Terpaksa Menikahi CEO. Bab 13-14

 


BAB 13


"Berhenti di sana!" titah Monika saat melihat Rio semakin merangsek maju ke arahnya. Hanya ada mereka berdua di ruang kerja Rio saat ini. Punggung asisten pribadi pria ini sudah menghilang sejak beberapa detik yang lalu, membuat Monika semakin panik.

"Berhenti?" Rio menunjukkan smirk iblis andalannya.

"Kenapa aku harus menurut padamu?" Langkah kakinya semakin pelan, namun penuh dominasi di sana. Monika hanya bisa menelan ludah, bersitatap dengan mata elang yang berkilat tajam.

"Siapa yang lebih berkuasa di sini, huh?"

Detik berikutnya, bibir pria itu segera mendarat di ceruk leher Monika, membuatnya terlonjak kaget. Kedua tangannya tertahan di sisi badan, menempel di dinding yang terasa dingin.

"Aku menginginkanmu," bisik Rio di sela-sela aktiviitasnya menikmati leher jenjang Sang Istri. Dia sengaja berbisik di telinga Monika, ingin membangkitkan gairah wanita ini.

"Ummh, Pak. Hen... Hentikan!" Geleyar aneh mulai menjalari seluruh tubuh Monika, membuatnya ingin mendapat sentuhan lebih. Logika dan hasratnya bertentangan, satu sisi melawan, tapi sisi lain menikmatinya.

"Kenapa? kamu sudah ingin langsung ke intinya, heh?" Rio melepaskan diri, menatap manik mata biru di depannya. Gadis blasteran Indonesia - Inggris ini membuatnya mabuk kepayang, hasratnya melonjak seketika tanpa bisa dia cegah.

Monika menggeleng cepat. Bukan itu yang dia inginkan.

"Dua miliar!" Rio menggunakan senjata andalannya untuk menekan Monika yang kini terhimpit di dinding. "Aku akan berhenti jika kamu bisa mengembalikan uang dua miliar yang ayahmu hilangkan." Tatap mata itu begitu tajam, seperti anak panah yang menusuk ke dalam hati Monika dan tak bisa tercerabut begitu saja.

"Kenapa diam?" Senyum di bibirnya semakin melebar. "Tidak punya uang, heh?"

Monika bungkam. Dia tidak tahu harus bagaimana untuk menghadapi pria ini. Dia begitu dominan dengan segala kekuasaan yang ada di dalam genggamannya. Hanya air mata yang bisa mewakili perasaan gadis bersurai pirang ini.

Hati Rio mencelos saat menatap wajah sedih dan ketakutan yang Monika tampilkan. Entah kenapa ada perasaan iba yang tiba-tiba melanda, membuatnya merasa bersalah.

Rio mencium kelopak mata gadisnya yang basah dengan penuh perasaan. Dia bahkan menyesap sisa air mata yang ada, membuat rasa asin segera terasa oleh indera pengecapnya.

Monika memberontak. Dia tidak ingin berhubungan lebih jauh lagi dengan pria ini. Hatinya hanya untuk Devan, sama sekali tak ada tempat untuk CEO mesum dan pemarah ini.

"Sweety, jangan melawan." Rio kembali menatap wajah Monika dengan tatapan penuh kasih sayang. "Aku bisa bersikap lembut padamu jika kamu menurut padaku." Jemarinya menyusuri telapak tangan Monika dengan gerakan seduktif, membuat gairah Monika terpancing.

Monika menggeleng. Dia sebisa mungkin menahan lonjakan hasrat di dalam dirinya. Dia tidak ingin terbuai oleh pria ini dan semua kata manis yang terdengar seperti belati tajam yang bisa  mengoyak hatinya.

'Tidak. Ini tidak benar!' batin Monika menolak.

"Jika kamu memberontak," Rio tersenyum penuh arti, "Jangan salahkan aku jika besok kamu tidak bisa bangun dari tempat tidurmu!"

