Seni Untuk Bersikap Tidak Peduli.

Stress media sosial
Image : Visme


Pernah gak teman-teman mikir gini? " Jaman makin modern, apa-apa makin gampang karena serba online, kok ya makin banyak orang ngawur, orang stress?"

Kalau pernah berpikir seperti itu, atau jangan-jangan justru kita yang berada di lingkaran orang-orang yang menjuluki dirinya modern, milenial, tapi stress makin hari malah bertambah tanpa disadari? Ok, fix. Kita ada di zona yang sama. Hahaha

Media sosial adalah penyebab stress yang tak ketara. 

Jaman sekarang, perempuan mana sih yang tidak punya akun media sosial. Ya, kan?

Mau itu Facebook, Youtube, Instagram, Twitter, Whatsapp, atau sosial media lainnya, pasti kaum hawa memiliki salah satu diantaranya. Bahkan, ada juga yang punya semuanya (termasuk yang nulis ini).

Media sosial yang sedang menjadi trend saat ini memang dapat memberikan banyak efek positif. Selain untuk berinteraksi dengan kawan-kawan lama dan jauh, juga bisa mendatangkan nilai ekonomis.

Baca juga : International Happy Day. Sudahkah Kamu Bahagia?

Lah, masalahnya tuh efek positif ini juga diimbangi dengan efek negatif yang ditimbulkan.

Pernah tidak kita menyadarinya? Soal yang umum saja deh, cepat merebaknya info-info hoax yang berimbas di dunia nyata.

Contoh kasus yang pernah terjadi; Di Facebook tersebar berita bahwa penculik anak-anak jaman now mereka menyamar menjadi pengemis.

Karena netizen menelan berita ini mentah-mentah, akhirnya saat ada pengemis beneran lewat di sekitar mereka, habis deh tuh pengemis dihakimi masa.

Namun, ada juga efek yang lebih parah dan sulit disembuhkan bagi personal pengguna medsos itu sendiri. Yang paling sering dan aku sendiri pernah merasakannya adalah stress media sosial.

Sebenarnya, stress media sosial itu seperti pa, sih?

Aku yakin pasti ada beberapa teman cantiks yang mungkin tidak sengaja membaca sebuah artikel yang lewat beranda yang intinya begini, "Terlalu sering selfie dan menguploadnya ke media sosial adalah salah satu tanda mental illness."

Ketika pertama kali aku membaca artikel itu, aku jadi gregetan. Jengkel. Jadi berpikir bahwa dasar artikel ngawur.

Lambat laun, aku terlalu aktif di media sosial. Tiap beberapa menit sekali upload foto dengan berbagai pose. Tujuannya apa? Ya, biar dapat like, biar dipuji, biar happy.  Dan uppps. Ok. Saat itu aku sudah terkena stress media sosial tapi tidak sadar.

Apakah kebiasaanku di media sosial berpengaruh di dunia nyata? Jawabannya adalah iya!

Baca juga : Puasa Sosial Media

Well, jika kamu mengalami hal sepertiku di atas, upload foto setiap saat, nyetatus-nyetatus gak jelas dan mengomentari hal apapun yang sedang trend, ngerumpi online sana-sini, mengharapkan banyak like komentar dan share, sedih kalau gak ada yang like, sedih kalau kamu gak punya banyak teman di media sosial dan bisa hahahihi dengan mereka, maka lakukan salah satu hal berikut; puasa media sosial atau lakukan seni untuk bersikap tidak peduli.

Apa itu seni untuk bersikap tidak peduli?

Bersikap tidak peduli di sini bukan berarti kita harus cuek dengan keadaan sekitar dan dengan apa yang sedang terjadi. Bukan itu. Tetapi lebih ke sikap masa bodo, tentang apa-apa yang sedang trend di media sosial.

Seperti contoh; Belakangan sedang trend artis yang tidak bisa mengupas salak. Netizen penghuni jagat maya berbondong-bondong menanggapi hal itu baik di kolom-kolom komentar maupun bikin postingan yang super duper panjang. Dan endingnya, ghibah online berjamaah.

Hal-hal semacam ini lah yang harus dikurang-kurangi. Yang harus dicueki. Yang harus tidak dipedulikan. Sebab apa? karena tidak bersinggungan langsung dengan kehidupan kita. Tidak penting. Lalu kenapa kita harus berjam-jam, bahkan berhari-hari membuang waktu, tenaga, dan pikiran untuk menanggapi hal semacam ini? Think about it. (*)

Post a comment

0 Comments