Dinding Rumah Mertua. Bab 7

Novel dinding rumah mertua

 "Semuanya baik-baik saja," kata Dokter Lia yang tak bisa menyembunyikan senyum kebahagiaan karena melihat pasiennya satu ini. Biasanya Maharani pergi ke dokter kandungan bersama dengan ibu mertuanya, tetapi kali ini dia pergi dengan suaminya. Mereka terlihat mesra dan suaminya pun nampak memanjakannya. 

Sebagai seorang dokter kandungan yang sudah pernah mengurus banyak pasien, menurut wanita berusia empat puluhan itu masa kehamilan adalah masa yang paling rentan terhadap perkawinan sekaligus membahagiakan. Biasanya wanita hamil takut melakukan hubungan seks, sedangkan suami yang hasratnya tak bisa dibendung lagi akan mencari perempuan lain yang mau melayaninya jika si istri tak sanggup memberi apa yang diinginkan. 

"Mau mendengar detak jantungnya?"

Maharani menoleh pada suaminya dan lelaki itu pun mengangguk. 

Dokter Lia memencet gambar sound pada layar dan suara detak jantung seorang bayi yang sebentar lagi akan terlahir ke dunia ini pun terdengan. 

"Mas ...," ucap Maharani lirih. Ia mengeratkan genggaman tangan Aryo. "Anak kita, Mas."

Aryo tak mampu lagi berkata-kata mendengarkan suara detak jantung itu. Itukah anaknya? Anak yang diidamkan dalam pernikahan mereka? Akan seperti wajah siapakah anak lelakinya itu? Dirinya? Atau Maharani? Tapi entah mirip siapa pun anaknya, Aryo telah berjanji pada dirinya sendiri akan mencintai putranya dan mengasihi ibunya. 

"Terima kasih, Ran." Dikecupnya kening Maharani yang masih ada di atas ranjang. 

***

Aryo dan Maharani pulang ke rumah ketika waktunya makan malam. Dan untuk pertama kalinya sejak jadi menantu di rumah itu, Maharani tidak melihat wajah cemberut ibu mertuanya. Justru sebaliknya, wajah ibu nampak cerah, makan malam yang mereka pesan sudah berada di atas meja, dan dia tak marah-marah ketika melihat Maharani baru pulang. Sungguh keajaiban dunia pikir Maharani. Dan itu karena jamu Mbok Yem!

"Makan dulu, Ran." Tumben sekali ibu menawari makan. Ah, service Papi pasti tokcer. Maharani melirik ayah mertunya dan lelaki yang tak lagi muda, tetapi masih bertenaga itu mengerlingkan mata. 

"Makasih, Bu." Tapi bukannya langsung makan, Maharani melayani suaminya terlebih dulu. Dan sekali ibu dibuatnya terenyuh. Selama menjadi menantunya, Maharani selalu melayani suaminya dengan baik. Tak hanya itu saja, dia bahkan melayani keluarga suaminya tanpa mengeluh, tanpa memprotes. Semua dia lakukan tanpa pamrih, sekeras apa pun perlakuan ibu padanya. 

"Jangan terlalu keras pada Rani, Bu," kata papi beberapa saat lalu ketika mereka selesai memadu cinta di usia yang tak lagi muda. Setelah kelahiran Murni, papi memang jarang bermesraan dengan ibu. Bahkan tidur pun terpisah. Tak ada lagi sisa-sisa keromantisan ketika mereka muda dulu. "Kalau kita kehilangan menantu sebaik Rani, Ibu akan menyesalinya."

Kalau biasanya ibu akan membantah, akan adu argumen, tapi tidak kali ini. Wanita itu mengelus dada suaminya yang berbulu tipis dan masih ada sisa-sisa kegagahan di sana. "Iya, Pi. Tapi Papi harus sering-sering kayak gini, ya?"

"Kalau Ibu gak rewel," kata papi datar.

"Janji?"

"Hmmm."

"Janji dulu dong, Pi."

"Janji."

Ibu langsung tersenyum lebar mendengar janji Papi dan karena itulah mulai malam ini dia akan berusaha bersikap baik pada Maharani, tetapi alamgkah sulitnya bersikap layaknya mertua yang baik terhadap menantunya itu. Apalagi ketika Aryo bilang ingin mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga.

Jangan-jangan Rani ngadu nih sama Aryo? Pikir Ibu menatap menantunya dengan curiga. Dia pasti merayu-rayu Aryo agar mengeluarkan uang ekstra demi pembantu! 

"Rani tidak pernah bilang apa-apa sama Aryo, Bu. Saya sendiri yang berinisiatif," kata Aryo seolah dia tahu apa yang ada di pikiran ibunya. 