Monika bungkam. Dia tahu diri dimana posisinya. Dominasi pria ini terus berlanjut, takkan bisa dia lawan.

"Apa kamu siap?"

Monika tak menjawab. Logikanya menolak, tapi tubuhnya ingin mendapatkan sentuhan lebih dari pria yang berstatus sebagai suaminya ini.

Rio kembali mencondongkan badannya, mendekat ke telinga Monika.

"Diammu aku artikan sebagai persetujuanmu."

Rio meniup telinga istrinya sebelum mencecapnya. Lidahnya bermain-main di area sensitif wanita itu, membuat geleyar di dalam diri Monika semakin kuat.

'Dia mulai terangsang,' batin Rio saat menyadari Monika menggenggam tangannya begitu kuat.

"Kamu wangi. Aku suka." Rio semakin berhasrat untuk menguasai istri cantiknya ini, mendapatkan kenikmatan yang sempat tertunda semalam.

"Sayang, apa kamu siap?" Rio melepas satu tangan Monika, mengelus pipi wanitanya yang mulai tampak memerah seperti kepiting rebus.

Monika diam. Jujur saja, dia tidak bisa menolak perlakuan pria ini. Sebagai seorang wanita dewasa, dia juga merindukan sentuhan pria seperti yang Rio lakukan sekarang.

Sejurus kemudian, bibir Rio sudah mendarat di leher Monika, membuat gadis ini merasakah geli dan nikmat di saat yang bersamaan. Pria itu semakin terobsesi saat melihat tak ada perlawanan dari wanita di hadapannya.

"Aku akan memulainya." Rio menatap manik mata di depannya dengan mata berkilat dipenuhi gairah. Dia tidak bisa menahan diri lagi.

Bibir Monika menjadi sasaran serangan pria ini. Dia mencium wanitanya dengan lembut, membuat Monika terhanyut. Tanpa sadar, tangan Monika yang terbebas mencengkeram jas yang Rio kenakan. Dia terbawa perasaan, mulai menikmati perlakuan suaminya.

Deru air conditioner di ruangan itu membersamai suara decak bibir dua orang yang kehilangan akal sehatnya. Mereka saling melumat, mengejar kenikmatan masing-masing.

Rio mulai kepanasan. Dia melepaskan jas navy yang dipakainya dan membuangnya sembarang. Tangan dan bibirnya bekerja sama, menjelajah tubuh Monika yang tak menolak sama sekali.

"Dasar jalang! Kamu menikmatinya, 'kan?”

Seribu sembilu tertancap di hati Monika begitu mendengar cemoohan Rio padanya. Hasratnya untuk bercinta langsung padam, berganti perasaan sakit hati yang tak terelakkan.

"Tidak sia-sia aku kehilangan uang dua miliar untuk membelimu," ucap Rio sambil membuka satu per satu kancing kemeja yang Monika gunakan.

Tak ada perlawanan. Monika diam. Dia hanya bisa memejamkan matanya, tidak ingin bersitatap dengan mata tajam Rio Dirgantara, pria yang sejak kemarin resmi menjadi suaminya.

Rio tersenyum lebar, merasa semakin puas karena Monika sama sekali tak memberontak. Tangannya semakin aktif, menyusup ke dalam pakaian Sang Istri dan mengelus kulit mulusnya dengan gerakan menggoda. Tak jarang, jemarinya menekan dan mencubit area sensitif wanita ini.

Hening. Tak ada suara sama sekali. Monika tidak peduli.

Anggap saja sedang melunasi hutang papa. Batinnya berkata untuk menghibur diri.

Permainan Rio masih terus berlanjut, membawa tubuh Monika ke dalam kamar istirahat khusus yang ada di salah satu sisi ruang kerja ini. Aroma mint segera menguar, menyapa indera penciuman keduanya.

Tanpa menunggu waktu lama, Rio mulai melucuti pakaian yang Monika kenakan, meleparnya tanpa melihat kemana pakaian itu mengarah. Dia sudah dibutakan oleh hasrat, meminta jatah malam pertamanya yang gagal beberapa jam yang lalu.

