Istri Kedua Suamiku: Bab 1

 


"Kapan sih Mas kita jadi orang kaya? Perasaan kok sejak pertama kali menikah sampai sekarang, hidup kita gini-gini aja?" keluhku dengan tangan yang sedang memegangi setrikaan panas. Sementara, Adam, suamiku yang baru saja pulang bekerja tak menjawab sepatah kata pun dan malah menyenderkan punggungnya di sofa yang sudang bulukan dan robek sana sini. Hufft. Bikin kesel saja.

"Tuh, kan. Mas Adam diam lagi. Tiap diajak rembukan permasalahan hidup, pasti diam! Sekarang Karin baru tahu alasan Papa gak pernah menyetujui pernikahan kita! Mas itu loyo, gak bisa diandalkan!"

 Mas Adam diam lagi dan menganggap ocehanku seperti angin lalu. Jawab apa gitu, kek! Disangka aku ini radio bobrok, apa ya? Lagipula, memang betul kok apa yang aku katakan. Dia tak bisa menjadi suami yang diidamkan istrinya. Yaitu, kaya raya, yang bisa membelikan rumah mewah, mobil mewah, belanja di pasar modern, baju dan tas bermerk ternama, serta pergi ke salon kecantikan setiap hari. Heleh. Kalau sekarang mah jangankan beli tas merk channel, beras saja sering ngutang di warung tetangga.

"Kalau gini terus, Mas cari istri baru aja, deh! Aku rela dimadu asalkan istri kedua Mas kaya!" kataku lagi sambil menyetrika kemejanya yang warnanya sudah pudar. 

"Sabar, Rin. Ini yang namanya cobaan rumah tangga. Selama ini Mas sudah berusaha keras agar kamu bisa hidup enak."

"Memangnya sejak kapan istri seorang supir bisa hidup enak, Mas? Karin udah gak sabar! Pokoknya kalau Mas gak bisa nyari istri yang kaya, aku bakalan nyari buat Mas. Titik!"

"Memangnya istri kayak mendoan yang gampang dicari? Ada-ada aja kamu, Rin," jawab Mas Adam santai seperti biasanya yang langsung menuju kamar dan mengambil handuk untuk mandi. 

Dasar! Laki-laki gak berguna! Percuma saja nikah sama orang ganteng kalau miskin!

***

Setelah berjam-jam nyetrika, akhirnya selesai juga. Baju yang sudah aku lipat, telah tertata rapi di dalam lemari. Sementara, baju-baju Mas Adam yang buat kerja, aku gantung. Pokoknya beres! Sekarang tinggal makan nasi padang yang dibelikan Mas Adam setelah pulang kerja tadi.

"Rin. Ambilin kaos yang biasanya aku pakai, Rin," teriak Mas Adam dari balik pintu kamar mandi.

"Ambil sendiri kenapa sih, Mas? Tadi kan bawa handuk!" balasku yang sedang asik makan rendang jengkol. Behh ... nikmatnya bukan main. Malas kali kalau disuruh melayani suami pas asik begini.

"Aku salah ambil handuk tadi. Ini kekecilan, Rin. Gak muat."

"Ya telanjang aja kenapa sih, Mas? Toh di rumah sendiri! Udah ah malas. Karin mau makan dulu! Seharian Karin gak makan karena nunggu Mas pulang!" jawabku sambil memasukkan potongan jengkol ke dalam mulutku. 

"Ke mana Bagas, Rin?" tanya sesosok laki-laki yang berdiri di hadapanku. Dan seketika itu aku langsung tersedak. Buru-buru aku minum air yang telah aku siapkan.

"Maasss. Kenapa telanjang, sih? Itu burung ke mana-mana! Cepetan sana masuk kamar! Jangan malah berdiri sini," kataku dengan mata terbelalak karena suamiku dengan santainya berdiri dengan polosnya.

"Tadi katanya disuruh telanjang. Mas kira kamu ingin membuatkan adik untuk Bagas."

"Apa-apaan, sih! Cepetan masuk kamar sana! Anak satu saja ngurusnya susah kok mau dua!" semprotku dengan kaki yang mendorong perut Mas Adam yang kotak-kotak sudah seperti tahu dijejer. Sambil terkekeh, Mas Adam pun berbalik dan berjalan ke kamar. 

