Bening. Bab 53

 

Penjara cinta sang taipan

Bab. 53

Nostalgia.


"Kamu Sandra kan?!" ulang wanita tersebut.


Sandra yang merasa namanya dipanggil itupun langsung memicingkan mata untuk memindai dan mencoba mengenali wajah wanita yang seakan mengenalnya tersebut.


"Juwita! Kamu?!" Sandra menatap tajam wanita di depannya guna memastikan bahwa memang benar itu sahabat lamanya.


"Iya ini aku San. Juwita, sahabat kamu waktu kuliah dulu. Kamu nggak lupa sama aku 'kan?" ujar Juwita meyakinkan.


"Ya ampun Ta. Beneran itu kamu? Aku nggak nyangka bisa ketemu lagi sama kamu di sini!" girang Sandra.


Kedua sahabat lama itupun berhambur saling berpelukan untuk melepas rindu setelah bertahun-tahun tidak bertemu.


"Ya, kok nggak dilanjut sih?"


"Aku suka baku hantam!"


"Aku suka kekerasan. Tolong jangan ada yang pisahin!"


"Ditunggu adegan jambak-jambakan-nya!"


"Kamera roll eksenn!"


Begitu lah komentar-komentar yang keluar dari mulut para pengguna jalan yang sempat melihat dan memvideokan pertengkaran Sandra dan Juwita tadi.


Namun, semua itu sama sekali tidak digubris oleh kedua wanita itu karena mereka telah larut dalam euforia pertemuan mereka setelah sekian tahun lamanya berpisah.


"Ngapain kamu di sini. Kamu mabuk?" tanya Juwita tanpa mendengar suara-suara sumbang segerombolan orang di sana.


"Sebaiknya kita cari tempat yang enak buat ngobrol. Masak iya kita di pinggir jalan kayak gini sih! Diliatin banyak orang lagi," saran Sandra.


"Bentar lagi sopir aku datang. Kita tunggu sebentar ya! San, kamu menghilang ke mana selama ini?"


"Ntar kita bicara! Banyak yang harus aku ceritain sama kamu, Ta."


"Iya benar, kamu hutang banyak penjelasan sama aku!"


Tak lama berselang, sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di tempat mereka berdiri saat ini. Sang sopir keluar dan membuka pintu penumpang agar sang majikan dapat segera masuk.


"Ini mobil mu, Ta?" tanya Sandra sebelum mereka memasuki mobil.


"Iya, masuk yuk!"


"Wah, sudah jadi orang kaya kau rupanya," ucap Sandra takjub melihat perubahan sahabat lamanya itu.


Karena sewaktu kuliah dulu Juwita termasuk mahasiswi sederhana karena terlahir dari keluarga yang pas-pasan. Bahkan sering kali sahabatnya itu menjadi sasaran bully dan hinaan mahasiswa lain yang tidak menyukai gadis miskin seperti Juwita.


Hanya Sandra satu-satunya orang yang mau berteman dengan gadis itu tanpa memandang status sosial mereka. Karena dulu Sandra termasuk mahasiswi dari kalangan orang berada. Kebaikan hati Sandra itulah yang menjadikan mereka sahabat karib.


Hidup memang tidak ada yang tahu. Dan siapa yang dapat menyangkah jika kehidupan mereka akan berputar berlawanan seperti saat ini. Dulu Sandra yang notabene anak orang kaya akan menjalani hidup sederhana di desa jauh dari kemewahan setelah ia memutuskan untuk menikah dengan Harun. Sedangkan sahabatnya Juwita yang bukan siapa-siapa menjelma menjadi wanita kaya raya yang selalu bergelimang harta.


"Seperti yang kamu lihat," jawab Juwita santai.


Mereka pun duduk berdampingan di jok belakang sebelum sopir yang mengendarai mobilnya menembus keramaian jalan.


"Kita langsung ke hotel saja, Pak!" titah Juwita kepada sang sopir.


"Baik Mami!"


Sandra yang mendengar jawaban sopir tadi mengernyitkan keningnya heran. Kemudian ia memutuskan untuk bertanya kepada Juwita yang duduk di sampingnya akibat rasa penasaran yang menderah.


