Cerpen: Dekade


Morfeus publisher


10 tahun sudah kulalui bahtera rumah tangga ini bersamanya.


Selama 1 dasawarsa aku setia kepada pria yang berstatus sebagai suamiku.


Tidak! Aku ralat! Selama 1 dekade aku melayani laki-laki arrogant dan manja yang tidak bisa lepas dari ketiak kedua orangtuanya.


Bahkan membiarkanku menjadi babu mereka dengan alasan pengabdian kepada dua orang yang lebih tua, yang telah melahirkan dan membesarkan sosok pria yang kini menjadi kepala rumah tangga di pernikahanku.


Aku lakukan apa yang suamiku mau, aku kerjakan apa yang kedua orangtuanya perintahkan, tanpa mengeluh, tanpa melawan. Walau seringkali ucapan mereka menyakitkan hatiku, dan perilaku mereka semena-mena terhadapku.


Aku telan semuanya, aku pendam rasa kesal dan getirku dalam-dalam. Aku sembunyikan air mataku. Kuingat pesan kedua orangtuaku saat aku hendak menikah, untuk kelak selalu patuh dan setia kepada suamiku.


Kulakukan hal itu dengan baik. Oh ya! Mungkin aku adalah istri yang paling patuh, walaupun batinku tersiksa. Tidak sekalipun aku berkeluh kesah kepada kedua orangtuaku. Tidak sepatah kata aku ucapkan kejelekkan tentang suami dan mertuaku kepada siapapun.


Namun mengapa aku selalu salah di mata mereka, sampai hal ini terjadi lagi.


Persidangan keluarga.


“Mas, mau kemana?” tanyaku pada pria bernama Jefri, yang juga merupakan suamiku.


“Aku mau menemani Farhan,” kata Jefri.


“Farhan lagi anteng main game di kamarnya.. Katanya, Mas mau kita menyelesaikan permasalahan ini,” ujarku padanya.


“Iya, makanya kamu ngobrol saja dengan Ibu dan Ayah, mereka akan membantu kita menyelesaikannya,” ujar suamiku itu.


Itulah Jefri, suamiku yang tampan dan pengecut. Setiap kali ada permasalahan di rumah tangga kami, yang dirasa terlalu berat baginya, dia akan mengadu kepada kedua orangtuanya. Kemudian orangtuanya itu akan mengajakku mengobrol.


Dalih berdiskusi untuk membantu kami, anak dan mantunya, menyelesaikan urusan rumah tangga kami. Namun nyatanya adalah momen dimana kata menasihati menjadi samaran belaka, karena yang mereka lakukan pada akhirnya adalah membela anak lelakinya sembari melimpahkan semua kesalahan kepadaku.


Aku ingin Jefri berada di ruang keluarga ini, karena ini adalah pertikaian rumah tangga kami yang sudah berulang kali terjadi sampai berlarut-larut. Jadi aku berusaha menahannya, “Tapi Mas…”


“Sudahlah Mir! Biarkan Jefri menemani Farhan!” tiba-tiba suara Ibu Mertuaku memotong ucapanku tadi.


“Lagipula kamu tidak akan mau kan Farhan tiba-tiba keluar dari kamar dan mendengar pembicaraan ini,” Ayah mertuaku menambahkan.


Farhan adalah nama seorang anak lelaki berumur 9 tahun, yang lahir dari rahimku. Yang memiliki senyum sumringah disertai sikap yang ramah dan selalu ceria. Putraku satu-satunya, dia adalah pelipur lara untukku, sumber kekuatanku yang membuatku rela melakukan apapun untuknya.


“Apa kamu tidak ingat, bagaimana Farhan menangis histeris sewaktu pernah mendengar kita bertengkar?” hardik Jefri kepadaku.


“Aku ingat Mas,” jawabku pelan.


“Ya sudah Jefri, kamu temani Farhan.. Ibu dan Ayah akan urus dia,” ujar Ibu mertuaku dengan ketus, seolah-olah diriku ini bukanlah anak mantunya.


Aku melihat Jefri berjalan sembari menatapku dengan sinis, seolah-olah dia merasa jijik kepadaku. Segera saja kualihkan pandanganku darinya, hatiku terlampau nyeri menerima tatapan seperti itu dari pria yang dulu pernah mengejarku sampai akhirnya aku menerima cintanya.