Hufft! Dasar suami tukang pamer! Mentang-mentang bentuk tubuhnya masih bagus dan tak sepertiku yang gembrot tidak beraturan setelah melahirkan Bagas yang kini usianya sudah tujuh tahun.

"Maaas! Jangan pakai kaos buluk yang seperti biasanya! Pakai baju yang paling bagus, pakai parfum, setelah itu nongkrong di cafe sana! Cari istri kaya!" Aku berteriak dengan semangat. Pokoknya, Mas Adam harus menikah lagi dengan perempuan kaya! Syukur-syukur dia perawan tua, jelek pula! Jadi, Mas Adam tak akan jatuh cinta dengan istri barunya itu. He he he ....

Beberapa saat kemudian, Mas Adam pun keluar kamar dan seketika itu juga nasi yang ada di dalam mulutku menyembur keluar.

 "Hahaha. Mas Adam apa-apaan, sih? Kesurupan setan dari mana?" tanyaku yang tak bisa menahan tawa. Habisnya dia konyol banget berpakaian seperti itu.

"Tadi katanya disuruh pakai baju yang paling bagus. Ya ini bajunya," kilah Mas Adam cengar-cengir memperlihatkan giginya yang berjejer rapi dan putih. Kalau dilihat dengan saksama, Mas Adam memang awet muda dan ganteng. Tak kalah lah sama kaum konglomerat berdasi.

"Bagus apanya? Kelihatan culun begitu!" jawabku terkekeh melihat Mas Adam yg memakai kemeja yang bagian bawahnya di masukkan dan semua kancingnya tertaut hingga ke leher. 

"Culun begini yang membuatmu mau menikah denganku," balas Mas Adam santai. Cepat-cepat aku menyelesaikan makanku dan mencuci tangan di dapur lalu menghampiri Mas Adam. Dia tidak boleh keluar rumah dengan penampilan begitu. Pokoknya harus necis!

Aku menghampiri Mas Adam dengan semangat dan langsung membuka kancing bajunya bagian atas. "Nah, ini baru bener," kataku dengan suara cempreng seperti kaleng rombeng. Selain itu, langsung aku keluarkan baju Mas Adam dari celana. Biar makin kece. Percuma ganteng kalau gaya pakaian tidak mendukung!

"Gini dong. Udah TOP!" Aku mengajukan jempol dan Mas Adam hanya geleng-geleng kepala.

Tanpa ragu aku pun menciumi baju Mas Adam. Biar gak ada bau apek. Begitu menyadari aroma suamiku itu kurang wangi, aku langsung mengambil minyak semprot yang mereknya seperti nama jalan. 

Setelah selesai menyemprotkan, barulah Mas Adam terlihat kinclong. On point. "Sekarang sudah boleh pergi kamu, Mas. Hati-hati bawa mobil bosmu. Oke? Pastikan cari wanita kaya dan mau dimadu!" kataku dengan bersemangat.

"Yasudah. Aku pergi dulu," pamit Mas Adam yang langsung berjalan ke luar rumah dan masuk ke dalam mobil bosnya yang super mewah. Seandainya aku punya mobil seperti itu, tiap hari pasti aku mejeng ke mall! Pikirku iseng. Padahal, bukan mobil mewah itu yang sebenarnya aku inginkan. Bukan pula harta benda, tetapi seseorang yang bisa menggantikanku, bisa menjadi ibu yang baik untuk Bagas dan mampu mengurus Mas Adam dengan baik. Buru-buru aku menyeka air mata yang sudah nangkring di kelopak mata dan kembali melihat Mas Adam.

"Selamat berjuang, Papaaah!" teriakku sambil melambaikan tangan dan kembali ke dapur untuk mencuci piring. Mudah-mudahan saja suatu saat nanti Mas Adam dan Bagas bisa hidup enak dan berkecukupan. Tak seperti sekarang yang harus tinggal di gubuk reot dan tanpa terasa air mataku pun menetes dan merutuki nasib yang menimpaku. Ah, seandainya saja aku memiliki uang, tentu saja tak akan kupaksa Mas Adam mencari istri lagi. Istri mana yang mau dimadu? Tak ada, kan? Namun, apa dayaku? 


***Bersambung ....

0 Comments