Cerpen: Rantang untuk Mertua.


Lomba cerpen


-Rantang Untuk Mertua-Berbagai tradisi dilakukan oleh masyarakat untuk menyambut datangnya bulan Ramadan. Salah satunya yaitu membuat masakan yang berbeda dari hari biasanya dan saling mengirimkan hantaran dengan tetangga juga keluarga. Kemudian berkumpul dan makan bersama atau dikenal dengan sebutan botram. Masyarakat dari tatar Sunda menyebutnya dengan istilah munggah, munggahan, atau papajar.


Begitu pula di keluarga Mas Arman, suami Laras. Tradisi semacam ini menjadi satu hal yang tak boleh dilewatkan setiap bulan Ramadan tiba. Bagi Laras, hal ini sebagai ajang unjuk kemahiran dalam hal kelezatan masakan sekaligus uji nyali untuk mengambil hati sang mertua. 


Sebagai menantu yang baik, sekaligus istri dari putra bungsunya, dia pun ingin menunjukkan kegigihan. Walau pun Laras tahu, hasil masakannya akan mengantarkan ke pressure test kalau diikutkan ajang Masterchef, tetapi dia tak boleh menyerah. Laras harus lebih unggul dari Mbak Sisy, golden menantu-nya dari Mas Andi, putra pertama Mama mertua. 


Kenapa perempuan berambut panjang lurus itu menyebut Mbak Sisy golden menantu? Karena, dua tahun silam, ketika masih tinggal seatap, perlakuan beliau sungguh sangat berbeda terhadap Mbak Sisy dibandingkan dengan dirinya. 


Baca juga: Aku dan Mertuaku.


Semua hal yang Laras lakukan, selalu saja ada celanya di mata Mama mertua. Bila berat badan Arfan, putranya yang baru berusia empat tahun, mengalami penurunan, beliau langsung menyenandungkan nyanyian merdunya. Tentu saja sembari memuji Mbak Sisy, yang katanya meski pun dia wanita karier, tapi pinter banget ngurus Fian—anak dari Mbak Sisy dan Mas Andi yang beda usia 6 bulan dengan Arfan dan memang bertubuh agak gempal. 


Bukan hanya itu saja, ketika Mbak Sisy mengabari Mama kalau dirinya tengah mengandung anak kedua, beliau dengan segera menyuruh Laras dan Mas Arman bikin dedek lagi. Katanya, biar Arfan punya teman main dan nggak kesepian. Mama, andai saja itu semudah membuat pancake, pastinya Laras nggak akan berlama-lama untuk segera menyusul kehamilan Mbak Sisy. Dan masih banyak lagi perbandingan-perbandingan lainnya dari beliau yang menjadikan rumah tangga Mbak Sisy dan Mas Andi sebagai role mode untuk rumah tangga yang tengah dijalani Laras dan Mas Arman.


Mama mertua selalu bilang, kecerewetan beliau itu semata-mata untuk kebaikan Laras dan Mas Arman yang masih sama-sama muda dan harus banyak belajar bagaimana membina rumah tangga. Sebenarnya, dalam hati Laras merasa bersyukur beliau begitu terhadapnya. Itu artinya Mama peduli dan mungkin inilah cara beliau menunjukkan kasih sayang terhadap menantu perempuannya. Namun, rasa rak percaya diri sering melanda setiap kali beliau memuji-muji Mbak Sisy. Ditambah lagi rasa malu mulai menyertai, hingga membuat rasa pede Laras semakin menciut, ketika Mas Andi dan Mbak Sisy memutuskan untuk pindah rumah. 


Laras semakin merasa menjadi menantu tak berguna. Seketika saja timbul keinginan Laras yang begitu menggebu-gebu. Dia tak ingin terus-menerus tinggal serumah dan merepotkan Mama juga Bapak mertua yang semakin beranjak menua dengan kondisi Mas Arman yang belum mapan dan tak terlalu bisa banyak membantu. Maka, Laras utarakan hal ini pada suami. Alhamdulillah, Mas Arman juga Mama dan Bapak mertua menyetujui. Tak lama kemudian, mereka pun pindah ke rumah kontrakan yang letaknya tak begitu jauh dari tempat tinggal mertua.


***

“Kamu yakin mau masak sebanyak itu?” tanya Mas Arman sambil memandangi berbagai macam bahan makanan yang tersedia di atas meja dapur. Ada ayam, hati sapi, kentang, mentimum, juga wortel. 


“Yakin, lah, Mas.”


“Memangnya kamu bisa? Sehari-hari saja paling bikin telur ceplok atau dadar.”


