Bening. Bab 23

 


Bab. 23

Opa vs cucu.


"Arga apa kau serius dengan ucapanmu itu. Kau tidak sedang becanda 'kan?!"


"Arga serius Opa. Arga ingin menikah. Bukankah ini juga kemauan Opa dan Papi sejak lama?!"


"Iya tapi mengapa mendadak sekali. Apa sebenarnya yang sedang kau rencanakan?" Pria tua itu memicingkan mata curiga.


Kali ini Raka setuju dengan dugaan Tuan sepuhnya. Pasti ada yang direncanakan oleh sahabat sekaligus bosnya itu. Bagaimana bisa dengan  tiba-tiba Arga mengubah prinsip hidupnya yaitu MENIKAH, satu kata yang dulu membuat pemuda itu begitu alergi. Bukankah itu hal yang sangat aneh? Jadi sudah sepantasnya mereka merasa curiga.


Apapun alasannya Raka akan mencari tahu nanti. Apakah semua ini ada hubungannya dengan gadis yang pernah menjadi topik pembicaraan Ibu dan anak itu tadi malam? Entah lah semuanya masih tampak abu-abu di benak Raka.


"Cih! Merencanakan sesuatu apa? Yang benar saja. Terserah Opa mau percaya atau tidak yang pasti Arga sudah memutuskan-nya!" Arga berdecih tak terima dengan tuduhan sang Opa. Walaupun sebenarnya memang begitu lah adanya. Tapi mana mungkin ia akan mengaku. Yang benar saja!


"Baiklah anggap saja Opa percaya padamu. Boleh Opa tahu dengan siapa kau akan menikah? Ingat Arga tidak sembarang wanita bisa menjadi menantu keluarga Ramiro!" Sang Opa memberikan ultimatum.


"Opa tidak perlu khawatir. Karena Opa akan langsung menyukainya saat bertemu dengannya nanti!"


"Sepercaya diri itu kah dirimu. Apa yang membuatmu seyakin itu Arga. Bagaimana jika nanti Opa menolak gadis itu?"


Tuan sepuh Syarief tampak menelisik keseriusan di wajah sang cucu. Namun, sepertinya cucu semata wayangnya itu memang tidak main-main dengan ucapannya.


"Kita lihat saja nanti Opa!"


Tingginya kepercayaan diri yang dimiliki Arga tak lain dan tak bukan adalah salah satu sifat yang diwariskan oleh pria tua itu. Karena darah keturunan Ramiro merupakan orang-orang pilihan dan luar biasa. Berwibawa dan disegani kawan maupun lawan.


Raja dunia bisnis dalam berbagai sektor perekonomian baik dalam maupun luar negeri. Maka dari itu mereka bisa membangun dinasti Ramiro menjadi seperti saat ini.


"Baik lah Opa percaya, tidak ada yang bisa meragukan keturunan Ramiro. Bawa gadis itu bertemu dengan Opa secepatnya!"


"Tentu, tapi setelah Opa keluar dari tempat terkutuk ini!"


"Sorry Ga, Opa harus segera diperiksa oleh Dokter!" Raka tampak menyelah perdebatan cucu dan kakek itu, sembari menunjuk keberadaan sang dokter yang tengah berdiri di sudut ruangan. Entah sudah berapa lama para tenaga medis itu berdiri di sana.


Menyadari keberadaan beberapa orang yang berdiri memaku di sana, membuat Arga melayangkan protes kepada sahabatnya itu.


"Kenapa loe nggak bilang dari tadi sih, Rak?" 


"Gimana mau bilang, loe-nya serius banget sama Opa. Sudah-sudah biarkan mereka melakukan tugasnya dulu! Dokter silahkan melakukan pemeriksaan terhadap Tuan sepuh!"


"Maaf Opa biarkan dokter memeriksa anda sebentar!"


Dokter senior rumah sakit ini pun mendekat dan mulai melakukan tugasnya dibantu oleh beberapa perawat.


"Selamat pagi Tuan sepuh. Bagaimana perasaan anda sekarang. Apa ada yang dikeluhkan?" tanya sang dokter ramah sembari mengeluarkan stetoskop dari saku jas dokternya.


"Saya sudah merasa lebih baik Dok. Mungkin karena kabar gembira yang baru saja saya dengar dari anak nakal itu!" jawab Tuan Syarief sembari menunjuk keberadaan Arga dengan lirikan matanya.


Dokter yang mendengar itupun tersenyum menanggapi.