"Gak perlu, Mas. Aku masih bisa mengurus rumah sendirian."

"Kamu lupa apa yang dikatakan Dokter Lia?"

Maharani menggeleng pelan. Tentu saja dia tidak lupa apa yang dikatakan Dokter Lia tadi. Meskipun kandungannya sehat, dia tak boleh terlalu capek. 

"Nah, makanya." Aryo menggenggam tangan istrinya. "Kamu harus banyak istirahat agar tidak terjadi apa-apa saat persalinan nanti."

"Baiklah, Mas." Maharani mengeratkan genggaman suaminya.

Duuh manjanya ... pikir Ibu gemas. "Tapi pembantunya gak boleh tidur di sini," cetus Ibu sambil melengoskan bibir. "Ibu gak mau nambah biaya untuk makannya pembokat."

Aryo mendengus pelan. Ternyata sifat pelit ibunya bukan hanya awet, tapi justru makin bertambah. "Baik, Bu. Aryo serahkan soal pembantu pada Ibu," kata Aryo pada akhirnya. Dia paling malas ribut-ribut soal uang, terutama dengan ibunya. Karena bagaimanapun juga kalau tak ada wanita itu tak mungkin ada dirinya. 

***

"Sudah kubilang aku tak ingin nenemuimu lagi, Lin," kata Aryo siang itu ketika Lina, teller di bank tempatnya bekerja nengajak makan siang yang tempatnya jauh dari kantor agar tak ada yang memergoki mereka. "Bukankah waktu itu kita sudah sepakat mengakhiri hubungan ini?"

Lina memang sudah berniat ingin mengakhiri perselingkuhannya dengan Aryo, manager di tempatnya bekerja setahun belakangan, tetapi ketika menstruasinya telat dan dia memberanikan diri untuk membeli testpack, mau tak mau dia meminta waktu untuk bertemu kekasih gelapnya itu. 

"Aku hamil, Mas," kata Lina dengan bibir bergetar. 

"Tidak mungkin, Lin. Aku selalu pakai pengaman kalau berhubungan denganmu."

"Jadi Mas Aryo menuduh aku selingkuh dengan laki-laki lain? Mas lupa siapa yang mengambil keperawananku?"

Aryo memang belum lupa. Di malam ketika Lina menyerahkan tubuhnya di atas ranjang hotel yang mereka pesan. Saat sedang menggauli gadis lulusan sarjana ekonomi itu. Gadis itu masih perawan dan darah kegadisannya menempel di sprei hotel yang berwarna putih bersih. Namun, Aryo juga tak lupa bahwa waktu itu dan malam-malam setelahnya dia selalu menggunakan pengaman. Karena bagaimanapun dia masih mencintai istrinya dan menganggap Lina hanya sebagai pelarian sesaat.

"Kamu yakin kalau sedang hamil? Sudah periksa ke dokter?" 

Lina menggeleng. "Aku takut Mas ke dokter sendirian. Kalau Mas Aryo tidak percaya, antarlah aku ke dokter, Mas."

Dan mau tak mau siang itu juga Aryo mengantar Lina ke dokter kandungan. "Usia janin istri Anda sudah berukur tiga minggu, Pak. Selamat, ya."

Ketika mendengar kata-kata dokter yang barusan memeriksanya, Lina merasa hatinya berdebar keras. Dadanya dipenuhi oleh kabut-kabut kebahagiaan. Seandainya betul dia adalah istri Aryo, tentu Lina akan sangat senang. Gadis itu tak bisa berhenti tersenyum, sementara Aryo sama sekali tak terlihat bahagia. 

Hamil? Tapi dia sudah punya Maharani, istri yang sangat dicintainya. Tak mungkin Aryo mengawini Lina dan tak mungkin juga Maharani bisa menerima suaminya telah menghamili wanita lain. Padahal, tempo hari dia sudah berjanji tak akan mengulangi kesalahannya lagi, tetapi kini justru kesalahannya itu membawa buntut paniang. Anak seorang anak di rahim kekasih gelapnya.

"Gugurkan saja kandunganmu, Lin," kata Aryo begitu mereka sampai di dalam mobil. 

"Gugurkan? Tidak! Anak ini anakmu, Mas. Dan dia tidak berdosa!"

"Tapi aku sudah punya istri, Lin! Aku tak mungkin mengawinimu!"

"Mas akan membiarkan anak ini lahir sebagai anak haram dan membiarkan semua orang mencemoohnya?"

Aryo terdiam sesaat. Dia memang bejat, tetapi membunuh darah daging srndiri, bukankah itu terlalu kejam? 


0 Comments