Laras menunjukkan layar ponsel yang tengah memutar video tutorial memasak. Rencananya, dengan bahan-bahan yang tadi pagi dibeli di pasar, dia mau membuat menu masakan sambal goreng kentang plus ati, ayam serundeng, dan acar wortel mentimun bumbu kuning. Perempuan itu merasa sedikit kesal, ketika ekor matanya menangkap Mas Arman berusaha menahan tawa.


“Daripada ngetawain, mendingan Mas bantuin, deh.”


“Bantu apa?”


“Sana ajak main Arfan, biar nggak gangguin.”


“Kamu ngapain masak sebanyak ini? Mama juga pasti masak, kok.”


Laras menghentikan kegiatan memotong-motong wortel, lalu menatap tajam suaminya.


“Mas anak kandung Mama. Nggak akan merasa malu kalau bawa perut kosong! Aku? Hanya sekadar menantu. Bukan hanya malu sama Mama, tapi pada Mbak Sisy juga. Dia sudah punya tempat di hati Mama. Aku harap, usahaku kali ini bisa membuat omelan Mama berubah menjadi pujian. Seperti pada Mbak Sisy.”


“Laras, Mama juga sayang, lho, sama kamu.”


“Sudahlah, Mas! Apa aku salah, bila ingin merasakan menjadi menantu yang berguna dan bisa diandalkan buat Mama? Please, Mas, biarkan kali ini aku mencoba. Siapa tahu, masakan aku bisa membuka hati Mama untuk menerimaku.”


“Oke, oke. Masak yang enak, ya. Jangan asin dan terlalu pedas. Mama kurang suka.” 


Melihat kesungguhan istrinya, Mas Arman mengacungkan kepalan kedua tangannya ke atas, seraya memberi semangat. Kemudian, mengajak Arfan bermain di depan rumah, membiarkan Laras berkutat sendirian di dapur.


Setiap jam, menit, dan detik yang beranjak, membuat Laras semakin merasa tegang. 

Sambil sesekali melirik video tutorial di ponselnya, Laras mencoba mengupas kelapa untuk diparut. Setelah dikupas, ia memarut kelapa dengan parutan stainless steel. Maklum, peralatan dapurnya tak secanggih punya Mbak Sisy, jadi segalanya dia kerjakan dengan cara manual. 


Usai diparut, kemudian Laras memeras santannya. Seekor ayam utuh yang dibeli dari pasar, ia potong-potong sesuai perkiraan. Paha sudah pas dipotong dua dengan ukuran sebenarnya, tidak besar dan tidak kecil. Dada dipotong dua. Sementara kulitnya, Laras potong kecil-kecil. Tangannya dengan sigap berpindah ke bumbu; bawang, cabai, lada, dan masih banyak lagi jenis bumbu yang lainnya. Dengan cepat pula ia kupas dan haluskan.


Tak terasa, waktu terus berlalu. Laras masih fokus membuat masakan mengikuti setiap petunjuk dalam video. Ayam dicampur bumbu, dituang air sedikit, dipanaskan dengan api sedang.


Lagi asyik-asyiknya mengamati petunjuk memasak, tampilan layar ponselnya berubah. Sebuah video call dengan nama Mbak Sisy masuk ke WhatsApp-nya. 


“Duh, kenapa malah VC, sih? Jadi nggak tahu, kan, langkah selanjutnya apa.”


Nada dering ponsel Laras, berhenti dengan sendirinya. Hatinya meyakini, Mbak Sisy pasti sudah sampai di rumah Mama mertua dan sedang mempersembahkan hantarannya. Makanya, golden menantu Mama melakukan panggilan untuk meminta Laras segera datang untuk melihat hasil masakan Mbak Sisy. 


Laras melanjutkan masak dengan perasaan yang tak karuan. Mentimun dan wortel yang semula akan dibuat acar bumbu kuning, mungkin akan Laras tumis saja biar lebih cepat. Dia sudah tak peduli lagi dengan video tutorial masak. Mbak Sisy datang lebih dulu ke rumah Mama mertua pun, sudah membuatnya merasa kalah.


“Mas Arman, Mas!”


Mendengar teriakan istrinya dari arah dapur, Mas Arman tergopoh-gopoh menghampiri sembari menggendong Arfan yang sedang menangis.


“Laras, itu ayam hampir gosong!”


Dengan panik, Laras mematikan kompor dan mengangkat ayam dari atas wajan. Begitu pula dengan nasib potongan mentimun dan wortel, hampir saja hangus. Hanya sambal goreng kentang plus ati yang tampilannya paling menarik. Walau tak yakin dengan rasanya, tetapi tak ada lagi waktu untuk mencicipi. Waktu, kini tak hanya memburu tetapi seolah benar-benar meninggalkannya. Laras belum mengambil rantang yang mungkin harus dicuci terlebih dahulu. 


