Penjara Cinta Sang Taipan. Bab 101

 

Bab. 101

Drama penculikan.


"Sandra aku mohon maafkan aku!" ucap Juwita yang kini sudah duduk berlutut di kaki Sandra. Namun Sandra masih tetap berdiam diri dengan membuang mukanya seakan tak sudi melihat wajah Juwita.


Kejadian itu tentu saja menjadikan mereka bahan gunjingan orang-orang di dalam cafe. Karena dalam posisi itu membuat kedua wanita cantik itu menjadi pusat perhatian. Mereka berfikir kedua wanita cantik itu telah merebutkan seorang lelaki seperti berita yang akhir-akhir ini viral. Istri sah yang melabrak pelakor. Untung saja tidak ada dari mereka yang merinisiatif untuk mengabadikan kejadian itu ke dalam video dan mengunggahnya ke jejaring sosial.


"Juwita apa yang sedang kau lakukan? Berdirilah ... jangan permalukan aku dengan sikap konyolmu itu. Lihatlah kita sudah menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sini!" pekik Sandra yang mulai risih karena menjadi tontonan pengunjung cafe.


"Maafkan aku Sandra, aku mohon tolong maafkan aku!" ucap Juwita menghiba.


"Kalau kau masih tetap bersikap konyol seperti ini lebih baik aku pergi saja. Permisi!" Sandra pun beranjak dari tempat duduknya namun secepatnya dihentikan oleh Juwita.


"Sandra tolong jangan pergi!" Juwita ikut berdiri mencekal lengan Sandra.


"Sekarang apa yang kau ingin kan lagi, Ta? Semua sudah hancur berantakan dan aku tidak tahu harus berbuat apalagi sekarang!" desah Sandra frustasi.


"San, sekarang putrimu ada di rumah keluarga Ramiro. Bening ada di rumah Ayah kandungnya. Apa kau tidak ingin bertemu dengannya sekarang? Jika kau tidak keberatan, biar aku yang akan menemanimu ke sana!"


"A-aku-" 


Tenggerokan Sandra tercekat seolah tidak dapat bersuara. Dari dalam lubuk hatinya yang terdalam dia sangat merindukan putrinya itu. Namun ia ragu untuk menemuinya karena takut Bening akan menolaknya akibat perlakuan buruknya dulu kepada putrinya itu.


"Kenapa San? Apa yang kau ragukan? Bening putrimu, kalian harus bisa memperbaiki keadaan. Karena aku tahu Bening adalah gadis yang baik. Dia pasti bisa memaafkanmu!" bujuk Juwita saat melihat keraguan di mata Sandra.


"Tapi Ta, aku-"


"Sandra ayolah. Bening juga pasti sangat merindukanmu karena sebelum aku menjualnya dulu, dia sempat tinggal bersamaku beberapa minggu dan selama itu pula dia selalu bercerita tentangmu. Karena di matanya kau adalah sosok Ibu yang luar biasa. Percayalah Bening sangat menyayangimu!" ucap Juwita meyakinkan.


"Baiklah, bawa aku ke sana. Aku ingin menemui putriku. Aku ingin memeluk Bening secepatnya. Satu hal yang belum pernah ku lakukan selama ini!" jawab Sandra mantap.


"Tentu Sandra. Hari ini juga kau akan bertemu dengan Bening putrimu!" 


Kedua wanita cantik itupun berjalan ke luar cafe setelah membayar tagihan makan mereka. Tentu saja hal itu membuat pengunjung cafe yang tadi melihat pertengkaran kedua wanita itu menjadi heran. Bagaimana bisa mereka kembali akur dalam waktu sesingkat itu? Begitulah pertanyaan yang tertanam di otak mereka.


"Antarkan kami pergi ke kediaman Ramiro, Pak," ucap Juwita kepada sopirnya saat dia dan Sandra sudah duduk di jok belakang mobil.


"Siap Mami!"


Mobil sedan yang membawa Sandra dan Juwita pun melesat membelah kepadatan jalanan kota Jakarta yang tidak pernah sepi dengan kendaraan yang berlalu lalang. Kemacetan biasa terjadi di mana-mana dan sudah menjadi rutinitas kota metropolitan ini.


Sandra tampak meremas tangannya sendiri yang terasa dingin. Bukan karena suhu AC yang terdapat di dalam mobil. Tetapi karena rasa cemas berlebihan yang dirasakan oleh Sandra saat akan bertemu putrinya nanti. Bahkan Sandra tidak bisa mengontrol laju detak jantungnya yang semakin tidak beraturan. 


