Penjara Cinta Sang Taipan. Bb 72-73




 Bab. 72

Negosiasi.


Sejak kejadian malam itu, Sandra dan Juwita lebih hati-hati lagi saat bepergian ke luar rumah. Bahkan mereka lebih betah berdiam diri di rumah jika tidak ada kepentingan yang terlalu mendesak. Jika terpaksa harus keluar rumah pun pasti dengan pengawalan ketat dari orang-orang kepercayaan Juwita.


Apalagi jika itu menyangkut dengan Sandra maka Juwita akan sangat berhati-hati dalam menjaganya. Karena Juwita yakin orang yang mengikuti mereka kemarin malam telah mengincar Sandra. Tapi siapa dalang dibalik orang-orang suruhan itu Juwita sama sekali tidak tahu dan tidak pula bisa menebaknya.


"Apakah selama ini Sandra punya musuh? Ah itu tidak mungkin, tapi siapa orang yang mengikuti kami waktu itu. Ada dua kubu pada malam itu, mereka sepertinya mempunyai dua kepentingan yang berbeda. Aduh kepalaku semakin pusing saja memikirkan semua ini!" gumam Juwita.


Saat ini wanita cantik itu sedang menikmati udara segar di taman belakang rumahnya dengan di temani ikan hias peliharaan-nya. Sebelum Sandra datang dan mengagetkannya.


"Hai! Ngelamunin apa sih serius banget kayaknya?!" 


"Ish, bikin orang kaget aja!"


"Lagian ngapain sih ngelamun sendirian di sini? Mikirin apa?!"


"San, aku mau tanya sama kamu tolong jawab dengan jujur!"


"Apa dulu pertanyaan-nya?!"


"Selama ini kamu ada musuh nggak sih? Atau orang yang nggak suka sama kamu. Jujur ya San, selama ini baru pertama kali ini saja aku diikuti orang seperti waktu itu. Kalo urusan yang menyangkut anak buahku sih sepertinya tidak mungkin. Jadi kemungkinan besar orang-orang itu mengincar kamu!" ucap Juwita setelah membenahi posisi duduknya.


"Entah lah Ta, kamu tahu sendiri kan, aku baru kembali lagi ke kota ini dan di sini pun aku hampir tidak pernah ke mana-mana. Pertama aku pergi pun bersama kamu ke pesta waktu itu, atau-" Sandra menggantungkan ucapannya dan berfikir sesuatu.


"Apa jangan-jangan ini perbuatan salah satu dari pria-pria itu?" tebak Juwita.


"Aku juga punya pemikiran yang sama denganmu. Apa mungkin bajingan itu, tapi untuk apa lagi dia melakukan semua ini. Belum cukupkah dia menghancurkan hidupku?!" desahnya frustasi.


"Entah lah, kita akan mencaritahunya nanti. Untuk sementara jangan pernah keluar dari rumah ini jika tidak ada urusan yang sangat mendesak. Aku juga akan memperketat penjagaan di rumah ini!" titah Juwita.


"Maafin aku ya Ta. Gara-gara aku hidup kamu jadi tidak tenang begini!" ucap Sandra tak enak hati.


"Ngomong apaan sih kamu? Jangan mulai deh. Aku sama sekali nggak merasa terganggu dengan apapun yang terjadi atas dirimu. Lagi pula aku sudah cukup terbiasa menghadapi situasi yang seperti ini. Kau tahu, ada beberapa dari pelanggan anak buahku yang kelakuannya lebih gila dari pada ini. Jadi jangan terlalu difikirkan," jawab Juwita menenangkan.


Di tengah pembicaraan serius mereka datanglah salah satu dari anak buah Juwita yang bernama Rini.


"Maaf Mi, ada tamu yang ingin bertemu dengan Mami!" ujarnya kepada Juwita.


"Siap Sayang?"


"Rini kurang tahu Mi, tapi yang jelas kakap," jawabnya dengan senyum genitnya.


"Baiklah Mami akan segera ke sana. San, aku temui tamu dulu ya!" pamitnya kepada Sandra.


"Sippp ...!"


Juwita pun pergi meninggalkan Sandra untuk menemui tamu yang dimaksud anak buahnya tadi.


"Tamunya menunggu di dalam Mi. Rini kembali ke kamar dulu ya!" pamit Rini.


"Iya Sayang, terima kasih!" ucapnya kepada perempuan tersebut.


Juwita melangkah ke dalam ruangan yang memang di khususkan untuk menerima tamu VVIP. Ruangan yang sengaja dibuat agar privasi si pelanggan terjaga.


Pemandangan pertama yang tertangkap netranya adalah punggung tegap seorang laki-laki yang tengah berdiri membelakanginya.


"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?!" sapa Juwita sopan.


