Penjara Cinta Sang Taipan. Bab 98-99

 

Bab. 98

Mengasingkan diri.


Sandra berdiri mematung di depan sebuah pintu kayu berukuran besar. Pintu sebuah rumah yang sudah lama tidak ia singgahi. Rumah yang memberinya begitu banyak kenangan baik itu suka maupun duka. Terakhir kali Sandra menginjakkan kaki di rumah ini saat malam di mana dunianya seakan runtuh. Ingatannya tentang malam itupun masih membekas hingga saat ini.


"Sandra ayo masuk. Kenapa cuma berdiam diri saja di situ?!" Suara bang Adam menginterupsi pendengarannya.


"Sepertinya Sandra tidak bisa bang. Sandra pergi dulu!"


Belum sempat Sandra melangkah pergi dari tempat itu Adam sudah terlebih dulu mencekal tangannya.


"Sandra mau ke mana? Kau sudah terlanjur ada di sini, tinggal selangkah lagi. Mari masuk dengan abang!" bujuknya namun Sandra masih bergeming di tempatnya. Hingga-


Ceklekk-


Suara pintu terdengar dibuka dari dalam kemudian muncullah sesosok wanita tua yang begitu kaget melihat kedatangan Sandra.


"Sandra ...!" pekik wanita tua itu masih tidak percaya dengan apa yang telah dilihatnya.


"Mamaaaa ...!" lirih Sandra dengan mata yang berkaca-kaca.


"Benar kah ini kau Nak?!"


Perlahan tapi pasti langkah wanita tua itu membawanya berjalan mendekati perempuan yang dulu disayanginya dengan sepenuh hati.


"Iya Ma, ini Sandra!" ucapnya dengan bercucuran air mata. 


Sandra berhambur memeluk tubuh wanita tua tersebut. Pandangan itu begitu megharukan bagi Adam sehingga tak terasa ia juga ikut meneteskan air mata.


"Maafin Sandra yang baru datang sekarang Ma!" ucapnya di sela pelukan mereka. Kemudian wanita tersebut menguraikan pelukannya agar bisa mendaratkan sebuah kecupan di kening putrinya itu. 


Walaupun Sandra bukan terlahir dari rahimnya. Wanita tua itu sangat menyayangi Sandra layaknya anak sendiri. Begitu pula  dengan Sandra yang merasa mendapatkan kasih sayang seorang ibu dari wanita tua tersebut.


Ya, wanita tua itu adalah Ibu sambung Sandra yang dinikahi Ayah Sandra setelah kematian Ibu kandung Sandra saat melahirkannya. Bisa dikatakan Sandra sudah piatu sejak bayi.


"Kau ke mana saja selama ini, Nak? Kenapa tidak pernah pulang ke rumah. Apa kau masih marah kepada kami? Percayalah waktu itu hanya amarah sesaat Papamu. Karena malam setelah kepergianmu Papa jadi sakit-sakitan karena terlalu banyak memikirkanmu!" jelas wanita tua tersebut.


"Maafin Sandra Ma, maafin Sandra!" isaknya lirih kemudian kembali memeluk tubuh wanita tua itu.


"Sekarang kita masuk Nak. Papamu pasti senang melihatmu datang!" 


Wanita tua itupun menggiring Sandra untuk masuk ke dalam rumah agar secepatnya bisa bertemu dengan Papanya.


"Papa sakit apa Ma?!" tanya Sandra di sela-sela langkahnya.


"Sejak 5 tahun lalu Papamu terkena stroke. Papamu pingsan di kamar mandi waktu itu hingga membuat tubuhnya lumpuh sebagian," jelas wanita tua itu.


Sandra yang mendengar penjelasan wanita tua itu merasa hatinya tersayat karena merasa tidak berguna sebagai seorang anak.


"Papamu ada di dalam Nak. Sudah satu minggu dia tidak mau keluar kamar. Dan nafsu makannya juga semakin menurun. Setiap hari beliau selalu menanyakan keberadaanmu!"


Mendengar hal itu tentu saja membuat Sandra semakin meneteskan air matanya. Kenapa hatinya terlalu buta selama ini hingga sulit untuk memaafkan orang tuanya sendiri. Sedangkan orang taunya ternyata sangat merindukannya dan menanti kepulangannya.


