BAB 18: ISTRI KEDUA SUAMIKU

 


Karin turun dari mobil Anggun yang sengaja diberhentikan di dekat halte bus. Lagipula, mana ada orang yang melamar sebagai office girl turun dari mobil mewah? Kecuali dia mau dibilang selingkuhan bos atau simpanan atasannya, tapi siapa yang mau menjadikan Karin sebagai selingkuhan? Dia tidak lolos kualifikasi sebagai perebut laki orang. 

"Mau dijemput, gak?" tanya Anggun sebelum Karin menutup pintu mobil. 

"Gak usah, deh. Aku bisa pulang sendiri."

"Besok perlu dianter, gak?"

"Boleh, deh. Hemat uang taksi!" celetuk Karin yang bergegas menuju gedung perkantoran milik istri kedua suaminya. Dia yakin kalau Adam tak akan bertemu dengannya karena suaminya pura-pura bekerja sebagai sopir bosnya. Bukan bagian personalia apalagi manager.

Setelah wawancara yang cukup menegangkan, Karin akhirnya keluar dari ruangan personalia lalu mengelap keringat dingin di tangannya. Untung saja syarat mengajukan lamaran tak harus membawa surat tes kesehatan, kalau tidak dia pasti akan gugur sebelum sempat beejuang. Untungnya cuma tes bikin kopi sama teh aja. Kalau itu sih kecil! Karin sudah tamat kalau urusan dunia perdapuran.

"Gimana, Mbak Rin? Keterima?" tanya Dea, teman yang baru ditemuinya hari ini.

Karin menggeleng pelan. "Disuruh nunggu panggilan katanya. Kamu tadi gimana?"

"Sama sih, Mbak. Disuruh nunggu. Aku butuh banget kerjaan, Mbak."

"Tenang aja, kalau rejeki gak akan ke mana, kok. Pulang, yuk."

Karin dan Dea langsung berjalan ke luar gedung dengan perasaan tak menentu pasalnya saingan mereka yang ingin menjadi office girl banyak. Ditambah lagi mereka masih muda, Karin sendiri ciut dibuatnya karena sama sekali belum pernah bekerja. Ditambah lagi penampilannya yang minus. Duh, kalah saing baik dari umur dan fisik. Ia tampak tua, lusuh, dan tak bisa menjaga penampilan. 

"Eh, kamu! Ambilin itu!" kata seorang perempuan yang suaranya sangat asing di telinga Karin, tapi entah kenapa dia ingin menoleh dan ingin tahu siapa yang baru saja memanggilnya. "Iya, kamu. Lemot banget, sih!" sentak Irene yang baru saja turun dari taksi.

Karin berjalan cepat ke arah sapu tangan yang terjantuh di lantai dan buru-buru memberikannya pada Irene. "Ini," katanya dengan suara datar.

"Lain kali kalau disuruh ngambilin itu yang cepet, dong. Belum makan, ya?" Irene langsung berjalan meninggalkan Karin dan begitu melewati tempat sampah, wanita itu berhenti sejenak lalu membuang sapu tangan yang tadi diberikan oleh Karin. 

"Siapa, Mbak? Mbak kenal?" tanya Dea yang penasaran. Baru kali ini dia ketemu wanita yang judes dan sombong begitu. "Pakaiannya sih mentereng, tapi gak tahu terima kasih."

"Bos di sini kali," jawab Karin asal dan saat itulah Irene menoleh ke arahnya hingga mata mereka bertemu. 

***

Karin yang sedang menunggu angkot di pinggir jalan berkali-kali mendesah kesal sekaligus iri. "Wanita itu lebih cantik dariku. Dia terlihat seperti wanita terhormat dan berkelas. Karena itukah Mas Adam tak bisa menolaknya?" gumam Karin sambil menghela napas panjang sekali lagi. Entah kenapa nyalinya langsung menciut ketika sudah melihat Irene. Wanita itu kelihatan cerdas dan jauh berbeda dengan dirinya. Ah, andai saja dia tahu akan begini ceritanya, dia akan meneruskan kuliahnya terlebih dahulu sebelum terjun ke medan perang. Atau minimal minta uang pada ayahnya untuk memperbaiki penampilannya. 

"Lagi nungguin saya?" Suara yang tak asing itu tiba-tiba mampir ke telinga Karin. Suara yang paling ingin dia hindari, tetapi nempel terus seperti perangko. Seketika itu juga Karin menoleh dan seorang pria berpakaian necis dengan wajah sumringah sudah berdiri di sampingnya. "Boleh saya duduk?"

Karin langsung menggeser bokongnya dengan gemas. "Kursi ini milik umum. Dokter bisa duduk di mana pun yang Dokter inginkan."

Jutek dan menggemaskan seperti biasa! Pikir Dokter Brian senang. Dan dua hal itulah yang menjadi daya tarik baginya. "Kalau saya, maunya duduk di pangkuan Anda."

Sialan pria ini! Batin Karin jengkel setengah mati. Terlalu berani. Terlalu arogan. Siapa juga yang mau menjadi tempat duduknya? "Saya pikir Dokter seperti Anda memiliki harga diri."

"Saya rela menjual harga diri saya di hadapan Anda. Jadi, mau makan apa sebelum pulang?"

"Lho, siapa yang makan? Lagipula saya bisa pulang sendiri."

"Masih punya uang?" Dokter Brian melihat Karin tanpa bermaksud melecehkan. 

"Walaupun saya tidak punya uang, saya ogah diantar Dokter Psikopat seperti Anda!"

Sekali lagi Dokter Brian tersenyum lembut. Tanpa merasa tersinggung sedikit pun ia berdiri dan menarik tangan Karin masuk ke dalam mobilnya. Wanita itu hampir menarik tangannya kembali jika saja dia tak melihat angkutan umum yang berjejer di belakang mobil Dokter Brian. 

"Anda melihat supir-supir itu sedang mengamuk, kan? Pasti Anda tak mau saya dihajar masa di sini."

Sialan! Lagi-lagi Karin merasa ditipu dan dengan terpaksa masuk ke dalam mobil lelaki itu. 

0 Comments