Kapan Hamil? (Bab 5)

 

Novel viral

Burung-burung yang bertengger di atas pohon mangga mulai bercicit ketika Raymond baru saja selesai menidurkan Cleo. Seminggu sudah Tara dan anak-anaknya kembali ke kediaman Lewis dan seminggu itu pula Raymond melakukan pekerjaan barunya. Ayah rumah tangga!


"Apa dia sudah tidur?" tanya Tara yang baru saja memeras air susu dan dimasukkan ke dalam botol untuk disimpan di lemari pendingin. Ia tak mungkin menyusui keempat anaknya dalam waktu bersamaan. Apalagi Cleo? Dia sama sekali tak ingin minum susu langsung dari ibunya. Bahkan, saat Tara menggendongnya, si mbontot justru menangis.  


"Ya. Sekarang kau istirahatlah. Aku akan menyimpan botol-botol itu," jawab Raymond membetulkan selimut yang menutupi tubuh kecil Cleopatra yang ada di tengah-tengah ranjang. Jika ketiga anak yang lainnya cenderung pendiam dan mau dijaga oleh pengasuh, maka, Cleo sedikit spesial. Dia hanya akan diam menangis jika Papa nya lah yang memintanya diam. 


Tara mengelap dadanya menggunakan handuk yang telah dibasahi menggunakan air hangat lalu menutupi kakinya dengan selimut. "Terima kasih. Kamu juga istirahat."


"Pasti." Raymond mengecup kening istrinya lalu mengangkat botol-botol susu untuk disimpan di lemari pendingin khusus yang ada di lantai satu. 


Tara melihat punggung suaminya yang mulai menjauh. Dia benar-benar merasa sangat beruntung karena lelaki itu sangat bertanggung jawab. Ia meninggalkan pekerjaan kantornya demi belajar memakaikan popok. Raymond juga yang selalu mengurus Cleo saat dia menangis tengah malam karena lapar. Dan bahkan, ia tidak mengijinkan istrinya bergerak terlalu banyak karena takut jahitan di perutnya akan membuka. Padahal, jahitan saja sudah kering. Obat yang diberikan oleh Chameleon memang sangat manjur. Seandainya obat tersebut dijual di Indonesia, pastilah kaum perempuan tak perlu lagi menderita pasca melahirkan Caesar yang untuk sembuh saja harus menunggu selama berminggu-minggu. 


Klik! Suara ponsel Tara yang ada di nakas samping tempat tidur berbunyi. Ada pesan masuk. 


"Princess, temani aku ke reuni kampus. Oke? Jam 09.00 harus ready!"


"WHAAAAAAAATTTTTT?" Tara membalas ketikan panjang. Jam 09.00 harus siap? Sementara sekarang sudah jam 06.00. Sudah lama dia tidak bersosialisasi dan berpakaian normal! "Sekalian saja reuni jam 07.00! Aku akan ke sana pakai baju tidur!"


"Ha ha ha." Virna yang tinggal di lantai bawah hanya membalas dengan emot tertawa. Sementara Tara, langsung bersiap-siap untuk mandi. Akhirnya dia punya alasan juga untuk keluar rumah dan bersenang-senang. Ini tidak boleh disia-siakan!


Sementara itu Virna yang baru selesai mandi, sedang melakukan video call dengan suaminya. Tiger.


"Aku merindukanmu, Sweety," ucap Tiger yang masih berada di tempat tidurnya. Sejak pertama kali menikah, baru sekarang mereka berjauhan. Dan itu sama sekali tidak asik. Tempat tidurnya terlalu sepi.


"Sayangnya aku tidak!"


"Kau jahat sekali," balas Tiger dengan manja. Ia tak mengenakan apa-apa selain selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya. 


"Aku harus bersiap-siap ke acara reuni kampus."


"Maafkan aku tidak bisa menemanimu."


Virna yang mulai mengeringkan rambutnya pun menatap ke arah layar ponsel. "Kapan kamu pulang?"


"Entahlah. Aku punya banyak pekerjaan di sini."


"Oke." Virna hanya mampu menjawab dengan singkat. Kecewa, tentu saja. Karena keadaan ini terpaksa mereka harus LDR an. 


"Apa kau marah, Sweety?"


"Kalau aku marah apakah keadaan akan berubah? Apakah aku bisa hamil?" 


Tiger yang mampu menangkap kekecewaan istrinya pun tersenyum. Menyentuh pipi istrinya yang ada pada layar.