Rio kembali mencium bibir Monika dengan penuh hasrat, berbanding terbalik dengan wanita itu yang melakukannya dengan ogah-ogahan. Jangankan membalas, Monika bahkan enggan membuka mulutnya. Dia tidak lagi menikmati permainan ini setelah kalimat tidak mengenakkan yang Rio ucapkan.

Rio menggigit bibir Monika, meminta akses untuk masuk lebih dalam.

"Kenapa tidak membalas seperti sebelumnya, heh?" Rio menatap manik mata istrinya dengan pandangan tajam, menuntut jawab akan pertanyaannya.

Monika bungkam. Dia kembali menutup mata dan menolehkan wajahnya ke arah yang lain. Hatinya gondok, sedih, marah, dan tidak rela. Tapi apa yang harus dia lakukan? Kenyataan bahwa tubuhnya sudah dibeli seharga dua miliar, menampar harga dirinya dengan keras.

"Kamu marah?" tanya Rio. Jemarinya melepas kancing kemeja satu per satu, sebelum melemparnya sembarang. Tubuh atletisnya tampak mengilap, banjir oleh keringat.

Dan Monika tetap diam seribu bahasa. Dia tidak ingin menanggapi apapun kalimat yang terlontar dari mulut berbisa yang dimiliki oleh pria ini. Percuma saja. Dia tidak akan menang melawan pria angkuh dan ambisius yang kini mengungkung tubuhnya di atas ranjang.

Detik berikutnya, tangan Monika menghapus bulir air yang keluar dari matanya. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Rio, atau pria ini akan semakin berbangga diri.

"Kamu menangis?" Rio melihat gerakan tangan Monika barusan. "Aku tidak peduli kamu marah, sedih, kecewa, atau apapun itu. Tubuhmu hanya milikku. Sampai mati pun kamu hanya boleh menjadi wanitaku!"

Jemari Rio meremas aset kembar milik Monika dengan sekuat tenaga, membuat wanita ini terkejut. Napasnya tercekat. Ini pertama kalinya dia mendapat perlakuan seperti ini dari seorang pria.

"Kamu terkejut?" Senyum miring itu kembali terlihat. "Aku akan mengejutkanmu dengan hal lainnya. Bersiaplah!"

Rio kembali mendaratkan bibirnya di ceruk leher Sang Istri, meninggalkan bekas tanda cinta berulang kali di sana. Pria ini seolah ingin membuktikan diri bahwa dia bisa melakukan apa saja sesuai kehendaknya pada wanita yang kini tampak pasrah di bawah sana.

Jemari tangan Rio semakin aktif memperluas jajahannya. Tak cukup berkelana di tubuh bagian atas Monika, tapi semakin berani masuk ke area terlarang yang selama ini tak terjamah oleh siapapun kecuali pemiliknya.

Monika menggigit bibir bawahnya dengan mata tertutup. Gelombang dalam dirinya mulai melesak keluar, seirama dengan permainan jari CEO mesum ini yang semakin lihai di bawah sana.

"Kenapa? Keluarkan desahanmu seperti j*lang lainnya!" Kata-kata vulgar yang Rio ucapkan membuat harga diri Monika semakin terluka. Dia bukan j*lang seperti yang pria ini tuduhkan. Jangankan tidur dengan seorang pria, berciuman saja tidak pernah. Dia selalu menolak saat Devan ingin mencium bibirnya, dan hanya berakhir mencium kening. Selalu seperti itu.

Rio semakin semangat mengobrak-abrik pertahanan Monika saat melihat wanita ini membusungkan dada, menandakan bahwa kenikmatan pertamanya akan segera datang.

"Jariku bisa memuaskanmu. Bagaimana jika kita coba dengan yang lain?" tanya Rio, menatap wanita yang kini tampak lelah. Dadanya naik turun, seirama dengan napas yang memburu.

