Alasan Kenapa Dulu Sekolah Kejuruan : Tata Boga

SMK N 3 PATI.
Image : Visme


Sudah dari beberapa hari lalu aku ingin menuliskan tentang ini. Kenapa sih dulu kok pas sekolah memilih sekolah kejuruan dan mengambil jurusan Tata Boga, bukan Kecantikan, atau yang lain?

Sejak kecil, sebenenarnya ada dua hal yang aku sukai. Pertama adalah memasak. Padahal, saat itu aku belum bisa masak karena masih anak-anak.

Gara-garanya tuh saat aku masih SD sering lihat acara Aroma dan Chef Rudi. Penasaran banget apa sih spageti, steak, paprika, bawang bombay, daun selada dan masih banyak banget yang membuatku terkagum-kagum dengan acara bunda Sisca Soewitomo tersebut.

Ya ampun, sama sayuran aja kagum! Alasannya bisa dibilang norak dan sederhana. Tapi memang begitu kenyataannya.

Sebagai seorang anak petani yang tinggal di kampung pelosok kabupaten Pati, jangankan lihat yang namanya bawang bombay. Saat itu aku tidak tahu bagaimana rasanya es krim merk Wals karena memang gak mungkin beli. Mahal. Dan dari situlah saat sambil lihatin bunda Sisca bikin kue aku ngayal kalau sudah gede aku mau jadi koki!

Hal kedua yang aku sukai selain acara masak-masak adalah menjahit. Lah, kalau yang ini dari SMP aku memang sudah bisa jahit. Sudah bisa bikin rok dan bawahan yang sederhana.

Awal mulanya adalah aku sering main ke tetangga yang punya mesin jahit. Setiap hari setelah pulang sekolah pasti aku main ke rumah mbak Indah.

Setiap mbak Indah mendapat pesanan jahitan, aku selalu memperhatikan. Lama-lama, mbak Indah mengajariku cara mengukur baju, membuat pola, menggunting kain, dan akhirnya menjahit.

Ketika itu dia bilang bahwa aku memiliki bakat dalam menjahit. Terbukti, sekali belajar menjahit langsung bisa lurus dan rapi meskipun saat itu mesin jahitnya masih digenjot dengan kaki (manual).

Tata Boga atau Tata Busana?

Saat pendaftaran sekolah, aku sempat bingung memilih. Antara Tata Boga atau Tata Busana? Aku menyukai keduanya. Tapi diharuskan memilihkan salah satu.

Setelah berpikir cukup lama akhirnya aku mengisi formulir di jurusan Tata Boga. Entah kenapa yang ada di pikiranku saat itu adalah aku ingin jadi koki. Aku ingin bekerja di dapur besar. Aku ingin kerja di hotel. Di restoran. Dan kata-kata itu terus-terusan berputar di kepala.

Sekolah kok sekolah masak? Mau jadi apa?

Sebetulnya, saat itu perspektif masyarakat mengenai sekolah kejuruan Tata Boga bisa dibilang masih terbelakang terutama untuk orang kampung.

Sekolah kok sekolah masak. Mau jadi apa? Kalau cuma masak gak perlu sekolah mahal-mahal.

Kira-kira seperti itu celoteh dari orang-orang sekitarku. Sekolah Tata Boga adalah sekolah yang tidak berkelas. Tidak memiliki masa depan. Karena anggapan mereka adalah cuma goreng tempe kok harus sekolah?

Padahal, banyak sekali yang harus dipelajari saat sekolah kejuruan Tata Boga. Misalnya; Tentang bagian-bagian hotel (Standar bintang lima), restoran, dapur, nama peralatan dapur (standar international), masakan oriental, eropa, Indonesia, bagaimana cara menghitung gizi dari seporsi makanan yang kita sajikan, dan masih banyak lagi.

Jadi, apa alasannya sekolah Tata Boga? Ya, itu tadi. Hahaha ... ingin tahu bagaimana rasanya kerja di dapur berkelas.

Terus, sudah terlakasana? Sudah dong.

Kok, sekarang jadi domestic worker? Nah, itu panjang ceritanya. (*)

0 Comments