Kapan Hamil? (Bab 1)

 

Kapan nikah
Suara kecipak dari tubuh Virna dan Tiger yang bertabrakan terdengar memenuhi kamar hotel yang mereka habiskan selama seminggu terakhir di kota Seoul, Korea Selatan. Decitan serta getaran tempat tidur pun mengiringi bulan madu mereka yang seakan tak berujung.


Napas mereka memburu, dan desahan serta erangan keduanya saling bersahutan. Terdengar mesra dan kenikmatan yang dirasakan setiap kali Tiger menghujamkan dirinya ke dalam mulut rahim Virna membuat perempuan itu semakin tak berdaya. Lelah, namun setiap gesekan yang ditimbulkan terasa nikmat luar biasa. Di atas tempat tidur, Tiger memang tak pernah mengecewakan.


Sejak menikah hingga usia kehamilan Tara memasuki usia sembilan bulan dan mendekati hari-hari kelahiran si jabang bayi, mereka berdua berkeliling dunia mulai dari benu Amerika, Afrika dan Asia.


Tentu saja perjalanan ini bukan sepenuhnya bulan madu melainkan sudah menjadi tugas Tiger sebagai wakil pimpinan Eternal untuk mengembangkan bisnis di seantero jagad raya karena Raymond setelah perjalanannya terakhir kali dari Mesir, ia memutuskan untuk menjadi full time husband yang mendedikasikan dirinya sebagai suami sekaligus sebagai calon ayah yang baik. Setiap hari yang dilakukanya hanya menemani istrinya. Mulai dari berbelanja, mendekorasi kamar, dan juga mengikuti kelas yoga sebagai persiapan sebelum melahirkan.


"Sweethart!" teriak Tiger ketika gerakan bokongnya yang liat dipercepat lalu tubuhnya mengejang dan semua cairan miliknya tertumpah ruah di dalam rahim milik Virna. Tubuhnya langsung jatuh di atas Virna yang sudah mengalami betapa indah sekaligus melelahkanya malam ini. Suaminya membuat dia berkali-kali berada di awan atas nikmat yang diberikan. Dan malam ini, sudah ketiga kalinya bagi Tiger. Sedangkan untuk Virna, tak terhitung lagi berapa kali tubuhnya gemetar ketika Tiger mencumbunya, menyentuh setiap lekuk tubuhnya yang molek.


"Aku mencintaimu." Tiger berkata lembut kemudian menjatuhkan dirinya ke samping. Diambilnya selimut untuk menutupi tubuh Virna yang tak mampu lagi bergerak. Napasnya tersengal dan pandangan matanya sayu.


"Jika aku mandul, apa kamu tetap mencintaiku?" tanya Virna dengan air mata yang mengambang di pelupuk netranya lalu berpaling membelakangi suami yang sudah dinikahi lebih dari setengah tahun.


Pernikahannya dengan Tiger adalah hal luar biasa dalam hidup Virna. Pria itu, meskipun memiliki usia yang lebih muda darinya, dalam banyak hal, Tiger menunjukkan sikapnya sebagi suami yang bertanggung jawab.


"Ssstttt! Jangan bicarakan itu lagi. Aku akan tetap mencintaimu dengan atau tanpa anak!" Tiger membalikkan tubuh Virna kemudian mengecup kedua matanya yang telah basah. Dia tahu kesedihan Virna karena sampai sekarang, istrinya tak kunjung hamil. "Kau yang terbaik, sweethart!" ucap Tiger lagi kemudian mendekap istrinya dalam-dalam.


"Bukankah kamu menginginkan banyak anak?" tanya Virna sesenggukan dan dengan suara yang serak. Jauh di dalam hatinya, Virna takut kalau rumah tangganya akan kandas lagi untuk yang kedua kalinya.


"Sekarang aku tidak peduli. Aku hanya membutuhkan dan menginginkanmu. Berjanjilah padaku jangan membicarakan lagi tentang anak!" ucap Tiger tegas sembari mengelus rambut istrinya istrinya yang basah oleh keringat.


Tiger melepaskan pelukannya lalu menatap langsung ke dalam bola mata Virna dan menunggu jawaban darinya. Sebagai pria, yang diinginkan Tiger hanya kebahagiaan istrinya, bukan yang lain. Kalaupun memang Virna mandul, ia akan mengadopsi anak sebanyak-banyaknya. Dia tak ingin orang yang dikasihi terbebani oleh hal sepele. Ya, bagi Tiger anak adalah nomor dua karena yang nomor satu adalah istrinya.


"Janji," balas Virna lirih namun tak yakin dengan apa yang barusan keluar dari mulutnya sendiri. Ia takut tak akan sanggup menepatinya.


*****


"Tarik napas perlahan dan dorong. Dua lagi, Tara. Kamu pasti bisa! Kepalanya sudah mulai terlihat," instruksi Hilma yang membantu Tara melahirkan. Untunglah persalinan Tara termasuk lancar karena sejak awal keadaan jabang bayi sehat dan tidak ada masalah. Selain itu, fisik Tara yang kuat tidak menghalangi untuk melahirkan normal.


"Kau pasti bisa, sayang!" ucap Raymond yang menggenggam erat tangan istrinya. Sesekali ia juga mengelap keringat di dahi Tara. Raymond tak henti-hentinya menjaga istrinya apalagi ketika kehamilan menginjak usia sembilan bulan. Dia menjadi suami yang cerewet dan over protective.