"Kamu kok dipanggil Mami, Ta?" Juwita yang mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu langsung mengalihkan pandangannya dari benda yang masih menyala di tangannya itu ke arah Sandra.


"Iya, ntar aku jelasin biar kamu nggak bingung."


Sandra yang mendapat jawaban seperti itu hanya mengedikan bahunya acuh. Kemudian kembali bersandar pada jok mobil saat kepalanya dirasa semakin tak nyaman. Mungkin efek yang ditimbulkan dari minuman beralkohol yang ia minum beberapa saat yang lalu sudah mulai bereaksi kembali.


Tak terasa waktu 25 menit yang dibutuhkan untuk sampai ke tempat di mana Juwita menginap berhasil mereka lalui. Kini mobil yang membawa Sandra dan Juwita telah sampai di pelataran sebuah hotel bintang 4. Satu-satunya hotel yang terdapat di kota ini. Karena kota yang mereka singgahi saat ini merupakan sebuah kota kecil. Jadi jangan harap dapat menemukan hotel berbintang dengan taraf internasional seperti yang ada di kota besar pada umumnya.


"San, mandi duluan gih. Setelah itu baru aku. Aku mau nelfon teman dulu," perintah Juwita saat mereka tiba di dalam kamar hotel.


"Oke!"


"Oh ya San, kamu bisa pake baju aku yang ada di dalam koper itu buat ganti," tawar Juwita seraya menunjuk koper merah yang terletak di sudut ruangan.


"Thanks ya, Ta!"


"Santai saja. Badan kita juga sama ini."


Memang benar postur tubuh mereka hampir sama. Sama-sama memiliki tubuh langsing dan tinggi semampai. Walaupun bisa dikatakan mereka sudah tidak muda lagi. Bahkan Sandra sudah pernah melahirkan seorang anak yang kini telah menjelma menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Sedangkan Juwita, status wanita itu saja masih menjadi misteri.


Sandra membuka isi koper untuk mencari pakaian yang ingin dikenakannya selepas mandi nanti. Sedangkan Juwita sudah pergi ke balkon kamar untuk bertukar suara dengan seseorang.


Walaupun hotel yang saat ini mereka tempati tidak semewah yang biasa Juwita sewa. Tapi tempat ini juga tidak terlalu buruk, bahkan sangat nyaman untuk mereka singgahi.


Alasan yang membuat Juwita sampai pergi ke kota kecil ini, tak lain dan tak bukan karena ingin menyelesaikan masalah yang telah dibuat oleh salah satu anak buahnya dengan seorang pelanggan yang biasa menggunakan jasa mereka. Sebagai orang yang menaungi mereka, maka sudah menjadi berkewajiban Juwita untuk menyelesaikan masalah anak buahnya tersebut sebagai bentuk tanggung jawabnya. 


Untung lah semua masalah itu sudah terselesaikan tadi sore. Rencananya Juwita akan pulang keesokan harinya setelah urusannya di kota ini selesai. Tapi setelah bertemu dengan Sandra tanpa sengaja. Sepertinya wanita itu akan menunda kepulangannya untuk beberapa hari ke depan.


Setelah menghabiskan waktu 20 menit untuk membersihkan diri Sandra keluar dari kamar mandi dengan tubuh dan wajah yang terlihat lebih segar. Bahkan pengaruh alkohol yang sempat dikonsumsinya beberapa saat yang lalu sudah tampak mereda. Itu juga alasan kenapa ia membutuhkan waktu yang lebih lama untuk berdiri di bawah guyuran air shower.


Bersamaan dengan itu Juwita juga terlihat muncul dari arah balkon karena sudah selesai dengan urusannya. Dengan siapa wanita itu bertukar suara Sandra tidak mau ambil pusing walau hanya sekedar ingin tahu, karena ia merasa itu bukan urusannya.


"Udah mandinya? Kalo gitu sekarang giliran aku. Gila badan ku lengket banget rasanya."


"Iya, cepet mandi sana badan kamu bau!" cibir Sandra. Sebenarnya itu hanya ungkapan untuk menggoda Juwita. Karena ia rindu kokonyolan mereka seperti saat mereka bersama dulu.


