Izinkan Aku Mengobati Lukamu. Bab 8

 


Setelah seminggu mencari di tempat tongkrongan Leo, akhirnya Andi berhasil membawa pemuda itu dengan paksa dan dalam keadaan setengah mabuk. Setelah mengetahui Putri hamil, Leo mulai frustasi dan menenggelamkan dirinya ke dalam minuman keras. Malam itu, saat mengantar Putri pulang, hujan turun dengan begitu lebat. Leo terpaksa membelokkan sepeda motornya di sebuah gedung yang tak terpakai lagi. Dan di sanalah semua hal itu terjadi. Tak ada ikatan kekasih, yang ada hanya saling percaya, menyayangi. Dan Leo baru menyadari betapa bodohnya tindakannya itu karena tak memakai pengaman. Dia belum siap dengan situasi ini meski tak dipungkuri Putri adalah gadis yang berharga untuknya.

"Leo, gue ingin bicara sama lo," kata Putri ketika melihat pemuda itu sedang nongkrong di kantin.

"Kenapa pucat gitu, Put? Mau bakso? Trio kwek-kwek ke mana?"

"Mereka sedang sibuk." Putri duduk di depan Leo yang sedang merangkul seorang gadis. Entah mahasisiwi atau perek, Putri tak tahu dan tidak peduli. "Bisa bicara berdua?"

Leo mengernyitkan dahi dan menatap Putri. "Ada apa sih, Put? Kok serius amat?"

"Jangan di sini deh ngomongnya." Gadis itu menarik tangan Leo dan mencari tempat yang jauh dari keramaian. Leo yang sedang bingung dengan keadaan itu, menurut saja. Pasrah ke mana Putri hendak membawanya. Seperti malam itu ketika putri dengan pasrah menyerahkan dirinya dan juga hatinya.

"Sekarang gue mau ngomong," kata Putri dengan serius begitu mereka ada di belakang kampus. Tempat yang sepi dan tepat untuk mengatakan sebuah aib. "Gue hamil."

"Terus?" Leo bertanya enteng.

Putri berusaha memendam kejengkelannya seorang diri "Terus?"

"Iya. Terus apa hubungannya sama gue, Put? Jangan bilang bayi itu anak gue?"

"Ini emang anak lo, brengsek! Sejak di Indonesia, gue gak pernah tidur dengan pria mana pun selain lo!"

Pemuda itu masih tak percaya. Sudah puluhan gadis yang dia tiduri, tetapi tak ada yang hamil meski tak memakai pengaman. Tak mungkin kan jika seandainya sekarang Putri hamil? Dia memang menyayangi gadis itu, tapi untuk menjadi seorang ayah, Leo sama sekali belum siap.

"Put ...." Leo meraih tangan Putri dan menatapnya dengan lembut. "Lo gak bercanda, kan?"

Putri merasa sakit hati. Dia merasa tersinggung. Leo yang selama ini dipercayainya ternyata meragukan anak yang ada di dalam rahimnya. Sehina itukah dia di mata lelaki itu? Dan sejak hari itu Putri tidak lagi mencari Leo. Juga tak tahu di mana pria itu berada. Kini, satu-satunya yang ada di dalam kepalanya hanya Mayang. Dia pasti kecewa jika tahu Putri hamil padahal sebentar lagi kuliahnya akan selesai. 

"Leo?" Dengan berat hati Mayang menatap pemuda yang bersimpuh di hadapannya itu. Sementara Putri merasa kecewa pada sahabatnya itu. Di saat-saat seperti ini, ke mana kejantanannya? Ke mana Leo yang dinilainya berani dan tak memiliki rasa takut? "Betul kamu adalah ayah dari jabang bayi yang ada di perut Putri?"

"Ma ... malam itu kami memang melakukannya, Tante.

"Tante kecewa padamu, Leo. Tante juga kecewa pada Putri."

"Kamu mencintai Putri?" 

Leo terdiam sesaat dan dipandanginya wajah Putri yang redup dengan mata berkaca-kaca. Sejak pertemuannya pertama kali di club, Leo memang menyukai Putri dan tertarik padanya. Dia merasa bahwa Putri sama sepertinya. Dikhianati orang yang paling dikaguminya, tapi cintakah itu namanya? Pemuda itu sendiri pun tak tahu apa artinya cinta. Selama ini dia hanya bermain-main dengan para gadis. Mereka bersama, bermesraan, bercinta, tanpa paksaan, dan atas dasar suka sama suka. Tak ada ikatan. Tak ada hubungan. Dan belum pernah satu pun di antara gadis-gadis itu yang hamil. Dia hanya tahu perasaannya pada Putri berbeda. Dia mengasihinya, ingin melindungi, tapi dia tidak tahu apakah perasaan itu bernama cinta.

"Saya tidak tahu, Tante." 

