaraan besi seharga puluhan miliar itu meluncur menuju gudang senjata seperti yang Leo katakan. 

"Siapkan laporanmu. Kita lihat tikus mana yang berani menggigit tuannya!" Rio menggertakkan gigi. Dia tidak akan segan menghukum bawahannya yang telah menjadi penyebab masalah ini. Ah, lebih tepatnya menjadi penyebab gagalnya malam pertama yang sangat dia dambakan. Sial! 


0 Comments