Dipaksa Menikahi CEO. Tamat.

 


BAB 31


Monika tidak sadar mendatangi perusahaan tempat Rio berada. Dia merutuki kebodohannya sendiri yang seolah memasuki kandang macan. Ingatannya tentang perlakuan kasar Rio di atas ranjang kembali terlintas. Tapi, dia tidak bisa lari dari situasi ini.

"Aku butuh bantuanmu!"

Rio terkekeh mendengar tiga kata yang keluar dari mulut wanita ini. Dugaannya benar. Monika pasti akan datang setelah mengetahui skandal tak terduga antara kekasih dan temannya itu. Rio tentu saja bisa memperkirakan hal itu, karena dialah yang meminta Leo mengirimkan video ranjang Devan dan Lisa pada Monika.

"Kamu membutuhkan bantuanku?" Rio mendekat ke arah Monika. Dia duduk di salah satu kursi sofa panjang yang ada di ruangan ini, terhalang meja dari tempat istri kontraknya berada.

"Puaskan aku!" lanjut Rio, tersenyum penuh arti.

Monika terhenyak. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Dia tahu pria ini pasti akan meminta imbalan atas permintaan ini. Sial!

"Kamu bisa mendapatkan semua yang kamu inginkan! Bagaimana?" tanya Rio mengonfirmasi. Dia menunggu jawaban dari wanita yang kini tampak salah tingkah di depannya.

"A-apa tidak ada cara lainnya? Aku bisa melakukan pekerjaan rumah apa saja." Monika sedikit tergagap. Wajah putihnya merah merona. Dia enggan menatap Rio sama sekali, antara malu, kesal, sekaligus marah.

"Aku tidak kekurangan pekerja." Rio tersenyum. "Aku menginginkan tubuhmu, bukan yang lain!"

Monika kembali bungkam.

"Selain tubuh indahmu itu, apa yang kamu miliki, huh?" Sudut bibir pria ini terangkat, mencemooh Monika yang kehabisan kata-kata untuk diucapkan.

"Tanpa bantuan dariku, kamu tidak akan bisa melanjutkan hidupmu! Ingat juga hutang ayahmu. Dua miliar rupiah!!"

Kata-kata Rio menampar wanita 26 tahun ini. Kenyataan pahit harus ia telan seorang diri. Apa yang pria ini katakan benar adanya. Selain tubuhnya, dia tidak memiliki apapun lagi di dunia ini untuk membayar hutang sang Ayah.

"Aku bukan pria penyabar! Jadi, jangan sampai membuatku marah." Netra elang itu menatap Monika dengan tajam. "Bukankah kamu membutuhkan bantuanku?"

Rio bermain tarik ulur, membuat gadisnya ini bimbang. Hutang dua miliar, pengkhianatan Devan dan Lisa, juga sakit hati yang ia rasakan sekarang, semua bercampur jadi satu.

"Bagaimana? Sudah dipikirkan?" Suara Rio kembali mendominasi. Pria ini mendekat, meraih beberapa helai surai pirang itu dan mulai mengendus aroma tubuh wanitanya.

Monika berusaha menjauhkan diri. Dia tidak tahu harus dengan cara apa untuk menghadapi dominasi pria ini. Dia terlihat begitu mesum, bagaimana cara untuk membuatnya puas? Apakah harus sampai pingsan seperti kemarin agar dia terpuaskan? Gila!!

"Aku sedang bermurah hati. Sebaiknya kamu tidak terlalu lama berpikir." Rio kembali ke tempatnya semula, mengamati wanitanya sambil tersenyum.

"Pikirkan baik-baik. Aku tahu kamu bukan gadis bodoh." Rio membaringkan tubuh ke belakang, membuat punggung lebar miliknya menempel pada sandaran kursi. Kedua tangannya terjalin di atas kepala, menantikan wanita itu untuk datang ke dalam pelukannya.

"Sayangku, waktumu hanya lima menit. Puaskan aku dan seluruh dunia menjadi milikmu."

Monika ragu. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Haruskah dia menuruti permintaan pria mesum ini? Atau dia harus menyerah begitu saja dan melupakan sakit hatinya pada Devan dan Lisa?

"Empat menit lagi." Rio semakin senang melihat ekspresi keraguan yang tergambar jelas di wajah cantik Monika. Pertentangan batin pasti tengah menguasai wanita ini. Dia bukanlah wanita j*lang yang bisa menggoda pria. Rio tahu itu.

"Selain aku, siapa yang bisa menghancurkan Devan Mahendra dan wanita selingkuhannya itu?"

Tubuh Monika menegang, mata sipitnya terbeliak lebar. Atensinya menatap Rio dengan pandangan tak percaya. Dia tidak menyangka pria ini tahu skandal antara dua orang terdekatnya itu. Mungkinkah dia...

"Jangan terlalu bodoh menjadi wanita!" Kata-kata tajam itu berhasil menusuk relung hati Monika. Dia memang bodoh karena berhasil ditipu oleh kekasihnya dengan sikap lembut yang selalu pria b*rengsek itu tunjukkan di depannya.

"Satu tahun mereka tidur bersama, dan kamu tidak tahu sama sekali akan hal itu? Hahaha." Tawa Rio menggema, membuat Monika sebal. Dia sudah tahu hal itu, kenapa harus diungkit lagi.

"Kenpa tidak terkejut?" Rio mengangkat tubuhnya dari sandaran kursi, menatap Monika dengan pandangan selidik. "Apa kamu sudah tahu hal menjijikkan itu?"

Monika tak merespon. Dia enggan menanggapi apa saja provokasi Rio padanya. Menyebalkan!

"Ah, apa kamu sudah melihat videonya? J*lang itu sangat menikmati sentuhan kekasihmu. Tidakkah kamu cemburu?"

"Tutup mulutmu!" Monika beranjak dari duduknya, tidak tahan dengan semua kalimat yang Rio ucapkan.

"Kenapa? Aku bahkan bisa memuaskanmu lebih dari itu!"

Air mineral yang ada di atas meja, melayang seketika di udara. Monika melempar benda itu ke arah Rio, namun berhasil ditepis dengan mudah.

"Tidak ada gunanya menyesali apa yang terjadi." Rio berdiri, menghampiri wanita yang kini tengah naik pitam. Dia membelai pipi tirus Monika, "Jadilah wanitaku, kita hancurkan mereka berdua! Buat mereka menangis darah dan memohon maaf padamu!"

Kemarahan Monika tak lagi terbendung. Kebenciannya pada Devan dan Lisa semakin memuncak kala pria ini berhasil menghasutnya. Dia sosok yang manipulatif, bisa mengubah situasi apapun sesuai keinginannya.

"Waktumu untuk berpikir sudah habis. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi."

Pinggang Monika kini ada dalam rengkuhan CEO mesum ini. Bibirnya dengan ganas langsung melumat bibir tipis Monika, membuat wanita ini kewalahan.

