Belajar Menentukan Suara Tokoh Novel dari Anime Dragon Ball.

Cara menulis novel

Belajar Menentukan Suara Tokoh Novel dari Anime Dragon Ball
- Hola, Teman Cantik. Kali ini aku bakalan memberikan tips menulis lewat anime favoritku yaitu Dragon Ball. 


Sebagai penggemar anime, aku sering belajar menulis dari anime yang aku tonton. Entah itu belajar penokohan, plot, atau membuat dialog. Ya, meskipun tulisan masih saja acakadul, gak ada salahnya kan kalau saling berbagi. 


Tulisan memang tidak memiliki suara, tidak bisa berbicara, tetapi tulisan memiliki karakteristik. Di sinilah yang aku sebut dengan suara tokoh/ character voices. 


Suara tokoh di dalam tulisan (novel atau cerpen) dibutuhkan untuk membuat karakter lebih hidup, tidak datar/monoton, memperkuat karakter, dan juga untuk menjadi pembeda antara toko satu dengan tokoh yang lainnya (ciri khas).


Di dalam menulis novel atau cerpen tentu ada yang namanya dialog. Di sinilah suara tokoh itu diperlukan.


 Contoh tanpa character voices:

"Kamu apa kabar, Dian? Lama gak ketemu."

"Kabar baik. Kamu apa kabar?"


Contoh dengan character voices:

"Gimana kabarnya, Yan? Lama gak ketemu makin cantik aja lo."

"Baik, dong. Kamu gimana? Tetep jelek, ya."


Dari contoh di atas, sudah bisa membedakan atau belum? Oke, aku kasih contoh lagi, ya. 


Contoh tanpa character voices:

"Makan saja. Gak usah malu-malu. Anggap rumah sendiri, Di."

"Iya, Mus. Terima kasih."


Contoh menggunakan character voices:

"Makan dah. Gak usah malu-malu. Anggep aje rumah sendiri, Di."

"Iya, Mus. Trims, ya."


Dari contoh-contoh di atas kira-kira dialog mana yang lebih hidup? Yang tidak kaku dan seperti percakapan manusia pada umumnya meskipun mereka adalah tokoh fiksi. Sekali lagi ingat prinsip seorang penulis: berusaha menghidupkan karakter yang sedang ditulis. Membuat cerita fiksi seolah-olah hidup.


Suara tokoh/character voices ini dipengaruhi oleh beberapa hal. Misalnya saja dari mana orang tersebut berasal (Desa/kota. Dari suku mana dia berasal). Selalu ingat bahwa tugas penulis adalah menciptakan tokokh se-real mungkin agar pembaca lebih menghayati. Itu sebabnya penting bagi penulis memperkuat tokoh dengan kebiasaan atau adat budaya berdasarkan latar belakang tokoh yang telah ditentukan. 


Sebagai contoh jika tokoh memiliki latar belakang orang Medan, alangkah baiknya ditambahi suara tokoh layaknya orang Medan. Atau jika tokoh novel tersebut orang sunda, maka berikanlah logat sunda  atau bahasa sunda di dalam dialog.


Selain cara di atas, kita juga bisa memberikan character voices melalui nama panggilan seperti yang ada di anime Dragon Ball. 

Menulis novel

Son Goku adalah centre di anime ini. Yang menariknya adalah setiap tokoh sampingan/side character yang ada di anime tersebut memiliki cara berbeda-beda dalam memanggil si tokoh utama. 

Picollo: Son
Chi-chi (istri): Goku Sa (n)
Bulma: Son Kun
Kurilin : Goku
Vegita: Kakarot
Gohan (anak 1): Tousan
Goten (anak 2): Otousan 

Sebenarnya nama panggilan yang berbeda bukan hanya di anime Dragon Ball saja, tetapi juga di dunia nyata. Misalnya saja namanya Sri Rahayu. Di dalam rumah dipanggil Ayu, teman sekolah manggilnya Sri, sedangkan di tempat kerja dia memperkenalkan diri sebagai Rahayu. 
Cara menulis novel

Gimana, kira-kira sudah ada bayangan belum? Kalau sudah, praktik langsung yuk di tulisan yang sedang kamu garap. Thanks for mampir, see yaa. (*)






0 Comments