Jangan Abaikan Sakit Kepala Pada Anak. Hati-hati Kanker Otak.

Kanker otak pada anak
Image : Visme


Beberapa minggu terakhir entah kenapa aku sering terbayang dengan sosok keponakan yang meninggal sekitar 4 tahun lalu karena kanker otak. Saat menuliskan hal ini aku berharap mudah-mudahan diluar sana tidak ada lagi anak yang mengalami hal sama seperti Echa dan juga sebagai pengingat untuk orangtua yang membaca tulisan ini agar lebih peduli dan  jangan abaikan sakit kepala pada anak kita.

Keysha atau yang biasa dipanggil Echa.

Terakhir ketemu Echa usia gadis cilik penyuka makanan pedas itu berusia sekitar 5 tahun. Kulitnya sawo matang, hidung pesek, dan rambutnya keriting. Mengingatkanku ketika masih kecil dulu.

Meskipun anak bungsu, Echa terbilang dewasa dan mandiri dibanding anak seumurannya. Dia tahu bagaimana cara mencuci piring, mau membantu menyapu dan bisa membereskan tempat tidurnya sendiri

Sebelum didiagnosa kanker otak stadium akhir, Echa memang sering mengeluhkan sakit kepala. Tapi terkadang kita sebagai orangtua menganggap anak itu bercanda atau hanya cari-cari perhatian. Hingga suatu ketika dia tidak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata kanker otak yang diderita sudah stadium akhir. 

Betapa hancurnya hati orangtua dan juga keluarga. Sedih, menyesal, dan merasa menjadi orangtua yang gagal. Orang-orang di sekitarnya pun termasuk yang larut dalam penyesalan. Kenapa kok sampai gak tahu? Tidak sadar? Padahal kanker otak berkembangnya sangat lama untuk mencapai tahap akhir.

Membayangkan bagaimana rambutnya digunduli, tubuh kurusnya makin hari makin tinggal tulang, menyisakan luka yang dalam bagi yang ditinggalkan. Dan semoga sedikit tulisan dari kisah Echa mampu menjadi pelajaran bagi kita orang dewasa khususnya orangtua agar lebih percaya pada keluhan anak-anak. 

Oh, ya. Mungkin ada yang pernah membaca/menonton berita yang intinya begini : Seorang anak dilarikan ke RS setelah dipukuli teman-temannya di bagian dada. Si anak sering bilang pada ibunya bahwa dadanya sakit namun ibunya menganggap anaknya hanya mencari perhatian.

Dari semua hal di atas, sebagai orang dewasa ternyata kita belum sepenuhnya mampu menjadi orangtua yang mampu mengerti anak dan menganggap anak hanya butuh perhatian. Padahal, anak juga butuh untuk didengarkan dan dipahami. (*)

Post a comment

0 Comments