Kriettt-


Perlahan Sandra membuka pintu kamar yang dahulu sering ia masuki jika ia kekurangan uang dan akan keluar dari kamar ini dengan wajah yang berbinar karena telah mendapatkan apa yang ia inginkan. Sungguh Sandra sangat merindukan saat-saat seperti itu.


"Papa ...!" lirihnya yang membuat orang yang sedang terbaring di atas ranjang menoleh ke arahnya.


"Sa-sandra!" ucap pria tua itu dengan suara yang tidak jelas.


"Papa ... Sandra pulang Pa. Maafkan Sandra yang terlambat datang. Hiks ... hiks ...!" Sandra pun memeluk tubuh kurus yang tak berdaya itu. Tangisnya semakin pecah saat ia merasakan sebuah tangan membalas pelukannya. Pelukan yang sudah sedari lama ia rindukan.


"Sa-sandra ma-maafkan Pa-papa, Nak!" ucap Tuan Abraham dengan terbata-bata karena sejak terserang penyakit stroke 5 tahun yang lalu membuat bicaranya tidak selancar sebelumnya.


"Suuttt ... Papa jangan bicara apa-apa lagi. Papa nggak ada salah sama Sandra. Justru Sandralah yang seharusnya meminta maaf kepada Papa karena gagal menjadi anak yang baik. Gagal menjadi putri kebanggaan Papa. Maafin Sandra yang sudah menghancurkan impian Papa atas Sandra. Maafin Sandra Pa maaf!" 


"Sa-sandra pu-putriku!"


Pemandangan itu membuat Nyonya Abraham dan Adam ikut meneteskan air mata karena merasa terharu melihat interaksi antara Ayah dan anak itu. Setelah sekian lama mereka tidak bertemu.


"Mulai sekarang Sandra janji akan selalu ada buat Papa. Sandra akan temani Papa di sini, Sandra sendiri yang akan merawat Papa hingga Papa sembuh!"


Setelah beberapa hari kembali ke rumahnya, Sandra pun menepati janjinya untuk merawat sang Papa. Bahkan ia kembali menempati kamarnya dulu saat masih tinggal di rumah ini. 


Setiap pagi Sandra akan menyuapi makan Papanya sebelum menemani pria tua itu berjemur sekaligus berjalan-jalan di areal komplek dengan menggunakan kursi roda. Semua itu Sandra lakukan dengan ikhlas dan senang hati sebagai penebus waktunya yang hilang bersama sang Papa.


Sedangkan Tuan Jordan yang mengetahui Sandra telah kembali kepada keluarganya telah mengalah dan membiarkan wanita itu dengan keputusannya. Karena sejujurnya Tuan Jordan lebih menyukai Sandra hidup di tengah keluarganya dari pada harus tinggal bersama Juwita dan para pelacur lain. Sehingga waktu itu Tuan Jordan langsung menculik Sandra dan memaksanya untuk tinggal di apartemen miliknya. Sekarang perhatian pria itu terfokus hanya kepada putrinya yang baru saja ia ketahui keberadaannya, yaitu Bening. 


Tuan Jordan juga telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk menebus kesalahannya kepada sang putri dan berusaha memperjuangkan hak Bening di keluarga Ramiro.


*****


Di sebuah panti asuhan KASIH BUNDA seseorang tampak termenung seorang diri di dalam sebuah kamar yang ia tempati saat ini. Sudah beberapa hari ini Arga mengurung dirinya di kamar sempit itu. Sebelum kemudian ibu panti datang mengusik ketenangannya.


"Assalamualaikum Leo, apa Ibu boleh masuk?!" ucap wanita paruh baya yang tengah membawa nampan makanan di tangannya.


"Silahkan Bu!" jawabnya tanpa mau mengalihkan pandangannya dari luar jendela.


Setelah mendapat persetujuan dari sang empunya kamar. Ibu panti pun mendekat dan meletakkan makanan yang di bawahnya ke atas nakas yang tidak jauh dari tempat Arga berada.


"Makan dulu Nak Leo! Ibu lihat kau belum makan dari pagi." 


