BAB 19: ISTRI KEDUA SUAMIKU

Novel istri kedua suamiku

 "Belum makan, kan?" tanya Dokter Brian ketika Karin hanya diam saja sambil memonyongkan bibirnya. Namun, lelaki itu sama sekali tidak peduli. Dia juga tak merasa tersinggung dan sama sekali tidak keberatan meski seharian Karina akan memasang wajah cemberut. 

Pria itu terus saja melajukan mobilnya dan begitu dia melihat sebuah restoran, dia langsung membelokkan mobilnya dan memarkir dengan mulus. "Kita makan siang di sini. Anda tidak keberatan, kan?"

"Memangnya masih penting pendapat saya?" Karin langsung turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam restoran cina yang cat tembok dan ornamennya serba warna merah dan gold. Dokter Brian hanya tersenyum dan mengikuti wanita itu dari belakang seperti seorang bodyguard yang mengawal majikannya. 

Begitu masuk, dua orang itu langsung disambut seorang pelayan yang memakai cheongsam berwarna merah yang sudah siap melayani. "Untuk berapa orang, Pak?"

"Dua, Mbak," sahut Karin yang mengikuti pelayan itu dari belakang. "Tolong bawakan makanan yang paling mahal ya, Mbak!" kata Karin lagi begitu ia duduk. Ia tak peduli nanti makanan yang tersaji di depannya habis atau tidak, yang penting pesan saja dulu. Toh, bukan dia yang akan membayarnya. 

"Untuk minumannya, Bu?"

Karin menunjuk minuman berwarna biru dan juga orange sunset. "Ini yang paling mahal kan, Mbak? Untuk makanan penutupnya juga pilihkan saja yang paling mahal!"

Brian langsung tertawa begitu pelayan itu pergi dari meja mereka. Dia tak jemu memandang wajah Karin yang kusam dan tak enak dipandang. "Yakin bisa habis makanannya?" 

"Bisa dibungkus kan kalau gak habis?"

"Tidak masalah kan kalau saya ngantar sampai rumah?"

Karin mendesah panjang lalu menyeruput minuman yang sudah ada di depannya. Walaupun tenggirikan dan perutnya terasa dingin, tetap saja otaknya terasa panas. "Memangnya berguna jawaban saya? Dokter akan tetap mengantar saya sampai rumah, kan?"

"Bagaimana kalau Anda saya bawa pulang ke rumah saya?"

"Dokteeerr!" Karin setengah mengeram. Ya, Tuhan. Biar pun dia berencana bercerai dari Adam, tetapi wanita itu tak memiliki agenda untuk selingkuh. Satu-satunya tujuannya kini hanya mengungkap pernikahan kedua suaminya dan menghancurkan hubungan mereka. T

"Brian. Panggil saja Brian. Kita kan tidak sedang di rumah sakit."

Karin mengeram lagi dan begitu sepiring ayam panggang mendarat di mejanya, dia langsung mengambil sepotong paha dan dimasukkan ke dalam mulut Brian. "Dokter makan saja. Jangan banyak bicara!"

***

"Ada pelamar yang bernama Karina Santoso?" tanya Irene pada sekretarisnya. 

"Saya telepon dulu ke bagian HRD, Bu. Kalau tidak salah, hari ini ada wawancara untuk office girl di kantor kita."

Irene langsung tersenyum dan menutup dokumen di tangannya. "Tidak perlu, Ras. Bilang saja kalau mereka harus menerima Karina Santoso."

Laras mengernyitkan dahinya. Tak biasanya atasannya itu mencampuri urusan HRD dalam merekrut karyawan. Apalagi hanya untuk bagian pantry. "Bu Irene kenal dengn orang bernama Karina?" 

"Sangat kenal. Kalau bisa, suruh dia segera masuk. Oke?" Irene tersenyum simpul dan rasanya dia tak sabar lagi bertemu rival sekaligus istri pertama suaminya.

***

Mobil yang dikendarai Dokter Brian berhenti di depan rumah yang terlihat sangat sederhana. Dia membung napas perlahan dan hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaiamana bisa gadis yang dulunya manja dan tak pernah kekurangan, mampu hidup di tempat yang kumuh seperti ini? 

"Kecewa, Dok? Karena rumah saya jelek?" tanya Karin ketika melihat semburat kekecewaan di wajah pria itu. 

"Tidak." Brian mencoba untuk tersenyum padahal hatinya kecewa. Dia cemburu karena Karina rela meninggalkan semua kekayaannya demi seorang pria yang akhirnya mengkhianatinya. "Ini lebih bagus daripada rumah saya dahulu."

Karin membuka pintu mobil dan langsung turun. "Ah, masak? Mana mungkin dokter seperti Anda pernah tinggal di rumah seperti ini? Jangan ngibul deh, Dok."

Brian langsung turun dari mobil sambil membawa makanan sisa yang mereka bungkus karena tidak habis. Tanpa permisi, dia langsung masuk ke rumah begitu Karin membuka pintu. "Keluarga saya keluarga miskin, ayah saya meninggal sejak saya masih kecil. Saya bisa sekolah kedokteran karena saya bertemu dengan malaikat."

"Malaikat?" Karina mengerutkan kening dan langsung duduk di sofa butut.

"Iya, malaikat."

"Hmmmph! Pasti seorang gadis cantik."

Lelaki itu tersenyum lebar dengan mata yang menatap Karina dengan lembut. "Sangat cantik."

Mendengar jawaban itu, entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal di hati Karin. Dia tak suka Dokter Brian memuji wanita lain di hadapannya. 

"Kalau dia cantik, kejarlah dia. Buat apa Anda di sini?"

"Cemburu?" 

"Buat apa aku cemburu?" kilah Karin salah tingkah. Ia buru-buru pergi ke dapur membawa makananan masuk. "Karin, oh Karin. Ingat, kamu adalah wanita yang sudah menikah. Jangan biarkan dokter genit itu mempengaruhimu!" katanya pada diri sendiri yang merasa gemas karena kesal tanpa alasan. "Ya, meski sebentar lagi kamu akan bercerai," sambungnya lagi dan memaksakan diri untuk tersenyum.

"Minumlah, setelah itu lekas pulang," kata Karina sambil meletakkan secangkir teh dengan kasar. Begitu melihat tatapan Dokter Brian yang nakal dan senyumnya yang menggoda, barulah wanita itu menyesal. Tidak seharusnya dia membuatkan pria utu secangkir teh.

"Terima kasih. Pasti senang yang jadi suamimu. Anda istri yang cantik dan perhatian."

"Hah?" Karina hampir tak percaya dengan pendengarannya sendiri. Dia memang cantik, Karin mengakui itu, tetapi itu dulu. Sebelum dia menikah dengan Bram. "Sepertinya Anda perlu ke dokter mata."

"Buat apa? Apa pun sakit saya, bisa sembuh kalau di dekat wanita cantik."

"Di rumah sakit banyak kan suster muda yang cantik?" 

Lagi-lagi Brian melayangkan tatapan tak senonoh pada Karin, tetapi anehnya justru Karin tak merasa risih. Wajahnya justru memanas dan jantungnya berdegup kencang. Entah kapan terakhir kali dia dioandangi seperti itu oleh seorang laki-laki. 

"Tidak ada yang secantik Anda."

Ah, untuk kesekian kalinya Karin tersipu malu. Sudah lama tak ada yang memujinya seperti ini, apalagi seorang pria. Bukankah wanita memang makluk yang senang mendapat pujian meski mereka malu mengakuinya?

0 Comments