“Sudahlah, Laras. Tidak perlu memaksakan membawa hantaran. Mama pasti masak, 

Mbak Sisy juga pasti bawa makanan,” ujar Mas Arman sembari berusaha meredakan tangis Arfan dalam gendongannya.


Laras tak menggubris perkataan suaminya. Emosi yang meluap menjadi lebih ngilu daripada perih di jari manisnya yang tergores pisau. Laras berjalan menuju lemari kaca tempat menyimpan peralatan masak, dan membukanya. Dia mengeluarkan rantang 4 tingkat. 


Tingkat satu nasi, lalu berurutan sambal goreng, ayam, dan terakhir tumis sayur. Selesai sudah, Laras memasukkan semua menu botram ke dalam rantang. Diraihnya Arfan dari gendongan Mas Arman. Dalam pelukan Ibunya, tangis anak itu mereda.


“Mas, aku bukan sekadar jadi bahan omelan Mama, tapi juga layak untuk dipuji seperti Mbak Sisy. Aku juga mau, lah, memamerkan hasil masakan di depan Mama.”


Mas Arman menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, kemudian membantu Laras menyiapkan segala hal yang akan mereka bawa ke rumah Mama.


***

Senja perlahan-lahan mulai menyapa. Arfan tampak terlelap dalam gendongan Laras. Mas Arman berjalan di belakang istrinya sambil membawa rantang. Rumah mertua Laras hanya terhalangi delapan rumah dari kontrakan yang ditempati. Bahu Laras terasa amat pegal. Debar di dada perempuan berkulit sawo matang itu kian bersahutan, ketika pintu rumah mertuanya sudah terlihat di depan mata.


 Saat memasuki rumah, Mbak Sisy menyapa Laras dengan ramah.Mama mertua tampak masih sibuk di dapur. Laras tak bisa berkutik saat rantangnya dibuka. Isi rantang milik Mbak Sisy lebih menggugah selera dan mengeluarkan aroma masakan yang lezat.


“Ngapain kamu repot-repot masak? Bisa juga, nggak! Malah dapat capeknya doang. Arman nggak bantuin, ya? Sini, biar Mama gendong Arfan. Kamu makan dulu, sana. Cobain masakannya Sisy. Terus minta resepnya sekalian juga minta diajarin cara membuatnya.”


Arfan telah berpindah ke gendongan Mama. Dicobanya beberapa masakan yang telah Laras buat sendiri dengan bantuan tutorial video di youtube. Seketika saja dia merasa lemas. Semua rasa masakannya benar-benar tak karuan. Laras menelan saliva. Tak berani menyentuh atau pun mencicipi hantaran yang dibawa Mbak Sisy. Laras ingin segera pulang dan memasak menu yang lebih lezat jika memungkinkan.


Perempuan itu mencoba tersenyum. Alih-alih manis, senyumnya malah lebih mirip orang yang sedang meringis menahan sakit. (*)



Profil Penulis:

Suci Rahayu, guru bahasa Inggris di MA Al Huda Ciwidey dan juga pecinta fiksi. Ibu dari Azril Baasith Ahkam dan istri dari Dhany Baskara Soebrata, baru-baru ini aktif menulis di Kaskus, Kwikku, dan NovelMe. Juga aktif di beberapa komunitas menulis dan menerbitkan banyak antologi. Dia juga telah menerbitkan novel solo berjudul Duo Kacamata.


 Untuk mengenalnya, hubungi:

FB : Suci Rahayu II

Instagram : @ummiazril12


27 Comments

  1. Terima kasih πŸ€©πŸ™

    ReplyDelete
  2. Kalo berusaha terus latihan memasaknya pasti juga akan mendapatkan gelar golden menantu koq ....


    Semangatzzz....

    ReplyDelete
  3. Hmmm, keren banget lah ini. Semoga menang!

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. Siap, terima kasih, semangat juga, Kakak

      Delete
  5. Relate sama kehidupan berumah tanggaπŸ€— wkwk btw bagus bangeeet MasyaAllah keren. lanjutin ke novel atau watpadd dong.. Asik bacanya penuh emosi mengalir.. Pengen tahu isi hati mbak Sisy nya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hatur nuhun Teteh sudah mampir πŸ€—πŸ€—

      Delete
  6. Keren banget kak penulisannya juga oke πŸ˜‰

    ReplyDelete
  7. Replies
    1. Terima kasih sudah mampir, Mbak πŸ™πŸ»

      Delete
  8. Bagus banget ceritanya, semoga menang

    ReplyDelete
  9. pertarungan menantu dalam rangka merebut hati mertua

    ReplyDelete
  10. Ih, koq Laras agak mirip aku yah. Hehe ...

    ReplyDelete