Arga & Bening. Bab 43-44

 

Penjara cinta sang taipan

Bab. 43

Foto usang di dalam gudang.


"Bagaimana keadaan putraku?!" tanya Nyonya Diana kepada dokter yang bertugas merawat Arga.


"Sejauh ini kondisi Tuan muda sudah cukup stabil Nyonya. Besok pagi Tuan muda pasti sudah fit seperti sedia kala," jawab dokter menjelaskan.


"Tapi kenapa putraku masih belum juga membuka mata?" tanya sang Nyonya heran.


"Itu karena efek dari obat, Nyonya. Yang mengharuskan Tuan muda untuk istirahat total malam ini," jelas sang dokter.


"Baiklah aku mengerti. Kau boleh pergi sekarang!"


"Baik Nyonya. Terima kasih!"


Setelah kepergian sang dokter tadi, wanita anggun itupun melangkah mendekati ranjang putranya.


Terlihat Arga yang tengah terlelap dengan bantuan selang oksigen di hidungnya.


Nyonya Diana mendaratkan kecupan singkat di atas kening sang putra yang tampak tertidur pulas.


"Selamat malam Sayang. Selamat beristirahat!"


Nyonya Diana pun meninggalkan kamar putranya untuk menuju kamarnya sendiri.


Malam pun kian larut saat Bening harus berperang melawan nyamuk-nyamuk nakal yang mengganggu tidurnya. Untung saja hanya nyamuk yang mendekati Bening saat ini. Bukan binatang lain yang sangat ia takuti.


Plak ... plak ... plak!


Berkali-kali Bening menepuk nyamuk yang mendekat ke arahnya.


"Kalian jangan mendekat darah ku pahit. Ayolah aku minta kerja samanya. Sedari pagi masalahku sudah banyak. Jadi aku ingin beristirahat dengan tenang malam ini. Aku mohon Tuan dan Nyonya nyamuk jangan mendekat lagi ya!"


Mungkin karena efek dikurung dalam gudang gelap dan pengap ini. Sehingga menyebabkan otak gadis itu bermasalah. Nyamuk pun diajaknya bicara.


*****


Kesibukan luar biasa terjadi di dalam kediaman keluarga Ramiro pagi ini. Para pelayan dan semua koki dibuat kalang kabut atas penolakan Arga pada makanan yang telah dihidangkan oleh juru masak untuknya.


Pyarr-


Pria muda itu kembali melempar piring makanan entah untuk yang keberapa kalinya. Hingga membuat suasana ruang makan menjadi sangat mencekam.


Pagi hari saat pertama kali Arga membuka mata. Ia merasa tubuhnya lemas dan kelaparan. Sehingga memerintahkan sang juru masak untuk segera membuatkan sarapan untuknya. Namun sang Tuan muda selalu menolak menu sarapan yang telah dihidangkan oleh juru masak kepadanya.


"Sebenarnya makanan apa yang kalian berikan kepadaku. Kenapa semua rasa makanannya pahit di lidahku?!" murka Arga.


Karena tidak ingin melakukan kesalahan lagi. Salah satu koki pun memberanikan diri untuk mendekat dan bertanya-


"Maaf kan atas kesalahan kami Tuan muda. Kami akan segera menggantinya. Jika boleh saya tahu makanan apa yang anda ingin kan untuk sarapan sekarang? Agar kami bisa segera menyediakannya untuk anda!" tanya kepala koki sopan. Bahkan ia masih belum berani mengangkat wajahnya.


"Aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas makanan yang kalian berikan itu rasanya pahit semua!" pekiknya tajam.


"Maaf ... maafkan kami Tuan muda!" ucap kepala koki sambil membungkukkan badannya berulang kali.


Padahal kesalahan itu bukan terletak pada makanan yang para koki sajikan. Tetapi masalah itu terletak pada lidah sang Tuan muda sendiri.


Di dalam gudang.


Tidur lelap Bening terganggu saat cahaya matahari yang masuk melalui cela-cela lubang ventilasi udara gudang menyilaukan wajahnya .


"Jam berapa ini. Kenapa kasurnya keras sekali?" racau Bening masih dengan separuh kesadarannya.


Ternyata gadis itu masih belum menyadari bahwa dirinya kini telah tidur di atas lantai gudang.


Bening langsung berjingkat bangun saat merasakan ada yang tidak beres. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar.


"Ternyata benar aku tidak sedang bermimpi. Aku benar-benar tidur di dalam gudang semalaman ini. Ayo Bening bangun lah dari mimpimu karena realita tak seindah ekspektasi," monolognya.


"Tapi sampai kapan aku akan terkurung dalam tempat menyeramkan ini? Nyonya penguasa itu benar-benar sangat menakutkan. Aku tidak yakin dia akan memaafkanku begitu saja," pasrah Bening.