"Hahaha.... Jangan berlagak polos. Tunjukkan sisi liarmu, Sayang." Rio mengangkat tubuhnya, melepas pakaian bagaian bawah yang semakin terasa sesak.

Monika menggeleng. Dia tidak ingin Rio mengambil mahkota yang telah dia jaga selama ini. 

"Kenapa? Kamu takut melihatnya?" tanya pria yang kini kembali menciumi dada istrinya, mengulum sisi sebelah kanan dan meremas yang lainnya.

Tubuh Monika mengelinjang. Dia kembali merasakan kenikmatan atas jamahan Rio di tubuhnya. Dia wanita normal, sangat wajar mendapat pelepasan karena pancingan pria mesum ini.

"See. Kamu menikmatinya." Rio merasa di atas awan. Dia begitu bangga sudah membuat istrinya meraih puncak kenikmatan sebelum mereka memulai inti permainan.

"Kita lihat apa kamu masih bisa menahan diri untuk tidak mendesah!"

Rio mengarahkan bagian inti tubuhnya, bersiap memasuki lubang kenikmatan milik istrinya. 

"Jangan!" cegah Monika, menahan lengan pria ini dengan sekuat tenaga. Dia menggeleng kuat, tidak ingin Rio bertindak lebih jauh lagi. Mahkotanya tidak ingin dia serahkan pada pria yang paling dia benci di muka bumi ini.

"Kenapa?" Rio tersenyum. "Apa kamu masih perawan?"

Monika bungkam. Anggukan kepalanya mengiyakan pertanyaan Rio.

Lagi-lagi detak jantung pria ini berhenti sepersekian detik. Hati kecilnya memberontak, tidak ingin menyakiti wanita ini dengan merenggut mahkotanya. Di sisi lain, hasratnya kian menggebu kala mendapati wajah cantik Monika begitu menggoda. Bulir keringat membasahi seluruh tubuhnya, membuatnya semakin seksi di mata Rio.

'SHIT!!' batin Rio. Dia tidak bisa menahan lonjakan libidonya lagi. Pria itu tidak ingin berhenti sebelum mendapat pelepasannya.

"Ja... ngan...." Air tanpa warna itu kembali keluar dari ujung mata Monika. Dia tidak ingin Rio melakukan hal itu padanya.

Rio meragu. Dia terpaku di posisinya yang bisa dibilang tanggung. Hati dan logikanya bertentangan, padahal hanya tersisa beberapa centi saja sebelum inti mereka menyatu.

Gelengan kepala Monika semakin kuat. Dia berusaha menjauhkan diri dari pria mesum nan ambisius ini. Dengan sisa tenaga yang ada, Monika beringsut mundur. Dia tidak ingin melayani Rio hingga inti permainan mereka. Sudah cukup. Dia tidak ingin melanjutkannya lagi.

Rio bimbang. Apa yang harus dia lakukan? Haruskan dia menerjang gadis dua miliar miliknya ini? Atau menghentikan permainan ranjang yang membuatnya begitu ketagihan ini?















BAB 14


Rio meminta asistennya untuk menjemput Monika. Dia tidak bisa mengendalikan gairahnya dan berlanjut dengan mencumbu wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya. Pergumulan mereka terus berlanjut di dalam ruang istirahat yang ada di kantor Rio.

"Jangan!" Monika menahan lengan Rio, tidak ingin pria ini melanjutkan permainan panas mereka.

Rio tersenyum, "Kenapa? Apa kamu masih perawan?"

Monika mengangguk. Dia masih suci. Belum ada satu pun pria yang menjamah tubuhnya. Rio yang pertama.

"Ja... ngan...." Gelengan kepala Monika semakin kuat. Dengan sisa tenaganya, wanita 26 tahun ini berusaha menjauh dari jangkauan Rio yang tampak kesulitan mengendalikan hasrat di dalam dirinya. Matanya berkilat tajam, seolah siap menerkam Monika detik berikutnya.