"Kalau tahu akan sakit begini, harusnya kamu saja melahirkan!" balas Tara terengah-engah. Ia menarik napas panjang dan berusaha mendorong bayinya agar cepat keluar. "Setelah ini, aku tidak mau hamil lagi!" protes Tara lagi yang membuat perawat dan dokter yang ada di ruangan itu tertawa.


"Aaaaa! Ya Tuhan!" teriak Tara yang merasa sakit luar biasa dan seperti ingin buang air besar untuk ketiga kalinya. Dia tidak menyangka bahwa tugas seorang ibu sangat berat seperti ini. Rasa sakit dan lelahnya bahkan tak sebanding pada saat ia berlari mengelilingi stadiun saat SMA dulu.


"Kamu pasti bisa, sayang. Aku yakin kau kuat."


"Aaaa! Ini semua salahmu! Kalau bukan karena perbuatanmu aku pasti tidak akan hamil!!"


"Memang salahku ...," balas Raymond mendekap kepala istrinya yang sedang mengambil napas dan bersiap lagi untuk mendorong keluar bayinya. Di dalam hatinya, ia tak ingin lagi istrinya hamil. Cukup sekali saja. Melihat betapa sakit istrinya yang berjuang demi anak-anaknya, hatinya terasa ngilu dan perih.


Hampir lima menit Tara berjuang di dunia peperangan, kepala bayi mungil itu mulai terlihat dan Tara pun bisa merasakannya. Tara mengambil napas lagi dan mendorongnya kuat-kuat. Vulva pun seketika itu terbuka serta perineum meregang hingga akhirnya suara tangis bayi yang ke-tiga pun terdengar.


Tidak hanya bayi itu saja yang menangis, tetapi Tara dan Raymond yang sedang berpelukan tak mau kalah. Rasa haru dan kebahagiaan bercampur menjadi satu.


"Jagoan lagi! Sehat dan montok!" ucap Hilma yang baru saja selesai memotong tali pusar dan menaruh Raymond junior di dada ibunya yang sedang bertelanjang. Tara langsung menciumnya, mengelus tubuhnya yang rapuh dan kemerahan. Ia memegang tangannya yang mungil dan bibirnya yang kemerahan. Tampan, persis seperti ayahnya. Sementara Raymond tak berhenti mengelus kepala istrinya dan memandangi jagoan ciliknya yang ketiga. Dadanya seperti ingin meledak ketika menyentuh kulit bayinya yang halus. Inikah rasanya menjadi seorang ayah?


"Terima kasih, sayang telah berusaha dengan keras," ucap Raymond pelan sesaat sebelum Tara merasakan kontraksi lagi. Perawat buru-buru mengambil bayi yang ada dalam gendongannya dan Tara mulai mengambil napas lagi. Tangannya menggenggam erat tangan suaminya yang sudah lama menantikan kelahiran anak-anak mereka. Pria itu lah yang paling was-was ketika usia kehamilan istrinya makin bertambah.


"Bagus, Tara ... anak perempuanmu seperti tak sabar lagi ingin keluar," kata Hilma yang melihat kepala bayi mulai muncul dari garba disusul tubuh dan kakinya. Bayi yang cantik dan suara tangisnya pun memenuhi ruang bersalin khusus yang Raymond siapkan untuknya.


"Hmm ... baguslah, Hilma. Dia tahu kalau ibunya sudah kelelahan," jawab Tara lemah sesaat sebelum dia kehabisan tenaga dan mulai memejamkan mata perlahan dibarengi darah yang tiba-tiba keluar begitu banyak dan seketika itu Hilma menjadi panik. Diserahkannya bayi yang ada di tangannya pada perawat dan mulai mengambi tindakan. Sedangkan Raymond, cemas bukan main melihat istrinya tiba-tiba pingsan.


"Sayang ... sayang ... bangunlah." Raymond mengecupi pipi istrinya, membelai rambut dan mengelap keringat di dahinya namun Tara sama sekali tidak menyahut. Dia kehilangan kesadaran.


"Pak, Ray. Tolong keluar dari ruangan," pinta seorang dokter lain yang sejak tadi ada di belakangnya. Sedangkan perawat dan Hilma mulai sibuk memeriksa Tara dan berusaha menghentikan pendarahan yang terjadi.


Dengan berat hati Raymond meninggalkan istrinya dan hanya mondar-mandir di depan ruang persalinan. Mama dan Papa serta Bibi tak hentinya berdoa karena takut terjadi sesuatu. Dari semua kasus kematian saat melahirkan, pendarahan pasca melahirkan adalah menyumbang kematian yang cukup banyak yaitu sebesar dua puluh tujuh persen kemudian disusul oleh tekanan darah tinggi dan preeklampsia, Pulmonary Embolism (darah beku di paru-paru).


"Duduklah, Ray. Istrimu pasti baik-baik, saja," kata Mama lembut berusaha menenangkan menantunya meski ia sendiri pun merasa cemas. Dia takut kalau terjadi sesuatu pada anaknya. Lalu, bagaimana nasib ke-empat bayinya yang baru saja menghirup udara di dunia yang fana ini?

🍁

Bersambung ....








Post a comment

2 Comments

  1. haloooooo tara raymonkuuuuh

    Akhirnya kita kembali bertemuuuuhh...


    kangeeeeeeen kalian semuaaaaa....

    Wuuuuft yuuuuuuuh 😘😘😘😘😘

    ReplyDelete
  2. Owh ktmu skrg..😀😀😀,aku cari2

    ReplyDelete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)