Bening merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Semalaman tidur di lantai membuat tubuhnya sakit semua. 


Hal ini mengingatkannya pada kejadian 9 tahun yang lalu saat ia dihukum oleh sang Ibu karena terlambat membukakan pintu saat Ibunya pulang. Sehingga ia harus tidur di luar rumah seorang diri. Karena waktu itu sang Ayah sedang bekerja mendapat giliran shif malam.


Mengingat kejadian itu membuat Bening merindukan kedua orang tuanya. Terutama sang Ibu yang telah tega mengusirnya dari rumah mereka beberapa bulan yang lalu.


"Ibu ada di mana sekarang. Bening kangen Bu!" 


Krucukk-


Terdengar suara dari dalam perut Bening yang menandakan bahwa gadis itu kelaparan. Seingatnya ia terakhir makan kemarin siang. Karena kejadian yang menimpah suaminya Bening pun melewatkan makan malamnya.


"Aduh perutku lapar sekali. Apa mereka tidak akan memberiku makan. Karena sengaja membiarkan aku mati kelaparan di sini? Sudahlah terima saja nasibmu Bening!" ucapnya pada diri sendiri.


Karena ingin mengalihkan rasa laparnya. Gadis bermata teduh itupun mencari kesibukan lain dengan melihat-lihat barang-barang lama keluarga Ramiro yang masih tersimpan rapi di tempat itu.


Hingga ia tak sengaja menemukan sebuah album foto lama yang sudah tampak usang. Bening pun memungut benda itu setelah ia berhasil membersihkannya dari debu.


Senyumnya terukir saat mendapati foto masa kecil suaminya.


"Ini pasti foto Tuan muda sombong itu semasa bayi. Lucu juga ya. Tidak menyebalkan seperti sekarang ini."


Bening membalik halaman album selanjutnya. Di sana tampak Arga kecil sedang berada di atas pangkuan sang Ayah. 


"Kalau dipikir-pikir mereka berdua ini tidak ada mirip-miripnya sama sekali! Apa aku yang salah lihat?!"


Halaman demi halaman telah berhasil ia buka. Hingga sebuah amplop terjatuh tepat di kakinya.


"Eh, itu apa?"


Bening membungkuk mengambil amplop yang terjatuh tadi. Ia sangat penasaran dengan isinya.


Perlahan tangan lentik Bening mulai membuka amplop usang berwarna kecoklatan itu. Dan bola mata Bening nyaris keluar melihat benda yang ada di dalam amplop tersebut. Yang ternyata hanya sebuah foto. 


Namun, foto itu menimbulkan tanda tanya besar di hati Bening. Karena foto tersebut adalah foto-


"Ibu ...!"


"Bagaimana bisa foto Ibu berada di sini. Kira-kira siapa pemiliknya?"


Pikiran Bening pun berperang memikirkan hal yang baru saja ia temukan tadi. Ia masih mencoba mencerna karena tidak bisa memahami situasi mengenai kejadian ini. Apa sebenarnya hubungan Ibunya dengan keluarga Ramiro yang dikenal super power ini. Karena sepengetahuannya kedua orang tuanya itu hanya seorang rakyat jelatah biasa.


Namun kalau diingat-ingat kembali, Bening memang tidak pernah sekalipun tahu keluarga sang Ibu. Tidak seperti keluarga dari pihak Ayahnya yang sangat Bening kenal dengan baik. Bahkan ia tidak pernah sekalipun melihat foto Kakek dan Neneknya dari pihak sang Ibu.


Ayahnya dulu pernah bercerita bahwa Ibunya adalah seorang perantauan. Jadi tidak memiliki sanak keluarga di desa tempat tinggal mereka.


Bening masih berusaha mengurai tentang misteri ini demi menjawab rasa penasarannya. Namun, semakin ia berfikir semakin membuat kepalanya sakit.


Gadis itu segera meletakkan kembali album foto yang baru saja dilihatnya tadi ke tempat semula. Ia juga merapikan tempat barang-barang tersebut agar tidak membuat orang curiga. 


Namun Bening lebih memilih untuk membawa foto Ibunya dan menyimpannya di balik baju saat mendengar ada orang yang telah membuka pintu gudang.


Ceklek ... ceklek!


Bab. 44

Pembalasan Arga.


"Ini makananmu!"


Grace membanting nampan berisi makanan yang dipegangnya ke lantai dengan cukup keras.


"Sebenarnya Nyonya Diana ingin kau mati membusuk di dalam gudang ini. Tapi karena tugasmu belum selesai Nyonya Diana merubah keputusannya. Jadi nikmati saja kebaikan hati Nyonya besar kita tanpa harus membuat kekacauan lagi. Atau kau akan benar-benar mati di tanganku!" ancam Grace kemudian.