"Balas aku!" titah Rio di sela-sela lumatannya yang begitu buas.

Tubuh Monika membatu kala merasakan lidah pria ini mulai bergerilya di dalam mulutnya. Dengan lihai, daging tak bertulang itu mengabsen deretan gigi satu per satu, sebelum menusuk tenggorokannya tiba-tiba.

"Ukhh..." Monika hampir tersedak ludah. Itu adalah peringatan dari Rio agar dia membalas ciumannya.

Tangan pria ini tak tinggal diam, meremas bagian belakang tubuh wanitanya yang cukup berisi.

Monika tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Pria ini seolah begitu menuntut agar dia membalas seluruh perlakuannya. Jangankan membalas, Monika saja tidak tahu apa yang tengah pria ini cari di dalam mulutnya.

"Apa kamu belum pernah berciuman sebelumnya?" Rio menatap wanitanya, menjeda ciuman panas yang tak kunjung berbalas. Dia kesal karena Monika sama sekali tak bisa mengimbanginya.

Monika menundukkan kepalanya, menghindar dari manik mata hitam yang seolah ingin mengebornya. Dia malu mendapat pertanyaan yang begitu frontal ini. Gelengan kepalanya yang lemah mengiyakan tuduhan itu. Monika memang belum pernah berciuman sebelumnya.

"Astaga!" Seketika Rio melepaskan pelukannya. Sebelah tangannya dia gunakan untuk menyugar rambut basahnya ke belakang. Dia benar-benar syok dengan satu fakta tentang wanita ini.

Rio mendengar penjelasan Leo kemarin bahwa Monika belum pernah berciuman dengan Devan, tapi dia tidak percaya hal itu. Mana mungkin seorang wanita dewasa belum pernah berciuman dengan kekasihnya? Mereka sudah bersama selama bertahun-tahun. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Benarkah Monika sepolos itu?

"Apa harus aku lakukan padamu?" Kalimat itu terlontar begitu saja saat Monika tak kunjung mengangkat wajahnya meski beberapa detik telah berlalu. Pria ini seolah putus asa, menemukan satu wanita yang begitu primitif. Cara membalas ciuman saja tidak tahu. Benar-benar menjengkelkan!

Hening. Deru halus AC terdengar samar-samar.

"Angkat kepalamu," pinta Rio dengan suara yang lebih bersahabat, tidak terdengar menakutkan seperti sebelumnya.

Monika mengangkat kepalanya perlahan. Bibir bawahnya dia gigit erat-erat, takut melihat wajah Rio yang hanya berjarak setengah meter darinya. Kedua tangannya terkepal, menggenggam ujung sweater yang dia kenakan.

'Shit!' maki Rio dalam hati. Dia mati-matian berusaha menekan sisi liar yang terus saja menyeruak saat melepas wanita ini. Dan sekarang Monika justru menggigit bibir bawahnya yang begitu menggoda?

Rio mengamati penampilan Monika dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Sepasang sneakers warna putih, celana jeans belel, dan sweater knit oversize yang menyembunyikan lekuk tubuh indahnya. Kesemua yang wanita ini pakai sungguh barang-barang murahan.

"Apa kekasih b*rengsekmu itu bahkan tak pernah membelikanmu baju baru?"

Monika terhenyak. Dia tidak tahu apa yang Rio bicarakan. Baju? Ada apa dengan bajunya? Bukankah pria ini tengah marah karena dia tidak membalas lumat*nnya? Kenapa sekarang tiba-tiba membahas baju yang dia kenakan?

"Lepas pakaianmu!" titahnya dingin dan tajam.

Monika menggeleng, mundur ke belakang dengan tergesa, membuat tumitnya terantuk kursi.

"Ap-apa yang kamu inginkan?" tanya Monika terbata.

Rio tak menjawab. Dia mengambil sebuah kaus warna putih dari dalam lemari pakaian dan melemparkannya pada Monika.

"Pakai itu! Aroma tubuhnya menempel di baju murahan yang kamu pakai. Menjijikkan!"

Monika kembali kehilangan kata-kata, tidak menyangka Rio memperhatikan penampilannya. Bahkan, pria ini tahu bahwa Devan bersamanya sore tadi. Mungkinkah Rio melihat Devan memeluknya?

"Lepas sekarang atau aku yang akan melepasnya dengan paksa!" Rio mulai kehilangan kesabarannya, mengingat sosok pria lain yang berhasil menyita perhatian istrinya ini.

"Di-Dimana kamar mandinya?" tanya Monika ragu. Dia malu jika harus mengganti pakaian di sini. Tidak ada salahnya menumpang sejenak di tempat mewah pria ini.

"Lepaskan saja! Bagian mana dari tubuhmu yang belum aku lihat?!"

Monika salah tingkah, wajahnya kembali memerah. Kata-kata yang pria ini ucapkan selalu saja begitu jelas, tanpa merasa risih atau malu. Justru Monika yang merasa tidak nyaman.

"Tunggu apa lagi? Ingin aku membantumu?" Rio kembal melangkah, berniat mendekat ke arah Monika karena beberapa detik berlalu dengan sia-sia.

"Aku bisa sendiri!" Monika berbalik, mulai melepaskan pakaian atasnya, membuat punggung putih miliknya terekspose.

Rio menelan salivanya dengan paksa. Dia tidak bisa menahan imajinasi liarnya kala melihat kaitan bra hitam yang terpampang begitu jelas di matanya. Dan tanpa bisa dicegah, sesuatu di dalam sana mulai terasa sesak. Hasratnya ada di ujung tanduk, tak bisa dia tahan lagi.

"Su-sudah." Monika berbalik dan terkejut saat mendapati Rio tepat ada di hadapannya. Sejak kapan pria ini mendekat? Dia tidak mendengar langkah kakinya sama sekali.

"Malam ini, tubuhku seutuhnya milikmu!" bisik Rio sebelum menjilat cuping telinga Monika. Satu tangannya menahan pinggang, dan tangan yang lain menggenggam pergelangan wanita cantik ini.

Rio menarik Monika dalam pelukan sebelum menjatuhkan diri. Wanita cantik ini duduk di atas pangkuannya.

"Ap-apa yang..." Kata-kata Monika terhenti saat merasakan ada yang mengganjal di bawah sana. Sesuatu melesak, ingin dikeluarkan dari sarangnya. 

"Kamu?!" Monika terhenyak. Pria ini sudah terangsang.

"Lakukan seperti apa yang aku lakukan padamu!" titah pria yang hanya mengenakan kimono warna hitam itu. Detik berikutnya, wajah Rio mendekat, mengecup bibir Monika sekilas sebelum kembali menjauh. "Just do it!"

"Hah?" Monika masih belum mengerti dengan ucapan Rio.

"Do like I do."

