BAB 17: ISTRI KEDUA SUAMIKU


 "Aku memang istrimu, tapi Mas tidak berhak memaksaku!" Karin masih meronta dan berusaha melepaskan diri. Dia tidak pernah tahu kalau suaminya bisa sekasar ini. 

"Aku berhak karena aku adalah suamimu. Kamu akan pelang sekarang dan aku akan menjemput Bagas di sekolah."

"Tidak! Bagas akan tinggal di sini. Aku tidak akan membiarkan Bagas dibesarkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab!"

Adam berhenti lalu mengeluarkan Karin dari mobil. "Jadi kamu bosan hidup miskin dan ingin kembali ke rumah orangtuamu yang kaya raya itu?"

"Aku bosan dibohongi! Aku bosan memiliki suami penipu sepertimu!" 

"Bohong? Kapan aku pernah bohong dan menipumu? Aku sudah muak dengan tingkahmu, Rin. Belakangan ini sikapmu aneh, minta aku cari istrilah, marah-marah terus, kabur dari rumah, dan sekarang kamu menuduhku telah menipumu? Apasih yang salah dengan otakmu?"

Yang ada di otakku adalah bagaimana agar kamu dan selingkuhanmu itu bisa hancur. Pikir Karin berusaha menekan amarahnya. "Sudahlah, Mas. Aku akan pulang beberapa hari lagi, tapi Bagas akan tetap di sini. Papa sedang sakit."

"Boleh aku menengoknya?" tanya Adam dengan suara melunak. "Itukah sebabnya kamu kemari? Kenapa tidak menghubungiku dulu?"

"HP-ku mati. Aku belum sempat membeli yang baru karena harus merawat Papa."

"Boleh aku masuk?"

Karin hanya mengangguk tanpa menjawab. Dan ketika dia melangkah masuk ke dalam rumah, pandangannya bertemu dengan Dokter Brian.

***

"Sudah pulang, Le?" tanya Ibu ketika mendengar suara langkah kaki Dokter Brian yang mantab seperti biasa. "Ibu bikin rujak cingur kesukaanmu. Mau Ibu siapkan?"

"Tidak usah, Bu," sahut lelaki itu menyusul ibunya ke dapur. Setiap hari, tugas Ibu kalau tidak bersih-bersih rumah ya repot memasak di dapur. Meski kini anaknya telah menjadi orang sukses, Ibu sama sekali tak ingin mempekerjakan asisten rumah tangga. Katanya dia masih mampu mengurus anak-anak dan rumah seorang diri. Apalagi dia tak memiliki pekerjaan lain, kalau tubuhnya lama-lama dibiarkan nganggur, lama-lama tulangnya bisa encok karena tidak dibuat beraktifitas.

"Gimana tadi?"

"Apanya?" tanya Dokter Brian pura-pura tak tahu maksud ibunya. Dia mengambil segelas air putih lalu duduk di kursi san langsung menenggak habis air di tangannya. 

"Apa lagi? Kamu pikir Ibu gak tahu kalau kamu nganter Karin?"

"Karin siapa, Bu? Karin yang pernah nolong keluarga kita?" sahut Ririn yang kebetulan lewat dapur. Nama Karin memang sudah seperti pahlawan di dalam keluarga Dokter Brian bahkan Ibu tak pernah bosan menceritakan bagaimana Karin menolong mereka. Dan karena hal itu pulalah seorang putri yang lahir delapan belas tahun lalu itu dinamai Karina. Ibu berharap anaknya juga bisa menjadi sepwrtigadis yang pernah menolongnya. Cantik dan berbudi pekerti. Sayangnya, apa yang dia harapkan tak terjadi. Ririn tumbuh menjadi gadis yang manja dan selalu ingin dituruti kemauannya. "Ceritain dong Mas Brian ... orangnya cantik, gak? Kapan diajak main ke mari?" tanya Ririn menggelayut manja pada kakaknya. Kalau sudah seperti itu, biasanya ada udang di balik batu. 

"Seperti bidadari!" 

"Sama Ririn cantikan mana?"

Dokter Brian pura-pura mengamati wajah adiknya. "Matamu terlalu sipit, hidungmu terlalu kecil, dan lihatlah lemakmu. Sudah siap disembelih saat lebaran nanti."

"Enak aja. Memangnya Ririn kambing?"

"Sudah sudah. Cepat sarapan dan berangkat kuliah," kata Ibu menaruh sepiring rujak cingur di hadapan Ririn. Tanpa berkata-kata ia langsung melahapnya tanpa protes. Lagian, tak ada yang bisa ngalahin masakan Ibu. 

"Mbak Karin sudah nikah belum, Mas?"

Mendengar pertanyaan adiknya, paras Dokter Brian berubah dan Ibu yang sejak tadi mengawasinya langsung menyela,"Jangan makan sambil bicara, Rin. Masmu kan capek, jangan ditanya aneh-aneh."

