3 Hal Yang Sering Dialami Wanita Ketika Tidak Bekerja.

3 alasan yang dialami wanita ketika tidak bekerja
Image: Visme

Terlahir di sebuah desa kecil di pinggiran kota Pati dan merasakan arus serta mengalami kehidupan sebagai anak kampung membuatku belajar banyak yang tidak aku dapatkan di bangku sekolahan. Dan salah satu pelajaran yang masih aku ingat smpai sekarang adalah 3 hal yang sering dialami wanita ketika tidak bekerja dan dia telah menikah.

1. Mendapat hardik dari suaminya sendiri.

Ketika sedang cuti bekerja dan kembali ke kampung halaman, aku kerap mendengar cerita dari teman yang dia ingin bekerja serta menghasilkan uang. Saat aku tanya apa alasan ingin bekerja? Jawabannya sangat sederhana sekali. Tidak ingin disepelekan suami.

Tak hanya teman, dan juga saudara, bahkan keluargaku sendiripun mengalaminya. Yaitu ibu. Ketika itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar dan sering mendengar bapak menghardik ibu gak bisa cari uang tapi tugasnya ngabisin uang. Kerjaannya di rumah makan tidur tapi rumah gak pernah rapi dan lain sebagainya.

Hal-hal semacam diatas aku yakin pasti banyak perempuan yang mengalaminya. Apalagi, (maaf) jika ekonomi keluarga pas-pasan dan cenderung kurang.

2. Dicemooh oleh mertua.

Beberapa bulan lalu ada teman yang bercerita kenapa ia memilih bekerja ke luar negeri sebagai tenaga kerja wanita. Selain alasan karena suami yang berselingkuh, ia juga jengah karena kerap dicemooh oleh pihak mertua.

Katanya, makanya perempuan itu bekerja. Biar punya uang dan suami tidak selingkuh. Ia juga kerap dipandang rendah karena status sosial suami sedikit lebih tinggi darinya. Diakui atau tidak, kejadian mertua dan keluarga yang memandang rendah menantu masih banyak terjadi di Indonesia.

3. Bertahan meskipun suaminya melakukan kekerasan.

Pernah suatu ketika teman bercerita bahwa selama ini suaminya melakukan KDRT. Memang suaminya tersebut adalah orang berada, sedangkan istri tak memiliki sumber penghasilan selain dari nafkah suami. Dan alasan ekonomi serta takut akan sulitnya mencari pekerjaan membuatnya menerima apapun perlakuan suaminya.

Juga ketika ada teman yang baru saja menikah, ia dibodoh-bodohkan (kekerasan verbal) oleh suami karena tidak bisa mengatur rumah tangga. Dan sampai detik ini, ia masih bertahan. Alasannya sangat simpel. Ekonomi dan anak. (*)

Note : Di sini aku tidak membuka aib siapapun. He is my father. And i love him very much. Tulisan di sini hanya sekadar sharing dan mudah-mudahan memiliki manfaat bagi pembaca. -Maitra Tara-

Post a comment

0 Comments