Bukan hanya Mayang yang kecewa, tetapi juga Putri. Namun, kecewa atas apa? Bukankah dirinya juga tak mencintai Leo? Dia hanya mempercayai laki-laki itu dengan segenap jiwanya. Ataukah, Putri yang tak menyadarinya. Bahwa kepercayaan bisa didapat jika kita menaruh hati pada seseorang?

***

Pada akhirnya Leo dan Putri menikah. Mumpung jabang bayi di perutnya belum membesar. Ayah Alex tak keberatan jika putranya mau menikahi Putri, punya besan pengusaha hebat dan pengacara ternama, mana mungkin dia tolak. Meskipun begitu, ayahnya tetap ingin Alex meneruskan kuliah sampai lulus. Tak peduli berapa lama pun harus dia tempuh. 

"Habis ini lo masih kuliah kan, Put?" tanya Juwi begitu acara pernikahan selesai dan tamu undangan berangsur menghilang dari ballroom yang Mayang sewa untuk pernikahan anaknya. 

"Iya. Mama minta gue ikut ujian biar cepet wisuda."

"Lo cinta sama Alex, Put?" sela Desi yang tak tahan lagi untuk menanyakan soal perasaan sahabatnya itu. 

"Gak tau ...."

Ketiga sahabat Putri itu hanya mendesah pasrah. Biar pun mereka sendiri tak pernah pacaran, tapi kalau jatuh cinta sih pernah."lo deg-degan gak kalau ketemu Leo?" 

"Hmm kadang-kadang, tapi dikit."

Nunik yang penasaran pun ikut nimbrung. "Gimana ceritanya lo gak cinta, tapi bisa bikin anak?"

"Ah lo, Nun!" sambar Juwi greget. "Jaman sekarang kan kan gak butuh cinta untuk bikin anak. Nyatanya, banyak tuh yang one night stand! Bedanya ini Putri lagi apes aja!"

Putri tak membalas kelakar mereka lagi. Dia tahu teman-temannya tidak bernaksud menyakiti. Dan Putri pun tidak merasa tersinggung. Dia hanya tertawa kalau Juwi dengan mulut rombengnya suka bergosip. Dielusnya jabang bayi di perutnya dan Putri tak merasa menyesal sedikit pun. Cintanya pada bayi itu semakin besar dan meski kekecewaan akan suaminya tak berkurang.

***

"Ke mana lagi, Leo?" tanya Putri ketika suaminya yang baru saja pulang satu jam lalu sudah berdandan rapi dengan minyak wangi yang aromanya hampir membuat Putri mual. Sejak menikah, Putri dan Leo tinggal di rumah yang telah disiapkan Mayang. Puji dan suaminya pun ikut diboyong Putri ke sana. Maklum, Putri tak sanggup kalau harus berpisah dengan Mbak Puji-nya, selain mamanya, wanita itulah yang paling dekat dengannya. Puji adalah ibu kedua meski tak ada darah yang mengalir di tubuh Putri.

"Hang out. Bosen di rumah. Ini gak boleh. Itu dilarang. Bosen."

Putri hanya mendesah pelan. Sejak hamil, darahnya selalu naik dan dokter memintanya untuk menjaga emosi."Ujianmu sudah dekat, Leo. Setidaknya, belajarlah dulu. Kamu boleh hang out semaumu setelah wisuda."

"Sejak kapan sih Put kamu jadi cerewet begini? Gak asik!"

"Lho, ini kan demi kebaikanmu sendiri. Kebaikan anak kita. Kamu gak mau bikin anak kita bangga karena punya Papa seorang sarjana?"

Leo langsung naik pitam dan menatap Putri tajam. "Kamu malu punya suami pengangguran dan berandalan?"

"Sudahlah, Leo. Aku capek ribut sama kamu terus-terusan." Wanita itu langsung berlalu pergi ke kamarnya. Menjatuhkan dirinya ke atas ranjang dingin yang selalu setia menemaninya sejak malam pertama perkawinannya dengan Leo. Laki-laki itu sama sekali tak menyentuhnya sejak malam kejadian di mana mereka berdua masuk ke dalam jurang dosa yang penuh kenikmatan. Putri mencengkeram bantalnya erat-erat, menahan rasa nyeri yang bercokol di dadanya. Meskipun dia tahu Leo tak mencintainya, tetapi Putri baru menyadari bahwa pernikahan tanpa adanya cinta bisa sepahit ini. Lebih pahit dari empedu dan lebih masam dari buah limau. Kalau sudah seperti ini, tak jarang Putri merasa iri terhadap Mayang dan Rahman. Di usia mereka yang tak lagi muda, bunga-bunga cinta itu mekar sempurna. Harumnya semerbak ke mana-mana dan membuat siapa saja yang melihat sampai tersipu malu. Sekali lagi Putri mendesah. Mengelap air mata yang membanjiri pipinya. Dia berpikir, akankah suatu saat Leo dapat menerimanya sebagai istri dan ibu dari anaknya ....



***Bersambung ....


0 Comments