Bibir ranum itu kembali dik*lum sebelum Monika sempat bertanya lebih jauh. Rio mencium Monika dengan lembut, memastikan wanita ini tidak merasa takut atau keberatan seperti sebelumnya.

"Hanya seperti itu. Mudah saja." Rio melepaskan ciumannya dan menatap Monika sambil tersenyum hangat.

'Eh? Dia tersenyum?'

"Aku akan memberikan contohnya dan kamu menirunya. Bisa 'kan?"

Seperti ada di bawah pengaruh sihir, Monika mengangguk. Dia menurut saja dengan apa yang Rio katakan. Pria ini tak lagi memaksa seperti sebelumnya, tapi bersikap begitu lembut dan membuat Monika sedikit luluh.

Perlahan tapi pasti, Monika mendekatkan wajahnya. Dia mencium Rio di permukaan bibirnya. Ada sensasi aneh yang mulai dia rasakan, seperti ada ribuan semut-semut kecil yang menjalar di seluruh tubuhnya. Geli, tapi membuatnya nyaman.

Rio tersenyum melihat Monika mulai menikmati aktivitasnya. Wanita ini tanpa sadar mencengkeram bahunya, menandakan libidonya mulai naik.

Tak ingin tinggal diam, Rio menahan tengkuk wanitanya dan mulai mengikuti permainan lidah Monika yang masih kaku. Ah, lebih tepatnya dia mengambil alih situasinya sekarang.

"Mmhh." Desahan Monika tertahan di dalam mulut. Suara seksi itu lolos begitu saja ketika permainan panas mereka semakin jauh. Rio memberanikan diri menelusupkan tangannya ke dalam kaus dan meremas p*yudara istrinya dari luar bra.

Rasa nyeri Monika rasakan, membuatnya semakin erat memeluk tubuh suaminya. Permainan tangan dan lidah Rio yang begitu lihai berhasil mengikis kewarasannya. Dia ingin lebih. Tubuhnya mulai memanas, aliran darahnya terasa begitu cepat. Ini pertama kalinya Monika merasakan sensasi seperti ini.

Rio kembali tersenyum, melepas pagutan bibir istrinya. Ada kebanggaan tersendiri saat dia bisa mendengar Monika mendesah, menandakan bahwa wanita di pangkuannya ini ada sedikit kemajuan.

"Mau coba yang lain?"

Monika mengangguk. Dia ingin belajar memuaskan diri, mendapat sensasi yang lainnya lagi.

Tanpa aba-aba, Rio kembali meremas dua bukit kembar milik Monika bersamaan, membuat netra wanita ini terbeliak.

"Saa-sakiit," rintih wanita ini, merasa tidak nyaman dengan perlakuan Rio padanya.

"Kamu akan menikmatinya." Rio menyerang ceruk leher Monika, mencium dan menjilatnya dengan lembut. Sesekali dia menggigit kulit putih mulus di depannya, membuat Monika menengadahkan kepalanya ke atas.

Tangan Monika tak bisa tinggal diam, dia menekan kepala Rio semakin dalam. Perasaan ini membuatnya gila, antara nyeri dan geli, namun nikmat.

"Ri-Riiooohh," panggil wanita ini saat merasakan inti tubuhnya di bawah sana mulai berkedut. Rasa lembab mulai membuatnya tidak nyaman, terlebih lagi permainan Rio semakin buas dengan memelintir puncak bukitnya. Entah sejak kapan tangan pria ini masuk ke dalam sana, Monika tidak menyadarinya.

Tubuh Monika mengejan saat kedua tangan Rio menguasai dua bukit kembar miliknya. Pria ini meremas, menusuk dan mencubit bagian sensitifnya itu tanpa henti. Senada dengan sapuan lidahnya yang semakin jauh menjalar ke belakang telinga.

Napas wanit ini tertahan, merasakan lelehan cairan yang keluar di bawah sana. Ini pertama kalinya dia merasakan sesuatu yang begitu menggelora.

Rio memamerkan smirk iblis andalannya, merasa bangga karena sudah membuat istrinya merasakan klimaks. Hanya dengan tangan dan lidahnya di tubuh bagian atas wanita ini, sudah bisa memuaskannya. Benar-benar gadis polos.

Tubuh Monika luruh ke dalam pelukan suaminya, merasa lelah setelah pelepasannya yang pertama. Napasnya yang memburu, perlahan lebih tenang. Semua permasalahan yang dia hadapi seolah menghilang. Dunianya hanya berisi Rio dengan segala kenikmatan yang pria ini berikan.

"Bagaimana ini? Bukankah kamu yang harusnya memuaskanku? Kenapa sebaliknya?" sindir Rio, mengelus punggung wanitanya dari luar pakaian.

"Lagi," lirih Monika. Dia belum puas, ingin merasakan kenikmatan lebih seperti yang dia lihat pada wajah Lisa di video itu.

"Lagi?" Rio terkekeh sambil mengangkat sebelah bibirnya ke atas. Dia benar-benar berhasil meracuni wanita ini, membuat bir*hinya melesat dan ingin mendapat kepuasan yang lainnya.

"Kamu yakin?" Pria ini mempermainkan beberapa helai rambut Monika yang masih terikat rapi di belakang kepala.

Tak menjawab, Monika hanya mengangguk. Satu tangannya mencengkeram bathrobe yang Rio pakai. Dia ingin lebih dan lebih lagi. Perlakuan lembut Rio membuatnya luluh. Toh, pria ini suaminya sendiri, 'kan?

"Jangan salahkan aku. Kamu yang memintanya sendiri!"













BAB 32


Monika mendapatkan pelepasan pertamanya setelah Rio mempermainkan lidah dan tangannya di saat yang bersamaan.

"Lagi," pinta Monika, dengan suka rela memeluk tubuh kekar Rio untuk pertama kalinya. Dia tidak lagi marah pada pria ini, justru ingin segera merasakan belaian hangatnya.

"Lagi?" Rio terkekeh sambil mengangkat sebelah bibirnya ke atas. Dia benar-benar berhasil meracuni wanita ini, membuatnya ketagihan.

"Kamu yakin?"

Monika mengangguk. Wajahnya merah merona, merasa malu karena meminta hal itu. 

"Jangan salahkan aku. Kamu sendiri yang memintanya!"

Rio mengangkat tubuh ramping Monika, membuatnya duduk mengangkang di atas paha. Tadinya wanita ini duduk menyamping, membuat senjata Rio menyentuh pahanya yang masih terbalut celana jeans. Kini inti tubuh mereka bertumbuk di titik yang sama, meski masih terhalang pakaian masing-masing.

Tanpa ingin membuang waktu lebih, Rio langsung melepas kaus putih miliknya yang Monika pakai. Dia melemparnya sembarang, tak peduli pada hal sepele seperti itu. Yang menjadi prioritasnya hanya satu, membuat Monika jatuh dalam pelukannya dengan suka rela seperti sekarang. Dia ingin mendengar wanita ini mendesah di bawah kungkungan tubuhnya.