Setelah beberapa saat, aku menoleh lagi dan melihat suamiku menaiki tangga menuju lantai 2. Tempat dimana aku, suami dan anak kami tinggal selama 10 tahun di rumah mertuaku ini.


Sejak awal menikah, aku dan suamiku tinggal menumpang disini, karena kami belum mampu untuk membeli rumah. Aku sempat ingin mengontrak, namun kedua mertuaku mencegahnya, dengan alasan uangnya lebih baik ditabung untuk uang muka pembelian rumah. Namun karena berbagai hal yang terjadi selama 10 tahun ini, jangankan rumah, tabungan saja kami tidak punya.


“Ehem,” suara berdeham dari Ayah mertua, mengalihkan perhatianku.


“Jadi Almira, sebenarnya ada masalah apa lagi diantara kamu dan Jefri?” tanya Ibu mertuaku yang kini duduk di sofa empuk bersebelahan dengan Ayah mertuaku.


Keduanya menatapku yang duduk berseberangan dengan mereka, lekat-lekat, seolah-olah aku adalah seorang mangsa dan mereka adalah sang predator.


Akhirnya persidangan ini dimulai, ucapku di dalam hati. Ingin aku menghela nafas panjang, namun hal itu tidak mungkin kulakukan.


“Sudah satu bulan ini Mas Jefri bersikap dingin kepadaku,” aku menjawab.


“Kamu pikir kenapa Jefri bisa sampai bersikap seperti itu kepadamu?” tanya Ibu mertuaku lagi.


“Aku juga tidak mengerti Bu..”


“Kamu melakukan apa sebulan yang lalu?” potong Ayah mertuaku.


“Bila kuingat-ingat lagi, hal ini dimulai saat aku ditugaskan untuk dinas keluar kota, selama tiga hari,” aku berkata.


“Berarti kamu melalaikan tugasmu sebagai istri, wajar saja Jefri marah,” tukas Ayah mertuaku.


“Seharusnya kamu bisa menolak tugas keluar kota itu,” Ibu mertuaku menambahkan.


“Aku tidak mungkin menolaknya, karena aku sekarang kepala departemennya,” aku mencoba menjelaskan.


“Sombong kamu! Mentang-mentang sekarang karirmu sedang naik daun, melebihi anakku, kamu jadi berbuat seenak jidatmu! Bahkan sampai tidak mengurusi suami dan anakmu!” hardik Ibu mertuaku.


“Aku tidak bermaksud seperti itu Bu.. Bahkan aku sudah menyiapkan keperluan Mas Jefri dan Farhan untuk selama 3 hari aku berdinas keluar kota, termasuk makanan yang sudah kumasak dan kusimpan di dalam kulkas, sehingga Mas Jefri dan Farhan tinggal menghangatkannya saja di microwave ketika merasa lapar,” ujarku membela diri.


“Jadi maksudmu anak dan cucuku harus makan makanan yang sudah lama tersimpan di dalam kulkas? Apakah kamu tidak berpikir masakanmu itu akan basi?” seperti biasa Ibu mertuaku mencoba mencari kesalahanku.


“Aku yakin telah memasaknya dengan baik, sehingga makanan itu bisa bertahan sampai…”


“Kamu pikir Ibu tidak mengeceknya dulu sebelum memberikannya pada Jefri dan Farhan, semuanya basi, jadi mubazir!” potong Ibu mertuaku.


“Tapi itu tidak mungk….” gumamku sembari menyadari ternyata ibu mertuaku yang membuang semua masakan yang telah kusiapkan, sehingga Mas Jefri saat itu semakin marah karena berpikir aku tidak mempersiapkan kebutuhannya.


“Kalau Ayah amati dari permasalahan kalian yang seringkali berulang, intinya adalah kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, sampai tidak memperhatikan suami dan anakmu,” tuduhan Ayah mertuaku ini sangat membuatku geram. Ingin rasanya aku memaki mereka berdua.


“Jadi sebaiknya kamu berhenti bekerja,” Ayah mertuaku menambahkan.


“Aku tidak mau dan tidak bisa berhenti bekerja,” ujarku.


“Lancang! Apa bekerja bagimu lebih penting dari mengurus suami dan anakmu?” hardik ibu mertuaku.