Brakk- 


Pintu pun kembali di kunci dari luar meninggalkan Bening yang masih terduduk bersimpuh di lantai.


Karena sudah sangat kelaparan Bening pun segera memakan makanan yang dibawa oleh perempuan tomboy tadi. Meskipun saat ini mereka hanya memberinya makanan sederhana ia sudah sangat bersyukur. 


Lagi pula Bening juga sudah terbiasa dengan menu sederhana ala kampungnya. Bahkan dulu ia juga pernah merasakan makan hanya dengan garam karena kesulitan ekonomi yang menghimpit keluarganya.


Setelah menyelesaikan makannya Bening pun melihat kembali foto Ibunya sewaktu muda dulu.


"Ternyata Ibu benar-benar sangat cantik semasa muda dulu. Pasti banyak pria yang berusaha mendekati Ibu. Tapi aku bersyukur Ibu lebih memilih Ayah Harun sebagai suami Ibu sehingga aku memiliki seorang Ayah yang sangat baik dan pengertian," ucapnya sembari mengusap foto sang Ibu.


"Bening juga bersyukur terlahir dari rahim wanita secantik Ibu. Karena apapun yang terjadi Bening akan selalu cinta dan sayang sama Ibu." Bening pun mencium foto yang dipegangnya itu.


Gadis itu bersyukur menemukan foto itu di dalam gudang ini. Karena dengan begitu rasa rindunya kepada sang Ibu bisa sedikit terobati. Hingga terdengar suara kunci diputar dari luar. 


"Siapa lagi yang datang?" pikir Bening.


Bening pun segera menyembunyikan foto Ibunya di dalam saku baju.


Brakk-


Suara tendangan di pintu begitu keras terdengar, membuat Bening berjingkat kaget. Namun gadis itu lebih kaget lagi setelah melihat orang yang kini telah berdiri di ambang pintu.


"A-arga ...!"


Mata Bening membola dengan mulut terbuka lebar. Bahkan ia terlihat sulit menelan ludahnya sendiri. Ia seakan melihat monster di depannya.


"Apa kabar gadis bodoh. Bagaimana keadaanmu setelah bermalam di ruang gelap dan pengap ini. Apa kau menikmatinya?!" tanya Arga dengan senyum sinisnya.


"Kau? Kenapa kau ke sini? Ini bukan tempat yang layak untuk mu!" 


"Kau benar, ini memang bukan tempat yang layak untukku tapi aku datang kemari karena aku ingin membuat perhitungan denganmu!" 


Langkah panjang Arga membawanya mendekat ke arah Bening. Kemudian mencengkeram dagu gadis itu dengan satu tangannya. "Kau suka bermain-main 'kan? Maka akan aku kabulkan keinginanmu itu!" imbuhnya.


Arga semakin mengeratkan cengkeraman tangannya hingga membuat Bening meringis kesakitan. Rasa perih akibat goresan kuku Nyonya Diana semalam saja masih ia rasakan dan kini sudah ditambah lagi dengan cengkeraman sang suami.


"Kenapa gadis bodoh. Apa kau merasa kesakitan?" Arga pun menyentak tangannya yang membuat Bening tersungkur di lantai.


"Aww ... ssstttt ...!" desis Bening akibat sakit yang ia rasakan.


"Ini belum seberapa karena hukuman yang sebenarnya sudah akan menantimu!" ujar Arga bengis.


"Maafkan aku Tuan muda. Aku tidak pernah sengaja ingin mencelakaimu. Aku bersumpah!" rintih Bening.


"Gampang sekali mulut kotormu itu berkata tidak sengaja setelah kau berhasil mencelakaiku berkali-kali. Apa itu termasuk rencana yang kau susun untuk menguasai harta warisan keluarga Ramiro, setelah kau menjadi janda kaya raya? Rencana mu itu sangat mudah sekali ditebak gadis bodoh. Dan sampai kapan pun kau tidak akan berhasil untuk mendapatkan apa yang kau inginkan itu. Karena aku sudah pasti akan menyiksamu terlebih dulu!"


Bening pasrah dengan tuduhan-tuduhan yang dilontarkan Arga kepadanya. Karena ia tidak punya daya untuk membela diri.


"Aku tidak mengerti mengapa orang kaya seperti kalian selalu berpikiran buruk kepada orang lain. Dan mengenai harta ataupun warisan aku tidak pernah menginginkannya. Apalagi dengan cara-cara kotor yang kau tuduhkan tadi. Walaupun aku miskin aku tidak akan pernah mau memiliki sesuatu yang bukan hak ku!" tegas Bening.