Perlahan pria itu membalikkan tubuhnya dan berkata-


"Perkenalkan nama saya John. Saya datang kemari karena ingin menyampaikan pesan dari Tuan saya," ucapnya Ramah.


Ya, pria yang menemui Juwita saat ini adalah John asisten pribadi Tuan Jordan.


"Senang berkenalan dengan anda Tuan John, saya Juwita. Penguasa di rumah ini!" kata Juwita memperkenalkan dirinya.


"Iya Madam saya sudah tahu. Makanya saya datang ke sini untuk menemui anda. Tapi saya ingin membicarakan tentang salah satu penghuni lain rumah ini," ucap John menjelaskan maksud kedatangan-nya.


"Apakah anda ingin menyewa salah satu dari anak buah saya? Baiklah silahkan pilih perempuan manapun yang anda mau. Karena tidak ada satupun dari anak buah saya yang akan mengecewakan anda. Pelayanan mereka sangat memuaskan. Tapi tentunya itu tidak murah, karena kami sangat mengutamakan kualitas. Ada uang ada barang!" jelas Juwita.


"Mohon maaf, sepertinya anda telah salah paham dengan maksud saya tadi!"


"Salah paham? Apa maksud anda?!"


"Baiklah saya akan menjelaskan secara langsung kepada anda. Tujuan saya kemari adalah untuk menyampaikan pesan dari Tuan Jordan Smith Ramiro kepada anda agar menyediakan waktu bagi Tuan saya untuk bisa bertemu dengan Ibu Sandra di tempat yang telah kami tentukan," jelas John tanpa basa basi.


"Apa! Jadi anda suruhan Tuan Jordan?!" pekik Juwita tak percaya.


"Benar Madam!"


"Maaf permintaanmu itu aku tolak karena Sandra bukan salah satu dari anak buahku. Dia bukan wanita panggilan seperti yang lainnya tetapi sahabatku. Katakan kepada Tuanmu itu bahwa aku menolak mentah-mentah keinginan-nya itu!" tegas Juwita.


"Maaf Madam, sebaiknya anda berfikir ulang tentang perkataan anda itu. Jangan sampai anda menyesal di kemudian hari!" ujar John mengingatkan.


"Kau mengancamku!" pekik Juwita mulai tersulut emosi.


"Saya hanya mengingatkan anda saja. Karena saya juga datang kemari dengan cara baik-baik, jangan sampai kami memaksa dan membuat anda menyesalinya. Anda tentu tahu tentang keluarga Ramiro bukan?!"


Perkataan John tadi memang terdengar datar dan santai tapi terkesan mengintimidasi. Dan hal itu tentu saja membuat nyali Juwita menciut. Karena ia tahu Ramiro bukan tandingannya. Tapi apakah dia akan menyerah begitu saja? Karena dengan mengiyakan permintaan pria di hadapannya saat ini sama saja dia telah menghianati sahabatnya sendiri yaitu Sandra.


"Apa tidak ada alternatif lain? Biarkan aku yang menemui Tuanmu itu!" tawar Juwita.


"Maaf, tapi Tuan kami hanya menginginkan Ibu Sandra!" tolak pria bernama John itu.


"Tapi kau tidak bisa memutuskannya begitu saja tanpa bertanya dulu kepada Tuanmu. Jadi tolong tanyakan penawaranku ini kepadanya karena aku juga ingin berbicara dengan dirinya!" Juwita masih berusaha untuk bernegosiasi.


"Tunggu apa lagi cepat telfon Tuanmu!" imbuhnya.


Setelah berfikir beberapa saat akhirnya pria itu menuruti keinginan Juwita dengan menelfon Tuan Jordan guna memberitahu perihal permintaan Juwita.


John kembali mendekati Juwita setelah menyimpan kembali ponsel mahal miliknya ke dalam saku jas.


"Bagaimana? Apa kata Tuan Jordan?!" tanya Juwita.


"Tuan Jordan bersedia menemui anda saat ini juga!" jawabnya singkat.


"Sekarang?!"


"Iya Madam, jadi silahkan ikut saya!"


"Tapi-"


Belum sempat Juwita mengutarakan protesnya. John sudah terlebih dulu menyelah.


"Silahkan Madam! Tuan Jordan tidak suka menunggu!" ujarnya.


'Demi Sandra aku rela melakukan apapun juga!'


"Baiklah aku akan ikut denganmu sekarang juga. Ayo!"


Juwita pun mengekori John menuju ke mobilnya dan itu menjadi pusat perhatian anak buahnya hingga menimbulkan rasa penasaran. Karena tidak biasanya Juwita mau pergi dengan seorang tamu.


Bab. 73

Bertemu sang penguasa.