“Aku tidak bermaksud lancang Bu, namun apakah Ibu dan Ayah tidak ingat, dulu di awal pernikahanku dengan Mas Jefri, aku berhenti bekerja.. Sampai akhirnya kami harus meminjam uang dari Ibu dan Ayah, karena gaji Mas Jefri tidak mencukupi kebutuhan kami, dan saat itu, Ibu dan Ayah juga mengatakan jika diriku ini sarjana gagal, karena tidak bisa membantu suamiku mencari uang,” aku berkata sembari berusaha menahan tangis dan amarahku.


“Jadi kamu menyalahkan kami?! Kamu ini bisanya melawan saja! Tidak mau patuh pada omongan orangtua!” Ibu mertuaku berteriak.


“Sudah Bu, jangan terpancing emosi.. Ibu juga kan sudah tahu, jika Almira ini dari dulu memang selalu ngeyel,” ujar Ayah mertuaku.


“Ini akibat dulu terlalu dimanja oleh orangtuanya!” Ibu mertuaku menimpali.


Ingin rasanya aku menjerit, namun sekuat tenaga aku menahan lonjakan emosi di dalam batinku.


“Begini saja, karena pertengkaran diantara kamu dan Jefri seringkali berulang, dengan berbagai permasalahan yang tidak jelas karena ulahmu.. Jadi kamu sekarang maunya bagaimana?” Ayah mertuaku bertanya dan tentunya tidak lupa menyalahkan diriku sebagai penyulut permasalahan.


Sambil menahan tangis, aku berkata, “Sebenarnya Mas Jefri sudah pernah mengusirku.. Pertama melalui kolom chat saat aku sedang berada di luar kota, kedua saat aku baru saja pulang dari dinas tersebut.”


Aku berhenti sejenak, berusaha mengontrol rasa yang semakin menyesak di dadaku, “Sejak saat itu, kami berdua hanya saling berinteraksi seperlunya, kami bahkan telah pisah ranjang.. Aku selalu tidur bersama Farhan.. Aku sudah mencoba mengajak Mas Jefri bicara berdua demi memperbaiki hubungan kami, namun sepertinya sudah tidak ada itikad baik dari Mas Jefri.. Oleh karena itu, aku hanya memohon supaya aku dikembalikan saja ke orangtuaku.”


“Kamu mau bercerai dengan Jefri?!” pekik Ibu mertuaku.


Aku menganggukan kepalaku pelan, membenarkan pertanyaan ibu mertuaku, walaupun di dalam hati, rasanya sangat nyeri.


“Hanya hak asuh Farhan yang aku minta… Aku tidak menginginkan harta gono gini atau apapun juga dari Mas Jefri,” ujarku sembari menundukkan kepala, dan mengusap air mata yang mulai menetes di kedua pipiku.


Kedua mertuaku terdiam selama beberapa saat, aku tidak tahu bagaimana reaksi di wajah mereka, karena aku masih sibuk berusaha mengontrol emosi di dalam diriku sendiri.


“Baiklah kalau begitu,” ujar Ayah mertuaku tiba-tiba, membuatku mendongak seketika karena mereka menyetujui permohonanku.


“Tapi kamu yang harus mengurus semua proses perceraianmu dengan Jefri, mulai dari pengajuan sampai semuanya beres,” kata Ayah mertuaku.


“Kamu juga tahu kan, jika Jefri yang mengajukan perceraian, maka hal itu akan mencoreng nama baiknya dan merusak karirnya,” Ibu mertuaku menambahkan.


Tentunya diriku sudah menduga akan hal ini, mereka tidak akan mau direpotkan apalagi disalahkan. Mereka lebih memilih terlihat sebagai korban dan membuat diriku terlihat sebagai penjahatnya.


Namun tak mengapa, 1 dekade sudah aku mencintai suamiku walaupun diri ini merasa terpuruk, dan kini saatnya aku melepaskannya.


Akhirnya dengan berat hati, disertai kegetiran yang semakin menyesak di dalam dada, aku masih memenuhi keinginan mereka, dan berkata, “Baiklah.”


***Tamat




Bio Penulis


Samukti, lahir dan besar di kota kembang. Saat ini tinggal di kampung sebelah. Hobi membaca, menonton film dan berkhayal. Situasi pandemik mencetuskan ide untuk menuangkan khayalannya ke dalam bentuk tulisan, dan berharap karya-karya sederhananya dapat dibaca serta disukai banyak orang.

0 Comments