"Tunggu!" Monika menahan dada bidang Rio yang begitu dekat dengannya. Detak jantung pria ini terasa oleh telapak tangannya.

"Hmm?" Kening pria ini berkerut, mempertanyakan sikap Monika. Bukankah dia yang meminta lagi barusan? Kenapa sekarang menahannya?

"Matikan lampunya. Aku malu," lirihnya sambil menundukkan kepala, tak ingin beradu pandang dengan suaminya ini.

Rio tersenyum, lupa jika Monika adalah wanita paling polos yang pernah dia temui di dunia ini. Dan ruangan ini memang  terang benderang, membuat semua inchi tubuh wanita ini terlihat jelas.

"Kenapa harus malu? Tidak ada orang lain lagi di sini. Hanya kita berdua." Rio menarik ikat rambut Monika, membuat surai panjang itu tergerai bebas di  belakang punggung.

Rio mengecup dada indah istrinya sekilas, membuat mata sipit Monika membola. Wajahnya semakin merah, malu dengan tatap mata Rio yang seolah ingin menelannya hidup-hidup. Dia memalingkan wajah, mencoba mencari ketenangan, sedikit meredakan degup jantungnya yang berpacu begitu kencang.

Rio meraih remote di atas meja dan mematikan lampu utama di ruangan ini. Dia juga menurunkan suhu AC dengan bantuan benda mungil itu, membuat angin dingin segera keluar dari tabung warna putih yang menempel di dinding.

Seketika bulu roma Monika meremang. Dia merinding merasakan hawa dingin yang seketika menyapu punggungnya. Setelah kaus putih itu Rio lepaskan, hanya bra warna hitam yang tersisa, membuat angin dingin itu tak berpenghalang menyapu pinggangnya.

"Dingin?" tanya Rio, tersenyum jahil melihat Monika yang mulai tampak gelisah. Dia sengaja melakukan ini, berharap wanitanya akan semakin agresif untuk msmbuat badannya sedikit hangat.

Monika mengangguk. Dia kembali menggigit bibir bawahnya, membuat libido Rio kembali melesat.

"Kamu sengaja menggodaku?" Rio mengambil sejumput surai pirang milik Monika dan menciumnya.

"Kita lanjutkan?"

Monika mengangguk cepat. Dia ingin segera mendapatkan kehangatan lebih dari pria di hadapannya ini. Dia tidak tahu kenapa dia begitu mendamba sentuhan pria ini.

Rio tersenyum, merasa senang karena obat perangsang yang dia suntikkan ke dalam botol air mineral mulai bekerja. Meski hanya dosis rendah, tapi berhasil membuat Monika jadi seperti sekarang. Mungkin lain kali dia perlu menambah takarannya. Dia memang pria yang licik.

Tak ingin mengulur waktu, Rio memasukkan kedua tangannya ke dalam bra, meremasnya dengan penuh kelembutan menuju titik puncak milik Monika. Tak cukup sampai di sana, dia juga menggerak-gerakkan pinggulnya, membuat inti tubuh mereka saling bergesekan.

"Ahh," desah Monika, sebelum wanita itu menutup mulutnya dengan tangan. Dia malu mendengar kata-kata yang dianggapnya menjijikkan. Tubuhnya merespon semua perlakuan Rio dengan cepat, mengalahkan sedikit logikanya yang tersisa.

'Ada apa denganku? Kenapa aku begitu menikmati setiap sentuhannya?' batin Monika sedikit memberontak, tidak tahan dengan tubuhnya yang seolah bergerak di luar kendalinya.

"Jangan menahannya. Keluarkan saja kata-kata indah itu. Aku ingin mendengarnya lagi." Rio semakin gencar menyerang pertahanan istrinya, bersiap memanjakan dada indah Monika dengan mulutnya.

Dengan cepat, Rio mengeluarkan satu bukit milik istrinya dan mulai mengulum puncaknya. Tangannya yang lain masih setia menekan dan memilinnya di dalam wadah. Sensasi luar biasa Monika dapatkan kembali, dia menikmati permainan Rio dan melupakan hawa dingin yang ada di sekitarnya.

Monika menengadahkan kepalanya ke atas, menikmati perlakuan Rio yang semakin buas. Tanpa sadar, wanita ini mulai menggerakkan pinggulnya dengan gelisah. Sesuatu di dalam sana semakin terasa tidak nyaman, ingin dipuaskan.

Rio tersenyum penuh arti. Dia berhasil membuat wanitanya mabuk kepayang dengan permainan jari dan lidahnya. Lagi-lagi tubuh indah ini menegang, siap menyemburkan lelehan cairan cinta yang ke dua. Pinggulnya bergerak semakin cepat, ingin sampai di puncak kenikmatan sesegera mungkin.

Seketika Rio melepaskan jari-jari dan bibirnya dari tubuh Monika, membuat wanita ini kecewa. Tatap matanya begitu jelas, menuntut Rio agar memainkan tangan dan mulutnya lagi seperti tadi.

"Puas?" Rio sengaja menggoda wanitanya.

Monika menggeleng. Di sudah ada di ujung hasratnya, tidak ingin kepuasannya terjeda. Mengabaikan rasa malu, dia meraih tangan Rio, membawanya ke buah dada yang pria ini tinggalkan dua detik yang lalu.

"Lakukan lagi!" Monika memohon dengan sangat, membuat Rio tersenyum. Wanita ini menggila karena sentuhannya. "Puaskan aku! Jadikan aku wanitamu!"

"Baiklah. Setelah itu, giliran kamu memuaskanku!" Rio tersenyum penuh arti.

Monika mengangguk dengan cepat. Dia bersedia melakukannya asalkan Rio terus melanjutkan aktivitas panas mereka ini.

Pria itu dengan senang hati kembali menguasai dada indah istrinya. Tak hanya meremas, dia juga mengecup, menjilat, mencecap, dan menggigitnya dengan buas. Beberapa tanda cinta dia tinggalkan di sana, tak ingin melewatkan kesempatan dimana Monika menyerahkan tubuhnya dengan suka rela seperti sekarang.

"Aahh, aa-aakuu..." Monika semakin cepat bergerak, siap mendapat kepuasan keduanya yang sempat terjeda beberapa detik yang lalu. Peluh yang mengalir di seluruh tubuhnya membuatnya terlihat begitu seksi. Cengkeraman tangannya di tubuh Rio semakin erat, sepersekian detik sebelum merasakn nikmat yang tiada tara.

"Panggil namaku!!" titah Rio, menahan pinggang Monika dan menyentuhkan senjatanya lebih dekat ke inti tubuh wanita ini.

"Rioooo...." Tubuh Monika melenting ke belakang. Matanya terpejam menikmati kegilaan baru yang membuatnya ketagihan.