"Masih bisa sombong juga kau ya. Baiklah akan aku tunjukan siapa sebenarnya Jaasir Arga Ramiro kepadamu!"


Arga pun menyeret Bening keluar dari gudang dan membawanya pergi menuju taman belakang rumah ini.


"Lepas! Lepaskan ...!"


Bening berusaha melawan dan merontah agar cengkeraman tangan Arga di lengannya bisa terlepas. Namun usahanya itu sia-sia karena begitu eratnya tangan Arga mencengkeram gadis itu.


Sesampainya di taman belakang Arga pun mengikat tangan dan kaki Bening dengan tali tambang yang sudah tersedia di tempat itu.


Gadis itu meringis sakit akibat kencangnya ikatan yang Arga diberikan.


Setelah tangan dan kaki Bening terikat sempurna Arga pun mengangkat tubuh gadis itu untuk di jemur di bawah teriknya sinar matahari.


"Sinar matahari sangat bagus untuk mencairkan otak gadis sombong sepertimu!"


Arga pun melangkah menjauhi Bening dan duduk di atas kursi santai dengan menikmati minuman di tangannya.


Setelah hampir satu jam menikmati penderitan Bening akibat siksaannya. Arga pun beranjak dari duduknya dan memberikan ultimatum kepada seluruh pekerjanya agar tidak sekalipun membantu Bening.


"Aku tidak mau ada satu orang pun dari kalian semua yang membantunya. Kalau sampai aku tahu ada yang melakukannya maka aku akan memberinya hukuman yang lebih parah dari yang ku berikan kepada gadis itu! Apa kalian mengerti?!" teriaknya.


"Mengerti Tuan muda," jawab mereka serempak.


Setelah memberikan ultimatum tersebut Arga pun meninggalkan taman belakang dan membiarkan Bening terjemur sendirian.


Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Terik  matahari benar-benar berada tepat di atas kepala saking panasnya.


Bening yang sudah berjam-jam di jemur itu pun merasa kulitnya telah terpanggang. Hingga ia sudah tidak sanggup lagi bertahan. Sedangkan semua pelayan hanya bisa menatap iba kepadanya dari kejauhan tanpa bisa melakukan apa-apa.


"Tuan muda ...!" pekik salah seorang pelayan dengan nafas yang masih tersengal akibat berlarian tadi.


"Ada apa? Kenapa berlarian seperti itu?! Tidak sopan!"


"Maaf Tuan muda. Maafkan saya tapi ... i-itu-"


"Apa?! Bicara yang jelas! Atau ku potong lidahmu!" ucapan Arga tadi sontak membuat wajah pelayan tersebut memucat.


"Nona Bening Tuan! Nona Bening pingsan!" jawabnya.


"Kita ke sana sekarang!" 


Arga pun berjalan mendahului pelayan tersebut menuju di mana Bening berada.


Melihat tubuh tak berdaya Bening, Arga pun mengangkat tubuh gadis itu dengan tangannya sendiri. Kini ia telah membaringkan Bening tak jauh dari kolam renang.


"Ambilkan aku seember air!" teriaknya keras.


Byurrrr-


Arga pun mengguyurkan seember penuh air itu ke atas tubuh Bening. Hingga membuat gadis itu langsung bangun dan megap-megap.


Bening melihat seluruh tubuhnya yang telah basah kuyup dan berkata-


"Apa yang kau lakukan?!"


"Memandikanmu tentu saja. Setelah kepanasan karena terlalu lama berjemur, aku memberimu air agar merasa segar!" jawab Arga enteng.


"Dasar manusia tidak punya hati. Belum cukupkah kau menyiksaku? Hanya seorang bancilah yang sanggup menyiksa gadis lemah sepertiku!"


Mendengar kata 'banci' yang keluar dari bibir Bening membuat hati Arga terbakar. Ia lantas menarik kuat rambut gadis itu hingga wajahnya ikut mendongak ke atas.


"Apa katamu tadi. Banci?" desis Arga tajam.


"Iya banci. Kau adalah banci yang tidak punya hati!"


Arga semakin naik pitam dengan perlawanan yang dilakukan Bening tersebut. Sehingga Arga menyeret Bening ke tepian kolam renang karena sudah tidak bisa lagi membendung amarahnya.


Arga memasukkan kepala Bening ke dalam air. Menenggelamkannya hingga gadis itu kesulitan untuk bernafas.


"Uhuk ... uhuk ... uhuk!"


Pria itu mengangkat dan menenggelamkan kepala Bening berulang kali hingga gadis itu berteriak minta ampun.


'Ya Tuhan apa aku akan mati di tangan pria jahat ini?'

0 Comments