Me and Public Library

Public library. Clementy. Singapore

Buku adalah jendela yang membawaku ke dunia lain.

Buku adalah jendela dunia. Aku mengenal pepatah lama itu saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Tinggal di sebuah desa terpencil dan fasilitas yang tidak memadai, membuatku tak suka membaca karena memang tidak ada yang dibaca.

Kemudian aku berpikir benarkah buku adalah jendela untuk melihat dunia? Apakah cukup hanya dengan buku bisa mengetahui ragam bahasa serta budaya dari belahan dunia yang tak pernah melihat dilihat sebelumnya?

Waktu pun terus bergulir hingga aku duduk di sekolah menengah pertama aku tidak juga mengenal buku selain buku-buku pelajaran. Tak pernah datang ke perpustakaan karena memang tak ada perpustaan untuk para murid.

Kemudian aku duduk di bangku sekolah menengah kejuruan. Meskipun di sana ada perpustakaan yang cukup besar dan lengkap, aku jarang menyambanginya untuk membaca. Ketika itu perpustakaan adalah hal yang membosanku buatku. Tidak menarik dan hanya diisi oleh orang-orang yang hanya tertarik pada buku.

Hanya sesekali aku ke perpustakaan untuk membaca novel dan baru sekali meminjam novel untuk dibawa pulang.

Akar novel garapan Dewi Lestari inilah yang menarikku ke dunia lain. Ke tempat antah berantah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Dunia yang asing yang membuatku ingin berlama-lama di sana. Bersama Akar ... bersama Bodi ... keinginanku menjadi seorang penulis mulai muncul.


Mematahkah anggapan bahwa perpustakaan adalah hal kekunoan.

Tadinya kupikir perpustakaan hanyalah tempat di mana manusia kutu buku berkumpul. Tempat orang-orang yang memiliki kecerdasan intelektual. Tapi ternyata aku salah karena sudah tersesat dengan pemikiranku sendiri. Perpustakaan tak hanya tentang buku dan membaca ... tapi di sana adalah surga ... surga dunia yang bisa didatangi manusia kapan saja ia inginkan.


Seperti di Unsyiah misalnya. Perpustakaan tak hanya dijadikan tempat membaca bagi mahasiswa. Stereotip masyarakat kebanyakan yang berpikiran bahwa perpustakaan adalah tempat membosankan dan kuno didobrak oleh UPT Perpustakaan Unsyiah yang memberi wadah bagi para mahasiswa yang ingin menyalurkan bakatnya untuk tampil di acara Relax and Easy  yang diadakan di Libri Cafe, UPT. Perpustakaan Unsyiah.

Selain itu hal yang menakjubkan lainnya adalah diadakannya Unsyiah Library Fiesta 2019. Buatku sendiri hal ini adalah sesuatu yang luar biasa. Di luar sana, banyak sekali mahasiswa yang lebih asik dengan dunia nongkrongnya, sosial media, game, dan juga kegiatan-kegiatan negatif yang sama sekali tidak bermanfaat. Tetapi, di Unsyiah segenap mahasiswa berjibaku agar orang-orang sadar akan pentingnya pembaca dan melakukan tindakan secara nyata.

Perpustakaan yang mengubah pola pikirku.

Empat tahun lalu aku mulai bekerja di Singapura. Ketika hari libur aku tak memiliki kegiatan dan tujuan yang jelas. Daripada hanya menghabiskan waktu di taman dan hanya duduk-duduk, aku memutuskan untuk mencari perpustakaan terdekat. Beruntung sekali karena ada perpustakaan umum di pusat perbelanjaan dekat rumah. Terus terang, baru pertama kali itu aku melihat perpustakaan yang bukan hanya bagus tetapi juga mewah dan modern.

Perpustakaan itu seperti surga dunia. Dipenuhi warna-warni sampul buku, ruangan yang nyaman, dan yang tak kalah menarik adalah buku-buku dari banyak bahasa menjadi satu di situ.



Bagi pengunjung yang hanya ingin bersantai sambil membaca majalah atau koran jangan khawatir karena perpustakan ini menyediakan fasilitas tersebut.


Ketika lelah melanda dan sedang tidak ingin membaca, biasanya aku akan mencari tempat duduk di pojokan yang sepi kemudian perlahan memejamkan mata untuk beberapa jam. Suasana tenang, tempat nyaman, sangat cocok sebagai tempat beristirahat atau menepi dari hiruk pikuk ramainya dunia. 

Buku adalah teman bermain yang menyenangkan.

Di Singapura, anak-anak sudah dikenalkan pada buku. Orangtua mulai memberikan buku sebagai hadiah ulangtahun ataupun hari khusus lainnya. Ketika hari libur atau jam pulang sekolah, perpustakaan akan dipenuhi oleh anak-anak. 


Mereka tak hanya membaca di sana. Namun juga bermain dan juga berinteraksi dengan teman-teman sebayanya. 


Dunia dalam satu ruang.

Singapore adalah negara yang dihuni oleh manusia dari berbagai macam etnik, budaya dan bahasa. Itu sebabnya setiap public library memiliki buku-buku dari macam-bahasa.

Ada Tamil, Melayu, Inggris, Tagalog dan Cina.





Selain itu untuk memudahkan para pengunjung, perpustakaan dilengkapi dengan beberapa perangkat PC guna mengakses buku-buku yang tersedia dan bagi yang ingin membaca buku secara online.






Perpustakaan mengubah pola pikirku. Perpustakaan jugalah yang membangkitkan gairahku untuk tetap membaca dan belajar menulis. Perpustakaan tak lagi menjadi tempat yang membosankan. Kini perpustakaan menjadi rumah, surga, dan juga tempat rekreasi terbaik. (*)






0 Comments