Ibu panti mengulurkan sepiring nasi ke hadapannya sehingga membuat Arga mengalihkan pandangannya. Dilihatnya makanan yang masih menggantung di depannya itu.


"Leo belum lapar Bu!" tolaknya yang membuat Ibu panti menghembuskan nafasnya kasar.


"Sedikit saja nak, nanti kau bisa sakit jika tidak makan!" bujuk wanita paruh baya itu.


Akhir-akhir ini Arga memang kurang memiliki nafsu makan, jam tidurnya pun berantakan karena pria itu kerap mengalami insomnia setiap malam.


"Nak, kau tahu tidak kenapa kami semua di sini memanggilmu dengan sebutan Leopard? Itu karena Leopard adalah jenis hewan yang sangat kuat. Dia tangguh di setiap keadaan apapun yang dialaminya. Tidak pernah takut akan musuh-musuhnya. Seperti itulah dirimu di mata kami semua. Kamu adalah pahlawan bagi kami semua, pelita harapan kami yang hampir redup karena keserakahan seseorang. Jangan biarkan dirimu terpuruk oleh keadaan yang bisa membuatmu hancur, Nak! Jika pelita kami saja hancur bagaimana kami akan mudah untuk menjalani hidup ke depannya. Lihatlah di sana adik-adikmu masih kecil dan masa depan mereka masih panjang. Setiap hari mereka bergantian untuk bercerita tentang kebanggaan mereka kepadamu. Jadi Ibu mohon lepaskan beban di pundakmu itu!" ucap lembut Ibu panti.


"Leo harus apa Bu?!" lirihnya.


"Pulang Nak, hadapi masalah ini dengan bijak. Setiap orang pasti memiliki masalah tapi setiap masalah pasti memiliki solusinya!" tutur wanita paruh paya itu menasehati.


"Terima kasih Bu, terima kasih atas nasehatnya!"


"Iya Nak sekarang makan dulu ya!"


Arga pun menerima piring makanan dari tangan Ibu panti dan segera menyendokkan makanan itu ke dalam mulutnya. Melihat hal itu membuat Ibu panti menyunggingkan senyumnya.


Panti asuhan ini adalah rumah kedua bagi Arga karena pria itu selalu merasa damai jika berada di tempat ini. Apalagi jika sudah melihat tawa dan wajah ceria dari anak-anak panti.


Karena sejak kecil Arga merasa kurang kasih sayang dari ke dua orang tuanya. Sehingga ia menempatkan dirinya sama seperti anak-anak panti ini. Tetapi bedanya dia masih memiliki orang tua lengkap sedangkan anak-anak panti itu tidak. Tapi percuma juga mempunyai orang tua jika Arga merasa kosong dan tidak pernah merasakan kehangatan keluarga yang sebenarnya.


Namun di panti ini Arga bisa merasakan kehangatan keluarga yang selama ini tidak pernah ia dapatkan di keluarga Ramiro.


Bab. 99

Perubahan sikap Tuan Jordan.


Pagi ini Sandra mengajak Tuan Abraham untuk berjalan - jalan di areal komplek seperti biasanya. Kedua Ayah dan anak itu saling bercengkerama di taman yang terletak tidak jauh dari rumah keluarga Abraham.


"Papa inget nggak dulu waktu kecil Papa sering ngajak Sandra bermain di taman ini. Taman ini semakin luas dan bagus ya, Pa. Nggak pernah berubah dari dulu dengan ciri khasnya," ucap Sandra dengan mengedarkan pandangannya ke sekitar taman.


"I-ya Pa-papa i-ingat duyu kaaamu uka mi-minta beyikan pemen ka-kapas di sini," ucap sang Papa dengan terbata-bata bahkan artikulasinya banyak yang tidak jelas namun Sandra masih bisa memahaminya.


Meskipun sekarang Tuan Abraham tidak bisa berbicara lancar seperti dulu, Sandra tetap mengajaknya berbicara untuk melatih otot rahangnya agar tidak kaku. Sesuai dengan apa yang telah dokter anjurkan.


"Sekarang karena Sandra sudah besar dan mampu membeli permen kapas sendiri. Maka Sandra yang akan membelikannya untuk Papa. Papa tunggu di sini sebentar ya!" Sandra pun beranjak berdiri dan pergi menuju penjual permen kapas yang selalu berjualan di area taman.


Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan Sandra pun kembali menemui Papanya.


"Permen kapas sudah datang. Tapi Papa nggak boleh makan ini karena Papa punya diabetes. Jadi biar Sandra saja yang makan!" 


Tuan Abraham tersenyum melihat tingkah manja putrinya itu. Putri yang sempat diabaikannya selama bertahun - tahun. Yang membuat ia menyesal sampai saat ini.


"Di-di manaaa anyakk ka-kamu sekalang, Sa-sandra?!" tanya Tuan Abraham kemudian.


Sandra yang tengah asik menikmati makanan favoritnya sewaktu masih kecil pun menghentikan kegiatannya. Ia menjauhkan permen kapas itu dari mulutnya saat pertanyaan tentang anaknya keluar dari bibir keriput sang Papa.


Melihat perubahan ekspresi Sandra yang terlihat jelas dari mimik wajahnya, membuat Tuan Abraham merasa ada yang tidak beres dengan putrinya itu.


"A-ada a-apa Sanndra?!"


"Sandra juga tidak tahu di mana anak Sandra berada Pa. Karena Sandra juga tidak pernah menginginkan anak itu!"


Tuan Abraham tercengang mendengar pengakuan putrinya tadi. Kemudian berkata-


"Ja-jangan sa-sampai kau me-menyesal seperti Pa-papa, Nak!"


"Sandra bingung Pa, Sandra ingin sekali membenci anak itu. Karena dengan melihat anak itu Sandra jadi teringat dengan pria brengsek yang sudah menghancurkan hidup Sandra. Tapi di lubuk hati Sandra yang terdalam masih ada sedikit kerinduan untuk anak itu. Apalagi Sandra masih sangat mengingat rasa sakit saat melahirkannya dulu. Sekarang Sandra harus bagaimana Pa? Hiks ... hiks ... hiks!" 


Sandra menangis di hadapan Papanya. Ini untuk pertama kalinya Sandra mau berbagi perasaan tentang putrinya kepada orang lain. Mungkin sudah waktunya dia harus berdamai dengan masa lalu.


Sandra merasakan ada sebuah tangan yang mengelus lengannya meskipun dengan gerakan kaku. Ternyata Papanya berusaha ingin menghiburnya. "Ka-kau ha-haus belani be-berdamai dengan masa lalu. A-anak itu tidak bi-bisa memiyih dari raim si-siapa ia hayus diyahirkan. Di-dia ti-tidak besalahh!" 


Ini adalah kosa kata terpanjang yang pernah Tuan Abraham ucapkan setelah menderita stroke. Tetapi dia memaksakan diri untuk bicara walaupun ia harus berjuang keras. Demi ingin menasehati sang putri agar tidak menyesal seperti dirinya di kemudian hari. Karena bagaimana pun juga anak itu tidak bersalah.


"Cayi a-anak itu, Sandra!"


Sandra menghapus sisa air matanya dengan punggung tangan sebelum menatap lekat wajah sang Papa.


"Berikan Sandra waktu sedikit lagi Pa. Sandra janji setelah ini Sandra akan memperbaiki semuanya. Sandra janji!" ucapnya kemudian berhambur memeluk sang Papa.


Di tempat lain Bening masih mengalami gejala awal kehamilan seperti pusing dan mual-mual. Apalagi pikirannya juga terpecah antara memikirkan tentang keberadaan suaminya yang sampai hari ini belum terdengar kabar beritanya dan juga tentang sikap aneh kedua Tuan besar yang ada di rumah ini. Karena Bening tidak pernah tahu alasan apa yang membuat sang Opa ingin melenyapkan calon bayinya.


Tok ... tok ... tok!


"Boleh Papi masuk, Nak?!" tanya Tuan Jordan setelah muncul dari balik pintu.


"Masuk Pi!"


"Papi membawakanmu makanan. Sari bilang kau selalu menolak makanan darinya," ucap Tuan Jordan kepada Bening.