Ada jeda beberapa detik setelahnya. Rio tampak ragu, antara melanjutkan aktivitas mereka atau berhenti sampai di sini saja. Logikanya membela, tidak ingin membuat Monika ketakutan. Tapi, hasratnya berkata sebaliknya. Lonjakan logika di dalam dirinya semakin kuat. Dia tidak ingin gagal untuk kedua kali seperti semalam.

Melihat situasi yang ada, Monika meraih selimut di bawah tubuhnya untuk menyembunyikan diri. Dia berusaha kabur dari pria mesum yang hampir saja merenggut kesuciannya ini.

Tangan Monika meraih handle pintu dan berusaha membukanya dengan tubuh gemetar hebat. Kakinya terasa lemas, hampir tak mampu untuk menopang tubuhnya sendiri.

"Tolong..."

"Siapa saja, tolong buka pintunya!" teriak Monika dengan putus asa. Dia tidak ingin berada di ruangan ini lebih lama. Pria ini tengah dikuasai hasrat liar. Tak hanya kesuciannya yang terancam, mungkin saja nyawanya juga ada dalam bahaya.

Monika terus mengetuk pintu di depannya dengan tangan terkepal. Dia tidak akan menyerah hingga pintu berwarna putih itu terbuka. Semoga saja ada orang lain yang bersedia membebaskannya dari ruangan laknat ini.

Di belakang sana, Rio masih terpaku, sibuk dengan pertentangan batin yang dirasakannya. Hasratnya mereda, merasa kasihan melihat wanita yang hanya berbalut selimut warna putih di tubuhnya.

Sekelebat bayangan pria yang mencium kening Monika tadi malam tiba-tiba terlintas di kepala Rio, membuat emosinya kembali melonjak. Wajah tampannya memerah menahan marah, tak kuasa dengan obsesinya pada Sang Istri.

Dengan langkah tegap tanpa ragu, pria 31 tahun ini mendekat ke arah Monika yang masih sibuk menggedor pintu.

Dengan sekali tarikan, tubuh Monika berpindah ke dalam dekapan pria yang bertelanjang dada ini. Matanya berkilat tajam, tidak akan membiarkan buruannya lepas dari cengkeraman.

"Kamu ingin pergi dariku?" Rio menatap Monika dengan pandangan mendominasi. Harga dirinya terluka mengingat wanita ini menolak sentuhannya, tapi dengan senang hati membiarkan pria lain mencium keningnya.

"Lepas!!" Monika mencoba berontak, membuat selimut di tubuhnya melorot ke bawah.

Rio menelan ludah dengan paksa. Dia tidak bisa menahan gejolak di dalam dirinya. Tampilan Monika lebih seksi dibandingkan semalam. Tubuh bagian atasnya tak tertutup sehelai benang pun, manampilkan pemandangan indah yang selalu ia imajinasikan dari seorang wanita.

Tanpa ingin mengulur waktu lebih lama lagi, Rio membanting tubuh ramping itu kembali ke ranjang.

"Dasar jalang!" Rio mendekat, menahan kedua tangan Monika di atas kepala. Tubuh kekarnya kembali mengungkung wanita ini, bersiap menguasainya. "Kita lihat apa kamu memang masih perawan, huh?"

Monika menggeleng kuat-kuat, tidak ingin pria ini mengambil kehormatannya.

Tanpa aba-aba, Rio melesatkan senjata andalannya ke inti tubuh Monika, membuat gadis itu terbelakak. Ada perasaan tidak nyaman di bawah sana, seolah sesuatu membelah dirinya dengan paksa.

"Ja... ngan...!!!" rintih Monika dengan sisa suaranya yang terdengar serak, hampir tak terdengar. Air mata terus mengalir tanpa bisa dia cegah. Hatinya hancur, harga dirinya diinjak-injak oleh pria bajingan ini. Mahkota yang selama ini dia jaga, kini telah ternoda, diambil oleh pria yang sangat menyebalkan bagi Monika.