Perlahan tubuh Monika kembali luruh ke dalam pelukan suaminya. Napasnya yang memburu, kini kembali normal.

'Ada apa denganku? Kenapa seperti ini?' Sedikit kewarasan Monika kembali saat netranya menangkap botol air mineral yang tergeletak di lantai. Pergulatan mereka sore kemarin kembali terlintas. Pria ini memperlakukannya dengan penuh paksaan. Dia bersikap kasar, bahkan sampai membuatnya pingsan. Tapi, kenapa sekarang justru dia yang meminta untuk dipuaskan?

"Kamu lelah?" Rio merapikan sebagian rambut Monika yang tergerai bebas di punggung dan dadanya.

Monika bungkam. Hidungnya tiba-tiba menjadi begitu sensitif, bisa mencium aroma tubuh Rio dan membuat hasratnya kembali datang. Ini gila! Batinnya tak terima, merasa jijik pada tubuhnya sendiri yang semakin tak terkendali.

"Aku sudah memuaskanmu. Waktunya kamu memuaskanku!" Rio meraba punggung wanitanya dengan gerakan seduktif, sengaja merangsangnya lagi.

Monika tak bisa mengelak. Dia ingat semua kata-kata yang dia ucapkan beberapa menit lalu, berjanji akan memuaskan pria mesum ini.

Tangan Rio semakin gencar bergerilya saat merasakan tubuh Monika tak merespon ucapannya. Dia tahu wanita ini berkutat dengan pikirannya sendiri. Logikanya kembali mengambil alih, pasti seperti itu! Tapi, bukankah itu jadi lebih menarik?

Rio terkekeh. Monika harus melayaninya meski dia tidak menginginkan hal itu, bahkan dia pasti ingin menyangkalnya.

"Kenapa diam? Kamu ingin mengingkari janjimu, huh?" Jemari Rio kini menari-nari di wajah cantik Monika, sebelum mengusap bibir tipisnya dengan sengaja.

Monika terhenyak, merasakan inti tubuhnya merespon perlakuan seduktif Rio. Tubuhnya semakin merasa tidak nyaman saat tangan Rio semakin berani, mengusap-usap miliknya sendiri dari luar.

"Ap-apa yang kamu lakukan?!" Monika tergeragap, menahan hasratnya yang kembali datang. Punggung tangan pria ini sesekali menyentuh miliknya dengan sengaja.

Bukannya menjawab, Rio justru menggoyangkan tubuh bagian bawahnya, membuat tubuh Monika ikut bergerak.

"Karena kamu tidak ingin memuaskanku, aku harus memuaskan diriku sendiri," ucapnya sambil memejamkan mata. Tangannya terus memijat miliknya di bawah sana.

Tubuh Monika panas dingin. Dia tidak bisa menyangkal bahwa dia kembali ingin dipuaskan seperti sebelumnya. Inti tubuhnya berkedut ingin dimasuki. Sial!!

Rio melirik Monika yang kini menggigit bibir bawahnya. Wanita ini berusaha meredam gejolak bir*ahi yang mulai terpacu. Rio tahu itu.

"Ada apa dengan wajahmu?" Rio sengaja meledek Monika. "Kenapa menahannya? Katakan saja jika kamu ingin dipuaskan seperti sebelumnya! Pria b*rengsek yang kamu cintai juga selalu memuaskan wanita j*lang itu."

Monika kembali kehilangan logikanya yang jelas-jelas melawan Rio. Tubuhnya menginginkan belaian dari pria ini, membalaskan sakit hatinya akan pengkhianatan Devan dan Lisa padanya.

Tanpa ragu, Monika beranjak dan melucuti celana jeans yang dia kenakan. Ia kembali duduk di atas paha Rio, memposisikan inti tubuhnya agar menempel dengan senjata pria itu yang masih ada dalam genggaman pemiliknya.

"Gadis pintar!" Rio yang mesum langsung merespon itikad baik Monika. Dia melepaskan tangannya dan segera berpindah pada pinggang ramping milik wanitanya.

Pria ini semakin gencar menggerakkan pinggulnya, membuat senjata miliknya menusuk-nusuk milik Monika yang masih berpenghalang.

Monika tak bisa tinggal diam. Dia mendekatkan wajahnya, bersiap mencium leher Rio yang terlihat begitu menggoda.

Rio menghentikan gerakan tubuh bagian bawahnya. Dia tahu kemana arah pandang wanita ini. Tangannya dengan sigap menahan bahu Monika.

"Jangan pernah menyentuh leherku!" titahnya dengan mata tajam yang mengerikan, membuat Monika terdiam.

Wanita ini kembali mengingat sikap Rio kemarin. Pria ini marah setelah dia mencium lehernya dengan tiba-tiba.

"Maaf," lirih Monika, menundukkan kepala. Dia tidak tahu Rio tidak suka jika lehernya disentuh. Bukankah pria lain justru menginginkan hal itu?

Rio bungkam. Suasana berubah canggung seketika. Hasrat keduanya kembali teredam, tak lagi menggebu seperti sebelumnya.

"Kenapa diam? Lakukan pekerjaanmu dengan benar. Jangan lupa jika aku sudah membelimu dua miliar. Tugasmu adalah untuk memuaskanku." Rio berkata serampangan, mencoba mencairkan keadaan. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Monika kembali tertampar dengan kenyataan pahit itu.

Dia merasa bodoh karena sempat terbuai oleh permainan pria ini dan menikmatinya. Bahkan, dia juga mendesah sambil menyebut nama Rio saat mendapatkan pelepasan beberapa menit yang lalu. Menjijikkan!

"Saya bukan wanita j*lang. Apa yang harus saya lakukan?" tanya Monika, menatap Rio dengan pandangan dingin. Dia kembali menggunakan bahasa formal untuk berbicara dengan pria ini, mengingat posisinya hanya sebagai wanita bayaran. Ketika Rio tidak lagi menginginkan tubuhnya, mereka tak ada hubungan apapun setelahnya.

Kali ini Rio yang terhenyak. Dia tidak menyangka wanita yang hampir telanjang bulat di hadapannya ini berubah menjadi sosok yang lain. Monika berubah, terlihat mengerikan dengan keterdiamannya yang mematikan.

Melihat Rio tak merespon, Monika beranjak dari duduknya. Dia berjalan menuju DVD player yang ada di salah satu sisi ruangan ini, berjarak dua meter dari tempat ia duduk sebelumnya. Sebagai seorang pria mesum, Monika yakin Rio pasti memiliki koleksi film biru.

Dia sempat mengamati dekorasi ruangan ini sekilas ketika pertama kali masuk tiga puluh menit yang lalu. Jadi, dia tahu ada tv besar layar datar yang lengkap dengan video player di bawahnya. Dan dugaannya benar, ada begitu banyak film dewasa yang pria ini miliki di dalam lemarinya.