"Apa tadi Mami Juwita tidak bilang kepadamu dia mau pergi ke mana? tanya Sandra kepada salah satu anak buah Juwita yang melihat Juwita pergi dengan John tadi.


"Tidak Bu Sandra, saya hanya melihat Mami Juwi masuk mobil bersama dengan pria itu. Kami juga merasa heran karena tidak biasanya Mami mau pergi dengan seorang tamu," jawab perempuan tersebut.


"Apa orang yang pergi dengan Juwita itu pelanggan di sini?!" tanya Sandra lagi.


"Tidak Bu, karena baru pertama kali ini saya melihat pria tersebut!"


"Ya sudah terima kasih, kamu moleh kembali lagi ke kamarmu!" tutur Sandra kemudian.


"Baik Bu permisi!"


Sandra meremas tangannya kuat, raut khawatir di wajahnya tidak dapat ia sembunyikan lagi.


"Sebenarnya Juwita pergi ke mana? Kenapa dia pergi begitu saja, tanpa berpamitan lebih dulu kepadaku? Huh, perasaan ku kenapa jadi tidak enak begini ya?!" gumamnya lirih. Wanita cantik itu terlihat mondar mandir di ruang tamu menunggu kabar dari sahabatnya.


Bahkan berulang kali ia mengecek ponsel miliknya, barang kali Juwita memberinya kabar melalui pesan singkat. Tetapi lagi-lagi hasilnya nihil. Tak ada pesan apapun yang ia dapat dari sahabatnya itu.


"Sebenarnya siapa pria yang pergi dengan Juwita tadi?!" monolognya.


*****


Sementara di sebuah restorant mahal tempat orang kaya biasa nongkrong. Mobil yang dikendarai John telah berhenti di area parkir exclusive-nya.


Juwita mengedarkan pandangan-nya ke sekeliling sebelum membuka pintu mobil. Ia sangat mengenali tempat ini karena tak jarang kesepakatan bisnisnya dengan para pelanggan juga dilakukan di tempat ini.


"Silahkan turun Madam. Tuan Jordan sudah menunggu di dalam!" kata John.


Tanpa menjawab apa-apa Juwita pun keluar dari mobil setelah pintu di buka oleh seorang penjaga dari luar.


"Silahkan Nyonya!" ucapnya.


"Terima kasih!" jawab Juwita singkat. Sebelum kemudian datang lagi seseorang yang akan membawanya pergi menemui Tuan Jordan.


"Mari Nyonya, saya akan mengantarkan anda ke tempat Tuan Jordan berada!" ucap orang itu mempersilahkan.


Tanpa banyak berkata Juwita pun mengikuti langkah orang itu memasuki restorant. Langkahnya berhenti tepat di depan pintu salah satu ruang VVIP yang ada di restorant ini.


"Tuan Jordan sudah menunggu anda di dalam. Silahkan masuk!" ucap pria itu sebelum pergi meninggalkan Juwita seorang diri.


"Terima kasih!"


Setelah berdiri beberapa saat untuk memantapkan hati serta mengumpulkan keberaniannya. Akhirnya Juwita pun meraih handle pintu dan memasuki ruangan itu.


Pandangan pertama yang dapat dilihatnya adalah punggung lebar seorang pria yang tengah berdiri membelakanginya. Sepertinya pria itu sedang menikmati pemandangan luar dari balik jendela besar yang ada di dalam ruangan itu.


Perlahan namun pasti langkah Juwita membawanya mendekat ke arah pria itu hingga sekarang ia berdiri tepat di belakang pria penguasa yang disinyalir bernama Jordan tersebut.


Lamunan Tuan Jordan terganggu saat ia menyadari keberadaan seseorang di belakangnya. Perlahan pria itu memutar tubuhnya untuk melihat wanita yang ingin bertemu dengannya saat ini.


"Selamat datang Madam Juwita. Senang bertemu dengan anda!" sambut Tuan Jordan.


"A-anda ...!" ucapnya tergagap.


Juwita tampak terkesima dengan pemandangan yang ada di depan matanya saat ini. Ia tersihir wajah tampan yang dulu hanya bisa ia lihat dari balik layar kaca atau sampul majalah bisnis terkemuka.


Namun sekarang ia bisa menikmati wajah itu secara langsung dengan jarak yang begitu dekat. Tentu saja hal ini menjadi moment langkah bagi Juwita mengingat siapa orang yang berdiri di depannya saat ini.


"Ma ... maaf saya terlalu gugup. Saya tidak menyangkah bisa bertemu secara langsung dengan anda!" ucap Juwita berusaha menguraikan ketegangan di wajahnya.


"Silahkan duduk!" Tuan Jordan menggiring Juwita untuk menuju meja yang telah tersedia di ruangan itu.