"Lho, siapa yang tanya aneh-aneh. Kan Ririn cuma nanya Mbak Karin sudah nikah atau belum? Kalau belum kan bisa tuh jadi kakak ipar!"

"Hus! Anak kecil fokus belajar saja."

"Ririn sudah 18 th, Bu. Rambutnya nih yang kecil," balas Ririn kesal. Dan ketika menyadari ada kesedihan di sorot mata kakaknya, kini Ririn menyesal telah bertanya. "Mas, hari ini Ririn boleh ya bawa mobilnya?"

"Ke mana motormu?"

"Sesekali bawa mobil kan gak apa-apa. Mumpung Mas Brian libur. Pasti gak ke mana-mana, kan?"

"Hati-hati kalau nyetir."

"Beres, Bos!" Ririn langsung menyambar kunci mobil dan melangkahkan kakinya dengan riang karena tak perlu panas-panasan lagi di jalan.

"Kamu terlalu memanjakan adikmu, Le," protes ibu mengambil piring yang ditinggalkan oleh Ririn. "Kapan dewasanya kalau kamu selalu menuruti keinginan anak itu?"

"Kalau bukan aku yang memanjakan, siapa lagi, Bu? Bapak kan sudah lama tidak ada."

Ibu langsung duduk di hadapan putranya dan menggenggam tangannya. "Sekarang sudah saatnya kamu memikirkan dirimu sendiri. Ibu ingin menimang cucu sebelum meninggal."

"Belum ingin menikah, Bu."

"Kenapa? Masih mengharapkan Karin? Iya kalau jadi cerai, kalau tidak? Ibu tidak mau kamu jadi perusak rumah tangga orang."

"Apa salahnya jika berharap, Bu?"

Wanita itu menatap lembut wajah putranya. Dokter Brian tak bercanda. Dia serius dengan ucapannya. Dan kalau sudah seperti itu, tak ada lagi yang bisa mencegahnya.

***

"Kapan Anda pulang ke rumah suami? Boleh saya antar?" 

Karin terhenyak dengan pertanyaan dokter yang asa di hadapannya. Seperti biasa, pria itu selalu bicara terus terang dan percaya diri yang menurut Karin terlalu over. 

"Apa urusan Anda? Kapan saya pulang, itu bukan urusan Dokter."

"Itu urusan saya. Bu Karin adalah pasien saya yang berharga."

"Pasien yang akan mengisi dompet Anda?"

Pria itu tersenyum seperti biasa. Senyum yang selalu tampan dan maskulin yang tak bisa ditampik oleh Karin. "Nah, Anda tahu sendiri, kan? Itu sebabnya saya harus memastikan Anda baik-baik saja. Jadi, kalau minggu depan Anda tidak datang ke sini, saya akan mendatangi rumah suami Anda."

"Sinting!" 

Sekali lagi Dokter Brian tersenyum dengan sorot mata bercahaya. Seperti lampu sorot ketika ada konser besar. Terang benderang. Melihat Karin mengumpat, meliriknya dengan gemas, dan mulutnya yang komat-kamit, pria itu justru menganggap Karin makin cantik, makin mempesona, dan makin tertantang untuk merebutnya dari tangan Adam.

"Jadi, kapan Anda pulang?" tanya Dokter Brian sekali lagi dan Karin ingin rasanya menyiram air ke wajah tampan lelaki itu.

***

"Ribut lagi sama Dokter Brian?" tanya Anggun ketika melihat wajah sahabatnya yang masam ketika memasuki mobil. Hari ini dia menyempatkan diri untuk mengantar Karin ke rumah sakit dan memastikan bahwa teman karibnya itu tidak kabur. 

"Rasanya aku ingin sekali membungkam mulutnya yang cerewet itu!"

"Bungkam pakai bibir?" goda Anggun yang tak bisa menyembunyikan tawanya.

"Sialan, lo! Amit-amit, deh!"

"Jangan gitu, Rin. Entar kualat baru tahu rasa. Jadi nih ke perusaah selingkuhan Adam? Kamu gak bercanda kan ingin melamar kerja di sana?"

"Jalan aja deh ke sana. Aku sudah memikirkannya baik-baik."

"Memikirkan jadi OB?" jawab Anggun heran sekaligus kesal. Meskipun mereka bersahabat, Anggun sering tak mengerti jalan pikiran Karin yang terlalu out of the box.

"Emangnya apa lagi yang bisa dilakukan dengan ijazah SMA?"

"Aku lupa kalau kamu DO gara-gara kebelet kawin!"

"Kampret!" umpat Karin yang kini baru menyesali keputusannya dulu. Kenapa dia sampai begitu bodoh untuk berhenti dari kuliah dan memilih untuk menikah dengan Adam.


0 Comments