Bening bab 14

 

Penjara cinta sang taipan

Bab. 14

Malaikat penolong.


Kelopak mata Bening mengerjap perlahan menyesuaikan cahaya ruangan yang tampak menyilaukan. Ekor matanya menyapu setiap sudut ruangan yang didominasi warna putih. Bening mencium bau obat yang sangat menyengat khas rumah sakit.

"Kamu sudah sadar?" Suara lembut seorang wanita mengalihkan perhatian Bening untuk segera menolehnya.

Seketika kedua mata Bening dimanjakan dengan pemandangan indah di depannya. Karena saat ini ada wanita cantik bertubuh seksi duduk di sebelah ranjang tempatnya berbaring.

"Asstt ... aww ...!" ringis Bening merasakan sakit di kepalanya saat akan bergerak.

"Kamu jangan bergerak dulu. Saya panggilkan Dokter sebentar." Wanita cantik itu segera beranjak berdiri menuju pintu untuk keluar memanggil dokter, hingga dentuman suara heels yang dipakainya terdengar nyaring saat bersentuhan dengan lantai rumah sakit.

Beberapa saat kemudian seorang dokter datang dengan ditemani dua orang perawat di belakangnya. Dokter wanita itu segera melakukan pemeriksaan dan mengajukan beberapa pertanyaan untuk Bening.

"Selamat siang, Nona. Apa yang anda rasakan?" tanya sang dokter seraya memasang stetoskop di telinganya.

"Kepala saya sakit, Dokter," lirih Bening seraya memegang kepalanya yang tengah terlilit perban.

"Itu akibat dari benturan yang terjadi pada kepala anda. tapi setelah kami melakukan beberapa pemeriksaan tidak ada luka serius di kepala anda," jelas sang dokter.

"Siapa nama anda, Nona?" tanya dokter wanita itu kemudian.

"Bening Dokter."

"Selain sakit kepala. Keluhan apa lagi yang anda rasakan?"

"Ada beberapa bagian tubuh saya yang terasa sakit, Dokter," lirih Bening.

"Itu wajar terjadi setelah orang mengalami kecelakaan. Anda harus beristirahat beberapa hari di rumah sakit ini sampai kondisi anda kembali pulih."

"Baik Dokter."

"Jadi, Nona ini harus beristirahat di rumah sakit sampai berapa lama, Dokter?" Wanita cantik yang sedari tadi berdiri di samping ranjang akhirnya membuka suara.

"Mungkin hingga empat atau lima hari ke depan, Nyonya." Dokter wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah wanita cantik yang baru saja bertanya kepadanya.

"Baiklah saya permisi dulu karena masih banyak pasien yang harus saya kunjungi. Semoga lekas sembuh Nona Bening. Permisi Nona permisi Nyonya," ucap dokter pamit undur diri.

"Terima kasih Dokter."


"Terima kasih Dokter."

Wanita cantik itu mendekati ranjang pasien setelah pintu ruangan kembali ditutup. Kini hanya mereka berdua yang ada di ruang rawat ini.

"Jadi nama kamu Bening?" tanya wanita cantik itu.

"Iya, anda siapa dan kenapa saya bisa sampai di sini?"

"Saya Juwita, panggil saja Mami Juwi. Dan saya adalah pemilik mobil yang menabrak kamu," jelas wanita bergaun seksi itu.

"Jadi Nyonya yang membawa saya ke rumah sakit ini?" tanya Bening sembari membenahi posisi tidurnya agar lebih nyaman.

"Mami Juwi," ralat wanita cantik itu. "Iya saya yang membawa kamu kemari karena sopir saya tidak sengaja menabrakmu."

"Iya maaf Mami Juwi, tapi kejadian kemarin bukan sepenuhnya kesalahan sopir anda. Tapi juga kesalahan saya karena saya juga lari tanpa melihat ke depan," ucap Bening sembari teringat saat dirinya dikejar-kejar preman.

"Memang apa yang terjadi sampai kamu lari-lari di jalanan seperti itu?" tanya Mami Juwi penasaran.

"Ada orang yang ingin berbuat buruk kepada saya Ma-mi." Bening masih mengucapkannya dengan canggung saat memanggil wanita itu dengan sebutan Mami.

"Maksud kamu?" tanya Mami Juwi penasaran.

"Saya ingin diperkosa oleh preman-preman yang mengajar saya kemarin." Ada raut ketakutan yang terlukis dari wajah Bening saat menceritakan peristiwa yang dialaminya kemarin.

"Sekarang berikan nomor telpon keluarga kamu, karena saya ingin menghubungi mereka dan mengatakan bahwa kamu sedang dirawat di rumah sakit ini." Mami Juwi menyodorkan ponsel mahal di tangannya kepada Bening.

