Lomba cerpen


  -Cerpen: Aku dan Mertuaku-Aku merupakan seorang ibu rumah tangga yang mempunyai satu orang anak laki-laki yang super aktif. Selain sebagai ibu rumah tangga, aku juga bekerja sebagai penulis novel online. 

   Karena itulah aku harus pintar membagi waktu antara pekerjaan rumah, mengurus anak, dan juga menyelesaikan tanggung jawabku sebagai seorang penulis. 
 
   Apalagi aku tinggal bersama mertuaku. Kalian tau 'kan, bagaimana rasanya hidup bersama mertua? Setiap harinya aku tidak pernah bisa duduk santai walau hanya satu jam saja. 


   Suatu hari pekerjaan rumah sangat menumpuk karena kondisi tubuhku yang sedang tidak fit, ditambah lagi usia anakku yang dibilang sedang aktif-aktifnya semakin membuatku kewalahan. 

   "Sarah!" panggil mertuaku dari arah dapur. 

   Akupun segera bangun dengan kepala yang masih terasa pusing dan menghampiri mertuaku sebelum dia mengoceh semakin panjang. 

   "Ada apa, Bu?" tanyaku dengan suara yang sangat lirih. Jangankan untuk berjalan, berbicara saja rasanya kepalaku terasa sakit sekali. 

   "Kamu ini kenapa sih tidur terus? Liat nih, cucian numpuk, belum lagi piring sama gelas udah pada kotor semua!" ocehnya menunjuk semua pekerjaan rumah yang belum tersentuh oleh siapapun. 


   "Maaf, Bu, Sarah lagi sakit. Kayanya, Sarah, perlu istirahat," jawabku kemudian hendak berbalik menuju kamar kembali. 

   "Kamu tuh jangan manja, cuma sakit masuk angin doang aja diparah-parahin!" dengkus mertuaku sinis. 

   "Tapi, Bu—" 

   " Udah sana cepet beresin rumah, Ibu mau keluar dulu. Awas aja kalo sampe, Ibu pulang keadaan rumah masih berantakan, Ibu aduin kamu sama, Heri!" ancamnya memotong ucapanku kemudian berlalu dari hadapanku begitu saja.  

   Dengan berat hati dalam kondisi tubuhku yang masih lemah, akupun mengerjakan semua pekerjaan rumah satu persatu hingga selesai. 

   "Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," ucapku sembari duduk dikursi dan menyeka peluhku yang mengalir didahi. 

    Karena pekerjaan rumah sudah selesai, akupun mengambil ponsel dan mulai mengetik sebuah cerita untuk novel onlineku. Namun, tiba-tiba Ibu pulang dan kembali mengoceh karena melihat kondisi anakku yang sangat kucel. 

   "Sarah! Liat anak kamu, kucel gitu! Kamu mandiin kek, kok malah enak-enakkan main hp!" ujarnya menunjuk anakku yang sedang bermain tanah diluar rumah. 

   "Tapi aku baru aja duduk, Bu, baru selesai beres-beres dan pengen istirahat dulu sebentar," sahutku tidak terima karena mertuaku mengira aku hanya duduk diam saja sambil memainkan ponsel. 

   Padahal aku sedang bekerja serta membantu suamiku mencari nafkah karena dia hanya kerja serabutan dan tidak memiliki pekerjaan tetap. Lumayanlah, hasil dari menulisku bisa aku gunakan untuk uang jajan anakku. 

    "Alah, kamu ini ngebantah terus ya! Udah sana cepetin mandiin anak kamu, itu juga anak kamu 'kan bukan anak orang lain!" ujarnya lagi-lagi mengomel kepadaku. 

   Ingin sekali mulut ini berbicara bahwa 'Anakku, cucumu juga!' tapi aku tidak berani, karena mau bagaimanapun dia merupakan orang tua yang harus dihormati. 

   Akupun beranjak dari kursi dan membawa anakku ke kamar mandi. Setelah selesai memandikannya, aku membiarkan anakku bermain dan aku segera menulis novel sebelum ibu menyuruhku mengerjakan hal-hal yang lainnya lagi. 

   "Sarah!" Ibu lagi-lagi memanggilku. 

   "Ada apa lagi, sih!" gerutuku kesal. 

   Kemudian aku pura pura tidur dan menutupi seluruh tubuhku menggunakan selimut bed cover, berharap Ibu tak jadi menyuruhku melakukan sesuatu karena dia melihat aku tengah tertidur. 

   Namun, siapa sangka, apa yang aku harapkan tidaklah terjadi. Ibu malah mengambil sebuah gelas yang berisi air kemudian menumpahkannya tepat mengenai wajahku. 