Rio kehilangan akal sehatnya. Dia terus menyerang, tanpa peduli dengan kesakitan yang Monika rasakan. Gerakannya semakin aktif saat merasa akan mendapatkan kepuasan pertamanya.

"Mo... ni... ka...!!!" geram Rio, merasakan miliknya terjepit organ kewanitaan istrinya. Ada sensasi tersendiri yang dia rasakan sebelum memuntahkan benih miliknya.

Monika bungkam. Dia tidak lagi menikmati perlakuan Rio seperti di awal mereka bercumbu, tiga puluh menit yang lalu. Kini, semuanya berganti menjadi perih. Matanya tertutup rapat, tidak ingin melihat pria b*rengsek yang tengah menikmati tubuhnya.

"Kamu benar-benar masih perawan?" tanya Rio, mengamati wajah wanita yang terlihat menahan sakit dengan menggigit bibir bawahnya. Dia masih terus memacu inti tubuhnya, menumbuk dengan kasar dan penuh nafsu.

Hening. Monika tak menjawab. Dia tidak bisa melawan kehendak pria ini, tapi juga tidak ingin menikmati pergulatan panas mereka. Hatinya terluka begitu dalam. Selain karena kata-kata kasar yang Rio ucapkan, perlakuannya di atas ranjang sungguh buas seperti binatang. Monika membencinya. Sangat-sangat membencinya!

"Kenapa diam? Apa kamu tidak menikmatinya, huh?" Rio menyingkirkan helai rambut Monika yang menempel di keningnya. Peluh yang mengalir menuju pelipis wanita ini menambahkan kesan cantik yang dimilikinya. Rio benar-benar puas telah menggauli wanita berdarah Inggris ini. Tidak sia-sia dia merelakan uang dua miliar miliknya jika bisa mendapatkan intan berlian sekelas Monika.

Wanita ini tak melawan sama sekali, mengacuhkan semua kata-kata yang pria ini ucapkan. Monika menulikan diri, tak ingin mendengar apapun. Dia bertekad untuk tidak mendesah apapun yang Rio lakukan padanya. Dirinya bukan j*lang seperti yang pria ini tuduhkan!

Keterdiaman Monika menjadikan Rio semakin lupa diri. Tidak ada perlawanan sama sekali dari tubuh di bawahnya, membuat pria ini semakin leluasa bergerak. Tangan dan bibirnya kembali berkalana, mendaki setiap jengkal pemandangan indah di hadapannya. Dia sungguh menikmati tubuh polos Monika, mendapat keuntungan sebanyak mungkin.

Dan permainan pria ini masih berlanjut hingga satu jam kemudian. Tenaganya seolah tak pernah habis meski sudah mendapat kepuasan berkali-kali. Monika tetap bungkam, menahan tubuhnya yang remuk redam. Wajah cantiknya yang memesona, kini terlihat lemah tak berdaya. Dia kelelahan setelah digempur berkali-kali oleh pria mesum paling b*rengsek di dunia ini.

"Istirahatlah, Sayang. Kita lanjutkan lagi nanti malam," ucap Rio sambil menjauhkan badannya dari Sang Istri.

Dengan sisa kesadaran yang ada, Monika menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Dia marah, malu, kesal, dan berbagai perasaan jengkel lainnya. Kedatangan Rio dan pernikahan paksa ini, menghancurkan semua rencana indah yang dia miliki dengan Devan. Bahkan mahkota paling berharga miliknya juga tak lagi bersisa.

Apa yang bisa dia lakukan setelahnya? Mungkinkah Devan masih akan menerimanya jika tahu tubuhnya tak lagi suci? Bagaimana kelanjutan hubungan mereka? Haruskah dia mengakhiri hubungannya dengan pria yang telah membersamainya beberapa tahun terakhir ini?

Monika memejamkan mata, mencoba melupakan pergulatan hati kecilnya. Satu yang pasti, dia harus segera mengakhiri kontrak sialan dengan iblis ini. Harus!!!


0 Comments