Pria itu terlihat membawa nampan berisi salad buah dan juga minuman hangat untuk Bening. Setelah mengetahui kebenaran bahwa Bening adalah putri kandungnya Tuan Jordan memang berubah sikap menjadi lembut dan penuh perhatian. Dan hal itu membuat Bening merasa aneh namun tidak berani bertanya hal yang sebenarnya kepada orang yang ia panggil Papi mertua itu.


"Papi tidak perlu repot-repot. Kalo Bening mau makan, Bening pasti bilang ke Bi Fatma atau Sari. Papi tidak ke kantor hari ini?!" tanya Bening karena merasa Papinya itu sekarang lebih sering berada di rumah untuk menemaninya.


Sikap yang sangat aneh menurut Bening karena setahunya Papi mertuanya ini adalah seorang pekerja keras. Bahkan pria berwibawa itu sering sekali tidak pulang ke rumah entah itu karena ada perjalanan bisnis atau hal lainnya. Tetapi setelah dirinya pingsan kemarin dia melihat perubahan besar dalam diri Papi mertuanya itu. Selain sering berada di rumah, pria itu juga berubah sangat lembut dan penuh perhatian kepadanya. 


Namun Bening mengirah perubahan Papi mertuanya itu karena dia sedang mengadung cucu sekaligus penerus Ramiro group. Tanpa tahu alasan sebenarnya yang mendasari perubahan Papi mertuanya itu. Memang senaif itu seorang Bening.


"Tidak, karena Papi masih bisa membawa pekerjaan Papi ke rumah. Lagi pula Papi lebih suka menjagamu dan calon cucu Papi di rumah," jawab Tuan Jordan dengan mengulas senyumnya.


"Makasih Pi, tapi-"


"Tapi apa Nak?!"


"Kenapa Papi tiba-tiba berubah menjadi sebaik ini sama Bening. Apa karena Bening telah mengandung cucu Papi? Kalo Papi saja bisa sebahagia ini menerima kehamilan Bening tetapi kenapa tidak dengan Opa? Sebenarnya apa alasan Opa ingin menggugurkan calon anak Bening?!"


Mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Bening membuat Tuan Jordan kesulitan untuk menelan salivamya sendiri. Pria itu bingung harus menjawab apa. Sedangkan ia tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya kepada gadis itu.


"Pi ... Papi! Kenapa Papi diam saja?!" tanya Bening karena Papi mertuanya itu malah melamun di depannya.


"Eh iya ... maaf Nak, tadi Papi-"


"Apa yang sebenarnya Papi sembunyikan dari Bening?! Kenapa sikap orang di rumah ini semuanya aneh. Bahkan orang yang seharusnya merasa paling bahagia atas kabar kehamilan Bening sampai saat ini belum juga menampakkan wajahnya," ucap Bening dengan mata yang terlihat sudah berkaca-kaca.


"Papi sudah berusaha Bening. Papi sudah mengerahkan semua anak buah Papi untuk mencari keberadaan Arga. Papi janji setelah Arga pulang nanti Papi akan berterus terang kepada kalian semua dan membereskan semua kekacauan ini. Papi Janji!" ujar Tuan Jordan dengan sorot mata sendu.


"Berterus terang, kekacauan. Memangnya apa yang sudah terjadi? Hal apa yang tidak Bening ketahui?!" tanya Bening semakin dilanda penasaran.


"Maafkan Papi nak, maafkan Papi!" Tuan Jordan merengkuh tubuh ringkih Bening ke dalam dekapannya yang membuat gadis itu semakin bingung.


"Kau pasti bingung dengan semua keadaan ini. Tapi percayalah apa yang Papi lakukan ini adalah yang terbaik untuk kalian berdua!" imbuhnya.


"Maksud Papi?!" tanya Bening semakin kebingungan. Kata-kata yang keluar dari mulut Papinya itu seperti puzzle yang sulit untuk diuraikan.


"Maafkan Papi, Nak. Papi belum bisa mengatakannya sekarang. Sudahlah lupakan masalah itu sekarang makan salad buah yang sudah Papi buatkan khusus untukmu!" ucapnya sembari mengambil piring yang tadi ia letakkan di atas nakas.


"Papi bikin salad buah ini sendiri?!" tanya Bening seakan tak percaya karena mendapat perhatian berlebihan seperti ini dari sang Papi mertua.


