Bunga itu Masih Mekar. Bagian 7

 

Tepat pukul satu siang Hilda sudah stand by di dekat hotel. Gadis yang mengenakan celana jeans dan t-shirt warna putih itu langsung menghubungi Alex dengan perasaan tak karuan. Sejak semalam dia membayangkan yang tidak-tidak, baru kali ini Hilda akan menghabiskan waktunya bersama pria ganteng. Meskipun kulit Alex tidaklah putih seperti artis korea, tetapi itu tak mengurangi ketampanan dan kegagahannya. 

Setelah sepuluh menit menunggu di bawah pohon asam, akhirnya pria yang ditunggu itu datang juga. Dia mengenakan jeans berwarna biru tua dan kemeja berwarna putih yang sengaja tak dikancingkan sampai atas untuk memamerkan sedikit dadanya lebar dan terlihat menonjol di balik pakaiannya. "Maaf membuat Mbak menunggu." Wajah itu tak tersenyum, cenderung kaku, tetapi justru di sanalah daya tariknya sebagai seorang laki-laki.

Gadis itu membetulkan rambutnya yang diikat kuncir kuda. Terlihat sederhana dan cocok dengan pakaiannya, tetapi sama sekali tak mengurangi kecantikannya yang masih di awal dua puluhab. "Hilda, Pak. Jangan panggil Mbak."

"O, baik," jawab Alex datar sekaligus takjub. Dia tak menyangka bahwa di zaman sekarang, masih ada gadis cantik sederhana meski tanpa makeup yang mencolok. "Di mana mobil kamu?"

Hilda kelepasan tertawa dan Alex tidak merasa tersinggung sama sekali. "Maaf saya tidak bermaksud menyinggung."

"Tidak apa-apa."

"Bapak mau cari oleh-oleh, kan? Nah, paling enak sambil jalan kaki, Pak. Saya jamin Pak Alex gak akan nyesel!"

Biarpun gadis cantik yang menemaninya, tetap saja Alex menyesal karena tidak menyewa mobil hotel. Sepanjang jalan menuju pusat oleh-oleh, panasnya luar biasa. Keringatnya sampai membanjiri kemejanya. Baru kali ini dia berjalan kaki sejauh ini. Kalau pergi dengan Mayang, semuanya harus pakai mobil karena dia tak tahan jika terkena sengatan matahari dan harus menghirup debu di jalanan. Beda sekali dengan Hilda. 

"Nah, kita sudah sampai, Pak." 

Alex mengamati sekitar. Mana oleh-olehnya? Yang dilihatnya cuma gerobak berisi jajanan. Seolah tahu kebingungan turisnya, Hilda langsung memperlihatkan giginya yang berderet rapi. Meski pipinya kemerahan terbakar sinar matahari, senyum itu tetap segar, mempesona, dan tak akan ada pria yang mampu menolaknya. 

"Bapak pasti haus! Kita minum sesuatu dulu di sini."

"Di sini?" Alex mengerutkan dahinya.

"Ya. Bapak tidak pernah makan di pinggir jalan?"

Alex mengembuskan napas pelan. Di lahirkan dan dibesarkan di keluarga kaya, Alex sama sekali tidak pernah jajan di tempat biasa. Makanan-makanan itu asing buatnya. Selain itu juga dia meragukan kebersihannya.

Hilda menarik tangan pria itu dan langsung memintanya duduk. "Saya jamin, Pak Alex pasti suka!" Dan begitu es palu butung tersaji di depannya, Alex tak menolak. Dia memakannya dengan lahap meskipun merasa agak aneh. Disebut es, tapi ada bubur dan pisangnya. Mungkin lebih tepat kalau namanya bubur pisang yang diberi es. 

"Enak kan, Pak?" Hilda tertawa geli melihat wajah Alex saat memakan adonan tepung beras. "Kalau di jawa, itu namanya bubur sumsum, Pak. Sama-sama terbuat dari tepung beras."

"Kamu punya saudara di Jawa?"

Hilda menggeleng pelan. "Saya punya tante di Jakarta. Dia punya panti asuhan di sana."

"Pernah ke Jakarta?"

Gadis itu menggeleng lagi. "Belum. Begitu lulus D1 Perhotelan, saya langsung kerja. Kalau libur, jadi tour guide dadakan!"

"Kamu tidak mau kuliah lagi?"

"Oh, tidak. Untuk apa kuliah kalau saya sudah bekerja? Saya masih punya tiga adik yang harus saya biayai. Daripada untuk kuliah, lebih baik uangnya buat mereka saja."

Diam-diam Alex mengagumi gadis di sampingnya. Di usia yang semuda itu, dia harus membantu membiayai ketiga adiknya. Meskipun begitu, sama sekali tak tergurat beban di wajahnya. Dia selalu tersenyum, berbicara apa adanya, dan sinar matanya selalu nampak cemerlang. 

Begitu selesai menyantap es palu butung, Hilda membawa Alex ke pusat oleh-oleh yang sering ditawarkannya pada turis asing atau pun lokal. "Ini nih, Pak. Tokonya. Dijamin jempolan!" Hilda mengangkat dua jempolnya kemudian memanggil pemilik toko. 

"Cuma satu turisnya, Hil?" seloroh pemilik toko langganan Hilda. Kalau ada barang yang terjual, gadis itu akan mendapat komisi 10%. Lumayan, kan?