"Mana yang paling Anda suka?" Monika mendekat ke arah Rio, menunjukkan beberapa piringan hitam yang masih tersimpan dalam wadahnya ke hadapan pria ini.

Rio memilih salah satu tanpa melihatnya. Atensinya justru tertuju pada wajah Monika yang terlihat begitu datar tanpa ekspresi. Dia tidak tahu kenapa wanitanya bisa berubah dalam sekejap. Mungkinkah dia berkepribadian ganda?

Lamunan Rio terjeda saat Monika kembali mendekat ke arahnya. Wanita ini duduk di sampingnya, mengamati video yang mulai berputar beberapa detik.

Glek!

Rio menelan ludahnya dengan paksa ketika layar kaca di depan sana menampilkan seorang wanita yang mulai menjamah tubuh prianya. Dia bergerak liar, menciumi setiap jengkal tubuh polos yang ada di hadapannya.

"Jadi, Anda ingin saya melakukan hal itu?" Suara Monika yang begitu datar menyapa indera pendengaran Rio.

Hening. Hanya desahan manja wanita dari dalam film yang terdengar. Rio speechless. Dia tidak bisa berbicara, lidahnya terasa kelu.

Perhatian Monika terus terarah pada adegan dewasa di layar kaca, memperhatikan setiap detail yang ada. Dia siap melakukan hal yang sama demi memuaskan pria di sampingnya ini.

Rio semakin panas dingin. Hasratnya kembali meronta kala melihat dua orang pemeran utama film itu mulai menyatukan inti tubuhnya. Sang Wanita begitu dominan, menggerakka tubuhnya demi mendapat kenikmatan bersama.

Monika merasakan inti tubuhnya kembali lembab. Sikap tegas yang dia tunjukkan sebelumnya, perlahan mulai terkikis. Sejujurnya, dia kembali ingin merasakan sentuhan Rio. Tapi, logikanya menolak mentah-mentah pemikiran itu, mengingatkan bahwa posisinya tak lebih dari seorang wanita penebus hutang di mata pria ini.

Adegan dua orang itu semakin meracuni pikiran Monika dan Rio. Pemeran wanita tampak melentingkan tubuhnya ke belakang, mendapat kepuasan maksimal dari senjata yang menusuk inti tubuhnya.

Pasangan suami istri ini menelan ludahnya masing-masing. Hasrat mereka kembali menggelora. Apa yang harus mereka lakukan?





BAB 33


Monika mengerjapkan matanya dua kali, merasakan tenggorokannya kering. Wanita ini menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh dan mulai membuka matanya. Pergulatan panasnya dengan Rio berakhir beberapa jam yang lalu, membuatnya kelelahan dan tidur dalam dekapan pria ini.

Satu pemandangan indah tertangkap oleh retina biru miliknya, membuatnya terpesona. Pahatan wajah yang begitu sempurna, tampan dan menawan.

Perlahan jemari lentiknya menyusuri setiap inchi wajah pria ini, memanfaatkan momen disaat Rio tertidur lelap. Dia mengaguminya, bahkan mungkin tanpa sadar mulai jatuh hati pada pria ini.

"Kamu begitu tampan. Jika saja pertemuan kita tidak seperti ini, mungkin aku akan jatuh hati padamu," gumam Monika lirih, mengungkapkan kata hatinya dengan jujur.

Wajah tampan milik Rio terpampang begitu nyata di depan mata, tak bisa dia elakkan pesonanya. Sebagai seorang wanita dewasa yang normal, tentu saja dia mengagumi keindahan ini. Bahkan sedikit berharap bahwa Rio memiliki perasaan yang sama dengannya.

Hening. Monika menerawang apa yang terjadi 72 jam ke belakang. Dia mengingat seluruh memorinya tentang Rio Dirgantara. Hari pertama yang menguras emosi. Hari kedua yang sangat dia benci karena pria ini mengambil kesuciannya dengan paksa. Dan hari ketiga ini yang terasa begitu menggelora. Kedatangannya untuk meminta bantuan pada pria ini justru harus berakhir di atas ranjang dan membuatnya mabuk kepayang. Ah, sungguh tiga hari yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Perlahan tangan Monika turun ke bawah, meraba leher jenjang milik suaminya. Dia penasaran kenapa bagian tubuh satu ini tidak boleh disentuh sama sekali. Apa ada semacam tombol on off di sana? Pikiran bodoh itu tiba-tiba saja terlintas di kepala Monika, membuatnya terkekeh tanpa suara.

"Jangan melewati batasanmu atau aku akan marah!" ucap Rio dengan mata yang masih terpejam. Dia menarik tangan Monika dari leher dan menggenggamnya dengan erat di dalam selimut.

"A-anda tidak tidur, Pak?" tanya Monika asal.

Rio bungkam. Dia tidak suka mendengar Monika mengucapkan kalimat formal padanya. Terlebih lagi, dia belum begitu tua sampai pantas dipanggil Bapak oleh wanita yang lima tahun lebih muda darinya ini.

"Apa Anda mendengar apa yang saya katakan sebelumnya?" Wajah Monika memerah karena malu, takut Rio mendengar ucapannya yang mengatakan bahwa dia mungkin jatuh hati pada pria mesum ini.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Rio tidak tahu apa yang wanita ini bicarakan. Kesadarannya baru kembali tepat ketika jemari Monika membelai lehernya.

"Memangnya apa yang kamu ucapkan?"

Monika menutup mulutnya rapat-rapat, menyembunyikan pernyataan konyolnya yang mengakui ketampanan pria ini.

"Ti-tidak ada." Monika tergagap, wajahnya memerah seperti kepiting rebus.

Udara dingin yang tiba-tiba berhembus membuat Monika meringkuk semakin dalam. Tubuh polosnya kembali menempel dengan lengan Rio, membuat pria ini seketika membuka matanya.

"Apa kamu sengaja menggodaku?" tanya Rio saat merasakan jarak mereka semakin dekat. Dia menuntun tangan Monika untuk menyentuh miliknya yang kembali menegang di bawah sana.

Monika menelan salivanya dengan paksa. Tubuhnya seolah tersengat listrik ribuan volt saat telapak tangannya bertemu dengan batang berotot milik pria ini.

"Mesum!!" pekik Monika, berusaha menarik tangannya.

"Bukankah kamu yang memulainya? Sekarang kamu harus bertanggung jawab." Rio menatap manik mata istrinya dengan begitu intens, sama sekali tak berniat meloloskan tangan hangat yang kini berada di inti tubuhnya.

"Bukan. Bapak jangan salah paham!" Monika mengerucutkan bibirnya, sebal pada respon pria ini yang selalu saja mengarah ke hal itu. Mungkin otaknya ada di lutut, jadi isi kepalanya hanya berkutat pada area sekitar s*langkangan.

"AC-nya terlalu dingin, jadi saya..."