"Itu mulut dari dulu nggak pernah beruba. Nyinyir aja kerjaannya," gerutuh Juwita. Namun wanita itu segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersikan diri. "Jangan molor dulu tunggu aku. Ingat kita belum bersilat lidah," imbuh Juwita sebelum benar-benar masuk kedalam bilik air.


"Iya cerewet, cepetan sana! Hus hus ...!" usir Sandra sembari mengibaskan tangannya agar sahabatnya itu segera memulai mandinya. Dengan begitu ia tidak akan menunggu terlalu lama mengingat waktu yang sudah semakin malam.


Dua orang wanita yang seumuran terlihat berbaring bersisian di atas ranjang ukuran medium. Mereka kompak memandangi langit-langit kamar tanpa ada satupun dari mereka berdua yang memulai untuk membuka suara.


1 detik


2 detik


3 detik


"San, selama ini kau ke mana? Kenapa menghilang begitu saja?" Juwita akhirnya angkat bicara karena merasa bosan dengan keheningan yang tercipta di antara mereka.


Mendengar pertanyaan sahabatnya tadi sejenak Sandra menghela nafasnya pelan. Sebelum sebuah jawaban keluar dari bibirnya.


"Mencari ketenangan hidup yang belum pernah aku rasakan sebelumnya."


"Dengan pergi jauh?"


"Ya seperti itulah kenyataannya."


"Apa kau sudah mendapatkan yang kau cari itu? Ketenangan hidup yang kau jadikan alasan untuk menjauhi orang-orang yang menyayangimu?"


"Entahlah, aku juga tidak yakin. Apakah setelah kepergian ku semua telah berubah. Karena aku merasa semua masih sama saja."


"Kau bisa berbagi pada ku waktu itu. Tapi kau lebih memilih untuk pergi. Kecewa? tentu saja aku kecewa. Dulu waktu aku susah kau selalu ada di sampingku, tetapi di saat masalah itu menimpah dirimu kau lebih memilih menyimpannya sendiri. Berikan satu saja alasan kepadaku kenapa aku tidak cukup untuk kau percaya?"


"Maaf!"


"Maaf memang tidak bisa mengembalikan waktu dan keadaan. Tapi setidaknya itu cukup untuk mengobati rasa bersalah ku. Sebagai seorang sahabat yang tidak berguna untuk melindungi sahabatnya."


Derai air mata turut mengiringi percakapan dua sahabat yang sempat terpisah lama itu. Masalah mereka bagai benang kusut yang sulit untuk diuraikan karena tidak adanya keterbukaan. Ego yang membuat persahabatan mereka terpisah karena terlalu menutup diri. Rasa percaya diri yang terkikis kala itu terlalu mendominasi hingga memutuskan Sandra pergi jauh meninggalkan orang-orang terdekatnya.


"Ta, aku minta maaf! Seandainya dulu aku lebih berani untuk menghadapi kenyataan maka-"


"Jangan diteruskan jika membuat hati mu kembali terluka. Karena kita tidak akan kembali ke masa itu. Cukup aku tahu bahwa sahabat terbaik ku dalam keadaan baik-baik saja."


"Aku akan menceritakan semuanya kepadamu saat hati ku telah siap. Sudah bertahun-tahun aku ingin menata hati yang terberai itu. Namun aku tak pernah bisa. Boleh kah aku meminta sedikit waktu lagi?"


"Lakukan apapun yang menurutmu benar. Dan aku akan selalu ada untuk mu. Jangan lupakan itu sahabat ku!"


"Terima kasih!"


"Aku tidak butuh ucapan itu. Aku butuh kau selalu bersama ku. Jadi ikut lah pulang bersama ku. Pergi ke tempat dimana seharusnya kamu berada."


"Apakah itu harus?"


"Tentu saja. Karena kalau kau tidak bersedia maka aku akan menyeret mu!"


"Dasar pemaksa!"


"Dulu kau yang selalu memaksa ku. Kini aku lah yang akan memaksa mu."


Kedua wanita itu pun berpandangan dan saling menebar senyum. 


"Kapan kita akan kembali?" tanya Sandra antusias. Sandra mengusap kasar sisa air mata di wajahnya setelah ia merubah posisi dengan bersandar di headboard.