Di saat seperti itu Sandra bisa merasakan ada sebuah tangan yang tiba-tiba menggenggam erat tangannya seakan memberi dukungan.


Juwitalah orang itu sehingga Sandra langsung mengalihkan perhatiannya kepada sahabatnya itu. Tatapan mereka bertemu, Sandra merasakan kehangatan saat melihat sorot mata sahabatnya, seakan mengatakan semuanya akan baik-baik saja.


"Kamu pasti bisa, San!" ucap Juwita meyakinkan.


"Makasih Ta!"


Kedua sahabat itupun saling berhambur berpelukan. Menunjukkan bahwa mereka saling mendukung satu sama lain.


Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam lebih untuk sampai di komplek perumahan elite tempat kediaman Ramiro berada. Namun saat akan melewati belokan pertama di mana suasana jalanan yang tampak sepi karena ini bukan jalanan umum yang bebas dilalui oleh kendaraan umum melainkan akses jalan khusus untuk menuju perumahan elite tersebut.


Mobil yang membawa Sandra dan Juwita tiba-tiba dihadang oleh mobil lain yang tak dikenal. Mobil itu berisi 3 orang pria bertubuh kekar, yang terdiri dari 1 sopir dan yang 2 lainnya turun untuk mendekati mobil Juwita.


Kedua orang itu menodongkan pistol sehingga ketiga orang yang berada di dalam mobil Juwita tersebut tidak bisa berbuat apa-apa.


"Satu orang langsung menodongkan pistolnya ke arah sopir Juwita dan satunya lagi membuka paksa pintu belakang mobil di mana Sandra berada.


"Cepat buka pintunya!" sentak pria berwajah sangar itu.


"Apa yang kalian ingin 'kan?!" pekik Juwita tanpa rasa takut.


"Jangan banyak bicara Nyonya. Turuti saja perintah kami jika kalian masih sayang dengan nyawa. Kami tidak ada urusan denganmu melainkan Nyonya itu!" ucap penjahat itu sembari menunjuk ke arah Sandra.


"Selama aku di sini aku bersumpah tidak akan membiarkan kalian mendapatkan apa yang kalian inginkan!" hardik Juwita berusaha melindungi sahabatnya yang sudah tampak pias ketakutan.


Brakk-


Penjahat tadi memukul kaca mobil dengan sangat keras hingga membuat kacanya retak.


"Aku bilang buka!" hardik pria itu lagi.


Karena dilandah ketakutan yang teramat sangat dan takut terjadi apa-apa dengan sang majikan, sopir Juwita pun membuka pintu belakang untuk para penjahat itu, hingga membuat kedua wanita itu terpekik kaget.


"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan!" hardik Juwita saat melihat pria itu menarik paksa Sandra agar keluar dari mobilnya.


"DIAM ...!"


"Lepas ... lepaskan aku! Mau kalian bawa ke mana aku?!" 


Sandra terus berontak dari cekalan tangan pria tersebut. Karena dirasa sangat mengganggu dengan terus mendapatkan perlawanan dari Sandra. Pria itupun memukul bagian belakang kepala Sandra hingga wanita cantik itu pingsan.


Hal itu tentu saja membuat Juwita semakin histeris namun tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi saat kedua penjahat itu memasukkan Sandra ke dalam mobil dan membawanya pergi dari tempat itu.


"Sandra ...!"


"Sandra ...!"


"Sandra ...! Mau kalian bawa ke mana sahabatku?! Hiks ... hiks ...!" 


Juwita sudah tidak sanggup lagi untuk mengejar mobil yang sudah melesat menjauhinya itu. Kini Juwita hanya bisa menangis di tengah jalanan yang sepi. Sebelum sang sopir datang dan membantunya berdiri.


"Kita harus secepatnya meminta bantuan, Mami. Tempat ini pasti terpasang CCTV. Kita harus melaporkan masalah ini kepada pihak yang berwajib!" ucap sang sopir memberi usul.


Ucapan dari pria paruh baya itu ada benarnya juga. Ia tidak mungkin terus berdiam diri dan menangisi penculikan Sandra. Juwita harus cepat bertindak sebelum terjadi apa-apa kepada sahabatnya itu. Dan yang ada di pikiran Juwita saat ini hanya satu 'Tuan Jordan' hanya pria itulah satu - satunya harapan bagi Juwita agar bisa kembali menemukan sahabatnya.


0 Comments