Rio mencuri ciuman Monika, membuat wanita ini terperangah. Semua kata-kata yang ingin ia ucapkan menghilang seketika.

"Puaskan aku. Lanjutkan seperti apa yang kamu lihat di film itu!"

"Eeh?"

Tiga jam yang lalu, setelah melihat film biru di layar kaca, awalnya Monika melakukan adegan seperti yang dicontohkan. Dia memanjakan seluruh tubuh Rio kecuali lehernya. Benar-benar sama persis setiap detailnya seperti yang ada di video.

Tapi, Rio yang tidak tahan dengan hasrat di dalam dirinya, akhirnya mengambil alih permainan. Dia menghentikan Monika yang tengah menari-nari di atas tubuhnya dan langsung membalik keadaan.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Rio melesakkan senjata andalannya ke lubang kenikmatan istrinya yang sudah basah. Dia semakin bersemangat menguasai tubuh istrinya, mencari kepuasan batin yang selama ini dia dambakan. Pergulatan panas itu berakhir, Rio menggendong wanitanya ke dalam kamar dan terlelap beberapa menit kemudian.

Dan disinilah keduanya sekarang, berbagi ranjang dan selimut yang sama.

"Woman on top!" titah Rio, membuyarkan ingatan yang tengah berputar di kepala Monika.

"HAH?" Monika mencoba mencerna apa yang pria ini katakan padanya. Jarinya masih menggenggam senjata milik pria ini di bawah selimut. Detak jantungnya berpacu semakin cepat saat Rio dengan sengaja menggerak-gerakkan tangannya.

"Jujur saja, bukankah kamu juga menikmatinya?"

Monika diam, tak bisa menyangkalnya. Sebagai wanita dewasa yang normal, tentu saja dia mendamba sentuhan seorang pria. Bahkan, hanya memegang senjata pria ini saja, membuat inti tubuhnya berkedut. Ini gila!!

"Aku mengizinkanmu menguasai tubuhku. Mari kita lihat sejauh mana kemampuanmu memuaskanku." Rio mengucapkan itu sambil menunjukkan smirk iblis andalannya.

"Ap-apa yang..."

Rio menaikkan tubuh Monika, membuatnya duduk di atas paha. Pria ini semakin jahil. Dia menggesekkan senjata miliknya, sesekali menusuk permukaan sensitif wanita ini untuk membuatnya terangsang.

"Kamu?!"

Monika memejamkan matanya. Inti tubuhnya terasa semakin tidak nyaman. Tanpa sadar, dia ikut menggoyangkan pinggulnya seperti apa yang Rio lakukan.

"Rasakan setiap sensasinya, Sweety. Gunakan kelima inderamu untuk menikmati setiap inchi tubuhku." Rio mulai meremas dua gumpalan daging yang tergantung bebas di hadapannya, menimbulkan sensasi luar biasa pada Monika. Wanita ini mulai menggila, melupakan semua permasalahan hidupnya.

Hasrat Monika semakin menggebu. Rio berhasil memancing gairah di dalam dirinya. Dia tidak tahan untuk terus diam dan menikmati sentuhan suaminya ini. Dia ingin lebih.

Monika menunduk dan mulai mengelus dada bidang Rio yang tak lagi berpenghalang. Bibirnya mendarat di bibir pria ini, mengecapnya dengan membabi buta.

Rio tak ingin tinggal diam. Tubuh bagian bawahnya terus bergerak, berharap senjata miliknya yang sudah menegang bisa masuk ke dalam lubang kenikmatan milik Monika yang terasa sempit.

"Tunggu." Rio menahan pinggul Monika, memintanya berhenti sejenak. Dia membimbing senjata miliknya untuk masuk ke dalam sarang yang paling dia nantikan itu.

"Ahh, pe-pelan-pelan." Monika merintih kesakitan saat benda itu mulai masuk ujungnya.

Rio menekan pinggul istrinya ke depan, membuat miliknya masuk lebih dalam lagi.

Monika menggigit bibir bawahnya, merasa tidak nyaman dengan penyatuan mereka yang tak biasa ini. Ini pertama kalinya dia ada di atas, rasanya sungguh aneh.

Pasangan pengantin muda ini diam beberapa detik, memberikan waktu agar dua benda kenyal itu saling terbiasa satu sama lain. Meski ini bukan yang pertama kalinya Monika merasakan rudal milik Sang Suami, nyatanya dia masih merasa asing dengan benda hidup ini.

"Sudah?" tanya Rio, mulai menggerakkan miliknya perlahan.

Monika mengangguk. Wanita ini kembali asik menjamah perut kotak-kotak Rio setelah inti tubuhnya tak lagi terasa sakit.

Rio menggunakan segala kemampuannya untuk memberikan service pada wanita ini, membuatnya memejamkan mata dengan kepala tertengadah ke atas. Puncak kenikmatan Monika semakin dekat, tapi Rio belum merasakan hal yang sama.

"Ahh. a-aku lelah," ucap Monika di sela-sela napasnya yang tak teratur. Pinggulnya terus memacu, berharap senjata suaminya sampai di inti tubuhnya lebih dalam lagi.

"Kamu menyerah?" Rio ikut bergerak, tapi tak kunjung mendapat kepuasan seperti yang dia harapkan.

Tanpa aba-aba, Rio kembali membalik keadaan. Monika ia buat berbaring seperti biasanya. Dengan sekali tusukan, benda itu terasa menghujam hingga ujung, membuat tubuh indah wanita ini terhentak ke atas.

Monika sendiri tak melawan dengan perlakuan Rio yang sedikit kasar. Dia menikmati setiap serangan suami sahnya ini dan mendapat pelepasan berkali-kali. Rasa puas dia dapatkan dari laki-laki yang tadinya begitu dia benci.

"Monikaa!! You make me crazy!!!" Rio merasakan gilirannya tiba. Dia semakin gencar menumbuk lubang istrinya.

"Rioo...!"

"Monikaa...!"

Pasangan suami istri itu sampai di puncak secara bersamaan, merasakan lelehan hangat yang membanjiri miliknya masing-masing.

Monika memejamkan matanya. Pikirannya penuh oleh pria ini dengan segala pesona dan nafsu liarnya, menghempaskan bayang-bayang Devan dan Lisa yang sempat menghantuinya.

Rio merebahkan diri di samping Monika setelah melepas penyatuan mereka.

"Benarkah aku yang pertama untukmu?" Rio merapikan helai rambut istrinya yang menempel di kening, bercampur dengan keringat yang membasahinya.

Monika bungkam, tak menjawab pertanyaan pria ini. Ingatannya kembali pada pernyataan Lisa tentang perselingkuhan mereka. Wanita itu mengatakan bahwa Devan menggaulinya karena Monika yang tidak pernah mengizinkan pria itu menyentuh tubuhnya.

