Pasca Perceraian ; Anak Adalah Alasan Terbesarku Untuk Bangkit Dan Bertahan.


Motivasi pasca perceraian

Pernikahan yang bahagia adalah impian semua wanita. Tapi sayangnya tidak semua impian itu terwujud meski biduk rumah tangga telah dibangun diatas cinta.

Ada perjumpaan. Adapula perpisahan. Begitulah hidup. Suka dan duka datang silih berganti seperti musim yang datang dan pergi. Tapi, satu hal yang pasti. Apapun yang dialami, sesakit apapun yang dirasakan, hidup harus terus berjalan. Sama seperti teman yang kukenal beberapa tahun belakangan. Apapun yang terjadi dalam kehidupannya, ia sama sekali tidak menampakkan dan terlihat seperti semuanya baik-baik saja.

Baca juga : Hari Buku Sedunia dan Dunia Wanita

Zeti. Single mother yang berprofesi sebagai seorang guru dan kesehariannya mengurus buah hati ini selalu nampak positif. Pada sebuah kesempatan aku pun melempar beberapa pertanyaan tentang kehidupan pribadinya. Bukan untuk mengorek luka, tapi ingin tahu apa yang dilakukannya sehingga bisa kuat melalui cobaan-cobaan dalam hidupnya.

"Pernah terpikirkan gak kalau pernikahanmu akan gagal?" Tanpa basi-basi aku menanyakannya. Barangkali untuk sebagian orang ini adalah pertanyaan konyol. Namun untuk sebagian orang lainnya pasti pernah terbersit pertanyaan-pertanyaan semacam ini.

"Tidak sama sekali. Perempuan normal di belahan dunia manapun pasti akan berharap rumah tangga yang harmonis dengan selaksa cinta di dalamnya. Anak-anak yang sehat dan lucu, kerepotan-kerepotan manis perihal rumah tangga, hingga menua bersama dengan cinta yang tak kenal luntur. Begitupun saya."

" Apa alasn terbesarmu untuk bisa survive dan apa kegiatanmu saat ini?"

"Alasan utama adalah anak. Yah, anak lelakiku, Jagoan kecilku. Umurnya baru 5 tahun lebih tapi pemikirannya  melebihi anak seusianya. Kalian tahu apa cita-citanya? Ketika anak seusianya menyebutkan; pilot, dokter, astronot, dan deretan cita-cita pada umumnya disebut anak kecil, anakku bercita-cita membahagiakan Bundanya. Sesimpel itu, tapi nyaris tiap saat, sambil memeluk erat dan mengecup pipiku, didendangkannya berkali-kali cita-citanya itu. Ya Allah, netraku selalu menggerimis di moment itu. Allah dan semesta semoga mengijabah. Saat ini saya kerja dan besarin anak tentu saja. Dengan Jagoan kecilku sebagai penyemangat, saya selalu merasa mampu melakukan apapun. Saya akan taklukan dunia untuk dia, demi dia, segalanya buat dia."

"Apa harapan-harapan kamu kedepannya?"

"Banyak, sangat banyak, dan semua cuma perihal anak. Saya ingin kesehatan buat saya dan anak saya. Hingga kami selalu membersamai hingga kelak dia cukup kuat untuk melangkah sendiri dalam kejamnya dunia, dan dia memegang tangan saya ketika langkah kaki ini telah gemetar dikikis usia. Melihat dia mendewasa, tumbuh menjadi anak yang sholeh, pintar, tegar, dan bisa menghargai siapapun, utamanya pasangannya kelak." 

Baca juga : Penyakit Yang Mengancam Beberapa Perempuan.

Jika cinta adalah tanaman. Maka rumah tangga adalah tamannya.

Teruntuk wanita-wanita di luar sana, apapun masalah yang menimpamu saat ini, kamu tidak sendirian. Ada kami, sahabat-sahabatmu, anak-anakmu, kerabatmu, yang senantiasa selalu mendoakan dan mendukungmu. Untukmu wahai wanita, mari saling mendukung sebagai sesama wanita. Thanks for reading, always be healthy, happy, and beauty. (*)


Post a comment

0 Comments