"Lusa! Kita bereskan dulu semua urusan mu disini. Kau juga harus menyiapkan barang-barang mu dulu 'kan?"


"Oh ya, Ta. Kamu belum ngejelasin masalah di mobil tadi."


Juwita mengingat-ingat kembali pembicaraan apa yang mereka bahas di mobil tadi seperti yang Sandra katakan.


"Yang tadi itu loh, kenapa kamu dipanggil Mami?" Sandra mencoba mengingatkan kembali.


"San, semua kemewahan yang aku miliki dan nikmati sekarang ini, tak lepas dari pekerjaan yang sudah lama aku geluti."


"Pekerjaan apa itu?" tanya Sandra penasaran. Hingga ia mencondongkan tubuhnya agar bisa mendengar penjelasan sahabatnya dengan seksama.


"Pekerjaan ku selama ini adalah seorang germo!"


Sandra terkesiap mendengar penuturan sahabatnya tadi. Tapi ia juga tidak munafik  ataupun sok suci dengan menghakimi profesi Juwita karena dirinya juga bukan lah orang bersih dari gemerlap dunia malam walaupun Sandra tidak sampai menjual diri.


Dunia malam sudah mendarah daging dalam diri Sandra semenjak remaja, karena kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya dulu. Dan beberapa bulan yang lalu Sandra kembali pada dunia gelap itu untuk melampiaskan beban hidupnya yang seakan tak pernah lepas dari masalah. Padahal selama menjadi istri Harun Sandra sudah melupakan semua kebiasaan akan dunia malam itu.


"Kamu nggak kaget aku jadi germo, San?" tanya Juwita heran.


"Memang kenapa? Toh, aku sendiri bukan manusia suci. Bahkan dulu aku lebih parah dari mu," jawab Sandra acuh.


"Tapi kenapa kau mabuk tadi? Apa kebiasaan buruk mu masih sama seperti dulu. Menggunakan alkohol sebagai pelarian?"


"Dulu aku sempat tobat. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini masalah yang aku hadapi membuatku kembali kepada minuman haram itu. Mungkin karena aku nggak punya sandaran kali ya untuk sekedar teman berbagi." Sandra memberi alasan.


"Sekarang aku di sini, ceritakan semua yang ingin kau ceritakan, aku akan setia mendengarnya. Aku tidak pernah melarang mu untuk minum tapi kau juga harus menjaga kesehatan mu. Ingat masa muda kita telah berlalu jadi jangan sama kan dengan yang dulu. Sekarang minum lah sekedarnya saja, aku juga seorang peminum tapi aku tau batasan ku." Juwita memberi nasehat.


"Iya-iya, lama-lama kayak Emak tiri juga lu!"


"Itu karena rasa sayang ku padamu."


"Hala prettt!"


Juwita mengulurkan sekotak rokok kepada Sandra. Ia tahu sahabatnya itu membutuhkan barang itu sekarang. Mereka sama-sama menyesap nikotin yang membuat candu. Saling mengebulkan asap hingga gumpalan asap itu memenuhi isi kamar. Namun kedua wanita itu terlihat begitu menikmatinya. Seakan masalah apapun yang mereka hadapi saat ini ikut terbang bersama gumpalan asap yang mereka hembuskan.


"Apa rencana mu setelah kembali nanti?"


"Entah lah!"


"Tinggal lah bersama ku. Kau akan menyukainya!" tawar Juwita.


"Kau nggak ada niatan menjual ku juga 'kan?" gurau Sandra.


"Perempuan tua sepertimu mana laku," cibir Juwita.


"Dasar sahabat laknat. Seperti kau bukan tua saja!"


"Memang aku tua tapi aku masih punya puluhan anak buah yang masih muda belia, pandai menggoda dan memberiku keuntungan tentunya."


"Sebagai ladang penghasilan mu. Benar 'kan?!"


"Tepat sekali! Anak buah ku itu berarti anak buah mu juga. Dan apapun yang aku miliki itu juga milik mu."


"Bagus juga caramu menghibur ku." Kedua wanita itupun tertawa bersama berusaha meluapkan kerinduan yang telah lama mereka rasakan.

0 Comments