Bening hanya menjawab dengan gelengan kepala hingga membuat Mami Juwi bingung. Akhirnya mengalir lah cerita Bening bagaimana ia bisa sampai di kota besar ini hingga berujung di ranjang rumah sakit.

"Oke Bening, saya sudah faham dengan cerita kamu tadi. Bagaimana jika setelah keluar dari rumah sakit kamu ikut kerja dengan saya," tawar Mami Juwi yang membuat mata Bening berbinar seketika. Bagaimana tidak, ia akan segera mendapat pekerjaan dari wanita baik hati ini.

"Bagaimana Bening kamu mau, 'kan?" tanya Mami Juwi memastikan karena melihat Bening hanya terbengong.

"Mau, tentu saja mau Mami," jawab Bening cepat disambut senyuman manis Mami Juwi.

Hari ini Bening merasa sangat bahagia karena merasa mempunyai malaikat penolong seperti Mami Juwita. Bagi Bening Mami Juwita adalah peri cantik yang dikirim oleh Tuhan untuk membantunya. Apakah ini jawaban Tuhan atas doa-doanya selama ini. Bening begitu bersyukur.


*****

Hari ini Bening sudah diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit. Dia dijemput Mami Juwita dan sopirnya. Senyuman tak henti terlukis dari bibir tipis Bening. Dirinya seakan berada di alam mimpi saat punggungnya terbentur jok mobil yang terasa empuk. Sungguh seumur hidupnya belum pernah menaiki mobil sebagus ini.

Mata Bening terus menatap ke luar jendela mobil melihat pemandangan kota yang begitu indah dengan deretan gedung-gedung tinggi yang ia temui di sepanjang perjalanan.

'Jadi begini ya rasanya menjadi orang kaya.' Dalam hati Bening berucap.

Setelah satu jam berkendara akhirnya mobil memasuki halaman sebuah rumah mewah bak istana milik Mami Juwi. Bening pun semakin takjub melihat pemandangan di depannya itu. Hingga ia tak mendengar pintu mobil telah dibuka dan orang yang duduk di sebelahnya sudah turun duluan.


"Bening ayo turun!" Panggilan Mami Juwi membuyarkan lamunan Bening akan kekagumannya.

"Eh, iya Mi." Bening segera keluar dari mobil dan mengikuti langkah Mami Juwi untuk segera masuk ke dalam bangunan yang sedari tadi begitu dikaguminya.

Nampak beberapa pria berpakaian seragam dan berkacamata hitam berjejer di depan pintu.

"Selamat siang Mami," sapa para pria berpakaian hitam tadi secara serempak.

"Siang!" jawab Mami Juwi datar. Sedangkan Bening hanya tersenyum simpul kepada mereka .

Kemudian salah satu dari mereka sigap membukakan pintu untuk mereka berdua.

Mata Bening membola melihat pemandangan di dalam rumah mewah itu. Bagaimana tidak, di sana terdapat puluhan wanita cantik dengan pakaian yang sangat minim.

Semua mata tertuju kepada sosok gadis yang tengah berdiri canggung di belakang Mami Juwita.

"Woww siapa Mi, barang baru ya?" celetuk wanita cantik yang sedang duduk di atas sofa.

"Cantik juga meskipun kelihatan udik," timpal perempuan yang lainya, hingga menimbulkan gelak tawa seisi ruangan.

"Sudah-sudah sekarang kalian semua dengerin Mami baik-baik. Gadis ini namanya Bening, dia anggota baru kita. Mami harap kalian bisa menjalin hubungan pertemanan yang baik dengan Bening. Apa kalian mengerti?"

"Mengerti Mi," jawab mereka serempak.

"Dan Bening mereka adalah senior-senior kamu, jadi kalo ada apa-apa kamu bisa bertanya kepada mereka."

"Baik Mami."

"Lia, antar Bening ke kamarnya," titah Mami Juwita kepada salah satu anak buahnya.

"Ayo Bening aku tunjukkan kamar kamu."

"Mami dan kakak-kakak semua Bening pamit ke kamar dulu." Bening pun segera mengekor di belakang Lia menapaki anak tangga menuju ke lantai dua.

Sekarang Bening sudah masuk ke dalam salah satu kamar yang berada di rumah besar ini. Kamar yang kini Bening tempati terlihat begitu mewah.

"Bening ini kamar kamu, sekarang kamu bisa istirahat dulu. Aku permisi," ucap Lia menjelaskan.

"Terima kasih kak Lia." Bening segera menutup pintu kamarnya saat Lia sudah melangkah keluar.


0 Comments