Setelah memastikan tamunya mendapat tempat ternyaman di salah satu kursi tersebut Tuan Jordan juga mengambil tempat, tepat di depan Juwita sehingga posisi mereka sekarang saling berhadapan.


"Kau bisa memesan apapun yang kau mau sebelum kita memulai pembicaraan!" tawar Tuan Jordan.


"Cukup minum saja Tuan," jawab Juwita singkat.


"Baiklah!" Tuan Jordan pun memanggil salah satu pelayan restorant yang selalu stay tak jauh dari tempatnya itu.


Setelah memesan beberapa minuman kepada pelayan tersebut Tuan Jordan kembali mengalihkan perhatiannya kepada wanita yang duduk di hadapannya saat ini.


"Jadi, apa yang membuat wanita secantik dirimu ingin menemui ku?!" tanya Tuan Jordan memulai pembicaraan.


"Maaf Tuan, sebelum saya menjawab pertanyaan anda. Bolehkah saya bertanya lebih dulu?!" Juwita pun menjawab pertanyaan Tuan Jordan dengan pertanyaan.


"Katakanlah!"


"Kenapa anda mengganggu sahabat saya. Saya tahu orang yang mengikuti kami malam itu adalah orang suruhan anda, bukan?!" tebak Juwita tanpa basa basi.


"Benar! Orang-orang itu memang suruhanku tapi aku menyuruh mereka untuk melindungi kalian!" jawab Tuan Jordan tegas.


"Melindungi dari apa maksud anda? Dan anda juga masih belum menjawab pertanyaan saya kenapa anda mengganggu sahabat saya, Sandra?!" tanya Juwita sekali lagi.


"Melindungi kalian dari sesuatu yang tidak kalian sadari. Dan aku juga ingin mengambil kembali sesuatu yang telah lama hilang dariku!" jawabnya datar.


"Maksud anda?!"


"Sandra! Dialah milikku yang telah hilang itu!"


"Tidak ... tidak mungkin! Bukankah anda sudah berkeluarga selama ini, tapi kenapa anda masih terobsesi dengan wanita lain? Bahkan anda telah menghancurkan masa depannya. Asal anda tahu saja, perbuatan anda itu bukan saja menghancurkan masa depan sahabat saya tetapi juga seluruh hidupnya. Tidak kah anda sadari perbuatan anda itu hampir saja membuat Sandra menjadi gila dan berkali-kali nyaris kehilangan nyawa karena berusaha untuk bunuh diri!" 


Juwita menjeda ucapannya. Mengatur nafasnya sejenak, berusaha menurunkan emosi karena ada kilatan amarah yang terpancar dari sorot matanya saat ini dan itu nampak jelas di mata Tuan Jordan.


Namun, pria itu masih bergeming di tempatnya membiarkan Juwita meluapkan seluruh emosinya. Karena ia juga ingin tahu lebih jauh tentang wanitanya dari bibir sahabatnya sendiri yaitu Juwita.


Kebetulan di saat yang bersamaan datang lah pelayan yang membawa minuman pesanan mereka tadi.


"Minumlah dulu, agar kau sedikit merasa rileks!" tutur sang Tuan.


Tangan Juwita pun dengan cepat menyambar minuman di depannya dan menandaskan dalam sekali teguk. Ternyata bicara dengan penuh emosi sungguh menguras tenaga.


"Jadi sama mohon Tuan jauhi sahabat saya. Dan jangan mengganggu hidupnya lagi!" pinta Juwita dengan penuh kesungguhan.


"Bagaimana kalau aku tidak mau?!" ucap Tuan Jordan seakan menantang.


"Anda benar-benar tidak punya hati. Selama ini Sandra telah berjuang mati-matian untuk bisa menghilangkan rasa traumanya. Tapi anda dengan mudahnya mengingatkan kembali luka lama yang telah dikuburnya itu. Apa itu bukan kejam namanya!" maki Juwita.


"Seharusnya waktu itu Sandra tidak pergi dan menghilang dariku!" 


Kali ini Tuan Jordan lah yang tampak tersulut emosi. Ada kemarahan yang tersirat di setiap kata-katanya.


"Diperkosa dengan begitu kejam dan dibuang oleh keluarga sendiri karena hamil di luar nikah. Bisakah anda bayangkan bagaimana perasaan Sandra waktu itu?!" teriak Juwita. Sudah habis kesabarannya kali ini.


"Apa! Sandra pernah hamil?!"

1 Comments

  1. Wah makin rumit aja nich,kalau ga salah bening & Arga saudaraan,waduh makin di bikin kepo nich pembaca,ayo kak kepoin penggemarmu biar makin seruπŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„ lanjutπŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹

    ReplyDelete