"Sweety," panggil Rio, mengelus bahu wanitanya dengan lembut.

Dan ingatan lain kembali datang. Skenario hidupnya berubah drastis sejak kedatangan pria ini dan segala malapetaka yang dibawanya.

Monika beranjak, menjauhkan diri dari jangkauan suaminya. Dia lagi-lagi kesal pada tiga orang ini, Rio, Devan, dan tentunya Lisa.

"Mau kemana?" tanya Rio, menatap wanitanya dari belakang.

"Haus," jawabnya singkat, mengambil segelas air putih yang ada di atas nakas. Selimut putih melingkar di dadanya, menutupi sepasang aset berharga yang menjadi jamahan favorit Rio beberapa saat yang lalu.

"Apa Bapak ingin minum juga?"

Rio terhenyak, merasa heran karena tiba-tiba Monika seolah menjaga jarak lagi dengannya. Bukankah mereka baru saja merasakan surga dunia bersama-sama?

"Berhenti menggunakan sebutan itu atau aku akan menggempurmu lagi seperti tadi dan membuatmu tak bisa berjalan!"

Monika bungkam. Dia tidak menginginkan hal itu. Tubuhnya terasa begitu lelah, tapi dia juga tidak suka mendengar ancaman pria ini. Dia tidak kreatif, mengatakan hal yang sama seperti waktu itu.

"Memangnya kenapa kalau saya memanggil Anda dengan sebutan Bapak? Bukankah saya memang bekerja untuk Anda sebagai wanita penebus hutang?"

Hati Rio mencelos mendengar ucapan Monika. Entah kenapa dia merasa tidak nyaman mendengar kata-kata wanita ini, mengklaim dirinya dengan sebutan yang begitu hina. Perasaan bersalah seketika Rio rasakan kala mengingat tendangannya yang bersarang di punggung Monika. Masih ada bekasnya hingga sekarang, luka lebam kebiruan lima belas centimeter di bawah bahu kanannya.

Satu gelas air tanpa warna itu berhasil Monika habiskan dalam sekali minum. Dia emosi, mengingat segala kemalangan hidup yang menimpanya. Semua ini berawal dari mendiang ayah kandungnya, Jonathan Wu. Jika saja pria itu tidak menghilangkan uang dua miliar milik perusahaan, mungkin saja kehidupan Monika masih berjalan seperti biasanya. Dia tidak perlu diculik, menikah paksa, bahkan meladeni hasrat liar pria ini.

'Monika Alexandra, apa kamu sudah gila?' batin Monika meronta-ronta, mengingat desahan dan lenguhan yang mulutnya keluarkan saat pria gila ini menjamah tubuhnya. Bahkan, dia sempat berpikir akan jatuh cinta pada pria ini jika mereka bertemu dengan cara yang berbeda.

'Dasar bodoh!' umpatnya dalam hati.

Monika mencengkeram gelas di tangannya dengan begitu erat. Ingin sekali rasanya membanting benda ini ke lantai guna melampiaskan kemarahannya. Tapi, logikanya masih bekerja. Tidak ada gunanya dia marah pada dua binatang berwujud manusia itu.

Sebuah kecupan hangat mendarat di punggung Monika, membuat bahunya berjengit karena terkejut. Kemarahan Monika teralihkan, berganti dengan sensasi geli yang dirasakan di sekujur tubuhnya.

"Apa ini masih sakit?" tanya pria mesum ini sambil mengelus luka di punggung Monika dengan jemarinya.

Kali ini Monika yang bungkam. Dia tidak ingin memupuk perasaannya pada Rio. Justru sebaliknya, dia harus mencabut rasa ketertarikan yang sempat menghampiri sedini mungkin. Dia tidak ingin terluka lagi seperti sebelumnya.

Ya, logikanya tak mengizinkan siapapun menghuni hatinya. Apa yang harus dia lakukan adalah tetap berdiri di atas kakinya sendiri. Apapun yang terjadi, tidak ada seorang pun yang boleh menyakitinya.

Monika meletakkan gelas di tangannya dengan keras ke atas nakas saat merasakan ciuman Rio semakin intens menjamah leher bagian belakangnya.

"Tuan Rio Dirgantara yang terhormat. Mari perjelas posisi dan status kita berdua."

Tubuh Rio membatu. Lagi-lagi wanita ini menunjukkan sifat dingin seperti sebelumnya. Dia berbalik, menatap Rio dengan pandangan dingin.

"Perjanjian kita tidak hanya sekadar uang dua miliar yang ayah saya hilangkan, tapi lebih dari itu. Kita buat kesepakatan baru!" Monika berkata dengan mantap, tanpa keraguan sedikit pun.

"Saya akan memuaskan Anda kapan pun dan di mana pun. Sebagai imbalannya, Anda harus menghancurkan dua orang itu, membuat mereka merasakan..." Kata-kata Monika terjeda sejenak, "Hidup segan, mati tak mau!"

Suara Monika begitu tenang, membuat Rio sadar akan situasi yang ada. Wanita ini tak main-main.

"Jadi, kamu ingin membalas jalang dan brengsek itu menggunakan tanganku?"

Monika bungkam.

"Tidak bisakah kamu melupakan mereka dan hidup tenang bersamaku?" Rio mengatakan itu dengan tulus, berharap Monika tak lagi mendendam dan membuka lembaran hidup yang baru bersamanya.

Monika terhenyak, menatap pria di hadapannya dengan penuh tanda tanya. Hatinya menghangat saat mendengar kata-kata yang Rio ucapkan. Satu sisi, Monika ingin mengiyakan permintaan pria ini untuk hidup tenang bersamanya. Mungkin saja dia bisa memiliki keluarga kecil bahagia seperti yang selalu dia impikan selama ini.

Tapi, di sisi lain logikanya memberontak. Pengkhianatan mendiang ayahnya pada sang Ibu, juga Devan yang menggila di belakangnya, membuat hatinya mati rasa. Sulit rasanya mempercayai seorang pria untuk menghuni hatinya.

Iblis di dalam dirinya ikut bersuara. Sakit hatinya pada Devan dan Lisa harus terbalaskan. Mereka harus mendapat imbalan atas hal menjijikkan yang mereka lakukan di belakangnya setahun terakhir.

Mana yang harus dia pilih? Balas dendam atau belajar mencintai pria yang kini berstatus sebagai suaminya ini?

"Sweety, jadilah ibu dari anak-anakku. Aku tidak akan mengecewakanmu."

Permainan semesta seringkali tak bisa kita duga sebelumnya. Dua buah titik yang saling berjauhan, tiba-tiba menjadi satu garis lurus atas nama takdir. Satu dua kejadian berkelindan, memaksa dua orang anak manusia untuk bersama.

Pengkhianatan akan selalu ada, menyisakan luka yang tak terkira. Tapi, bukankah cinta bisa menyembuhkannya?

THE END

0 Comments