Hilda mendekati pria tua itu kemudian berbisik,"Biar satu orang, dompetnya tebal!"

"Sip, deh! Rejeki nomplok!"

Sambil melihat-lihat isi toko yang lumayan lengkap itu, Alex tertarik pada kain tenun yang dipajang. Dan seolah-olah tahu apa yang ada di pikiran pria itu, Hilda mendekat. "Pasti cocok untuk istrinya."

"Saya pikir juga begitu. Mayangsari selalu menyukai apa pun yang saya belikan."

"Beruntung sekali wanita yang menjadi istri Pak Alex."

"Saya juga merasa beruntung dia mau sama saya."

Duh, mendengar pernyataan itu, membuat dada Hilda sesak. Sakitnya bukan main. Padahal, Alex bukan kekasihnya. Bukan pula suaminya. Namun, entah dari mana datangnya rasa cemburu itu. 

"Ah, saya jadi iri." Hilda keceplosan bicara dan Alex keburu mendengarnya. 

"Saya yakin pacarmu juga beruntung memilikimu."

Seandainya saja perkata Alex itu benar, tentu dia akan merasa senang. Sayangnya Hilda masih sendiri. Belum ada pria dari suku mana pun yang mampu menggoyahkan hatinya. Dan sekalinya ada, lelaki itu sudah beristri.

***

Sejak saat itu Hilda dan Alex semakin dekat. Dan yang tadinya urusan bisnis hanya tiga hari, molor menjadi satu minggu. Selama tujuh hari berada Makassar, selama itu juga Hilda menjadi tour guide Alex. Hilda pandai menawar barang dan itulah yang menjadi daya tarik tersendiri di mata Alex. Kalau itu Mayang, maka berapa pun akan dibayar. Tak perlu menawar. Namun, Hilda lain cerita. Hampir semua barang dia tawar kalau bukan toko langganannya. Begitu ulet, keras kepala, kalau belum dapat belum dia lepaskan. 

"Kalau nawar, harus di bawah separo harga, Pak. Nanti juga pedagangnya bakalan naikin dikit sampai setengah dari harga yang ditawarkan." Dan benar juga apa yang dikatakan gadis itu. Semuanya terbukti. Kalau pedagang menawarkan harga seratus ribu, Hilda akan membantingnya ke harga tiga lima. Kalau gak boleh, ditinggal. Dan belum sampai berjalan jauh, pedagang itu akan memanggil mereka dan memintanya untuk menambahi sedikit agar bisa balik modal. Tak apa tidak untung, asal tidak rugi. Begitu katanya. 

"Besok saya harus kembali ke Jakarta."

Hilda sudah menyiapkan diri untuk mendengar kata itu, tetapi tetap saja kesedihan merayapi hatinya. Seminggu selalu menemani pria itu membuat Hilda bahagia meski hanya menemani makan dan jalan-jalan. Namun, ada hal lain yang tidak diketahui Alex. Hilda telah jatuh cinta padanya. Pada pria beristri. 

"Terima kasih sudah menemani dan membantu membelikan oleh-oleh untuk istri saya."

"Sama-sama, Pak. Kapan pun Pak Alex datang ke Makassar, beritahu saja saya."

"Tentu," jawab Alex dengan suaranya yang berat sambil menenggak wisky di tangannya. Hari ini dia sengaja menyewa kapal dan juga camp untuk menginap di Kodingareng Keke. Pulau tak berpenghuni yang jauh dari keramaian kota Makassar. Hilda tak menolak ketika Alex mengajaknya. Jangankan ke pulau terpencil, ke neraka pun dia rela asalkan dia bisa melihat Alex, pria yang kini sudah menghuni relung-relung jiwanya dan pria itu pulalah yang menumbuhkan bunga-bunga di hatinya hingga bermekaran dengan aroma yang semerbak. "Kamu tidak mau bekerja di Jakarta, Hil? Saya bisa mencarikan pekerjaan apa pun yang kamu inginkan."

Hilda mengela napas panjang kemudian merebahkan diri di atas pasir yang sudah dipasangi tikar. Hanya ada lampu remang-remang dan mereka berdua di pulau itu. Sunyi, sepi, ditemani deburan ombak, dan perasaan ganjil yang menyelimuti hati mereka.

"Tidak, Pak. Kasihan ibu saya jika harus ditinggal. Sejak ayah meninggal, saya-lah yang menjadi pengganti ayah."

Ada rasa kecewa di hati Alex yang cukup ia pendam sendiri. Hadirnya Hilda membuat hidupnya lebih berwarna. Gadis itu kebalikan dari istrinya yang selalu ingin tampil sempurna. Sedangkan pada Hilda, Alex menemukan gadis yang apa adanya. Tidak polos, tetapi juga tidak neko-neko. Alex menenggak habis wisky di dalam botolnya kemudian membaringkan diri di samping Hilda yang dadanya mulai berdetak tak karuan. Dia lalu teringat kata ibunya, jika seorang laki-laki dan perempuan bersama, maka yang ketiga adalah setan. Dan apa yang diharapkan gadis itu menjadi kenyataan. Setan datang di antara mereka. Membisikkan puisi-puisi cinta dan menanamkan jerat-jerat asmara. Meleburkan dinding-dinging moral yang beberapa hari ini mereka pertahankan. Dan sampai tiba perpisahan mereka, Hilda tak menyesal telah terjerembab ke lubang dosa.


***Bersambung ....

0 Comments