   Sontak akupun tersentak kaget dan langsung membangkitkan tubuhku. 

   "Ibu! Kenapa, Ibu siram aku?" tanyaku sembari mengusap cairan yang sudah basah mengguyur wajahku. 

   "Terus kenapa kamu, Ibu, panggil-panggil gak nyaut?" ujarnya malah menanyaku balik. 

   "Aku 'kan udah bilang, Bu, lagi sakit. Kenapa, Ibu, gak percaya sama aku?" ucapku tak tahan lagi dengan sikap mertuaku yang sudah keterlaluan. 

   Aku bukan robot yang setiap menit harus kerja, kerja, dan kerja. Aku juga butuh istirahat dan menulisku tidak akan selesai-selesai jika Ibu terus-terusan menyuruhku ini dan itu. Sementara dia hanya bisa duduk manis dan keluar seenak jidatnya tanpa memikirkan betapa lelahnya aku. 

   "Kamu tinggal beli obat warung aja 'kan gampang, langsung sembuh. Apa perlu, Ibu, beliin obat buat kamu? Tapi sebelum kamu minum obat, kamu harus makan dulu, makanya kamu sekarang pergi ke dapur dan segera masak," titahnya lagi tanpa menerima penolakan. 

   "Aku lagi gak nafsu makan, Bu, makanya aku lagi males masak," jawabku kemudian berdiri dari ranjangku yang sudah terlanjur basah. 

   "Terus kamu mau biarin, Ibu, mati kelaparan? Kamu pengen magh, Ibu, kambuh?!" ujarnya dengan nada suara yang semakin meninggi. 

   Tak bisa berkata apa-apa lagi, aku hanya bisa menunduk sambil menahan isak tangis yang ingin meluncur dari bibirku begitu saja. Namun, sekuat mungkin kutahan sembari menggigit bibir bawahku kuat-kuat. 

   "Udah gak usah nangis, cengeng banget! Nanti, Heri, pulang liat kamu nangis dikira, Ibu, ngapa-ngapain kamu lagi!" tuturnya sembari melengos dari hadapanku begitu saja.
 
   Aku hanya bisa mengepalkan tanganku kuat-kuat. Ingin sekali rasanya aku mengambil batu dan melemparnya mengenai kepala mertuaku itu hingga otaknya bergeser dan berubah menjadi mertua yang tidak bawel.

   Ku usap cairan bening yang membasahi kedua pipiku lalu aku berjalan menuju dapur. Ku buka kulkas dan mengambil beberapa bahan makanan lalu diolahnya menjadi sebuah santapan untuk Nyonya Besar dirumah ini. 

   "Masakannya udah selesai, Bu," paparku menghampiri mertuaku yang tengah duduk santai didepan rumah sembari membaca majalah dan menyeruput teh manis yang sempat ku buatkan tadi. 

   Mertuaku pun menyimpan majalahnya diatas meja dan masuk kedalam rumah. 

   'Mumpung, Ibu, lagi makan, aku mau nulis dulu ah' ucapku membatin sembari duduk dikursi yang baru saja diduduki oleh mertuaku. 

   Baru saja aku mengambil ponselku yang berada didalam saku, suara panggilan neraka pun kembali aku dengar. 
   
   "Sarah!" 

   "Ya Tuhan!" gumamku memejamkan mata sejenak mengontrol emosiku yang sudah memenuhi rongga dada. 

   "Ada apa lagi sih, Bu?!" bentakku menggema mengisi ruangan dapur. 

   Aku sudah tak tahan lagi dengan sikap Ibu yang sudah keterlaluan. Aku ini menantunya, tapi kenapa aku diperlakukan layaknya seperti seorang pembantu. 

   Namun, aku melihat mertuaku tengah memegang sebuah kue yang lumayan besar bertuliskan 'Happy Birthday Menantu Kesayanganku' serta disana tertancap lilin dengan api yang menyala berangka 24. 

   Lalu suamiku datang dari pintu belakang rumah, dengan membawa sebuah kado besar sebagai hadiah ulang tahunku. 

   "Surprise!" ujar Heri dan mertuaku berbarengan. 

   "Maafin, Ibu, ya. Ibu sengaja bikin kamu kesel karena hari ini merupakan hari ulang tahun kamu. Selamat ulang tahun ya, Sayang. Panjang umur, sehat selalu, dan semakin sayang sama, Ibu," ucap mertuaku sambil mencium kedua pipiku. 

   Akupun terharu dan langsung memeluk mertuaku, "Maafin aku juga ya, Bu, aku udah bentak, Ibu," ucapku hingga air mata ini berhasil mendarat untuk yang kesekian kalinya. 
   


~TAMAT~
   
Penulis: Anggie AR