"Tentu saja khusus untuk putri dan calon cucu Papi! Ehm ... Maksud Papi putri menantu Papi!" ucap Tuan Jordan hampir keceplosan.


"Makasih banyak Pi!"


"Untuk menghargai usaha Papi ini kau harus menghabiskan salad buahnya. Okey!"


"Pasti Pi!"


Tuan Jordan tersenyum senang saat melihat Bening memakan salad buah buatannya dengan begitu lahap. Ini untuk pertama kalinya Tuan Jordan berkutat di dapur untuk membuatkan sang putri makanan. Dengan bantuan koki yang ada di rumah ini tentunya. Walaupun pada awalnya mereka yang ada di dapur merasa heran dan seakan tak percaya dengan apa yang telah Tuan  besarnya lakukan. Karena hal seperti itu baru kali ini terjadi.


Di kediaman Abraham sudah menunjukkan pukul 8 malam saat Sandra baru saja membantu sang Mama untuk membersihkan meja makan bekas makan malam mereka sekeluarga.


Kini wanita cantik itu sudah duduk di atas ranjang saat suara pintu kamarnya diketuk dari luar.


"Sandra, apa Mama boleh masuk?!" tanya orang dari balik pintu.


"Masuk saja Ma!"


Ceklek-


"Mama hanya membawakan minuman hangat untuk mu!" ucap wanita tua itu setelah berhasil masuk ke dalam kamar Sandra.


"Makasih Ma, seharusnya Mama tidak usah repot karena Sandra bisa mengambilnya sendiri di dapur!"


"Nggak papa Nak. Mama juga ada yang ingin ditanyakan padamu."


"Mama mau tanya apa?!"


"Bagaimana kabar anak kamu sekarang. Kenapa tidak ikut dibawa kemari?!"


Degh-


Tadi Papanya yang bertanya perihal anaknya sekarang Mamanya pun juga menanyakan hal yang sama.


"Kalo boleh Mama tahu anak itu laki-laki atau perempuan?!" imbuh sang Mama hingga membuyarkan lamunan Sandra.


"Perempuan ...!" lirih Sandra.


"Pasti cantiknya nurun dari kamu. Mama sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan cucu Mama!" tutur wanita tua itu dengan antusias.


"Ta-tapi Ma, Sandra tidak tahu anak itu sekarang ada di mana."


"Maksud kamu apa Sandra?!"


"Sandra sudah berpisah lama dengan anak Sandra, Ma. Karena Sandra telah mengusirnya dari rumah," akuh Sandra.


"Apa?!"


"Iya Ma. Sandra sudah pernah membuat kesalahan besar dengan memusuhi darah daging Sandra sendiri!"


Sandra pun menceritakan semua tentang kisah hidupnya selama berada jauh dari kedua orang tuanya tanpa ada yang dikurangi atau dilebihkan.


"Mama tidak menyangkah kau mengalami kesulitan hidup seperti itu Nak. Maafkan Mama yang tidak becus menjadi orang tua. Seharusnya malam itu Mama bisa mencegah kepergianmu. Maafkan Mama!" ucap wanita tua itu sarat akan penyesalan.


"Semua ini bukan salah Mama. Karena jalan takdir yang sudah menetukannya. Lagi pula semua sudah berlalu sekarang Sandra sudah pulang ke rumah ini bersama Papa dan Mama."


"Iya Sayang kamu benar. Tapi kita tetap harus mencari anak kamu, dia tidak bersalah Nak. Anak itu adalah titipan. Jadi bagaimanapun cara dia terlahir ke dunia ini dia tetap amanah yang harus kita jaga. Semoga Tuhan selalu melindunginya dimanapun dia berada."


"Amin ...!"


Di tengah obrolan itu, ponsel Sandra tiba-tiba berbunyi. Ternyata ada pesan masuk dari Juwita sahabatnya.


Juwita.

~ Sandra bisakah kita bertemu di tempat biasa besok siang? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Penting!


Begitulah pesan yang tertulis di layar ponselnya. 


'Tumben Juwita mengirim pesan seperti ini. Kira - kira hal penting apa yang ingin Juwita bicarakan denganku?!'


0 Comments