"Bagus lah kalau memang seperti itu Tuan. Kabar baik bisa membuat mood menjadi bagus. Anda bisa secepatnya pulih dengan mood yang selalu bagus. Dan jangan terlalu banyak pikiran yang bisa membuat anda stres. Lakukan olah raga ringan setiap pagi untuk merenggangkan otot-otot yang terasa kaku." Nasehat dokter panjang lebar.


"Tentu Dokter, aku sendiri yang akan mengawasi Opa. Jikalau dia berani macam-macam dan mengabaikan kesehatannya lagi!" Kali ini Arga yang bersuara.


"Hiz! Anak ini!" kesal sang Opa.


Mereka kelihatan sekali sangat tidak akur. Namun sesungguhnya mereka saling menyayangi. Orang-orang terdekat mereka pun menyadari hal itu.


"Kalau begitu saya pamit dulu. Masih banyak pasien yang harus saya kunjungi. Permisi Tuan muda, Tuan sepuh semoga cepat sembuh!"


"Terima kasih Dokter!"


Ruang rawat khusus yang ditempati Raja bisnis itu kembali sepi sepeninggal para tenaga medis tadi. Hanya Arga dan Raka yang masih tetap bertahan, sebelum sang Opa mengusir mereka.


"Cepat tinggalkan tempat ini. Dan persiapkan calon istrimu itu dengan baik agar siap bertemu dengan ku nanti!"


"Cih! Dasar kakek tua! Sudah terbaring di ranjang rumah sakit masih saja bersikap arogan!"


"Dasar cucu kurang ajar. Beraninya kau mengatai Kakekmu!"


Pemuda yang baru saja mendapat predikat cucu durhaka itu pun ngeluyur pergi tanpa menggubris sedikitpun ucapan dari sang Opa.


"Dasar cucu kurang ajar!"


*****


Di sebuah privat room salah satu hotel milik keluarga Ramiro.


"Beraninya kau melakukan kecurangan kepada Ramiro group!" Hardik generasi kedua Raja bisnis yang bernama Jordan smith kepada pria menyedihkan yang kini sedang berlutut di hadapannya.


"Ma-maafkan saya Tuan. Sa-saya telah ditipu oleh salah satu rekan bisnis saya!" 


"Tidak ada toleransi dalam dunia bisnis, apapun itu alasannya. Apalagi jika itu karena kebodohanmu! Apa kau tahu berapa kerugian yang harus Ramiro tanggung karena kegagalan proyek ini?!"


"Maafkan saya Tuan Jordan. Saya janji akan segera memperbaikinya."


"Aku perlu bukti bukan janji. Atau kau lebih memilih menjadi santapan anjing liar ku?! ujar Tuan Jodan bengis.


"Tentu saja tidak Tuan. Tolong beri saya satu kesempatan lagi. Saya janji tidak akan mengecewakan anda. Saya mohon!"


"Manusia bermulut besar sepertimu tidak layak mendapatkan kesempatan kedua dariku! Cepat keluar dari sini atau aku akan menyuruh pengawalku untuk menendangmu!"


"Tolong Tuan maafkan saya. Beri saya satu kesempatan lagi. Saya mohon Tuan!"


"John seret bajingan ini keluar. Cepat!"


"Baik Tuan!"


Asisten John pun memenuhi permintaan sang Tuan dengan memerintahkan bawahannya untuk segera menyeret pria menyedihkan itu keluar dari ruangan.


"John bagaimana perkembangan kesehatan Papa?"


"Besok lusa Tuan sepuh sudah diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit. Apa anda ingin menjenguknya, Tuan?"


"Iya, kita ke sana sebentar lagi. Dan di mana anak itu sekarang?"


"Tiga hari lagi Tuan muda akan berangkat ke Inggris untuk melakukan perjalanan bisnisnya bersama dengan Raka, Tuan. Dan-" John menghentikan ucapannya.


"Dan apa John?"


"Saya telah mendengar kabar bahwa Tuan muda akan menikahi seorang gadis. Tuan muda sendiri yang mengkonfirmasikan-nya kepada Tuan sepuh."


"Apa?! Menikah, dengan siapa?!"


"Untuk urusan itu saya belum mendapatkan informasinya Tuan. Tapi secepatnya saya akan mencari tahu."


"Kau harus segera mencari tahu siapa calon istri putraku. Ini berita yang sangat mengejutkan. Kenapa secepat itu putraku mengambil keputusan untuk menikah. Sulit dipercaya! Siapkan kendaraan kita ke rumah sakit sekarang!"


"Baik Tuan!"

1 Comments

  1. Lanjut nya lg kapan min,di tunggu yπŸ‘πŸΌπŸ‘πŸΌπŸ‘πŸΌπŸ‘πŸΌπŸ‘πŸΌ

    ReplyDelete