"Kali ini, siapa yang membuat istriku marah?"


"Tidak ada." Virna menjawab dengan bibir yang mengerucut. Tentu saja bohong. Ia kerap bertemu dengan rekan bisnis yang menanyakan tentang kehamilannya. Dan itu membuat Virna menjadi uring-uringan jika di luar rumah. 


"Kau mau aku mematahkan kaki mereka?"


"Hey! Kamu terlalu berlebihan!" sanggah Virna dengan cepat. Tiger sedang berwajah serius dan jika Virna mengatakan iya, hal itu bukan mustahil dilakukan oleh suaminya. Pria itu memang terlihat cengengesan. Terkadang tidak dewasa. Tapi, jika ada yang melukai istrinya, Tiger tidak akan tinggal diam.


"Tidak ada yang berlebihan jika itu untukmu."


Virna tahu suaminya tidak berdusta. " Aku akan periksa ke dokter kandungan. Kau harus melakukannya juga."


"Untuk apa? Aku yakin kau tidak mandul, Sweety."


"Bagaimana jika aku mandul?"


Mendengar pertanyaan istrinya, Tiger ingin sekali melompat dari tempat tidur dan memeluk istrinya. Menenangkan Virna bahwa tak peduli dia mandul atau tidak, perasaannya tak akan berubah.


"Kau tahu?"


"Apa?"


Tiger langsung membuka selimut yang menutupi kejantanannya dan mengarahkan kamera ke sana. 


"Ya Tuhan!" Mata Virna terbelalak. Dia sudah sering melihatnya tapi kali ini ada yang beda. 


"Bagaimana? Kau menyukainya?"


Suka? Tentu saja! Yang ukuran biasa saja mampu membuat dirinya melayang ke udara. "Ba ... bagaima caramu mendapatkan ukuran itu?"


Tiger menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Aku tidak sengaja masuk ke lab Cameleon tanpa pengaman. Dan akhirnya terkena radiasi."


"Ya, Tuhan. Apa ada hal lain yang terjadi padamu?"


"Tenanglah, Sweety. Aku hanya sempat demam tinggi. Tapi ...."


Virna yang jantungnya hampir copot, bertanya dengan pelan. "Tapi apa?"


"Aku ingin bercinta denganmu," jawab Tiger sambil mengelus miliknya yang telah berdiri tegak. Dan tanpa terasa,Virna pun menelan ludah. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika yang sebesar itu masuk ke dalam dirinya. Apakah sakit? Atau justru kenikmatan berlipat ganda yang akan dia dapatkan?


"Sepertinya kamu harus bersabar, bocah tua nakal!" jawab Virna yang langsung mematikan tombol video call. 


"Sweety? Sweethart? Istriku? Ah sial!" Tiger sewot sendiri di dalam ruangan isolasi yang ditata sedemikian rupa agar seperti sedang di sebuah apartemen. Padahal, dia ingin sekali melihat istrinya itu berganti pakaian.


"Sudah selesai acara mesummu?" tanya Cameleon melalui pengeras suara yang ada di luar ruang isolasi. 


"Huuuft. Untung tidak ketahuan." Tiger pun melemparkan ponselnya dan kembali mengenakan pakaiannya. 


"Aku sudah siap."


"Oh, Tuhan. Harusnya aku yang bicara seperti itu. Kau terlalu ceroboh! Bagaimana bisa kau tertipu?" tanya Cameleon jengkel. Untung saja ada rumus anti virus yang telah dipelajari selama berbulan-bulan. Dan akhirnya, kini ia mengerti apa yang dimaksud oleh Masika. Ada virus yang lebih mematikan daripada L-18. 


***


Beberapa hari lalu ....


Tiger yang tak sadarkan diri akhirnya terbangun di lab. Wajahnya pucat dan detak jantungnya mulai samar-samar. Seingatnya, dia sedang melakukan bisnis. "Are you all right?"


Tiger yang kesulitan membuka mata tak mampu memahami kata-kata Cemeleon. 


"Oke. Kalau begitu aku langsung saja menyuntikkan anti virus ini. Aku tidak tahu apakah ini dosis yang tepat tanpa efek samping. Yang jelas, ini agar kau bertahan hidup!" 


*Bersambung ....







1 Comments

  1. Iiih... Kereeen... Bang raymond jadi ayah rumah tangga...

    Suamiable bangeeetz, syukaaaaa...


    Btw itu joystick tiger jadi jumbo kenapa?? Kena radiasi? Kena suntik???

    ReplyDelete